
Munding cuma menggelengkan kepalanya, “saya ini cuma seorang murid, bukan seorang raja. Mereka juga sahabat saya, bukan anak buah ataupun sekutu saya.”
“Terus terang saya tidak mengerti arah pembicaraan ini,” kata Munding datar.
Santi terlihat agak kaget dan bingung mendengar jawaban Munding. Jawaban yang terlalu dewasa untuk seorang anak kelas 2 SMA yang mempunyai pengaruh luar biasa. Murid lain, pasti dengan segera akan menikmati dan menggunakan kesempatan yang dia miliki sebisanya.
Tak lama kemudian Santi berdiri dan melakukan panggilan telpon yang sangat singkat. Tak lama kemudian, dia sibuk melakukan chat lewat pesan Hp di kursinya. Munding hanya menunggu dengan tenang selama 15 menit sebelum akhirnya Santi mengakhiri kesibukannya.
“Saya sudah mendapatkan ijin dari atasan. Tapi ingat ini rahasia kita berdua, kalau sampai bocor, akan ada tim kami yang mendatangimu,” ancam Santi sambil menarik napas.
Munding cuma tersenyum tipis, kali ini dia mendengarkan dengan serius.
“Saya sebenarnya adalah seorang polisi yang sedang menyamar. Saya bertugas di bagian Narkoba tapi diperbantukan ke Unit Intel yang bekerjasama dengan Reskrimsus membentuk tim gabungan dengan tujuan untuk menangani masalah narkoba di sekolah ini,” kata Santi yang gaya bicaranya sedikit berubah menjadi seperti seorang wanita dan kesannya sebagai seorang guru tiba-tiba hilang.
“Saya sudah menyamar selama setahun untuk mengusut Bram dan MinMaks karena mereka adalah geng terkuat di Harsa. Dan selama penyidikan kami, kami menemukan indikasi bahwa adanya seseorang yang memiliki pengaruh kuat yang selama ini mendalangi pergerakan Bram dari belakang.”
“Tujuan utama kami adalah untuk menangkap orang itu. Bukan Bram dan MinMaksnya.”
“Misi ini menjadi penting bagi tim gabungan kami karena anak-anak yang bersekolah disini punya orang tua dengan background yang luar biasa. Jika sampai mereka dikendalikan dari belakang layar karena kasus penyalahgunaan narkoba yang dilakukan anaknya, urusannya pasti akan jauh lebih runyam.”
“Kamu pasti terkejut kan?” kata Santi dengan muka penuh kebanggaan setelah membuka jatidirinya dan membiarkan Munding mencerna penjelasannya barusan untuk beberapa saat.
__ADS_1
Munding menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Wali Kelasnya yang berubah seratus delapan puluh derajat menjadi seorang gadis yang terlihat ingin mendapatkan pujian itu.
“Saya akui saya memang terkejut. Tapi tidak separah itu. Saya justru merasa kasihan dengan Bu Santi, kalau itu nama aslimu,” jawab Munding pelan.
“Kenapa?” tanya Santi dengan raut muka heran.
“Pertama, kalian ceroboh sekali. Dengan mudahnya atasan Ibu mengijinkan Ibu membuka penyamaran Ibu kepada orang lain. Ibu sudah yakin sepenuhnya dengan jatidiri saya?”
“Kedua, saya tahu tindakan ceroboh kalian tadi adalah karena rasa putus asa. Kalian sudah menyamar dan bekerja selama setahun lebih, tapi kalian belum mencapai tujuan utama kalian, kemudian tiba-tiba Bram tumbang.”
“Seandainya saya menolak ajakan tim Ibu, saya yakin operasi kalian kali ini pasti akan ditutup dan dibatalkan. Semua usaha kalian selama setahun ini akan hilang sia-sia, ya kan?”
“Ketiga, kenapa kalian membutuhkan waktu yang lama sekali? Saya hanya butuh waktu kurang dari dua bulan untuk mengejar ekor si Dalang yang mengendalikan Bram dari belakang layar. Dia menjadi penghubung antara Bram dengan si Dalang. Tim kami sudah mengantongi petunjuknya dan sekarang sedang melacak identitas dan keberadaannya.”
