Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 33 - Fight!! part 1


__ADS_3

“Munding.. Lari!!!!” teriak Asma tiba-tiba.


“Diam kau!!” bentak Joko ke arah Asma yang masih terduduk di tanah dan kembali menutupi buah dadanya yang terbuka dengan tangannya.


“Hahahahahahahahahahaha,” Joko tertawa, “Munding, aku lupa memberitahumu, si Asma ini, cewek tercantik di kampung kita, dari dulu suka padamu. Aku sudah mendekatinya berkali-kali tapi dia selalu menolakku. Kau pikir kalau dia mau sama aku, aku perlu pakai cara seperti ini?"


“Entah kenapa, hari ini aku beruntung sekali. Aku bisa memperawani Asma di depanmu. Aku bisa membayangkan betapa malu dan sedihnya Asma nanti. Aku yakin kalau dia akan memilih bunuh diri setelah semua ini berakhir. Iya kan Asma?” tanya Joko kearah Asma.


Asma menggeleng-gelengkan kepalanya dan masih tetap menangis. Dia cuma melihat ke arah Munding dan meminta Munding untuk pergi dari tempat ini, tapi hanya dengan gerakan bibir dan tanpa suara yang keluar dari sana, karena semua yang dikatakan Joko adalah benar.


Munding melihat ke arah Asma dan melihat gadis itu sedang menatapnya. Pandangan mata yang sering dia terima, yang selalu membuatnya bahagia. Pandangan mata yang sama dengan punya Nurul.


Munding mengalihkan matanya kembali ke arah Joko dengan cepat. Dia tidak ingin setelah menyadari perasaan Asma kepada dirinya, hal itu akan membebani Munding dalam melakukan tujuannya. Tujuan yang ingin dia capai selama ini. Membalas dendam untuk kematian Bapaknya.


Karena Asma adalah anak Jumali.


“Joko, apa yang membuatmu berpikir kalau aku cari mati?” tanya Munding diiringi senyuman di bibirnya.


Munding, dengan percaya diri, berdiri di depan Joko dan memasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jumpernya, sama saat dia datang pertama kali tadi.


Munding tahu dan yakin, untuk dia yang sekarang ini, Joko dan gengnya sama sekali tidak memberikan ancaman apa-apa.


Tidak ada sedikitpun Munding merasakan ancaman bahaya dari keberadaan mereka.


Joko memberikan isyarat mata kepada lima orang kawannya yang mengelilingi Asma. Kelima orang itu bergerak dengan cepat dan sekarang sudah mengepung Joko dan Munding. Mereka kemudian mengambil posisi siap dan kuda-kuda menyerang.


“Kau ingat Munding? Sama seperti dulu waktu kita SD, sama dan akan selalu berulang, kami menjadikanmu bulan-bulanan dan akhirnya kau akan meringkuk di tanah dan merintih kesakitan,” cibir Joko.

__ADS_1


“Ciiiiaaaaaatttttttttt.”


Edi yang kebetulan berdiri di sebelah kiri Munding, berteriak kemudian melayangkan pukulannya ke arah Munding. Munding melirik ke arah Edi dan cuma membatin dalam hati, ‘lupakan soal teknis pukulannya, tapi orang bodoh mana yang berteriak dulu sebelum menyerang? Sekalian saja bilang, siap-siap! aku akan memukulmu.'


Munding memiringkan tubuhnya ke belakang dan mundur satu langkah dari tempatnya berdiri. Pukulan Edi yang datang dari arah kiri Munding kehilangan sasaran dan sekarang dia berada persis di depan Munding dengan jarak yang sangat dekat. Terlalu dekat untuk melayangkan tendangan.


Telapak kaki kiri Munding berputar sedikit dan membuka ke kiri, bersiap-siap menjadi poros putaran tubuhnya. Setelah itu dengan cepat Munding mengangkat kaki kanan dan menggunakan lututnya untuk menyerang perut Edi yang tepat berada di depannya dan sedang dalam posisi limbung setelah kehilangan sasaran pukulan barusan.


Buakkkkkkkkk. “Uhukkkkkkkk.”


Edi langsung tersungkur di tanah setelah perutnya dihantam dengan telak oleh lutut kanan Munding. Munding kembali ke posisi berdiri tepat di sebelah kanan Edi yang tersungkur di tanah. Posisi berdiri Munding tegak lurus dengan posisi Edi yang tersungkur.


“Uhukkkkk. Uhukkkk. Uhukkkkkkk.”


Edi masih terus terbatuk-batuk di tanah sambil memegangi perutnya yang mual dan terasa sakit sekali. Keempat kawan Joko yang tersisa tiba-tiba menjadi ragu setelah melihat betapa mudahnya Munding melumpuhkan Edi.


