Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 78 - 3 Kali Lipat


__ADS_3

Amel merasakan sesuatu yang lain saat Munding bertanya dengan nada datar tanpa ekspresinya itu. Kemana Munding yang tersenyum manis kepadaku barusan? teriak Amel dalam hati.


“Emang apa urusannya sama kamu? Ini rumahku, aku bebas kemana saja aku pergi, kamu tu yang harusnya nyadar,” balas Amel tak kalah galak.


Munding menarik napas kembali. Betapa bedanya antara gadis di depannya ini dengan Nurul, Munding menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah kenapa isi otaknya sedari tadi cuma berisi istrinya saja.


Saat beberapa bulan dalam penjara, Munding bisa menekan rasa kangen dan rindunya untuk Nurul karena dia sama sekali tidak pernah bertemu dan berinteraksi dengan lawan jenis. Tapi kini, entah kenapa, pikirannya selalu terbayang-bayang ke istrinya terus.


Apalagi saat dia tanpa sengaja melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat. Bayangan Nurul langsung muncul di kepalanya.


“Oke. Kamu benar, ini rumahmu, terserah kamu mau ngapain. Yang penting tolong jangan ganggu aku latihan,” kata Munding sambil memutar badannya dan bersiap-siap untuk memulai latihannya lagi.


Amel merasa marah dan kecewa, “kamu kan liat kalau aku bawa dua buah gelas minuman sekarang, harusnya kamu tahu kan kalau aku ke sini tu bawain kamu minuman?” teriak Amel, tapi cuma dalam hati.


Di luarnya, Amel cuma menjejakkan satu kakinya ke tanah dan meninggalkan Munding yang kembali asyik dengan latihannya. Amel kemudian duduk di teras belakang dengan dua buah gelas susu coklat di sampingnya dan melihat Munding sedang berlatih di kejauhan.


“Dasar bocah kampung, sama sekali nggak peka,” rutuk Amel.


Setelah itu, Amel dengan terpaksa menghabiskan dua buah gelas susu yang ada disampingnya sendirian. Yang kemudian mengakibatkan Amel mengalami gangguan pencernaan setelahnya.


\=\=\=\=\=\=


“Bro,” panggil A Long kepada seorang siswa yang duduk di kantin siang itu.


Amel terlihat mengrenyitkan dahinya melihat A Long mendekati Munding yang sedang makan bersama dirinya. Yup, ini sudah hari ketiga Amel menemani Munding makan siang di kantin. Bukan menemani sih sebenarnya, Amel yang maksa ikut.


Amel duduk di sebelah Munding dengan jarak yang cukup jauh. Meja kantin di SMA Harapan Bangsa berbentuk persegi dan berukuran kecil dengan empat buah kursi di sekelilingnya dengan 2 kursi yang saling berhadapan.

__ADS_1


A Long duduk di depan Munding dan menatap serius ke mata Munding.


“Kamu ngapain sih Long duduk disini?” tegur Amel.


A Long melirik sebentar ke arah Amel yang ada di sebelah Munding, “Mel, ini kayanya bukan urusan lu deh. Munding sudah ngalahin Bram, ini saatnya dia memikul tanggung jawab yang seharusnya dia pikul.”


“Enak aja bukan urusan Amel, Munding itu..” Amel agak ragu sejenak soal status Munding dalam keluarganya, Papanya sendiri bahkan menganggap Munding lebih penting dibanding anak buahnya sendiri mungkin, tapi kan kata Papa, Munding itu bodyguard Amel, “Munding itu bodyguard Amel. So pasti lah, Amel musti tahu urusan dia apa,” bantah Amel.


“Beneran Bro, lu bodyguard si Amel?” tanya A Long setengah tak percaya, “buset dah, kalau gitu, gue bayar lu 3 kali lipat gaji yang lu terima dari Papa Amel, lu mau kan jadi bodyguard gue?” kata A Long tiba-tiba, seperti mendapatkan durian runtuh.


“Enak aja kamu!! Ngomong sama Papaku kalau berani!!” tantang Amel ke A Long.


A Long terdiam, sehebat-hebatnya ayahnya sendiri, nggak mungkin Papa berani kalau disuruh konfontrasi dengan militer. Itu sama saja dengan cari mati.


“Oke Bro, gue bakalan ngomong singkat aja. Lu udah ngalahin Bram, di mata semua orang, baik siswa sini ataupun luar sini, mereka nganggep kalau lu tu Raja-nya Harsa sekarang,” kata A Long.


