Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 106 - Interogasi part 2


__ADS_3

Sekalipun hari ini dia disiksa sampai mati di tempat ini. Bambang tahu kalau tidak akan ada yang menyelamatkannya. Sekalipun atasannya tahu dimana dia sekarang, tapi dia tidak akan pernah menyelamatkan Bambang.


Karena itu artinya dia akan mengambil resiko untuk berhadapan dengan militer secara langsung.


Ambar tersenyum melihat Munding ingin tetap berada di sini. Sedetik kemudian, Ambar melihat ke arah Bambang. Tanpa berkata apa-apa, Ambar memberikan isyarat kepada kedua orang eksekutor itu.


“Kuku,” kata Ambar pendek.


Bambang langsung pucat seketika, “tunggu. Tunggu. Bukankah kau seharusnya menanyaiku dulu? Jika aku tidak mau menjawab, kau baru mulai menyiksaku.”


Kedua orang eksekutor yang datang dengan menggunakan topeng penutup muka itu menghentikan gerakan mereka dan melirik ke arah Ambar. Menanti instruksi selanjutnya dari atasan mereka.


Ambar menggelengkan kepala, “aku nggak suka seperti itu. Caraku dibalik. Aku akan menyiksamu dan terus menyiksamu sampai kamu memohon-mohon untuk berhenti."


Ambar kemudian tersenyum manis, tapi kata-kata yang keluar dari bibirnya tak sesuai dengan senyuman di wajahnya, “soal informasi yang kami inginkan, aku tak butuh itu. Kalau pun terpaksa, aku akan bilang ke atasan kalau kamu tak sengaja tewas saat interogasi. Habis perkara.”


Seember air dingin seakan diguyurkan ke kepala Bambang, baru kali ini dia bertemu seorang interrogator yang tidak peduli dengan informasi yang diinginkannya tapi lebih memilih untuk menyiksa korbannya. Ternyata gadis di depannya ini adalah seorang sadistic. Bambang mulai menyesal telah mengejek dan menghina gadis ini di awal-awal interogasi sebelum kedatangan Munding tadi.


“Kuku,” kata Ambar mengulangi perintahnya tadi.


Dengan cepat kedua eksekutor itu memegangi tubuh Bambang dan mengikatnya dengan kuat ke kursinya. Setelah itu salah satu dari sang eksekutor mengambil sebuah tang yang tadi diletakkannya di meja dan melihat ke arah Ambar.


“Tangan kiri dulu, biar berasa perihnya kalau lagi cebok di kamar mandi,” kata Ambar sambil tertawa kecil, Munding melirik wanita di depannya itu dengan tatapan aneh.


Suara jeritan Bambang terdengar memenuhi ruangan itu tak lama kemudian. Kuku kelingking tangan kirinya barusan dilepas dengan menggunakan tang oleh salah satu eksekutor Ambar.


Eksekutor yang kedua segera mengambil sebuah botol yang diletakkan di meja dan membuka tutupnya. Setelah itu, dia menuangkan isinya ke dalam luka yang ada di jari kelingking Bambang.


Sebuah jeritan makin keras terdengar. Ternyata botol itu berisi air cuka.

__ADS_1


Si Eksekutor yang memegang tang melirik kembali kearah Ambar, “lanjut,” kata Ambar pelan untuk melanjutkan proses interogasinya.


Tak lama kemudian suara teriakan kesakitan Bambang kembali terdengar ketika kuku jari tangan kirinya kembali dicabut satu persatu. Setiap kali, kuku itu selesai dicabut, eksekutor satunya dengan sigap akan menuangkan cuka ke dalam bekas luka itu, sesuatu yang membuat Bambang merasakan perih luar biasa.


Bambang terduduk lemas dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Air mata dan ingus juga terlihat di wajahnya. Dia menangis, dia merintih, dia berteriak dan dia sudah melakukan apapun yang terlintas di kepalanya agar Ambar menghentikan penyiksaannya, tapi semua seperti angin lalu bagi wanita itu.


Ambar baru berhenti menyuruh dua orang eksekutor itu berhenti setelah semua kuku di jari tangan Bambang habis dicabut. Dan Bambang sedikit menarik napas lega, meskipun rasa sakit yang luar biasa masih tetap menjalari tubuhnya. Rasa sakit yang berasal dari ujung sepuluh jarinya.


Bambang membuka matanya yang terpejam dan melirik ke arah Ambar yang sekarang terlihat sedikit puas setelah berhasil mencabut semua kuku di tangan Bambang. Ambar melirik ke arah jam tangannya sebentar, sesaat kemudian, dia melambaikan tangan kepada dua orang eksekutor yang sedari awal memakai topeng itu.


