
Munding cuma terdiam dan mengambil posisi siaga, setelah melakukan tendangan tadi, Munding merasakan kalau rasa sesak di dadanya mulai berkurang sedikit. Seperti mendapatkan jalan untuk melepaskan diri dari tubuhnya.
Munding mengepalkan kedua tangannya, tangan kanannya diangkat sejajar dengan kepala dan tangan kirinya setengah diulurkan ke depan kearah Saud. Kaki Munding memasang kuda-kuda belakang dengan kaki kanan sebagai tumpuan.
"Hooooooooooo, kuda-kuda apa itu Bocah? Wushu, Karate, Silat? Aku belum pernah lihat yang seperti punyamu. Biar kutunjukkan samamu kalau di jalanan itu lebih keras daripada di dojomu," kata Saud sambil mulai melompat-lompat ritmik dengan kedua kakinya.
'Taekwondo?' batin Munding dalam hati.
Tap tap... Tap tap.. Tap tap..
Suara ritmik loncatan kaki Saud di lantai paving pasar Sukolilo terdengar. Munding pernah melihat anak-anak yang berlatih Taekwondo. Dia tahu kalau loncatan ritmik mereka itu digunakan untuk menutupi awalan dari tendangan cepat khas beladiri itu.
Tapi yang dulu Munding lihat saat mereka berlatih adalah loncatan ritmik tanpa henti. Sedang kan Saud, mengubahnya dengan ritmik dua-dua diiringi jeda waktu dan dibantu oleh gerakan tipuan dari bagian pinggang ke atas.
Tap tap ... Tap
Secepat kilat Saud melayangkan tendangannya ke arah kepala dengan kaki kanannya. Cuma satu kata yang terlintas di pikiran Munding saat itu.
Cepat.
Tendangan Saud sangat cepat sampai Munding pun tidak bisa melihat dengan jelas kaki Saud yang melakukan tendangan. Secara reflek, Munding menarik tangan kirinya dan melakukan tangkisan luar setinggi kepala dengan tangan kiri. Munding mengencangkan otot tubuhnya dan otot lengan kirinya.
Duakkkkk.
Munding merasakan tendangan keras di lengan tangan kirinya dan tangannya terasa kebas dan mati rasa. Tetapi belum sempat Munding melakukan serangan balasan, posisi tubuh Saud tiba-tiba berputar di udara meskipun kaki kanannya belum turun sempurna dari posisi tendangan pertama tadi.
Buuuuaaaaaaakkkkkkkk.
Munding terlempar kebelakang dan terjatuh setelah terkena tendangan telak ke ulu hatinya. Untung saja Munding tadi sudah mengencangkan seluruh otot tubuh dan lengan kirinya saat tendangan pertama tadi.
Munding tidak bisa membayangkan akibatnya jika dia menerima tendangan barusan dalam keadaan biasa.
"Woowwwwww, kau memang tangguh Bocah. Kuakui itu. Dollyo chagi-ku bisa mematahkan papan kayu tapi lengan kirimu bisa menangkisnya sempurna. Orang lain mungkin juga langsung muntah darah kalau terkena dolke chagi-ku. Tapi keliatannya kau baik-baik saja," kata Saud.
__ADS_1
Keenam kawan Saud yang tadi mengambil posisi siaga di sekeliling mereka juga mulai menurunkan kuda-kuda mereka, keliatannya kali ini juga sama seperti sebelumnya.
Hanya bocah ingusan yang cari gara-gara setelah berlatih satu atau dua gerakan dari perguruannya.
Napas Munding tersengal-sengal. Dia bersyukur dengan latihan keras yang diberikan oleh Pak Yai. Selain tulang kering di kaki, Pak Yai juga akhirnya menyuruh Munding melakukan hal yang sama untuk lengannya.
Digerus dengan batang bambu.
Alasan Pak Yai sederhana 'biar tulangmu kuat' dan itu menambah daftar siksaan bagi Munding kecil.
Latihan itu meningkat lagi ketika Munding menginjak usia SMA. Pak Yai menyuruh Munding untuk mengeraskan seluruh otot tubuhnya dan menggunakan kedua tangan Munding untuk melindungi kepalanya.
Setelah itu Pak Yai menggunakan batang bambu untuk memukul seluruh bagian tubuh Munding dengan bambu. Terkecuali bagian leher, kepala dan **** Munding.
'Opsi pertama saat diserang, menghindar, kalau tidak bisa dihindari, opsi kedua tangkis, tapi tanganmu cuma dua dan kamu harus mengutamakan untuk melindungi kepalamu, kalau kepala kena, habis sudah nggak ada cerita, jadi kalau kamu sudah tidak bisa lagi menangkis, opsi ketiga terima serangan musuhmu, latihan ini untuk membuat tubuhmu terbiasa menerima serangan, Le' itu kata Pak Yai waktu itu dan akhirnya Munding mendapatkan menu baru untuk 'siksaan' yang harus dia terima.
