Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 108 - Kusnadi


__ADS_3

Munding menggaruk kepalanya yang tidak gatal, hari ini dia dengan inisiatif sendiri berusaha menemui wali kelasnya, meskipun Santi mungkin tidak bisa berbuat apa-apa terhadap si Dalang, tapi setidaknya dia bisa melakukan sesuatu kan terhadap guru Harsa yang menjadi kaki tangan baru dari si Dalang?


Tapi entah kenapa sejak pagi tadi, kantor ruang wali kelasnya itu selalu tutup. Ini kali kedua Munding datang kesini hari ini. Tadi pagi saat istirahat pertama dan kali ini saat istirahat kedua, tapi hasil keduanya nihil.


Munding memutar badannya dan ingin meninggalkan gedung Guru tersebut ketika ada sebuah suara memanggilnya dari belakang.


“Hey, kamu!!” kata orang itu dengan suara sedikit keras dan bergema di gedung guru ini.


Beberapa orang guru yang sedang berlalu lalang atau bediskusi di dekat mereka, terkejut saat mendengar suara teriakan itu dan menoleh ke arah Munding yang juga menghentikan langkahnya.


Munding menoleh dan melihat seorang guru laki-laki yang sedang berkacak pinggang dan melotot kearahnya.


Kusnadi, guru BK yang selalu terkenal garang dan galak kepada murid-muridnya. Guru yang selalu menggunakan aturan secara tegas untuk menegur dan menghukum murid-muridnya yang melakukan pelanggaran.


Guru yang sekarang ingin sekali dihajar habis-habisan oleh Munding karena dibalik sosoknya yang idealis dan terlihat selalu menjunjung tinggi peraturan itu sekarang justru memilih menjadi bandar narkoba kaki tangan si Dalang menggantikan Bram.


Munding tidak tahu kalau itu semua sebenarnya secara tidak langsung juga disebabkan olehnya.


Kusnadi yang selama ini selalu berusaha idealis dan menjaga agar cara pandangnya tidak rusak dan terkorupsi oleh cara pandang busuk yang sudah mendarah daging di masyarakat, mengalami depresi mental terparahnya ketika anggota MinMaks dan Kupu Mas membuatnya lari ketakutan saat dia ingin menghentikan duel Munding dan Bram di lapangan bola hari itu.


Sejak hari itu, Kusnadi mulai memikirkan kembali semua idealisme yang dia percayai sejak dulu. Dan akhirnya, Kusnadi menyadari kalau idealisme tanpa didukung oleh kekuatan untuk melaksanakan dan mengimplementasikan hanyalah sebuah idealisme semu.


Karena itu, ketika ada oknum polisi yang mengajaknya bekerja sama untuk menggantikan posisi Bram di Harsa, tanpa berpikir panjang dia menyanggupinya. Dan sejak itu, Kusnadi merasakan sendiri betapa kekuasaan itu memang sesuatu yang membuat orang ketagihan.


Kusnadi kini sadar kenapa banyak politisi berlomba-lomba untuk memperoleh kursi dan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankannya. Dia juga merasakan betapa kekuasaan membuatnya menjadi orang lain.

__ADS_1


Bukan lagi Kusnadi guru BK yang akan mengkeret ketika digertak murid-muridnya yang memiliki orang tua berpengaruh. Bukan lagi Kusnadi yang hanya tertunduk diam ketika mendengar siswi-siswinya mencibir di belakangnya.


Dia sekarang Kusnadi yang baru. Kusnadi yang akan menepuk dadanya dengan bangga dan akan menghardik siapa saja siswa yang berani kurang ajar pada dirinya. Kusnadi yang dengan berani meminta siswi-siswi itu memuaskan birahinya sepulang sekolah karena mereka tidak punya uang untuk membeli apa yang dijual oleh Kusnadi.


Saat ini, meskipun Kusnadi tahu kalau bocah yang ada di depannya adalah Munding, siswa yang memegang Harsa, tapi Kusnadi sama sekali tidak merasa gentar. Dia merasa kalau ini waktunya bagi dirinya untuk menunjukkan kepada seantero sekolah, Harsa adalah daerah kekuasaan Kusnadi.


“Ya Pak?” jawab Munding dengan kalimat tanya dan suara pelan.


“Kamu kenapa berkeliaran di gedung guru?” hardik Kusnadi dengan suara keras dan menggelegar, tentu saja untuk membuat adegan ini menjadi tontonan orang ramai terutama guru-guru lain yang ada di gedung guru.


“Saya mencari wali kelas saya Pak, Ibu Santi, tapi ternyata ruangannya tertutup,” jawab Munding masih dengan nada sopan dan datar.


