Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 245 - Mereka datang part 3


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Aisah pergi dengan Cynthia di pagi hari buta selepas subuh.


Leman seperti biasa bercengkerama dengan Pak Yai di mushola rumah sakit, lebih tepatnya ruang pasien yang disulap jadi mushola, dan sesekali mereka tertawa kecil.


Awalnya memang Munding dan Nurul meminta pulang ke rumah mereka karena mereka juga telah melewati masa kritis. Mereka tak mau merepotkan lagi keluarga Hong, tapi Cynthia memaksa mereka untuk tinggal disini. Setidaknya hingga luka operasi di perut Nurul mulai mengering.


Cynthia lalu juga mendekor ulang beberapa kamar yang ada di sekitar ruang rawat Nurul menjadi kamar tidur dan beberapa fasilistas lain. Tentunya untuk memberikan sarana akomodasi yang nyaman bagi Munding dan keluarganya.


Munding sedang menemani istrinya sedangkan Alit digendong oleh neneknya. Amel yang sekarang menjadi seorang Budhe, sedang mengusili Alit dari samping Ibu. Munding hanya tersenyum pahit saat melihat Amel, kata-kata Nurul tiba-tiba saja kembali terngiang di kepala Munding.


“Mas nggak kasihan sama Mbak Amel?”


Munding lalu mendorong kursi roda Nurul menuju ke halaman belakang, “Kami cari udara segar dulu ya?” pamit Munding kepada keluarganya.


“Iya,” terdengar jawaban dari mereka hampir bersamaan.


Amel hanya melirik sekilas ke arah Munding dan Nurul, lalu dia menghela napas dan kembali menggunakan jarinya untuk mengusili Alit.


“Mel, kamu nggak nyari angin juga?” tanya Ibu.


“Nggak Bu,” jawab Amel masih asyik menggoda keponakannya yang lucu itu.


Ibu memegang jemari tangan Amel yang mentowel-towel pipi Alit, “Mel, kalian semua sudah dewasa, sampai kapan mau begini terus?”


Amel menundukkan kepalanya.


“Udah sana!” kata Ibu sambil menggunakan ujung bibirnya menunjuk ke arah taman tempat Munding dan Nurul berada sekarang. Amel lalu menganggukkan kepalanya pelan dan berjalan menyusul pasangan suami istri itu.

__ADS_1


Pak Yai dan Leman tak peduli dengan apa yang terjadi barusan. Mereka masih tetap asyik saja ngobrol berdua.


Langkah kaki seseorang terdengar di belakang Munding dan Nurul, Munding tahu kalau itu Amel tapi Nurul kan tidak, ketika Amel berdiri di sampingnya, Nurul sedikit kaget. Untung saja belum terucap, dia sebenarnya pengen ngomongin masalah Amel lagi ke suaminya.


Di bawah sinar mentari pagi yang cerah, tiga orang berada di taman yang terawat dengan indah itu. Seorang gadis manis berjilbab duduk di kursi rodanya dan diapit oleh seorang wanita cantik berjilbab di sebelah kanannya dan seorang laki-laki di sebelah kirinya.


Si laki-laki duduk bersila di atas rumput sambil memegangi tangan kiri si wanita yang berada di kursi roda, sedangan gadis cantik berjilbab yang berada di sebelah kanannya, duduk dengan kaki dilipat kesamping dan juga memegang jemari tangan kanan wanita yang ada di atas kursi roda.


Mereka tak melakukan apa-apa, mereka tak bicara apa-apa. Cuma saling berpegangan tangan dan menikmati suasana cerah dan hangat mentari pagi ini. Mereka tak perlu bicara karena mereka semua tahu bagaimana perasaan masing-masing. Tapi, mereka juga tahu kalau mereka tak ingin saling menyakiti. Jadi biarkan saja seperti ini, tak ada yang perlu dirubah atau dibicarakan.


Life is hard, but love is more complicated than that.


\=\=\=\=\=


“Ndan, saya ijin sebentar Ndan,” kata salah seorang sekuriti yang berbadan tegap dan gempal kepada chiefnya pagi itu.


