Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 81 - Sebatang Rokok dalam Dompet


__ADS_3

“Munding, kalau kamu dikeroyok orang, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Pak Yai.


Munding terlihat berpikir sebentar kemudian menjawab, “Munding akan menyerang pemimpin mereka, saat pemimpinnya kalah, pasti anak buahnya akan seperti anak ayam kehilangan induk.”


Munding kemudian terdiam sebentar dan melanjutkan lagi, “atau kalau memang Munding tidak punya kesempatan untuk menang lagi, Munding akan menyerang salah satu dari pengeroyok Munding, paling tidak, jika Munding tewas, Munding bisa membawa satu dari mereka sebagai kawan.”


Pak Yai tertawa mendengar jawaban Munding, “jawabanmu yang pertama itu jawaban ngawur. Jawaban khayalan karena sering melihat film aksi yang nggak masuk di akal.”


“Sedangkan jawabanmu yang kedua, itu namanya pertarungan putus asa Le, kamu sudah nggak punya semangat bertarung lagi. Kamu bertarung seolah-olah tanpa harapan menang. Mati sampyuh. Terus kalau kamu harus menang dan kekalahan bukan sebuah pilihan bagaimana? Contohnya saat ada seseorang yang harus kamu lindungi di belakangmu.”


“Terus Munding harus gimana Pak?” tanya Munding.


“Kalau kamu dikeroyok, sekalipun kamu tidak yakin bisa menang melawan mereka semua, setidaknya kamu harus berusaha untuk bertahan selama mungkin. Siapa tahu ada bantuan yang segera datang atau memberi kesempatan untuk orang yang kamu lindungi untuk melarikan diri,” jawab Pak Yai.


“Saat dikeroyok oleh lebih dari satu orang, jangan serang yang terkuat. Serang yang terlemah. Secepat mungkin dan sebisa mungkin habisi dia hanya dalam satu atau dua kali serangan,” lanjut Pak Yai.


Munding terlihat kebingungan, “apa untungnya menyerang yang terlemah dari gerombolan musuhnya?” batinnya dalam hati.


Pak Yai melihat raut muka kebingungan di wajah menantunya kemudian menjelaskan maksud dari perkataannya tadi, “keuntungan menyerang yang terlemah lebih dahulu adalah, yang pertama, selemah apapun dia, dia tetaplah musuh dan memberikan ancaman. Lebih cepat kamu mengurangi jumlah ancaman akan lebih bagus untuk pertarungan selanjutnya. Konsentrasimu tidak akan terganggu untuk fokus.”


“Alasan yang kedua dan terpenting adalah, saat kamu bisa dengan cepat mengalahkan salah satu dari musuhmu, sekalipun dia yang terlemah, ada efek psikologis yang akan dirasakan oleh sisa musuhmu. Mereka akan menganggapmu sebagai musuh yang berbahaya. Dan kemudian mereka akan mejadi ragu-ragu untuk menyerangmu karena tekanan psikologis ini tadi.”


“Ngerti kamu Le?” tanya Pak Yai setelah memberikan penjelasannya.


Munding menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


\=\=\=\=\=


Munding melihat ke arah sepuluh orang yang mengelilinginya. Wowo dan sembilan Kopralnya. Dengan cepat Munding mencoba untuk menentukan siapa yang terkuat dan terlemah diantara mereka bersepuluh dan menentukan targetnya.


Mulai dari yang terlemah dan lumpuhkan dia secepatnya. Kemudian bergerak dari satu musuh ke musuh yang lain dan coba persempit area serang mereka sehingga mereka tidak bisa menyerang secara bersamaan.

__ADS_1


Munding dengan cepat membuat rencana bertarungnya dan ketika dia sudah yakin dengan semua strategi yang disiapkannya, Munding memasang kuda-kudanya dan memberikan tanda ke Wowo Gundul yang berdiri di depannya untuk memulai pertarungan mereka.


Wowo Gundul tersenyum dan mengepalkan kedua tangannya.


Dengan sebuah teriakan keras, Wowo Gundul menerjang ke arah Munding dibarengi oleh sembilan Kopralnya. Mereka semua terlihat tersenyum sambil melayangkan serangannya ke arah Munding.


Senyum kebebasan seorang remaja.


