Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 103 - Tipu Muslihat vs Personal Strength


__ADS_3

Setelah itu, si Perlente dengan sigap mengumpulkan semua video footage yang diambil oleh kawan-kawan Citra malam itu dengan alasan untuk investigasi. Dia menghapus semua bagian yang tanpa sengaja merekam perkelahian antara Munding dan Bambang.


Setelah itu, dia mengunjungi Bambang yang ada dalam penjara dan menanyakan langsung apa yang dia lihat dan alami. Si Perlente pun akhirnya dapat memastikan kalau Munding adalah seorang serigala petarung. Tapi Si Perlente yakin kalau Munding hanya berada tahap awakening.


Si Perlente menyembunyikan semua fakta ini dari Sang Guru. Dia ingin Munding menjadi wild card yang bisa dia mainkan untuk menjatuhkan laba-laba yang memerangkapnya dalam jaringnya itu.


Si Perlente merasa, selama dia masih ada dalam perangkap pengaruh sang Guru. Dia tidak akan pernah leluasa untuk bergerak sesuai keinginannya. Karena Sang Guru adalah seorang psychopath yang mempunyai tujuan jauh dari nalar seorang manusia.


Berbeda dengan Sang Guru, si Perlente mempunyai tujuan yang jauh lebih sederhana. Mendapatkan uang dengan berjualan narkoba ke anak-anak orang kaya itu dan mendapatkan relasi dengan orang tua mereka. Dengan satu tujuan, memperkaya dirinya sendiri.


Melihat si Perlente larut dalam pikirannya sendiri, sang Guru menegurnya, “apa yang kau pikirkan?”


Si Perlente menggelengkan kepalanya, “tidak ada,” jawabnya pelan.


Sang Guru cuma tersenyum, “dulu, di tempatku berasal ada ungkapan yang selalu kami pegang teguh.”


“Seribu satu tipu muslihat, tidak akan berarti di hadapan sebuah kepalan tangan dengan kekuatan yang sesungguhnya.”


“Hancurkan semua tipu muslihat musuhmu dengan kepalan tanganmu.”


“Ketika kepalan tangan sudah terayun dan terarah ke kepalamu, tipu daya apalagi yang mau kau gunakan?”


Si Perlente merasakan sebuah pisau seolah-olah menancap ke dadanya. Dia sadar meskipun sang Guru tidak tahu apa yang dia sembunyikan dan rencanakan, tapi sang Guru tahu kalau dia sedang melakukan sesuatu di belakangnya.

__ADS_1


“Aku tidak pernah melarangmu untuk mencari uang dengan memanfaatkan rencana besarku. Tapi jika keserakahanmu menjadi sumber kegagalan dari semua rencanaku. Aku tidak akan tinggal diam,” kata sang Guru tegas.


“Iya,” si Perlente cuma menganggukkan kepalanya pelan, dia tahu seberapa psycho-nya orang tua di depannya itu.


Rencana besar dan tujuan mulia yang selalu digadang-gadang oleh sang Guru, tak lebih dan tak bukan adalah membuat chaos di Semarang. Suatu kondisi dimana akan terjadi kekacauan secara massal yang menyebabkan sistem pemerintahan lumpuh total dan hukum rimba berlaku di jalanan.


Karena sang Guru berpendapat, saat berada pada kondisi terkelamnya, manusia baru akan tersadar untuk apa dia diciptakan. Ketika dihadapkan pada pilihan yang tersulit dalam hidupnya, barulah seseorang akan memalingkan kepalanya ke arah sang Pencipta untuk memohon pertolongan dan ampunan.


Untuk mencapai itu semua, sang Guru ingin melakukannya dengan cara melumpuhkan orang-orang yang berpengaruh dan dianggap vital di kota ini.


Si Perlente memberikan sarannya dengan mendekati anak-anak mereka yang bersekolah di Harsa terlebih dahulu. Karena sekejam-kejamnya Harimau, mereka tidak akan memangsa anaknya sendiri kan?


Suatu hal yang mustahil bagi sang Guru untuk menghabisi semua pengambil keputusan di kota ini sendirian. Karena itu, rencana yang mereka gunakan adalah, menciptakan sebuah tim elit untuk melakukan tugas rahasia dalam kegelapan, menghancurkan anak-anak mereka menggunakan narkoba, mengumpulkan uang untuk membangun tentara mereka sendiri.


