
Munding menyeringai sinis sambil melirik ke arah Nia, “apa yang kau lakukan pada keluargaku?” desisnya sambil melepaskan robekan baju Nia dari kukunya.
Nia hanya terdiam kebingungan dengan wajah ketakutan, “bukankah aku sudah menghindari serangannya? Aku yakin tadi sudah melompat ke belakang dan keluar dari jarak serangannya,” kata Nia dalam hati setengah tak percaya.
Nia menggunakan tangan kirinya untuk menutupi luka dan bagian dadanya yang terbuka. Dia lalu melompat mundur ke belakang dengan cepat tanpa mempedulikan rasa pedih dan panas dari kelima luka cakaran yang ada di dadanya.
“Apa yang kau lakukan pada keluargaku?” desis Munding sambil mengambil kuda-kuda untuk melompat kembali dan menyerang Nia.
Kalau sampai detik ini, Mia, Rony, dan Afza tidak tahu apa yang sedang terjadi kepada Munding, mereka tidak layak lagi disebut sebagai prajurit elite. Mereka dengan cepat menduga apa yang terjadi dan bergerak maju untuk mengepung Munding.
Mia dan Rony berdiri di depan Nia dan menghalangi Munding, sedangkan Afza berdiri di sebelah Nia dan memegang tangan wanita itu.
“Ikut dengan kami, atau kami akan membiarkan Munding menghabisimu,” kata Afza pelan dan sinis.
Nia menangkap pesan Afza yang benar-benar serius dengan perkataannya, gadis itu tidak sedang berbohong atau membujuknya agar menyerahkan diri. Nia mengangkat kepalanya dan melihat sorot mata Afza yang sama sekali tidak melirik ke arah Nia tapi tak pernah terlepas dari sosok Munding yang sekarang seperti orang kesurupan itu.
Dan detik itu, Nia tahu apa yang terjadi pada gadis yang sekarang ini sedang memegangi tangannya. Nia juga sadar sepenuhya, gadis ini tak akan segan untuk membunuh dirinya jika sesuatu yang lebih buruk menimpa Munding. Nia tahu tatapan mata itu, sama seperti tatapan mata dirinya sendiri kepada gurunya.
“Dia berserk?” gumam Rony ke arah Mia yang berdiri di sebelahnya.
Mia tak menjawab dan memperhatikan Munding dengan seksama, “ancaman berserk seharusnya terjadi saat kita sedang melakukan awakening pertama kali. Saat naluri predator kita mengambil alih dan ‘kita’ kehilangan jati diri dan berubah sepenuhnya menjadi binatang buas tanpa akal dan logika. Aku tak pernah mendengar ada kasus berserk pada serigala petarung tahap inisiasi,” gumam Mia.
Mereka berdua masih sedikit ketakutan dan kesulitan bernapas akibat tekanan intent Munding yang abnormal. Tapi, apapun ceritanya, mereka adalah prajurit terbaik dan pilihan, tentu saja mereka tetap berusaha menggunakan kepala dingin mereka untuk menganalisa situasi yang sekarang mereka alami.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan pada keluargaku?” desis Munding dengan raut muka kebingungan setelah melihat Mia dan Rony berdiri menghalanginya.
Mia dan Rony saling melirik dan menarik napas panjang lalu memasang kuda-kuda siaga dan memperkuat intent mereka. Munding melihat gerak-gerik dari mereka berdua, dan ketika dia melihat postur tubuh dari Mia dan Rony yang dalam posisi siaga, Munding menganggap mereka sebagai ancaman.
“Bu.. Bu.. Bunuh?” desis Munding masih dengan suara yang berat dan dalam sambil menunjuk ke arah Nia yang masih dipegangi oleh Afza.
Nia mengepalkan kedua tangannya saat telunjuk itu mengarah ke dirinya. Dia merasakan rasa takut itu, tapi dia adalah petarung, ketika waktunya tiba, dia tak akan diam dan menyerahkan nyawanya begitu saja.
“Munding, hentikan!! Dia target kita dan sekaligus saksi kunci bagi kita, keterangannya sangat penting untuk tim kita. Nia harus ditangkap dalam keadaan hidup!!” teriak Mia.