“Selain itu, kalau saya yang cuma orang awam ini bisa melihat dengan sebegitu mudahnya. Seharusnya kalian, terutama Bu Santi, yang bekerja di unit Narkoba, seharusnya jauh lebih paham akan hal itu.”
“Tapi kenapa Bram tidak pernah menjadi target operasi tangkap tangan kalian?”
“Sebegitu hebatkah pengaruh orang tua Bram? Tidak kan?”
“Saya mendapatkan petunjuk tentang mastermind di belakang MinMaks secara tidak sengaja. Saya akui itu. Kami berjumpa saat kejadian di rumah Citra seminggu lalu.”
__ADS_1
“Mungkin karena dia terlalu percaya diri bahwa dia bisa mengalahkan saya atau bahkan menghabisi saya, dia membuka mulutnya sendiri penuh dengan kebanggaan. Mirip dengan Bu Santi tadi saat memperkenalkan diri sebagai polisi yang menyamar,” kata Munding sambil tersenyum tipis.
Senyuman yang terlihat seperti sebuah ejekan di mata Santi.
Melihat cara bicara Munding, tidak akan ada orang yang percaya kalau dia mengidap kelainan jiwa. Selain itu, Santi juga mendengar Munding menyebut kata ‘kami’ di akhir kalimatnya, itu berarti Munding berasal dari kelompok lain yang mungkin mempunyai tujuan yang kurang lebih sama dengan Santi dan tim-nya.
Tapi semua itu masih berupa kemungkinan dan tidak ada yang pasti. Sama dengan ketidak pastian dan kesalahan yang dibuat atasan Santi barusan untuk mengijinkan dirinya membuka penyamarannya di depan Munding, yang ternyata jauh lebih misterius daripada Santi sendiri.
Kini, Santi seperti gadis telanjang yang berdiri di depan sorotan lampu terang, sedangkan Munding seperti seorang pemburu yang bersembunyi dalam gelap. Tim mereka sama sekali tidak tahu apa-apa soal Munding.
Militer kah? Kelompok agamis? *******? Atau geng motor lain yang ingin menguasai jatah Bram?
Tubuh Santi bergetar ketakutan dan sedikit gugup, dengan cepat dia meraih sepucuk pistol yang selalu dibawanya di tas wanita kecil miliknya. Tapi belum sempat dia mengeluarkan pistol itu, Santi mendengar kata-kata Munding.
“Kita bukan musuh. Dengan atau tanpa tim kalian, kami tetap akan mengejar gembong narkoba yang mendalangi MinMaks. Saya cuma eksekutor lapangan, keputusan untuk bekerjasama bukan di tangan saya.”
Santi melepaskan genggaman tangannya dan kembali menatap wajah Munding. Bocah kelas 2 SMA yang sekarang terlihat sangat misterius di mata Santi. Bocah kampung yang selama ini dianggap memiliki latar belakang yang biasa-biasa saja, hanya seorang pewaris kekayaan keluarganya yang mengalami kemalangan dan tanpa sanak keluarga.
Setelah itu, bocah itu diketahui dekat dengan militer, karena dia tinggal di rumah Amel, putri semata wayang Jenderal Broto Suseno. Jangan-jangan dia bekerja di bawah militer? Tidak mungkin militer akan membiarkan musuh mereka untuk berada sedekat itu dengan pemimpin dan keluarga mereka, batin Santi dalam hati.
Setelah Santi yakin dengan kesimpulannya sendiri, dia membuang napas panjang dan tersenyum ke arah Munding, “saya yakin kalau kamu bekerja untuk militer. Saya akan menunggu kabar baik dari tim kalian.”
__ADS_1
Munding tersenyum dan tidak memberikan jawaban atau konfirmasi apapun. Setelah itu, Munding keluar dari ruangan guru wali kelas mereka itu dengan santai dan tanpa beban. Ketika Bu Santi melihat punggung bocah kampung yang keluar dari ruangannya itu, dia kembali menarik napas dalam.
Memang benar kata Mas Tukul Arwana, don’t judge the book by its cover.