
“Mbak, soal harta peninggalan Bapak, Munding nggak peduli. Munding sudah cukup bahagia hidup seperti ini.” kata Munding pelan.
“Kamu tahu nggak nominal tabungan kamu berapa Dek?” potong Ayu cepat.
“Munding nggak tahu dan nggak mau tahu,” jawab Munding pendek.
“Itu akumulasi keluarga Bapak selama puluhan tahun Dek. Jumlahnya milyaran. Dan lagi, dari 21 hektare sawah Bapak, Dek Munding dapat 15 hektare, Ayu dapat 6 hektare. Bapak juga sudah siapin tanah untuk rumah Ayu dan kamu.” kata Ayu.
“Mbak, seperti kata Munding tadi, Munding sudah bahagia dengan kehidupan Munding yang sekarang. Kalaupun ada sesuatu yang ingin Munding lakukan di Sukorejo, Munding cuma ingin tahu siapa yang menghabisi nyawa Bapak,” jawab Munding dalam.
Ayu terlihat sedikit gelagapan saat mendengar kalimat Munding. Meskipun cuma sekilas, Munding menangkap perubahan muka yang terjadi sama Ayu.
“Mbak tahu ya?” tanya Munding yang disambut Ayu dengan diam.
“Siapa pembunuh Bapakku?” lanjut Munding.
Kali ini ekspresi muka Munding mulai terlihat lain, Nurul yang berada di sebelah Munding kenal dengan ekspresi Munding yang seperti ini. Mirip waktu Munding melihat Pak Yai tergeletak dan terbalut perban di atas ranjang.
Tanpa memperdulikan orang-orang di sekitarnya, Nurul memegang wajah Munding dan memutarnya kesamping. Dengan cepat Nurul mencium bibir Munding. Munding seperti merasakan siraman es di atas kepalanya saat menerima ciuman Nurul.
Setelah tahu Munding sudah mulai kembali normal, Nurul pun melepaskan ciumannya. Mukanya memerah.
Ayu dan beberapa pengunjung kedai es teler lain yang menyaksikan keagresifan cewek manis berjilbab ini cuma bisa melongo dan terpana.
Munding melihat ke arah Nurul dengan pandangan mata penuh rasa terima kasih. Dan Nurul tahu itu. Tanpa perlu diucapkan dengan kata-kata.
Munding kembali mengalihkan pandangannya ke kakak kandungnya Ayu yang duduk di seberang mejanya.
Ayu terdiam dan menggeleng-gelengkan kepalanya, “semua orang tahu kalau Bapak terpeleset saat mencari rumput Dek, kemudian Bapak terjatuh di sungai dan kepalanya terkena batu. Itu kata Pak Polisi dan Aparat Desa.”
Munding menarik napas dalam, “Mbak, kalau Mbak tahu, tolong kasih tahu Munding sejujurnya. Kalau suatu saat Munding tahu Mbak nyembunyiin hal ini dari Munding. Jangan salahkan Munding,” ancam Munding.
“Munding.” “Mas.”
Ayu dan Nurul berteriak berbarengan, keliatannya kedua gadis itu kompak kali ini.
“Mas, Nurul kan kemarin sudah bilang. Balas dendam tu nggak ada habisnya Mas, itu lingkaran setan. Mas kemarin udah nyesel kan?” kata Nurul sambil menatap mata Munding.
Ayu terdiam.
Dia sebenarnya tahu, tapi, sama seperti Nurul, Ayu nggak ingin Munding menempuh bahaya demi dendam masa lalu.
Munding terdiam sebentar sambil melihat ke arah Nurul, “tapi ini Bapaknya Mas dek. Mas nggak bisa. Mas harus melakukan sesuatu,” kata Munding.
Nurul cuma terdiam, tapi Nurul terus memutar otaknya untuk mencari solusi dan dengan segera dia menemukan jalan pemecahannya. Bapak.
Ya, Nurul bakalan ngomong ke Bapak supaya dia yang nasehati Munding biar nggak usah cari masalah dengan orang-orang Sukorejo.
Munding melihat ke arah Ayu, “Terserah kalau Mbak nggak mau ngasih tahu. Munding nanti akan cari tahu sendiri siapa yang melakukan itu.”
Ayu terlihat gugup, “bukan begitu Dek, tapi ...”
Munding terdiam dan menunggu Ayu menyelesaikan kalimatnya. Setelah menunggu lama dan kalimat itu tidak kunjung selesai. Munding pun menyerah.
__ADS_1
“Kalau gitu, kami pulang dulu Mbak,” kata Munding setelah mereka bertiga terdiam.
Munding menggandeng tangan Nurul dan berdiri dari kursi mereka.
“Munding ..” panggil Ayu.
Munding berhenti dan menoleh kearah Ayu.
“Saat ulang tahun Ayu yang ke-18 nanti. Munding bisa datang kan?” tanya Ayu pelan.
“Insya Allah,” jawab Munding.
\=\=\=\=\=
Munding dan Nurul sampai di rumah lebih sore dari biasanya. Pak Yai sudah berdiri di depan rumah dengan sebatang rotan di tangannya.
