Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 249 - Darkness part 1


__ADS_3

“Mas Munding, semoga Allah mempertemukan kita lagi di akhirat nanti,” Nurul membisikkan doa terakhirnya sambil memejamkan mata dan dia kemudian pasrah pada takdirNya.


“Jangan sentuh keluargaku!!”


Sebuah suara keras terdengar menggelegar di dalam ruangan ini dan membuat Nurul membuka matanya dengan cepat. Dia melihat sosok suaminya berdiri di sebelahnya dan terlihat menangkis serangan si kakek tua yang ada di depan Nurul.


Bae terlihat kaget saat tangannya yang membentuk pisau dan terayun dan siap memenggal kepala Nurul tiba-tiba terasa mengenai sesuatu. Bae melihat ke depan dan menemukan tangannya ditangkis oleh seseorang. Dan Bae tahu siapa laki-laki itu, suami dari target mereka yang bernama Munding, seorang petarung inisiasi.


“Humph!!” dengus Bae dengan sedikit kesal, “kedatanganmu hanya memperpanjang nyawa istrimu selama dua detik,” batin Bae dalam hati, karena dia yakin hanya akan membutuhkan waktu selama itu untuk menghabisi seorang petarung inisiasi seperti Munding.


Speed is power.


Sebuah ungkapan yang selama ini selalu dipegang oleh Bae Jun Seo. Sebuah benda yang bergerak memiliki energi yang disebut energi kinetik, dan besarnya energi kinetik sebanding dengan kuadrat dari kecepatan gerak benda itu sendiri.


Itu artinya, jika sebuah benda yang berukuran sama, memiliki berat yang sama bergerak dua kali lebih cepat, energi kinetiknya akan 4 kali lebih besar. Jika benda itu bergerak sepuluh kali lebih cepat, maka energi kinetiknya akan 100 kali lebih besar.


Intinya, semakin cepat sebuah benda bergerak, maka semakin mengerikan juga energi yang dia miliki. Dan dengan speed yang Bae miliki, dia yakin kalau kepalan tangan kirinya bisa menghancurkan tulang kepala Munding dengan sekali hantaman saja.


Dan Bae melakukannya.


Ketika tangan kanannya ditangkis oleh Munding, sekejap kemudian, tangan kiri Bae bergerak cepat memukul ke arah kepala Munding. Bae melayangkan pukulan tangan kirinya dengan tenang, karena dia tahu kalau Munding tak akan bisa menghindari pukulannya.


Kecepatan mereka jauh berbeda.

__ADS_1


Munding merasakan bahaya yang mengarah ke kepalanya, tanpa berpikir dia bergerak kesamping kanan, menghindar sekaligus menendang pelan kursi roda Nurul agar istrinya menjauh dari mereka berdua.


Buakkkkkkk..


Terdengar suara keras sekali.


Munding terlempar ke belakang dan baju bagian bahu kirinya terlihat berlubang, bukan sobek. Munding merasa sedikit nyeri di bagian itu. Dia melirik lubang di kaosnya dan hanya bisa membuang napas lega. Karena kecepatan yang luar biasa, kekuatan pukulan kakek tua ini sanggup menghancurkan kaos murahan yang dipakai Munding.


Munding melirik ke arah Nurul yang sudah berhasil dia dorong ke belakang dengan kakinya tadi. Rasa sakit di bahu Munding adalah harga yang murah untuk keselamatan istrinya. Ibu dan dua orang perawat yang berada di sebelahnya segera meraih kursi roda Nurul.


“Pergi dari sini! Cari Tante Aisah,” kata Munding pelan kepada Nurul.


Nurul menganggukkan kepalanya, “Hati-hati Mas,” kata Nurul yang kemudian meninggalkan tempat ini bersama ketiga orang wanita lainnya.


“Anak muda, kamu membuat semuanya menjadi lebih sulit dan rumit. Seharusnya kamu tenang dan diam saja menerima kematianmu tadi. Dengan begitu, aku akan mengeksekusi istrimu dengan cepat dan tanpa rasa sakit,” kata Bae sambil terlihat mengayunkan pukulan dan tendangannya, seperti seorang petarung yang sedang melakukan pemanasan sesaat sebelum mereka bertanding dalam ring.