“Joko, perutku terasa sakit sekali.. Ahhhhhhh.. Sakit.. Uhukkkkkk,” Edi merintih di tanah sambil sesekali terbatuk. Mungkin tanpa dia sadari atau karena rasa sakit yang dia rasakan, Edi mulai merintih sambil menangis.


Prrakkkkkkkk.


Dan suara Edi pun tidak terdengar lagi.


“Aku tak suka melihat laki-laki menangis,” kata Munding datar, setelah beberapa detik mereka dalam keheningan.


Joko dan kawan-kawannya merasakan lutut mereka gemetaran. Mereka jelas mendengar suara tadi. Suara ketika kaki Munding tepat mengenai kepala Edi yang menunduk ke tanah dan terbatuk-batuk.


Itu suara sesuatu yang pecah atau patah. Dan mereka tidak mau menduga-duga bagian mana dari kepala Edi yang baru saja diretakkan oleh tendangan Munding. Keempat kawan Joko yang mengelilingi Munding reflek mulai mengambil jarak aman dari jangkauan Munding.

__ADS_1


“Jangan takut, dia cuma sendirian. Tadi itu hanya kebetulan. Kali ini kita serang sama-sama,” kata Joko mencoba membangkitkan keberanian kawan-kawannya tapi dengan suara yang bergetar.


Munding hanya melirik ke arah Joko dan tersenyum menyeringai.


“Joko benar. Tadi itu cuma kebetulan saja,” kata Munding sambil mengeluarkan tangannya dari saku jumper dan mengambil posisi kuda-kuda favoritnya.


Joko dan keempat kawannya membulatkan tekad dan kembali bersiap untuk menyerang Munding.


“Serang sama-sama!!” teriak Joko.


Hiatttttt. Ciaatttt. Haaaaaaa.


Beberapa suara teriakan terdengar hampir berbarengan disertai 5 orang yang menyerang Munding bersama-sama. Munding tersenyum. Dia melihat ke arah Joko yang datang dari arah depannya, Yogi dari arah depan kiri dan Abdul dari arah depan kanan.


Diserang dari lima arah, Munding jelas tidak bisa menghindari ataupun menghadapi semuanya. Dan dia memilih solusi yang paling sederhana, membiarkan punggungnya yang menjadi titik buta menerima serangan dari dua orang yang ada di belakangnya dan membalas serangan ketiga orang yang ada depannya.


Munding melihat dengan jelas ketiga orang di depannya melancarkan serangan yang berbeda. Serangan yang tercepat bukan datang dari Joko melainkan dari Abdul yang datang dari arah depan kanan Munding. Abdul melakukan tendangan sabit ke arah perut Munding dengan menggunakan kaki kanan.


Dilihat dari postur dan eksekusi tekniknya, Munding tahu kalau Abdul rutin melatih tendangan ini. Tendangan sabit itu terarah dan juga bertenaga.


Dengan cepat otak Munding melakukan simulasi serangan balasan untuk serangan Abdul. Sapuan rendah bukan pilihan, sedikit saja terjadi kesalahan, alih-alih perut Munding, justru kepala Munding bakalan menerima tendangan sabit Abdul.


Beberapa opsi lain juga muncul di kepala Munding. Tapi semuanya terlihat beresiko apalagi ditambah dengan 4 serangan dari musuh lainnya. Semua aktivitas otak yang terjadi di kepala Munding memang membutuhkan waktu lama untuk dijelaskan, tapi itu semua terjadi cuma dalam satu kedipan mata.


Dan tiba-tiba Munding tersenyum, 'kenapa aku harus bertarung dengan metode konvensional dan terbelenggu oleh suatu aliran dan prinsip beladiri tertentu. Aku akan menyerang dan bertahan sesuai keinginanku dan sesuai naluriku,' kata Munding dalam hati.


Dan tiba-tiba Munding melihat banyak sekali celah yang bisa dimanfaatkan terlihat dari ketiga musuh di depannya. Munding mencondongkan badannya ke arah kanan dan melakukan tendangan gojos kaki kiri ke arah Abdul. Tapi bukan menyerang perut atau ulu hati Abdul melainkan tendangan gojos rendah ke arah lutut kaki Abdul yang dijadikan kaki tumpuan.

__ADS_1


“Krakkkkkk.”


Tendangan sabit Abdul terhenti di tengah jalan dan dia pun tumbang. Posisi tubuh Munding sekarang agak serong ke arah kanan setelah melakukan tendangan gojos ke Abdul tadi. Serangan kedua berasal dari Joko yang tadinya berada di arah depan Munding tapi sekarang berada di sebelah kiri Munding.


__ADS_2