Munding kemudian berdiri dan mengambil posisi kuda-kuda lagi seperti sebelumnya. Saud terkekeh melihat Munding.
Tap tap ... Tap tap ...
"Kuakui, tubuhmu memang kuat, tapi aku pengen liat seberapa kuat tulang kepalamu," kata Saud sambil bergerak maju, mungkin karena dia merasa kalau Munding bukan lawannya, Saud tidak setegang tadi dan mulai terlihat lebih relaks.
Saud mengangkat kaki kirinya tinggi, lebih tinggi dari kepalanya dan kepala Munding. Munding yang melihat Saud melepaskan tendangan tanpa memanfaatkan awalan dari lompatan ritmik taekwondonya, dapat dengan jelas menebak datangnya tendangan Saud.
'Cangkul?' batin Munding.
Munding bergerak maju dengan cepat dan melakukan tangkisan atas dengan tangan kanannya. Posisi kaki Saud sudah lurus keatas dan tinggal menunggu diayunkan kebawah, Munding merangsak maju dengan cepat untuk memperpendek jarak antara dia dan Saud.
Munding tahu seberapa besar kekuatan tendangan cangkul dan dia sendiri tidak yakin kalau sekeras apapun tangannya bakalan sanggup menerima serangan itu.
Satu-satunya solusi adalah mengubah jarak efektif dari tendangan cangkul yang dilayangkan oleh Saud. Titik efektif tendangan cangkul ada di tumit kaki Saud, Munding harus mundur untuk menghindar atau merangsak maju sehingga tendangan cangkul Saud akan berkurang kekuatan serangannya ke Munding.
Dan Munding memutuskan untuk merangsak maju, karena hanya itulah satu-satunya kesempatan Munding untuk melancarkan serangan balasan.
__ADS_1
Saud terkejut saat Munding maju, jarak tubuh Saud dan Mundung menjadi sangat dekat dan Saud tahu kalau tendangan cangkul kaki kirinya sudah tidak efektif lagi. Apalagi Munding mengangkat tangan kanannya dan melakukan tangkisan atas.
"Sssssshhhhhhhhhhh"
Munding memutar badannya dan melakukan tendangan gajul kaki kanan dengan cepat. Saud yang masih berdiri dengan satu kaki kanan saja sebagai tumpuan tidak menyangka serangan balasan Munding datang bahkan sebelum kaki kirinya turun sempurna dari arah atas kepala Munding.
Buakkkkkkkkkk.
Kaki kanan Munding mengait kaki kanan Saud yang menjadi tumpuan dan Saud pun kehilangan keseimbangan.
Pak Yai tidak pernah mengajarkan silat kepada Munding untuk tujuan kompetisi atau olahraga. Tidak ada aturan kalau dia harus memberi kesempatan kepada lawan yang terjatuh atau Munding harus mundur agar lawannya bisa kembali siaga.
Karena itu, begitu Saud kehilangan keseimbangan karena tendangan gajul ke kaki tumpuannya, Munding kembali merangsek maju, bahkan sebelum tubuh Saud menyentuh lantai paving pasar Sukolilo, Munding melayangkan pukulan tegak ke kepala Saud.
Duaaaakkkkkkkkkk.
Pukulan Munding telak mengenai bagian hidung Saud yang diikuti oleh semburan darah dari sana. Munding yakin kalau tulang rawan di hidung Saud sudah jadi korban pukulannya.
Saud terjatuh di lantai Pasar Sukolilo, dia mencoba bangkit berdiri dengan cepat tetapi sebelum dia bisa duduk jongkok dengan sempurna, Munding datang dengan tendangan gojos tepat ke muka Saud yang dalam kondisi setengah berjongkok.
Buakkkkkkkkkkkk.
Tendangan gojos yang dilakukan dengan mengangkat lutut setinggi mungkin kemudian mendorong kaki kedepan sehingga ujung kaki seperti memancal ke depan memang mempunyai efek dorong yang luar biasa.
Saud terlempar ke belakang sejauh satu setengah meter dengan bagian kepala terbentur ke lantai paving. Darah mulai mengalir dari sana. Mata Saud yang terkena serangan telak gojos-nya Munding juga terlihat mulai membengkak. Ditambah lagi hidung yang patah terkena pukulan tegak tadi.
\=\=\=\=\=
Gerakan yang dipakai Saud:
Dollyo chagi: tendangan dengan arah menyamping.
Dolke chagi: tendangan 'tornado'.
__ADS_1