
“Hei bocah, kamu ngapain berdiri di situ?” tegur salah seorang dari mereka ke arah Munding yang disambut tawa dari teman-temannya.
“Namaku Munding dari SMA Harapan Bangsa, hari ini aku datang untuk menyerang sekolahmu, STM Sriwijaya. Panggil Wowo Gundul untuk keluar kesini!” kata Munding dengan tenang.
Kelima orang siswa tadi yang sempat tertawa beberapa saat setelah mendengar kata-kata Munding. Tapi setelah mereka mendengar kalau Munding adalah siswa dari Harsa dan mau menyerang sekolah mereka, dengan cepat mereka terdiam.
Mereka tahu kalau Komandan mereka sudah memutuskan untuk menyerang Harsa beberapa hari lalu, tapi kenapa justru kini ada seorang siswa Harsa yang datang ke sini menyerang mereka? Sebuah nama yang menjadi topik pembicaraan hangat para siswa SMK Sriwijaya beberapa hari ini pun muncul dalam kepala mereka.
Munding, Raja baru dari SMA Harapan Bangsa.
Salah satu diantara 5 orang siswa tersebut kemudian maju ke depan, “kamu serius kan? Jangan cari gara-gara dengan kami!” tanya siswa itu kepada Munding, meskipun dia sudah menebak siapa orang yang ada di depannya sekarang, dia pura-pura tidak mengetahuinya.
“Aku terlihat sedang bercanda ya?” kata Munding sambil menunjuk wajahnya sendiri yang tanpa tersenyum dengan menggunakan jari telunjuk, sikapnya masih tetap tenang dan itu membuat kelima orang siswa di depannya semakin yakin dengan identitas siswa Harsa di depan mereka.
Siswa tadi membalikkan badannya ke arah kawan-kawannya, “Kucai, kasih tahu Komandan. Yang lain, kita tahan dia disini sampai Komandan datang.”
Siswa yang dipanggil si Kucai langsung berlari kembali ke arah bangunan gedung sekolah SMK Sriwijaya yang ada di belakang mereka, sedangkan ketiga siswa lainnya menggenggam kepalan tangannya masing-masing kemudian berdiri disamping siswa yang tadi mengajak bicara Munding.
“Buka gerbangnya!!” teriak siswa tadi ke arah rekan-rekannya.
__ADS_1
Munding kemudian berjalan masuk ke halaman SMK Sriwijaya yang hanya seluas lapangan bola basket itu. Keempat siswa yang berhadapan dengannya tadi mengambil posisi mengelilingi Munding dan mengambil kuda-kuda untuk berkelahi.
Tak sampai hitungan menit, banyak siswa-siswa lain sudah berkumpul di sekitar halaman SMK Sriwijaya. Mulai dari kelas satu sampai ke kelas tiga. Tidak ada kepanikan terlihat dalam wajah mereka. Tetapi di tengah lapangan basket, hanya ada lima orang berdiri di sana. Empat orang siswa sedang mengelilingi satu orang musuhnya.
Hampir semua siswa Sriwijaya bertanya-tanya, siapa si gila ini yang datang membuat keributan di sekolah mereka? Datang sendirian lagi, keren sih, tapi cari mati, mungkin seperti itu isi kepala sebagian besar murid SMK Sriwijaya yang menyaksikan pemandangan di tengah lapangan basket di depan mereka.
“Kasih jalan!!!!”
Tiba-tiba terdengar teriakan keras yang mengagetkan anak-anak yang bergerombol di pinggir lapangan basket. Seorang siswa dengan rambut model spiky berjalan sambil menendangi dan memukuli siswa yang menutupi jalannya agar menyingkir.
Siswa-siswa tersebut memberikan jalan kepada si rambut spiky, karena semua orang tahu dia adalah ajudan dari sang Komandan Perang. Beberapa langkah di belakang si rambut Spiky, seorang bocah berambut gundul plontos, salah, maksudnya seorang siswa tanpa rambut sama sekali, berjalan dengan pelan sambil menghisap rokok di tangannya.