“Mau ijin kemana?” tanya sang Chief security.


“Kamu kan tahu kalau rumah sakit masih lockdown?” tanya sang Chief.


Si anak buah terdiam saja dan melirik ke arah parkiran depan. Si Chief awalnya tak mengerti tapi beberapa saat kemudian dia ngeh dengan kode mata anak buahnya.


Mobil Cynthia Hong tak ada di lokasinya. Itu artinya, Madam Devil itu tak ada di tempat ini sekarang. Begitu menyadari hal itu, sang Chief langsung menarik napas panjang dan terlihat sedikir melemaskan ototnya.


“Kok kamu nggak bilang dari tadi kalau Madam nggak ada?” gerutu sang Chief.


“Kirain Ndan sudah tahu,” jawab si anggota, “Gimana Ndan, acc kan?” tanya si Anggota.


“Jangan lama-lama ya? Nanti kalau balik kesini, bawain aku martabak manis seperti biasa,” kata sang Chief Security.

__ADS_1


“Aman itu Ndan,” kata si sekuriti sambil berlalu.


Ketika dia meninggalkan posko itu, sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya, “Martabak manis? Setelah aku menerima bayaran terakhirku ini. Kau tak akan lagi melihatku. Uang yang kudapat dari si Badut sudah cukup untuk membuatku hidup mewah,” gumam si Preman sambil berjalan menuju parkiran motor.


\=\=\=\=\=


“Kamu yakin?” tanya Geoffrey kepada Clown melalui telepon.


“Yakin, sudah kupastikan sendiri,” jawab Clown mantap.


“Oke, kita eksekusi sekarang. Kami butuh waktu 10 menit untuk sampai ke lokasi target,” balas Geoffrey.


Clown mematikan teleponnya dan memperhatikan rumah sakit yang ada di depannya. Rumah sakit yang sebentar lagi akan menjadi medan pertempuran yang luar biasa.


Munding, Nurul, dan Amel masih menikmati cuaca cerah pagi ini di taman yang ada sebelah belakang rumah sakit pribadi ini. Taman yang dirawat dengan telaten dan dibuat dengan gaya Japanese garden ini sangatlah indah dan enak untuk dinikmati.


Mereka bertiga asyik bercanda dan sesekali tertawa, dan topik yang mereka bahas kali ini adalah Alit. Alit yang menyatukan ketiga orang ini dalam kebahagiaan mereka sendiri. Tingkah lucu Alit yang kadang membuat mereka semua tertawa dan melupakan sejenak hubungan ruwet mereka.


Oke, cuma Amel yang bikin ruwet sih sebenarnya. Tapi, yang namanya perasaan kan nggak bisa dipaksa, terus musti gimana?


Tiba-tiba saja,


Munding merasa tak enak dan dia langsung tahu apa itu. Ini bukan seperti feeling yang dulu dia dapat dan rasakan dari nalurinya. Karena naluri Munding sekarang sudah mulai menyatu dengan dirinya. Ini sesuatu yang lebih jelas dan nyata. Seakan-akan Munding tahu dengan logika dan tubuhnya bahwa musuh datang, sekalipun dia tak bisa melihat mereka.


“Mel, ajak Dek Nurul ke dalam dulu ya? Sudah mulai panas mataharinya, kasihan Alit juga, mana tahu Alit lapar,” kata Munding tiba-tiba saja memotong obrolan Amel dan Nurul sambil tersenyum ke arah mereka berdua.


Amel bukan gadis bodoh, dia cuma bucin saja, karena itu dia langsung tahu kalau ada masalah yang segera datang. Tanpa bertanya, Amel berdiri dan mendorong kursi roda Nurul untuk masuk lagi ke dalam kamar rawat inap Nurul.


Leman dan Pak Yai terlihat berjalan keluar dengan wajah serius tapi tetap tersenyum kepada kedua wanita Munding itu ketika mereka berpapasan.

__ADS_1


“Munding, kamu merasakannya?” tanya Leman.


“Iya Om, mereka datang dan mereka luar biasa kuat,” jawab Munding pendek.


__ADS_2