Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 83 - Tujuanku Beda


__ADS_3

“Dan yang perlu kalian ingat.”


“Itu hanya kekuatan pribadi yang berada dalam genggaman keluarga seorang Broto Suseno saja.”


“Untuk militer secara keseluruhan? Berapa banyak tiap tahun anggota pasukan khusus dari berbagai kesatuan yang sudah mereka didik dan latih? Kalikan saja sendiri, sudah berapa tahun mereka melakukan itu? Kalian bisa bayangkan jumlah serigala petarung yang dimiliki oleh militer?”


Semua murid-murid sang Guru menelan ludah setelah mendengar kata-kata barusan. Membayangkan jumlah mereka saja sudah membuat mereka bergidik ngeri.


Bisa apa tim kecil mereka yang cuma terdiri dari 4 orang petarung tahap awakening dan 8 orang biasa yang gagal melakukan awakening?


Mereka tak lebih sekedar cemilan yang diletakkan di depan seekor serigala yang kelaparan. Tak akan cukup untuk mengisi sela-sela gigi gerombolan serigala petarung dari militer.


“Kenapa? Kalian takut ya?” kata si Perlente sambil tersenyum mengejek di sebelah sang Guru.


Tak ada jawaban terdengar dari seisi ruangan. Keringat dingin sedikit membasahi punggung mereka. Mereka kini sadar kalau misi pertama mereka ini akan penuh dengan bahaya.


Di awal briefing tadi, Komandan sudah memberitahu niatan dari kesatuan mereka untuk memperkeruh suasana antara militer dengan gangster.


“Kami tidak takut Komandan, tidak mungkin kesatuan akan memberikan kita misi yang akan membuat kami ‘menghilang’, berapa banyak dana dari kesatuan yang sudah dihabiskan untuk melatih kami sampai seperti sekarang ini?” kata satu-satunya wanita yang berhasil melakukan awakening.


Hahahahahahahahaha.


Terdengar suara tawa berbarengan antara si Perlente dan sang Guru.


“Cerdass!! Aku suka pemikiran si No Empat ini,” jawab si Perlente.


“Petarung seperti dia ini yang aku suka. Cerdas, bisa melihat gambaran utuh dari sebuah masalah dan tidak terburu-buru terbawa emosi dalam menilai suatu masalah,” puji si Perlente.


Gadis yang dipanggil si No Empat ini tersenyum mendengar pujian Komandannya. Sang Guru juga tersenyum saja. Gadis ini memang murid favoritnya selama mengikuti pelatihan yang dia pimpin.


“Oke, kita lanjutkan saja. Misi kalian sebenarnya sangat sederhana. Kalian tidak akan mendekati atau mengambil tindakan apapun terhadap Jenderal Broto secara langsung. Bahkan kalian harus menghindari dia sebisa mungkin.”

__ADS_1


“Misi kalian hanya menculik anak dari Broto Suseno yang bernama Amelia Suseno saja.”


“Tapi.”


“Kalian harus jebak A Xiong sebagai tersangka tindakan penculikan ini. Kalian paham?” tanya si Perlente.


“Siap. Kami paham,” jawab kedua belas orang itu secara serempak.


“Oke, kalau begitu, kalian sudah berpisah dengan keluarga kalian selama setahun belakangan ini. Kalian punya waktu 2 minggu untuk relaksasi, setelah itu kalian harus datang kembali ke markas untuk melaksanakan misi ini. Silakan bubar!” kata si Perlente mengakhiri briefingnya.


Tak berapa lama kemudian hanya tinggal si Perlente dan sang Guru dalam ruangan tersebut. Si Perlente kemudian mematikan AC yang ada dalam ruangan tersebut dan membuka jendela yang ada di belakang ruangan.


Si Perlente kemudian menyalakan rokoknya dan duduk diatas meja dekat dengan jendela yang terbuka itu. Sang Guru berjalan mendekati si Perlente dan berdiri di dekat jendela. Dia melirik ke bawah dan melihat mobil dan orang yang terlihat agak kecil karena ruangan ini terletak di lantai 4 sebuah gedung.


