Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 144 - Serang (part 1)


__ADS_3

"Ati-ati Mas," bisik Nurul.


Munding menganggukkan kepalanya dan memasang tudung kepala jumper berwarna hitam miliknya. Bukan punya Saud yang dulu, tapi Munding membelinya sendiri beberapa tahun lalu. Jumper hitam polos berlengan panjang.


Orang mungkin berpikiran jaket hitam atau kaos hitam yang sering dipakai oleh petarung jalanan hanya sebatas keren-kerenan. Mereka salah besar.


Warna hitam berfungsi sebagai kamuflase sempurna dalam kegelapan malam. Saat berkelahi, pukulan dan serangan lebih susah untuk dilihat lawan dengan menggunakan pakaian yang berwarna hitam. Jadi tidak ada kaitan sama sekali dengan kesan 'misterius' atau 'keren'.


Berhati-hatilah saat bertemu dengan orang berpakaian hitam dan terlihat tenang saat terjadi konflik di jalanan malam hari.


Air tenang menghanyutkan dan tong kosong nyaring bunyinya juga bukan peribahasa yang tanpa arti.


Seseorang, saat dihadapkan pada situasi konflik, biasanya akan terlihat kapasitas sesungguhnya. Seseorang yang terbiasa menghadapi konflik dan tahu apa yang dia lakukan biasanya akan bersikap tenang. Lain halnya dengan yang ingin menutupi rasa gugupnya. Dia akan 'berteriak' nyaring.


Kembali ke Munding.


Setelah berpamitan dengan istrinya Munding keluar dan berlari menembus kegelapan malam. Dia memilih untuk tidak menggunakan sepeda motor karena justru akan mempersusah dirinya. Toh jaraknya tidak terlalu jauh.


Setengah jam kemudian, Munding sudah sampai di depan Kafe Aditya. Kafe itu terlihat ramai dengan banyak mobil dan motor di depannya.


Munding berjalan ke arah pintu masuk dan melihat dua orang bodyguard berpenampilan rapi dan rambut gondrong yang diikat ke belakang.


"Pelanggan baru ya?" tanya salah satu penjaga di depan Kafe.


"Iya. Tapi aku ingin bertemu Puji," kata Munding.


Kedua orang itu terlihat kaget. Siapa bocah ini berani sekali ke sini dan menyebut nama Boss mereka?


"Kau jangan mencari masalah disini!!" kata salah satu penjaga dengan nada mulai marah.


"Katakan kepada Puji, Munding mencarinya. Dia pasti kenal aku," jawab Munding santai.


"Diam kau b*****t!!" teriak salah satu penjaga sambil mengayunkan pukulan ke arah kepala Munding.


"Cari penyakit," desis Munding.


Shhhhhhhhh.


Buaaakkkkk.

__ADS_1


Belum sempat pukulan si penjaga mencapai kepala Munding, tubuh si penjaga tersungkur kedepan. Tendangan Munding telak mengenai organ kemaluannya.


Si Penjaga satunya terlihat kaget. Dia langsung memutar berlari ke dalam. Munding membiarkannya.


Munding berjalan santai dan masuk ke dalam Kafe Aditya seolah tidak terjadi apa-apa. Si Penjaga yang barusan ditendang Munding masih tersungkur di lantai dekat pintu masuk dan merintih kesakitan.


Saat Munding masuk ke dalam Kafe Aditya, dia tersenyum pahit. Mungkin inilah yang dikejar orang-orang itu, surga dunia.


Ruangan lebar itu dibuat temaram, sofa-sofa yang nyaman banyak bertebaran di sana-sini. Di setiap sofa, laki-laki hidung belang sedang menikmati tubuh pramuria menjadi pemandangan biasa.


Bahkan ada yang tanpa malu-malu melakukan hubungan **** di sofa itu sambil dikelilingi oleh kawan-kawan mereka dan memperhatikan ulah mesum si pasangan cabul.


Di tengah-tengah ruangan, ada dance floor yang digunakan untuk berjoget pria dan wanita yang sebagian besar sudah setengah tiang itu.


Sesekali ada pramuria dengan pakaian minim yang berseliweran mengantarkan minuman di atas nampan dan bergegas ke meja yang dilayaninya.


Dan yang bikin Munding kaget, bukan hanya pria hidung belang yang main kesini. Ada beberapa meja yang ditempati oleh sekelompok tante-tante girang yang mengerubungi satu atau dua cowok ganteng dan atletis yang Munding yakin disediakan oleh tempat ini. Jumlah mereka tak sebanyak pengunjung laki-laki, tapi Munding kini sadar kalau 'mesum' dan 'bejat' bukan sebutan eksklusif untuk para pria saja.


Munding mengedarkan pandangan dan melihat 4 buah pintu yang tidak begitu mencolok di beberapa sudut ruangan. Sebuah pintu dengan lambang yang sering dia lihat di toilet umum. Sebuah pintu lain, dengan lambang dua buah dadu yang gemerlap. Pintu ketiga yang tak menunjukkan lambang sama sekali tapi hanya bertuliskan 'VIP' dan pintu terakhir yang mempunyai tulisan 'Employee'.