“Kamu mau melarikan diri dari latihan ya Le?” tanya Pak Yai sambil mengayun-ayunkan rotan itu begitu melihat Munding dan Nurul turun dari sepeda motor.
“Assalamualaikum, Bapak,” potong Nurul yang berdiri di tengah-tengah Bapak dan kekasihnya.
“Waalaikumsalam, sana masuk. Ini urusanku sama Masmu,” kata Pak Yai yang disambut senyuman kecut dari Munding.
Tak lama kemudian, rumah Pak Yai sudah dipenuhi rintihan kesakitan Munding dan teriakan Pak Yai yang menggelegar.
Hal yang sudah biasa di dengar oleh tetangga kiri dan kanan Pak Yai.
\=\=\=\=\=
Selepas Isya, seperti biasanya Munding duduk di depan teras menemani Pak Yai. Pak Yai meminum teh yang dibuatkan Bu Nyai di hadapannya. Sedangkan Munding cuma memegang segelas air putih.
“Hmmmmm,” jawab Pak Yai sambil mendengarkan lantunan Al Quran dari Nurul yang sayup-sayup terdengar dari kamarnya.
“Munding pengen balik ke Sukorejo bentar Pak,” kata Munding sambil menundukkan kepalanya.
“Kenapa kamu mau balik ke sana? Kangen sama Ibumu?” tanya Pak Yai.
“Nggak Pak Yai,” jawab Munding.
“Lha terus?” tanya Pak Yai.
Munding menghela napas kemudian dia menjawab setelah membulatkan tekad, “Munding pengen nyari pembunuh Bapak Munding.”
“Kalau sudah ketemu kamu mau ngapain?” tanya Pak Yai.
“........” Munding tak bisa menjawab.
“Kamu nggak boleh pulang kesana sebelum bisa menjawab pertanyaanku tadi,” kata Pak Yai tegas.
\=\=\=\=\=
Hari berikutnya.
Percakapan yang sama.
__ADS_1
“Kalau sudah ketemu kamu mau ngapain?” tanya Pak Yai.
“Munding mau balas dendam Pak Yai,” jawab Munding.
“Balas dendam seperti apa?” tanya Pak Yai.
“.......” Munding terdiam.
Buettttttttt. Ctakkkkkkkkkk. “Aduuuuhhhhhhhh.”
\=\=\=\=\=
Hari berikutnya.
“Munding mau pukulin dia sampai babak belur Pak Yai,” kata Munding.
Buettttttttt. Ctakkkkkkkkkk. “Aduuuuhhhhhhhh.”
\=\=\=\=\=
Hari berikutnya.
“Munding mau memberikan maaf Munding ke dia Pak Yai,” kata Munding.
“Kalau gitu nggak usah kesana, maafin dia aja dari sini,” balas Pak Yai.
Buettttttttt. Ctakkkkkkkkkk. “Aduuuuhhhhhhhh.”
\=\=\=\=\=
Berhari-hari berikutnya.
“Munding nggak tahu mau ngapain Pak Yai. Tolong ajari Munding Pak Yai,” kata Munding menyerah kalah.
Pak Yai tersenyum, “Munding, kamu selama ini cuma mencari jawaban di sini,” kata Pak Yai sambil menunjuk kepala Munding dengan ujung rotannya, “ini masalah rasa, rasa harus dicari jawabannya disini,” lanjut Pak Yai sambil menunjuk ke dada Munding dengan rotannya.
“Apa yang kamu rasakan saat mengingat Bapakmu mati dibunuh? Apa yang kamu rasakan saat melihat Ibumu berselingkuh? Rasakan di sini, ikuti nalurimu, lakukan apa yang kamu inginkan sesuai dengan nalurimu,” kata Pak Yai sambil terus menunjuk-nunjuk dada Munding dengan rotannya.
Munding termenung, dia mencoba mengingat-ngingat kembali kenangan buruk saat dia melihat Karto berselingkuh dengan Sutinah.
Gambaran yang sudah lama kabur itu berangsur-angsur menjadi jelas kembali.
Desahan napas Sutinah, gerakan * Sutinah yang dimasuki ** Karto, cibiran bibir Sutinah ke Karto saat semuanya sudah selesai. Kalimat yang diucapkan Karto yang memuji * Sutinah. Semuanya terbayang dengan jelas.
Ternyata, memori pahit itu tak pernah hilang.
Tiba-tiba, memori itu ditemani oleh rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dada Munding. Rasa sesak yang diiringi oleh sakit yang menyayat-nyayat.
Di kepala Munding terdengar suara orang bergumam tak jelas, tapi seiring dengan bertambahnya rasa sesak dan sakit di dada Munding, gumam tak jelas di kepala Munding berubah menjadi suara-suara rintihan.
Suara rintihan yang akhirnya kemudian berubah menjadi suara teriakan yang sangat jelas terdengar di kepala Munding.
Teriakan yang sama yang dia dengar saat dia melihat kejadian itu dengan kedua matanya. Teriakan yang sudah dia dengar saat dia masih kelas 4 SD.
__ADS_1
Suara teriakan yang membuat seluruh tubuhnya bergetar dan membuat darahnya terasa seperti mendidih.
Bunuh!!!