Munding terlihat kebingungan, dia berusaha berdiri tegak dan menghadap ke arah Mia yang baru saja berbicara dengannya. Munding melihat Mia dengan seksama sambil menggunakan kepalanya kesana kemari, berusaha untuk mengenali Mia dari berbagai sudut. Tingkah Munding mirip dengan seekor binatang buas yang tertarik untuk mengenali sesuatu yang baru.
Mia terlihat diam dan membiarkan Munding melakukan observasinya. Munding lalu bergerak ke arah Rony yang berada di sebelah Mia, kali ini dia dengan cepat menyelesaikan apa yang tadi dia lakukan terhadap Mia.
“Dia.. Bunuh.. Apa yang kau lakukan pada keluargaku?” geram Munding ke arah Nia.
“Hentikan!! Ini perintah!!” teriak Mia lagi.
Munding melirik ke arah Mia, ujung telunjuknya yang tadi menunjuk ke arah Nia kini bergeser dan mengarah ke Mia, “Kau.. Lemah.. Mangsa.. Bunuh..”
Dengan cepat jari telunjuk Munding juga bergerak ke arah Rony, “Kau.. Lemah.. Mangsa.. Bunuh.. Kalian.. Lemah.. Mangsa.. Bunuh!!!!!” teriak Munding setelah itu sambil melompat ke arah Mia dan Rony sambil merentangkan kedua tangannya ke samping kiri dan kanan.
Mia menggertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya, dia ingin sekali sparing dengan Munding, tapi tidak begini caranya. Munding dalam kondisi berserk dan tidak dapat menguasai diri, itu artinya, ini adalah duel hidup dan mati.
__ADS_1
Buakkkk.
Cakaran tangan Munding beradu dengan pukulan Mia di udara ketika Mia dengan berani menyongsong serangan Munding. Dari sini, terlihat determinasi dan keberanian Mia sebagai salah satu petarung kategori D+ dari tim Merah Putih.
Di sisi lain, Rony masih ragu-ragu untuk menyerang Munding dan menunggu kesempatan untuk melompat mundur dari jangkauan serangan Munding dengan memanfaatkan kesempatan saat Munding sedang bertempur dengan Mia.
Sifat asli manusia akan terlihat ketika dia sedang dihadapkan dengan pilihan yang krusial untuk keberlangsungan hidupnya sendiri. Di saat nyawa kita dipertaruhkan, disitulah kita akan diuji dengan sesungguhnya, seperti apakah karakter kita?
Dan Mia hanya tersenyum pahit saat melirik Rony yang melompat mundur saat dia menerima serangan dari Munding.
Mia tahu kalau Rony mengejarnya dari dulu, tapi Mia tahu seberapa busuk kelakuan Rony. Karena itu, dia sengaja untuk menggantung posisi dan perasaan laki-laki itu. Setelah bertahun-tahun terpisah dan Mia masih menemukan kalau Rony masih menyimpan rasa itu untuknya, Mia hampir memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Rony.
Tapi, sebelum semua itu terjadi, mereka semua mengalami kejadian ini. Dan Mia melihat sisi asli laki-laki yang hampir saja dia pasrahkan perasaannya itu. Karena itulah Mia tersenyum pahit.
"Ternyata, Rony terlalu mencintai dirinya sendiri," gumam Mia dalam hati.
Munding terdorong ke belakang oleh pukulan Mia. Mia sendiri merasakan kepalan tangannya seperti memukul benda keras dan membuat buku-buku jarinya kesakitan. Baru kali ini dia beradu pukulan dengan tangan orang lain dan merasakan rasa sakit seperti ini.
“Munding, hentikan!! Kami ini temanmu!!” teriak Mia sambil tetap memasang kuda-kuda.
Munding terlihat berpikir sebentar, “Teman? Kalian.. Lemah.. Mangsa.. Bukan.. Teman..”
Mia menarik napas panjang. Ini akan menjadi pertarungan terberat yang akan dihadapi Mia dalam hidupnya.
__ADS_1