“Namaku Bae Jun Seo, julukanku Pungsin, konsepku adalah speed,” kata si kakek sambil tetap melakukan pemanasannya, “aku akan membuatmu menjadi sandbag karena berusaha menghalangiku,” lanjutnya.


Tiba-tiba Munding melihat puluhan kepalan tangan melayang ke arahnya. Munding tahu kalau tangan si kakek tak bertambah banyak seperti yang dilihat oleh matanya. Itu hanyalah tipuan mata karena gerakan sang kakek sangat cepat, cepat sekali.


Munding mengangkat kedua tangannya dan menyilangkannya di depan tubuh, seperti huruf X yang memblokir semua area vital di tubuhnya. Dia lalu bersiap menerima bombardir pukulan dari si kakek yang menyerangnya dengan cepat itu.


Bakkk bakkk buakkk bakkkk bukkkkk.

__ADS_1


Suara pukulan demi pukulan yang mengenai tubuh Munding bagaikan bunyi senapan otomatis yang ditembakkan tanpa henti. Setelah puas melayangkan pukulannya selama 10 detik, si kakek melompat mundur untuk mangambil jarak dan mengatur napas.


Bae sedikit terkejut, dia paham sekali prinsip energi kinetik dan hubungannya dengan kecepatan. Dia juga tahu seberapa kuatnya pukulannya sendiri tadi, setiap pukulan yang diayunkannya mampu menghancurkan batu sekepalan tangan manusia dengan mudah. Saat dia memukul tembok batu bata, dia yakin tembok itu akan berlubang.


Memang Bae juga menyadari kalau dia tak sekuat para petarung yang memiliki konsep power atau strength, tapi untuk menghadapi para petarung inisiasi, puluhan pukulannya tadi sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka menjadi daging giling.


Tapi,


Bae melihat dengan mata kepala sendiri kalau Munding masih berdiri tegak di tempatnya bahkan sama sekali tak bergeming ataupun bergeser dari tempatnya berdiri. Bae tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Kali ini, Bae kembali menyerang Munding dengan menggunakan kecepatan luar biasa yang menjadi konsepnya. Bukan hanya pukulan tapi juga menggunakan tendangan.


Suara pukulan dan tendangan yang bertubi-tubi mengenai tubuh Munding kembali terdengar. Tubuh Munding yang tadinya tegak, kini sedikit terhuyung ke belakang. Dia masih tetap dalam posenya yang sebelumnya, kedua tangan menyilang di depan dada dan kepala untuk melindungi area vitalnya.


Kali ini, si Kakek tua menyerang Munding lebih dari sepuluh detik, dia sendiri bahkan tak ingat berapa puluh kali sudah melayangkan tendangan dan pukulannya ke badan musuh yang berdiri tegak di depannya itu.


“Jangan-jangan?” gumam si Kakek dengan suara pelan sambil terengah-engah.


Tanpa dikomando, Bae langsung meloncat ke belakang dan memasang kuda-kuda bertahannya. Setelah dua kali menyerang Munding dengan serangan super cepatnya dan tidak melihat efek yang dia inginkan pada petarung inisiasi di depannya, Bae sadar akan satu hal.


Munding bukan petarung inisiasi tapi petarung yang sedang berada dalam proses menuju manifestasi, seorang petarung half-step. Petarung yang masih memiliki pancaran intent menyerupai petarung inisiasi, tapi sudah mulai mampu memanifestasikan intent-nya. Petarung yang masih mengalami proses asimilasi antara naluri dan kesadaran dirinya.


Karena itulah mungkin informasi yang diterima oleh timnya tidak akurat.

__ADS_1


Bae juga telah melakukan kesalahan fatal dalam pertarungan ini, karena dia menganggap Munding hanyalah petarung inisiasi biasa, dengan mudahnya Bae memperlihatkan konsep speed yang dia miliki. Sedangkan jika benar Munding adalah petarung half-step, Bae dan bahkan semua anggota timnya tidak ada yang tahu konsep apa yang dimiliki oleh Munding.


“Geoffrey!!” teriak Bae sambil melompat keluar dari ruangan ini melalui kaca yang tadi dia pecahkan.


__ADS_2