
"Bapak bohong," protes Munding tiba-tiba yang mengagetkan semuanya.
Pak Yai melihat ke arah Munding dengan pandangan penuh tanya. Lalu Munding menceritakan insiden saat di Kafe Aditya malam itu. Sontak, mereka semua langsung tertawa saat mendengar cerita Munding.
"Kamu kenapa nggak masuk ke mode tarung? Melawan preman segitu banyak dengan kemampuan beladiri biasa, kamu berniat bunuh diri?" tanya Afza dengan raut muka tak habis pikir.
"Melawan preman seperti mereka dengan menggunakan mode tarung sama artinya dengan membunuh nyamuk dengan bazooka. Apa manfaatnya? Kata Bapak, kalau kita mau 'break the limit', kita harus memaksa kemampuan kita sampai di ambang batas," jawab Munding.
"Break the limit?" tanya Broto dan Umar dengan mata bersinar, ini konsep baru yang sama sekali belum pernah mereka dengar.
Mereka tahu kalau konsep ini pastilah yang membuat Pak Yai bisa sekuat itu. Ini kesempatan langka untuk mempelajari metode latihan petarung militan, tentu saja mereka tertarik.
Munding sadar kalau dia sudah terlepas bicara dan ingin meralatnya lagi, tapi Pak Yai memberikan isyarat kepadanya untuk diam. Munding menundukkan kepalanya dan tidak menjawab pertanyaan Broto dan Umar.
Broto dan Umar lalu melihat ke arah Pak Yai dengan kompak. Pak Yai hanya tersenyum.
"Ini bukan sesuatu yang istimewa dan mudah dipahami. Aku akan mengajarinya kepada kalian, anggap saja sebagai balas budi telah membantu anakku selama ini," kata Pak Yai sambil tersenyum.
Pak Yai lalu menjelaskan konsep 'break the limit' sama seperti yang dulu dia ajarkan kepada Munding. Broto dan Umar mendengarkan dengan seksama. Afza juga, ini kali pertama dia mendapatkan transfer ilmu diluar dari institusinya, dan dia sekarang sadar kalau pepatah diatas langit masih ada langit itu benar adanya. Afza juga kini tahu kalau permintaan Umar untuk memberikan respect kepada Pak Yai adalah sesuatu yang wajar.
Broto dan Umar terlihat sedang memikirkan konsep yang baru disampaikan Pak Yai, sedangkan Afza kini sadar kalau cara berpikirnya dan juga semua petarung elite yang dia kenal mungkin keliru.
Selama ini Afza selalu berpikir bahwa mode tarung adalah sebuah pisau. Makin sering dipakai dan diasah, dia makin tajam. Hampir semua petarung militer mempunyai pemikiran yang sama. Mereka selalu berusaha masuk ke mode tarung dan menentukan kemenangan mereka secepat mungkin. Tak peduli seperti apa musuh mereka.
Sama sekali tak pernah terpikir untuk mencoba mengalahkan mereka dengan kemampuan dasar mereka sampai mencapai ambang batas dan melebihinya, seperti konsep yang dipakai oleh Munding dan diterangkan oleh Pak Yai barusan.
"Ahmad, kalau boleh tahu, dengan metode ini, sampai ditahap manakah sekarang dirimu?" tanya Umar.
"Aku sendiri tak tahu, aku belum masuk ke tahap manifestasi, tapi aku juga tahu kalau aku sendiri sudah tidak lagi berada pada tahap inisiasi," jawab Pak Yai sambil tersenyum.
__ADS_1
Amel keluar memecah diskusi mereka semua dengan membawa nampan berisi teh hangat dan tempe mendoan di atasnya. Dengan cekatan, dia meletakkan camilan dan minuman itu ke atas meja teras. Broto, Umar, dan Afza melihat Amel dengan wajah kaget dan terkejut.
Amel.
Si Tuan Putri, yang selalu dilayani di rumahnya sendiri dan mungkin tak pernah melakukan pekerjaan rumah saat berada di rumahnya sendiri, menjadi seorang gadis rumahan yang rajin dan telaten disini. Bahkan dia juga mau membawa dan mengantar minuman untuk tamu-tamunya.