Langkah kaki dan gayanya mirip dengan bos-bos mafia atau gangster di film-film. Sesekali dia akan melotot ke siswa kelas 1 atau 2 yang ada di sebelahnya saat dia berjalan. Dia adalah Wowo Gundul.
Mereka berjalan dengan gayanya masing-masing, tapi satu hal yang pasti, ada sorot kebanggaan saat mereka berjalan di belakang sang Komandan Perang, karena mereka tahu, tidak boleh ada yang melawan perintah sang Komandan atau mereka akan menghadapi keroyokan dari seluruh siswa SMK Sriwijaya.
“Ente si Anak Baru yang berhasil ngalahin si Bram MinMaks itu ya?” tanya bocah gundul itu dengan wajah terangkat keatas dan pandangan mata melirik ke bawah, asap rokok terlihat mengebul dari bibirnya, memang nggak ada guru BK ya disekolah ini?
Munding terdiam dan mengalihkan perhatiannya dari keempat siswa yang dari tadi mengelilinginya, “kamu siapa?”
__ADS_1
Wowo terdiam di tempatnya seketika, raut mukanya terlihat seperti habis menelan kecoa, “hari gini masih ada anak yang belum kenal ane? Si Wowo Gundul, murid terkeren dan termacho se-SMK Sriwijaya?” teriak Wowo dalam hati.
“Ente belum tahu siapa ane ya? Ente liat ni kepala?” tanya si Wowo sambil menunjuk ke rambut diatas kepalanya dengan geram dan tangan sedikit bergetar karena menahan emosi.
Munding melirik sebentar ke arah kepala Wowo dan tiba-tiba matanya tersilaukan oleh pantulan sinar matahari yang mengenai kepala plontos si Wowo. Dengan reflek Munding menggunakan tangan kanannya untuk menghalangi pantulan sinar matahari itu mengenai matanya.
Saat itu Munding tersadar kalau dia sedang berhadapan dengan ketua dari SMK Sriwijaya, si Wowo Gundul yang disebutkan oleh A Long tadi saat jam istirahat kedua.
“Kamu Wowo Gundul ya?” kata Munding sambil mengulurkan tangan ke arah Wowo, “aku Munding.”
“Munding? Ane Hernowo, panggil aja Wowo,” jawab Wowo sambil berjabatan tangan dengan Munding.
Keempat orang yang sedari awal tadi mengelilingi Munding sama-sama membatin dalam hati, “ini mau perang apa mau kenalan sih? Pake jabatan tangan segala!”
“Jadi kenapa ente kesini?” tanya Wowo setelah mereka berkenalan tadi.
“Kata A Long, kamu mau menyerang SMA-ku. A Long juga bilang kalau aku punya kewajiban untuk menjawab tantangan itu. Jadi sekarang aku yang datang ke sini untuk menyerang sekolahmu,” jawab Munding dengan nada datar, seolah-olah dia sedang membaca sebuah berita di koran, bukan sedang menantang sekolah lain.
Hahahahahahahahahaha.
__ADS_1
Semua siswa yang berdiri di pinggir lapangan basket dan baru saja mendengar kata-kata Munding tertawa keras, termasuk Wowo dan kesembilan Naga-nya, eh salah, sembilan Kopralnya. Mereka seperti baru saja mendengar lelucon terlucu abad ini, ada orang yang berani menyerang sekolah mereka sendirian? Tengkorak kepala ente pernah retak nggak ketahuan ya Bro? Seperti itulah isi hati sebagian besar murid SMK Sriwijaya.
“Ente mau menyerang Sriwijaya sendirian? Berarti memang benar yang ane dengar selama ini, pantas kalau ente dipanggil Bocah Gila, jalan pikiran ente memang tidak masuk di akal,” kata Wowo setelah puas tertawa.