“Itu artinya lu musti siap sedia menghadapi tantangan perang dengan sekolah atau geng lain,” A Long terlihat sengaja berhenti sejenak untuk memberi kesempatan Munding untuk mencerna kata-katanya barusan, “selain itu lu juga harus melayani tantangan duel satu lawan satu dengan para penantang yang ingin menggantikan posisi lu sebagai Raja di SMA ini.”


“Lu ngerti?” tanya A Long.


“Aku ngertinya cuma satu, siapapun yang datang dan menantangku, akan kuhadapi. Siapapun dia,” kata Munding sambil tersenyum.


A Long menepuk jidatnya, sampai berbuih mulutnya menjelaskan tadi, nggak ngerti juga bocah gila satu ini, “ish, sudah lah, pake handphone ini. Nomornya sudah gue masukkan ke grup KPK sebagai nomor lu. Nanti kalau ada tantangan tawuran, lu yang jawab dan hadapi,” kata A Long sambil menyorongkan handphone terbaru dari Samsung ke arah Munding.


Munding cuma meliriknya, dia sama sekali tidak tertarik dengan gadget. Kalau dia mau, Ambar sudah membelikan gadget apapun yang dia minta kemarin-kemarin. A Long melihat gerak-gerik Munding menganggap kalau Munding sungkan karena harganya yang mahal.


“Nggak pa-pa Bro ambil saja, ini hasil kemenangan taruhan kemarin kok. Banyak yang jagoin Bram dan ternyata lu yang menang, gue menang taruhan besar. Duit banyak masuk, keluar dikit,” kata A Long sambil tertawa.

__ADS_1


Ketika Munding mendengar kalau handphone tersebut adalah duit hasil taruhan dengan tegas dia menolaknya.


A Long sedikit bingung, “udah berapa hari ini, gue nunda-nunda terus tantangan Wowo Gundul dari SMK Sriwijaya buat tawuran, kalau sampai mundur lagi, bisa-bisa gue dihajar mereka nanti,” kata A Long.


“SMK Sriwijaya? Dimana letaknya?” tanya Munding penasaran.


A Long juga agak heran dengan pertanyaan Munding, tapi dia memberitahukannya juga, “tak sampai 2 Km dari sini, jalan kaki pun nyampe. Di dekat masjid jalan Sriwijaya itu,” jelas A Long.


“Oke makasih,” jawab Munding sambil meneruskan kembali makan siangnya, “oiya, kamu bilang ke siapa namanya tadi, Wowo? Aku akan menyerang sekolahnya siang ini,” lanjut Munding dengan muka datar.


A Long yang mendengarnya tertawa seketika itu juga, Munding mungkin ingin membuat sebuah lelucon, tapi sama sekali nggak lucu, batin A Long.


“Jadi gimana hapenya?” tanya A Long mencoba mengalihkan perhatian dan percakapan absurd barusan.


“Kamu simpan saja, aku tak suka barang haram hasil taruhan gitu,” kata Munding, “lain kali kalau ada yang penting lagi, kabari aja aku,” lanjut Munding sekenanya.


A Long menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Tapi beberapa saat kemudian, A Long tiba-tiba merasa kalau dia sudah ditipu dan menjadi anak buah Munding tanpa sengaja. Kok bisa sih? rutuk A Long dalam hati.


\=\=\=\=\=


Tanpa sepengetahuan siapapun, seorang pemuda dengan bekas luka kecil di kening kirinya berdiri di depan gerbang SMK Sriwijaya saat jam pelajaran terakhir baru saja dimulai. Jadi setelah selesai makan siang tadi dengan Amel dan A Long, Munding tidak kembali ke kelas tetapi langsung melompati pagar sekolah dan menghilang.


Dan disinilah dia berdiri 15 menit kemudian, di depan gerbang SMK Sriwijaya yang tertutup rapat dan terlihat sepi. Hanya satu dua anak yang terlihat berlarian di koridor sekolah dan membawa buku atau alat mereka.


Munding berdiri di depan gerbang selama hampir 5 menit ketika akhirnya ada beberapa orang siswa yang keliatannya kelas dua dan akan berangkat menuju ke laborat untuk praktikum tertarik melihat ada seorang bocah berseragam SMA dan berdiri di depan gerbang mereka sendirian.

__ADS_1


“Hei bocah, kamu ngapain berdiri di situ?” tegur salah seorang dari mereka ke arah Munding yang disambut tawa dari teman-temannya.


“Namaku Munding dari SMA Harapan Bangsa, hari ini aku datang untuk menyerang sekolahmu, SMK Sriwijaya. Panggil Wowo Gundul untuk keluar kesini!” kata Munding dengan tenang.


__ADS_2