"Uhukkk," Broto pura-pura terbatuk saat Amel meletakkan gelas berisi teh hangat ke depannya.
Amel melotot marah ke arah Papanya dan membuat Broto tersenyum kecut. Coba kalau setiap hari di rumah Amel kayak gini, mau ngambilin minum Papanya, keluh Broto dalam hati.
Umar dan Afza tersenyum kecil melihat ulah Bapak dan Anak itu. Mereka juga kaget melihat sikap Amel yang jauh berbeda saat di sini dan dirumahnya sendiri.
"Ni," kata Amel sambil menyorongkan gelas kosong ke arah Munding.
"Kok kosong?" tanya Munding.
"Tuang sendiri lah," cibir Amel.
"Suka-suka Amel lah," jawab Amel sambil masuk ke dalam rumah lagi.
Munding cuma menghela napas panjang. Amel sama sekali tak berubah sejak dulu.
Broto tahu perasaan Putrinya, sebenarnya bukan cuma Broto, semua orang yang duduk disini juga tahu seperti apa perasaan Amel kepada Munding. Tapi ada sesuatu yang memang akan terasa aneh untuk diutarakan meskipun semua orang tahu kenyataan yang ada di depan mereka.
Mereka kemudian berbincang-bincang untuk sementara waktu sebelum akhirnya Broto meminta Afza mengeluarkan sebuah amplop besar yang agak tebal. Broto lalu memberikan amplop tersebut kepada Munding.
Munding menerima amplop itu dengan pandangan tanda tanya, tanpa berkata apa-apa, dia membuka amplop itu dan melihat isinya.
Di dalam amplop itu terdapat sebuah daftar nama panjang di bagian depan. Di bagian belakangnya barulah terdapat semacam biodata yang terdiri dari banyak lembaran dengan satu lembar biodata untuk satu orang.
__ADS_1
"Itu daftar korban yang menjadi target Chaos selama beberapa waktu belakangan ini. Mulai dari target utama hingga collateral," kata Broto.
Munding tertegun, dari daftar nama yang ada di tangannya, lebih dari lima puluh nama yang ada disana.
"Sebegitu aktifkah mereka?" gumam Munding.
"Kami memutuskan untuk mulai pengejaran dan mengaktifkan tim gabungan yang akan mengejar mereka," jawab Broto.
"Kenapa menunggu sampai jatuh korban sebanyak ini?" tanya Munding.
"Karena selama ini korban mereka bukanlah oknum-oknum yang dianggap penting oleh kami," jawab Broto dengan suara pelan.
"Chaos hanya menggunakan orang-orang ini sebagai promosi atau pengenalan akan eksitensi mereka. Setelah beberapa bulan ini beroperasi, nama mereka sudah mulai terkenal di kalangan elit. Baik elit politik, militer maupun pengusaha," lanjut Broto.
"Kini, order yang datang kepada mereka mulai meningkat dari segi target dan tentunya harga yang mereka patok."
"Menurutmu, orang seperti aku ini, mungkinkah tak mempunyai musuh seorang pun selama karirku?" tanya Broto.
Munding terdiam.
"Mungkin suatu saat, namaku akan muncul di daftar target mereka. Umar dan aku sendiri tak akan cukup untuk menahan mereka saat aku menjadi target. Sekarang coba bayangkan ada berapa orang seperti aku?" tanya Broto lagi.
"Mungkin juga namamu, nama Bapakmu atau keluargamu suatu saat akan muncul dalam daftar target mereka. Kita tak akan pernah tahu," gumam Broto pelan mengakhiri kata-katanya.
Muka Munding merah padam saat membayangkan keluarganya dijadikan target oleh gerombolan keparat itu.
"Mereka boleh mencobanya," desis Munding dengan ekspresi muka menahan emosi.
"Tenang, itu cuma pengandaian. Tapi, kamu juga tahu kan kalau Yasin dan Nia sekarang menjadi anggota mereka. Kita tak tahu kalau mereka masih menyimpan dendam atau tidak," kata Broto.
__ADS_1
Munding kini sadar kalau permintaan dari Broto akan sulit ditolaknya.