“Semua kegiatan penjualan kita berhenti gara-gara kekalahan si Bram,” gumam si Perlente beberapa saat setelah mereka berdua sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.


“Channel lain?” tanya sang Guru.


“Tapi sejak kejadian seminggu lalu saat si Anak Baru itu menyerang SMK Sriwijaya sendirian dan video perkelahiannya beredar, hampir semua geng-geng kecil di Harapan Bangsa menolak untuk melayani permintaan kita.”


“Jadi, iblis-iblis kecil yang kecanduan itu mendapatkan supply mereka darimana?” tanya sang Guru.


“Aku muak menggunakan anak kecil yang belum dewasa untuk kaki tanganku saat berjualan lagi. Jadi aku mendekati salah seorang guru yang mempunyai pengaruh di Harapan Bangsa dan berhasil menggaetnya.”


“Kini dia yang menjadi pengedar untuk pelanggan elite kita yang ada di Harsa sana,” kata si Perlente sambil terkekeh.


“Siapa guru yang kau jadikan pengedar itu sekarang?” tanya sang Guru.


Si Perlente mengrenyitkan dahinya, “itu urusanku, urusanmu hanya melatih dan memimpin tim Kelelawar kita,” kata si Perlente sambil mencibir ke arah sang Guru.


Si Perlente kemudian menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke luar jendela yang dia buka.

__ADS_1


Tapi beberapa detik kemudian, tiba-tiba si Perlente merasakan tekanan luar biasa yang datang dari sebelah depannya. Tekanan yang sudah lama sekali tidak dia rasakan.


Tekanan yang dulu pernah dia rasakan saat pertama kali dia bertemu dengan sang Guru.


Seluruh tubuh si Perlente gemetar ketakutan dan keringat dingin membasahi tubuhnya. Rasa takut yang dulu membutuhkan waktu lama untuk dia lupakan dan kubur dalam-dalam itu kini menyeruak kembali. Rasa takut terdalam yang pernah dia miliki.


Ketakutan seekor kelinci saat berada dalam tatapan mata seekor Harimau.


Ketakutan seekor mangsa di depan pemangsanya.


Rokok yang tadi ada di sela-sela jari si Perlente pun terjatuh. Tanpa dia sadari cairan bening dengan sedikit warna kekuningan mengalir dan terlihat membasahi celananya. Tak sampai dua detik kemudian, si Perlente terduduk di lantai dalam keadaan merangkak.


Dia menundukkan kepalanya dan hanya bisa menatap lantai di depan sang Guru yang sekarang berdiri tegak di depannya.


“Apakah kamu lupa siapa diriku?”


Terdengar suara sang Guru pelan memecah keheningan yang hanya diisi oleh suara napas terengah-engah dari si Perlente.


“Kamu itu bukan siapa-siapa di depanku, kecuali kalau kamu bisa menjaga jarak sejauh 15 meter dariku setiap saat, aku bisa membunuhmu dalam waktu kurang dari satu detik.”


“Kapan saja, dimana saja.”


“Ingat itu baik-baik!!”


“Mungkin kamu sudah lupa apa tujuanku saat pertama kali memintamu memulai semua ini. Aku butuh kartu pegangan untuk mengendalikan orang-orang berpengaruh itu."


"Kamu yang menyarankan untuk menggunakan narkoba untuk menjerat anak-anak mereka.”


“Jangan pernah berpikir kalau aku tidak tahu apa tujuanmu. Kamu hanya mengincar uang anak-anak itu kan?”


“Aku beda. Aku punya tujuan yang lebih tinggi lagi daripada sekedar uang.”

__ADS_1


Sang Guru kemudian meninggalkan si Perlente yang masih tetap dengan posisinya merangkak di lantai dengan celana yang basah oleh air kencingnya sendiri dan napas terengah-engah karena ketakutan.


__ADS_2