Semakin banyak guru yang bergerombol menyaksikan adegan antara Kusnadi dan Munding. Para guru itu sebenarnya juga tidak pernah ketinggalan berita, mereka selalu update tentang berita yang hangat dan terjadi di kalangan siswa siswi mereka, termasuk kebangkitan Munding menjadi pemimpin baru di Harsa dan semua sepak terjangnya selama ini.


Karena itu, saat melihat Kusnadi dengan gagah berani membentak dan menghardik Munding, sebagian besar dari guru-guru itu merasa cemas. Cemas dengan apa yang akan dilakukan oleh Munding. Si bocah gila yang bahkan berani menyerang SMK Sriwijaya seorang diri.


Munding menundukkan kepalanya tanpa eskpresi, jika dilihat dari sudut pandang lain, memang semua yang dikatakan oleh Pak Kusnadi itu benar, karena itu Munding mengakui kesalahannya dan tidak ingin memperpanjang urusan ini.


Melihat Munding menundukkan kepalanya, seluruh tubuh Kusnadi terasa ringan sekali, “akulah yang terhebat,” teriak Pak Kus dalam hatinya, “bahkan Munding, sang Raja dari Harsa, hanya bisa menundukkan kepalanya di depanku.”


“Dasar murid tak tahu aturan!! Aku jadi bertanya-tanya bagaimana cara bapakmu mendidik anaknya!!” dengus Kusnadi dengan suara yang tidak sekeras tadi sambil membalikkan badannya.


Kusnadi bahagia sekali hari ini.


Dia sudah membuktikan bahwa di hadapannya, Munding pun harus menundukkan kepalanya. Sekarang yang ada di kepala Kusnadi hanya dua nama siswi yang tadi pagi mengiriminya pesan chat untuk bertemu. Mereka menawarkan ‘service’ mereka demi beberapa gram sabu-sabu dari dirinya.

__ADS_1


Tapi.


Kusnadi tidak tahu kalau kata-kata terakhirnya barusan justru seperti membangunkan seekor Singa yang sedang tertidur. Munding yang mendengar Bapaknya disebut-sebut oleh Kusnadi dan seolah-olah menjadi penyebab semua kelakuan nakal Munding merasakan seluruh tubuhnya bergetar karena emosi.


Sesuatu yang tidak pernah dia rasakan lagi semenjak dia terinisiasi.


Naluri predatornya menggeliat bangun tanpa Munding perintah. Tekanan intent mulai memancar keluar dari tubuh Munding dengan cepat. Intent seekor predator yang membuat semua guru yang ada di sekitar mereka berdua dalam radius 15 meteran seperti diletakkan dalam sebuah kandang di depan seekor Singa.


Lutut semua guru itu melemah dan mereka terduduk di lantai, beberapa diantara guru perempuan juga tanpa sadar mengepitkan paha mereka atau menggunakan tangan mereka untuk menahan menutupi cairan yang mengalir dari pangkal paha mereka.


Kusnadi yang tadi sudah memutar badannya merasakan ada sesuatu yang sangat berbahaya sedang mengincarnya di belakang, sama seperti perasaan yang dia alami saat berjalan di gang sepi dan ada seseorang seolah-olah mengikuti dari belakang. Tapi ini lebih menakutkan sepuluh kali lipat.


Dengan cepat Pak Kus memutar badannya dan menemukan Munding yang melihat kepada dirinya dengan pandangan mata yang sangat menakutkan. Sama seperti guru yang lain, nyali Kusnadi langsung terbang terbawa hempasan angin.


Lututnya gemetaran, air seni mengalir membasahi celananya, mukanya pucat pasi dan bibirnya gemetar menahan giginya yang saling bergemeretakan tanpa dia sadari.


Munding yang ada di depannya menjadi sosok paling menakutkan dalam hidupnya.


Di hadapan Munding, Kusnadi seolah-olah hanya menunggu ajal yang kapan saja siap menjemput. Percaya diri, keberanian dan semua yang dia miliki hilang tak berbekas seperti debu yang tersiram hujan.


“Sampah!” kata Munding yang masih sekuat tenaga berusaha mengendalikan naluri predatornya yang berteriak dan menjerit ingin menghabisi Kusnadi.


“Kalau kau masih menjual narkoba di sekolah ini, aku akan membunuhmu. Camkan itu!!” kata Munding pelan dan hanya dapat didengar oleh Kusnadi.


Setelah itu Munding dengan susah payah memutar badannya dan melangkah meninggalkan Kusnadi pelan. Seiring dengan langkahnya, tekanan intent yang dirasakan oleh Kusnadi dan semua guru-guru itu mulai berangsur-angsur menghilang.

__ADS_1


Ketika Munding sudah meninggalkan gedung guru, mereka semua baru tersadar apa yang baru saja terjadi ketika mencium aroma tidak sedap dari beberapa guru diantara mereka.


Hari itu, dikenang dalam sejarah para guru di Harsa sebagai hari ‘ngompol bersama’.


__ADS_2