
Orang-orang suruhan Karto masih mengelilingi Munding yang tersungkur dengan napas terengah-engah di lantai. Pemuda itu terlihat memejamkan matanya dan seolah-olah sedang mengalami mimpi buruk karena wajahnya semakin pucat dan keringat mengalir deras dari kepalanya.
Darah masih tetap menetes ke lantai di bagian bawah luka Munding, tapi tidak sederas yang tadi karena Munding masih menekan luka tusukan pisau itu dengan telapak tangannya.
Keempat prajurit yang memperhatikan gerak-gerik Munding tiba-tiba merasakan sesuatu sedang terjadi kepada pemuda tersebut. Sesuatu yang membuat mereka merasa ketakutan. Sesuatu yang membuat naluri prajurit mereka menjerit-njerit akan adanya ancaman bahaya yang keluar dari tubuh pemuda yang tersungkur di lantai itu.
Mereka saling bertatapan mata dan tiba-tiba saja satu nama sebutan muncul di kepala mereka. Nama sebutan yang telah mereka dengar berulang kali dari kawan-kawan mereka yang kembali dari pelatihan komando pasukan elit ataupun kawan-kawan mereka yang kembali dari bertugas untuk pengamanan saat terjadi kerusuhan berskala nasional.
Serigala petarung.
Prajurit Pertama, yang dianggap paling senior dari mereka berempat, menggelengkan kepalanya, “tidak mungkin,” katanya menenangkan ketiga kawannya yang lain.
Tetapi sebagai seorang prajurit mereka selalu percaya kepada naluri mereka sendiri. Mereka mengambil posisi siaga meskipun berdiri di belakang lingkaran penjagaan yang dibuat oleh preman-preman Karto.
“Hehehehehehehehehe,” tiba-tiba terdengar suara tawa pelan dari Munding yang masih tersungkur di tanah.
“Hahahahahahahahahaha,” Munding tertawa kemudian membuka matanya dan melihat ke arah orang-orang yang mengelilinginya.
Booooooooommmmmmmmmm.
Semua orang yang berada di rumah itu tiba-tiba merasakan sesuatu seperti meledak di tubuh mereka. Meskipun mereka tidak mendengar suara ledakan tersebut tapi seluruh tubuh mereka bergetar karena rasa kaget dan ketakutan yang tiba-tiba muncul. Dan secara naluriah mereka semua melihat ke arah sumber rasa takut itu.
Munding.
Pemuda yang tadinya tersungkur di lantai itu kemudian mencoba berdiri pelan-pelan sambil tetap memegangi perutnya yang tertancap pisau. Tatapan matanya terlihat apathetic. Hampa. Seolah-olah semua yang ada di depannya adalah sesuatu yang sama sekali tidak penting.
Baik itu Karto, Ayu, Sutinah, preman-preman Karto ataupun prajurit-prajurit tanpa seragam itu. Semuanya terlihat tanpa arti bagaikan semut dimata manusia. Munding menunduk ke arah pisau yang tertancap di perutnya kemudian tanpa ragu mencabutnya dari sana.
Darah mengucur deras dari lukanya tapi kemudian dengan cepat darah itu berhenti. Luka Munding masih jelas terlihat disana dan tetap tidak hilang ataupun sembuh, tapi luka itu terlihat menutup dengan rapat, seperti dipaksa menutup karena kontraksi otot-otot perut di sekitarnya.
__ADS_1
Munding kemudian melihat pisau kecil yang tadi digunakan oleh Ayu untuk menusuknya. Sebuah pisau kecil yang biasa dipakai untuk mengupas buah. Bukan sesuatu yang istimewa. Cuma pisau biasa yang sering kita jumpai dalam keseharian kita. Tapi pisau itu yang membuat Munding tersadar akan semuanya.
\=\=\=\=\=
Munding merasakan tubuhnya bergetar hebat ketika dia berjabat tangan dengan ‘nalurinya’.
“Percayalah padaku, jangan pernah ragukan nalurimu, karena kita adalah satu.”
‘Munding’ yang berdiri didepannya pelan-pelan mencair seperti es yang terkena panas. Tapi cairan itu masuk ke dalam tubuh Munding melalui telapak tangan yang masih dia pegang. Munding juga merasakan kalau ‘sesuatu’ mulai menyebar ke seluruh tubuhnya melalui telapak tangannya yang bersentuhan dengan ‘Munding’.
Ketika akhirnya ‘Munding’ yang ada didepannya sudah menyatu dengan dirinya, Munding tahu kalau proses inisiasinya sudah berhasil. Dia adalah seorang serigala petarung sesungguhnya.
Seekor predator yang sudah resmi naik satu tingkat dalam rantai makanan.
Dan Munding pun tertawa sambil membuka matanya.
Ketika dia membuka matanya, tanpa sadar Munding sudah memasuki kondisi yang Pak Yai sebut dengan ‘mode tarung’. Tetapi tidak seperti sebelumnya, kali ini Munding merasakan mode tarung yang sangat berbeda dengan yang dia alami saat awakening dulu.