Munding tahu kemana dia harus pergi. Dia berjalan ke pintu yang bertuliskan 'Employee' karena siapa pun tahu kata itu artinya adalah karyawan ya kan?


\=\=\=\=\=


"Iya Boss, si Tikno masih terkapar di luar," kata preman gondrong yang tadi berlari dari pintu depan.


"Panggil Japra! Suruh anak-anak semua berjaga di koridor depan!" perintah Puji


"Iya Boss," kata si gondrong lalu keluar meninggalkan ruangan kantor Bossnya.


"Munding," desis Puji lirih.


Tapi sesaat kemudian, Puji menarik napas dalam dan mengeluarkan hpnya. Dengan cepat, Puji mencari nama seseorang disana.


Kusnandar.


Puji bukan gadis polos. Dia sudah kehilangan kepolosannya saat dulu mengambil keputusan menggadaikan mahkotanya demi segepok uang. Jadi, dia mengambil keputusan berdasarkan hitungan bisnis, hitungan untung rugi. Sucipto mampu merebut Kafe ini karena Kusnandar. Separuh Kafe ini juga bisa dianggap milik Kusnandar.


Jadi, Puji mengambil keputusan untuk mendekati Kusnandar. Dengan alasan urusan akuntansi Kafe, Puji mengantarkan dirinya ke pelukan Kusnandar, tanpa sepengetahuan Sucipto tentu saja.

__ADS_1


Karena itu, orang pertama yang dihubungi Puji bukan sang Kades, tapi sang Danramil.


"Ya? Kenapa kau telpon malam-malam seperti ini? Aku kan sudah melarangmu menghubungi aku saat aku ada di rumah?" kata Kusnandar.


"Mas. Kafe diserang orang. Kalau tidak penting, aku tak akan berani menghubungi Mas jam segini," kata Puji memainkan perannya sebagai cewek lemah yang butuh perlindungan.


"Siapa yang berani menganggu tempatku?" kata Kusnandar mulai terpancing emosinya.


"Puji nggak tahu Mas," jawab Puji berbohong, kalau cuma satu orang yang menyerang dan dia memberitahukan itu pada Kusnandar, hanya hardikan yang akan dia terima.


"Aku kesana sama anggota sekarang. Suruh Si Cipto datang juga," jawab Kusnandar pendek


"Iya Mas," jawab Puji.


Tak lama kemudian, Puji menghubungi Sucipto juga. Setelah melakukan dua panggilan itu, Puji sedikit menarik napas lega.


"Sehebat apapun Munding, tak akan sanggup dia melawan kedua beckingku," bisik Puji.


Tak sampai sepuluh menit kemudian, 3 orang masuk ke ruangan Puji, Sucipto dan Upin-Ipinnya,"berapa orang yang nyerang sampai kamu harus nelpon aku dan juga Kusnandar?" tegur Sucipto.


"Kenapa dia bisa tahu kalau aku nelpon Kusnandar," keluh Puji dalam hati, "satu orang Mas," jawab Puji sambil menundukkan kepalanya.


"Satu orang saja kau sudah sepanik ini? Semua orang kau hubungi? Dasar l***e!!" teriak Sucipto sambil melemparkan puntung rokok yang masih nyala ke arah Puji.


Sedari awal tadi, Sucipto sudah emosi. Kusnandar menyuruhnya datang ke tempat ini secepatnya karena ada serangan, dan Puji yang memberitahu Kusnandar. Sucipto merasa kalau ada sesuatu antara Kusnandar dan wanitanya itu. Karena itu, dengan atau tanpa alasan, Sucipto bakal tetap menghajar cewek tak tahu terima kasih di depannya itu.


"Boss. Tenang. Sebentar lagi Kusnandar akan kesini, jangan sentuh Puji dulu," kata Husein sambil melirik ke arah Puji tanpa menyembunyikan niat jahatnya.


Sudah lama sekali Husein memimpikan untuk menikmati gadis ini. Dan dia tahu kalau sebentar lagi dia akan bisa menikmati gadis itu sepuasnya.


"Mas? Mas ini kenapa? Puji nggak ada apa-apa sama Kusnandar. Cuma hubungan kerja Mas. Urusan Kafe," Puji merengek ke arah Sucipto sambil menangis, pura-pura, buaya betina dia.


"Diam! Kau lihat aja nanti kalau semua urusan ini sudah selesai," teriak Sucipto sambil mendorong Puji terjatuh.


"Apa yang mau dilihat?"


Terdengar suara pelan dari seorang Pria yang tiba-tiba sudah memasuki ruangan ini diikuti lima orang yang berpenampilan mirip dengannya.


Kusnandar.

__ADS_1


"Laki-laki tidak memukul wanita lemah, kau ini laki-laki atau banci?" tanya Kusnandar ke sambil menunjuk muka Sucipto yang langsung menundukkan kepalanya dan tak berani membalas tatapan mata sang Komandan.


Semua pemain inti sudah berkumpul, Munding sendiri kemana?


__ADS_2