Ketika semua persiapan sudah usai, langkah pertama, mereka akan menghentikan semua pasokan narkoba ke para siswa pecandu itu yang tentunya akan menyebabkan mereka sakaw, dengan tujuan akhir membuat orang tua mereka panik. Hal itu tentu saja akan mempengaruhi jalannya pengambilan keputusan dalam kondisi genting yang akan mereka ciptakan nantinya.


Langkah terakhir, mereka akan menggunakan uang untuk menggerakan geng-geng kecil di seantero kota Semarang untuk memulai kerusuhan yang akan menyebabkan kolapsnya jalan pemerintahan secara total. Mereka juga akan melakukan blokade di akses pintu masuk dan keluar dari kota Semarang.


Setelah semua fasilitas vital di kota Semarang sudah dihancurkan, sang Guru yakin, sekalipun bantuan dari tempat lain datang ke kota ini. Semarang akan tetap lumpuh total selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.


Waktu yang cukup untuk membuat sang Guru merekrut pasukannya sendiri di antara warga yang sedang kalut dan membutuhkan uluran tangan. Pasukan berani mati yang siap untuk berperang atas nama keyakinan mereka. Yang akan melindungi keyakinan mereka sampai titik darah terakhir.


Sama seperti dulu yang pernah sang Guru alami.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


“Kita tidak berhasil menemukan orang itu Pak,” lapor Ambar kepada Broto dalam ruangan kerjanya.


“Hmmmm?” Broto terlihat sedikit kebingungan, dari sekian banyak anggota MinMaks yang mereka ringkus malam itu dan serahkan kepada polisi, sebagian dari mereka memang dilepaskan karena masih dibawah umur.


Tapi untuk si ‘X’ yang menjadi incaran mereka ini, dia adalah seorang pria dewasa. Dan untuk seorang pria dewasa yang melakukan kejahatan, seharusnya tidak semudah itu untuk dilepas dari penjara tanpa dakwaan.


Dari hp si ‘X’ yang diperoleh Munding, militer berhasil mendapatkan sebuah foto diri yang sangat jelas dan mereka gunakan untuk meminta bantuan dari pihak kepolisian untuk menyerahkan yang bersangkutan ke tangan militer.


Tapi Kepolisian menjawab permintaan mereka dengan sebuah informasi yang baru saja Ambar berikan kepada Broto. Si ‘X’ dilepaskan dari penjara bersama dengan tersangka lain yang masih di bawah umur.


“Hahahahahahahahaha,” tiba-tiba Broto tertawa setelah terdiam dan mengrenyitkan dahi selama beberapa saat.


“Ada yang bermain rupanya di dalam sana,” kata Broto pelan, setelah itu dia menolehkan kepalanya kearah Ambar, “Munding beberapa waktu lalu memberi tahu tentang wali kelasnya kan? Kita akan kerjasama dengan mereka. Kamu hubungi dia dan atur pertemuan untuk sharing informasi yang kita punya.”


“Siap,” kata Ambar sambil memberikan hormat kepada atasannya dan meninggalkan ruangan.


Setelah Ambar pergi meninggalkan ruangan, Broto tersenyum dan bergumam, “satu lembaga tapi saling mengejar bayangan masing-masing.”


\=\=\=\=\=


Dua orang wanita bertemu di teras depan sebuah restoran cepat saji siang itu. Mereka berdua menggunakan pakaian yang hampir senada. Kemeja yang rapi dan rok pendek setinggi paha. Tampilan dan pembawaan mereka juga sangat mirip. Mereka sama-sama tenang, datar dan terpelajar.

__ADS_1


Mereka adalah Santi dan Ambar. Mereka sudah berkenalan saat pertama kali bertemu tadi. Saat ini mereka sedang asyik menikmati pesanan mereka sambil sesekali mengobrol pendek. Orang pasti tidak menyangka bahwa mereka berdua adalah repsentatif dari dua tim yang berbeda dan sedang bernegosiasi alot untuk pekerjaan mereka.


“Kami sudah setahun lebih berada dalam misi ini. Kami lebih berhak untuk mengejar Mr X yang sedang kalian buru ini,” kata Santi.


__ADS_2