Tapi kali ini lain, Munding merasa seluruh tubuhnya seperti mendapatkan tekanan dari segala arah. Bahkan untuk bernafas pun Munding merasa kesusahan. Dengan susah payah dia mencoba berdiri tapi akhirnya dia hanya sanggup melakukannya setelah membutuhkan waktu yang lama.
Munding juga berusaha mencabut pisau yang menancap di perutnya, tapi usaha itu membutuhkan sebuah perjuangan yang luar biasa. Dia merasa untuk mencabut pisau di perutnya, dia sudah menghabiskan hampir 15 menit waktunya.
“Tapi kenapa orang-orang Karto mendiamkan saja apa yang kulakukan, bukankah mereka punya kesempatan dari tadi untuk menghabisiku. Aku mencoba berdiri dan mencabut pisau dalam waktu selama itu, kenapa mereka diam saja?” batin Munding dalam hati.
Dan tiba-tiba saja Munding merasakan sesuatu yang aneh, dia sama sekali tidak merasakan hembusan angin atau suara apapun disekitarnya. Dan ketika dia mengangkat wajahnya, Munding terkesima. Semua orang yang ada di ruangan tersebut bergerak sangat lambat sekali. Seperti sebuah film yang diperlambat 32x.
“Ini?” Munding melihat ke arah kedua tangannya sendiri.
“Aku masih bisa bergerak dengan normal meskipun seluruh tubuhku seperti terasa diremas dan mendapatkan tekanan yang luar biasa, tapi kenapa mereka bergerak sangat lambat sekali?” gumam Munding.
__ADS_1
“Aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan dalam mode ini, sebaiknya aku menghabisi musuh-musuhku saat masih bisa,” kata Munding sambil berjalan dengan susah payah menuju salah satu preman yang berdiri paling dekat dengannya.
Di tangan Munding masih ada sebuah pisau yang tadi menancap di perutnya dan berhasil dia cabut. Preman Kesatu ini terlihat masih dalam posisi siaga dan melihat dengan seksama ke arah Munding. Munding yang sudah berdiri tepat di sampingnya tersenyum dan mengayunkan pisaunya ke leher Preman Kesatu.
Srettttttt.
Darah mengalir seiring luka gorokan di leher Preman Kesatu, tapi Munding bisa melihat dengan jelas tetes-tetes darah itu muncrat dari luka di lehernya. Dan Munding dengan mudah dapat menghindarinya. Semburan darah itu bagaikan air mancur berwarna merah yang diperlambat oleh efek slow motion.
Sangat indah.
Preman Kesatu terlihat menunjukkan ekspresi kaget dan menutupi luka di lehernya yang tiba-tiba saja muncul disana. Dengan panik dia melihat ke sekelilingnya dan akhirnya dia tersungkur meregang nyawa.
Munding bergerak ke sasaran berikutnya. Preman Kedua yang berdiri tak jauh dari Preman Kesatu. Kali ini Munding melompat dan mengayunkan tendangan sabit dari arah belakang kepala Preman Kedua.
Prakkkkkkkkkkkkkkk.
Munding bisa melihat dengan jelas ekspresi dari Preman Kedua saat dia menerima tendangannya. Kepala si Preman Kedua tersentak ke depan karena tendangan Munding.
Munding juga bisa melihat dengan jelas tengkorak belakang Preman Kedua retak dan terdorong ke depan, ke arah otak besarnya. Munding tak tahu apa yang terjadi pada otak kecil Preman Kedua yang mendapatkan impact langsung dari tendangan sabitnya.
Preman Kedua rubuh perlahan ke depan di saat yang hampir berbarengan dengan Preman Kesatu tersungkur sambil memegangi lehernya.
Munding mencondongkan tubuhnya kesamping dan bergerak menuju Preman Ketiga dengan gerakan badan yang hampir terjatuh ke arah lantai Munding mengayunkan tangannya yang memegang pisau ke arah perut Preman Ketiga.
Srettttt.
Munding tidak tahu apa yang dia lihat, tapi berbeda dengan Preman Kesatu, selain air mancur merah yang menyembur dari perut Preman Ketiga, ada sesuatu organ lain yang keluar dari perutnya. Tapi Munding tidak memperhatikan itu.
Karena dia merasakan tubuhnya berteriak dan telah mencapai limitnya. Munding tahu kalau dia bertahan dalam kondisi mode tarung seperti ini lebih lama lagi, seluruh otot-otot tubuhnya akan hancur karena tekanan dan beban yang ditanggungnya.
__ADS_1
Munding berguling mundur ke arah pintu depan dan kemudian dia menendangnya. Meskipun luka di perut Munding terasa menyiksanya, dia harus pergi dari tempat ini sejauh mungkin.
Itu satu-satunya kesempatannya untuk selamat, karena setelah ini, Munding tahu kalau seluruh tubuhnya akan kehilangan kemampuan untuk mempertahankan diri.