Uryaaaaaaaaaaa.


\=\=\=\=\=


“Hernowo!! Kamu tu udah Ibu bilangin berapa kali? Jangan berkelahi terus!! Kamu tu udah kelas tiga sekarang, bentar lagi mau lulus.......”


Munding mendengar suara teriakan seorang wanita yang sedang memarahi seseorang yang bernama Hernowo. Tunggu, bukannya itu si Wowo? Munding melihat ke sekelilingnya dan ternyata dia ada di sebuah ruangan yang serba berwarna putih dan berbau obat-obatan.


Rumah sakit? tanya Munding dalam hati.


“Namamu siapa? Kamu bukan anak Sriwijaya kan?” tanya laki-laki itu.


Munding terdiam sebentar, “saya Munding Pak, saya dari SMA Harapan Bangsa.”


Si laki-laki berpakaian perawat itu terkekeh, “kenapa kamu datang menyerang kesini sendirian? Kamu nggak gila kan ya? Kalau anak-anak sini pengen nyerang Harsa itu wajar, disini cuma ada murid cowok, bahkan perawat UKS pun laki-laki seperti saya. Jam sekolah dari pagi sampai sore karena ada praktikum.”


“Intinya. Anak-anak Sriwijaya itu sebenarnya cuma pengen nyari cewek aja ke Harsa, nggak ada alasan aneh-aneh kok,” kata Si Perawat laki-laki itu.


Munding cuma tersenyum, dia sudah tahu tadi saat bersenang-senang dengan mereka. Wowo dan anak buahnya tidak terlihat seperti geng MinMaks yang terlihat mengonsumsi minuman keras ataupun narkoba.


Mereka seperti segeromboan remaja laki-laki yang sedang bersenang-senang. Bagi mereka berkelahi mungkin tak ubahnya seperti main sepak bola.


Berkeringat, tertawa bersama-sama lalu lupakan setelah semuanya berakhir.

__ADS_1


Selain luka lebam dan memar di beberapa bagian wajah dan tubuhnya, Munding tidak mendapatkan apa pun dari perkelahian 1 lawan 10 tadi. Para Kopral itu sama sekali bukan pebeladiri yang terlatih seperti Bram.


Tidak ada pengalaman baru yang Munding dapatkan dari pertarungan ini, kecuali satu hal. Munding bersenang-senang sebagai seorang remaja.


Just having fun.


\=\=\=\=\=


“Bro, ane akui ente memang layak jadi pentolan Harsa. Kita nggak akan nyerang sekolah ente lagi. Kita anggap perang tadi seri, oke?” tanya Wowo yang menikmati rokoknya di sebelah Munding.


Mereka berdua sedang duduk di trotoar depan SMK Sriwijaya dengan plester yang menutupi beberapa bagian di wajah mereka. Beberapa anak Sriwijaya terlihat hilir mudik di dekat mereka tapi tidak ada yang memperhatikan mereka berdua sama sekali.


Munding mengacungkan tangannya ke samping dengan telapak tangan terbuka seperti sedang meminta sesuatu.


“Apa?” tanya Wowo melihat tangan Munding.


“Minta rokoknya,” jawab Munding pendek.


Wowo sedikit terkejut, “ente malak ane Bro?” jawabnya dengan muka mulai berubah garang.


“Apaan sih? Aku minta, bukan malak, mau kasih nggak?” tanya Munding ke arah Wowo.


Wowo kemudian mengeluarkan sebatang rokok yang dikeluarkannya dari lipatan dompet di saku celananya. Rokok itu terlihat gepeng, mungkin karena tergencet bagian dalam dompet.


Mulutnya terlihat bersungut-sungut, “ngakunya minta tapi nadanya kaya orang malak gitu,” gerutu Wowo. Munding melirik sekilas ke arah si rokok yang nasibnya tragis tergencet dompet itu.


Munding pun tersenyum sambil menerima rokok itu, “makasih, Bro.”


Kedua pemuda itu kemudian sama-sama menikmati rokoknya di pinggiran jalan sambil melihat kendaraan yang lalu lalang di depan mereka.


Hari itu, Sriwijaya berdamai untuk pertama kalinya dengan Harsa.

__ADS_1


__ADS_2