Mereka berdua yang sebenarnya sedang beristirahat langsung kembali ke posisi siaga dan berjalan kearah Ambar yang melambaikan tangannya.


“Tangan kan sudah, kali ini kuku jari kaki,” kata Ambar pelan.


Bambang tiba-tiba berteriak histeris, “hentikan!!! Kalian ini manusia atau bukan?? Aku sudah berteriak dari tadi kalau aku akan memberikan semua informasi yang kupunya. Kenapa kalian masih menyiksaku seperti ini?”


Ambar melirik ke arah Bambang yang terlihat histeris seperti seseorang yang mengalami gangguan mental itu, kemudian dia berdiri dan berjalan ke arah Bambang. Bambang terlihat sedikit gugup dan menggeser kursinya dengan susah payah untuk menghindar dari wanita menakutkan di depannya ini.


“Tidaakkkkkk!! Hentikan!!!” teriak Bambang yang sama sekali tidak digubris dan tak lama kemudian jari kelingking tangan kanan Bambang tak lagi utuh seperti dulu.


Beberapa menit kemudian, Ambar mendekati Bambang dan memegang kepala laki-laki itu, “gimana? Sudah siap bicara seperti layaknya orang dewasa sekarang?” tanya Ambar pelan.


Bambang menganggukkan kepalanya dengan cepat, seolah-olah takut jika sedikit terlambat saja dia menganggukkan kepala akan membuatnya kehilangan satu ruas lagi jemari tangannya. Ambar tersenyum melihatnya.


“Siapa atasanmu yang menugaskanmu untuk mengawasi Bram?” tanya Ambar.


Bambang mengangkat kepalanya dan tanpa ragu menjawab, “Yusuf Budi Setia. Dir Intel kami.”


Ambar menganggukkan kepalanya dan tersenyum, “seorang direktur suatu unit. Pasti memiliki pangkat Kombes atau paling tidak AKBP,” gumam Ambar.

__ADS_1


“Apakah dia orang yang sama yang membekingi Bram?” tanya Ambar.


“Pak Yusuf yang memback up semua operasi MinMaks dari segi lembaga kami. Pak Yusuf juga yang menyediakan dana. Mencarikan supply dan tentunya meminta bagi hasil keuntungan dari hasil operasi kami,” kata Bambang dengan suara bergetar karena menahan rasa sakit yang tak kunjung hilang dari kedua tangannya itu.


Setelah menarik napas panjang, Bambang melanjutkan, “tapi ada satu orang lagi yang selalu mendampingi Pak Yusuf. Dia menjadi pelatih di tim elite kami. Tapi aku sama sekali tidak tahu menahu tentang identitasnya. Kami hanya disuruh oleh Pak Yusuf memanggilnya dengan sebutan ‘Guru’ dan kami tidak pernah bertanya kenapa.”


Ambar terlihat berpikir sebentar kemudian bertanya lagi kepada Bambang yang masih menunduk dengan seluruh tubuh gemetar dan darah yang belum berhenti menetes dari ujung jari kelingkingnya yang dipotong barusan.


“Apa tujuan atasanmu mendidik dan membina MinMaks?” tanya Ambar lagi.


“Aku tidak tahu. Tugasku hanya mengawasi dan memonitor semua pergerakan Bram dan MinMaks lalu melapor kepadanya jika terjadi sesuatu yang mencurigakan,” jawab Bambang dengan suara menyerupai rintihan.


“Aku harap kamu tidak bohong. Kami akan tetap menyekapmu dalam fasilitas kami hingga semua ini berakhir. Jika kamu ketahuan berbohong, kami akan meneruskan siksaan kami dengan jari kakimu,” ancam Ambar.


Ambar kemudian mengajak Munding, yang dari tadi diam saja, untuk meninggalkan ruangan interogasi itu. Tak lama kemudian, Ambar sudah menelpon seseorang dan menyebut nama Yusuf Budi Setia yang keliatannya menjadi mastermind dari semua aktivitas kejahatan dan peredaran narkoba di Harsa.


“Sudah, kamu tenang saja. Ini bukan lagi urusanmu. Biar kami yang menangani ini,” kata Ambar sambil tersenyum ke arah Munding.


Munding cuma melirik ke arah Ambar, wanita yang tadi sangat sadis dan tega berbuat seperti itu kepada Bambang, sekarang seolah-olah menjadi seorang wanita tanpa dosa yang sedang mencoba menenangkan anak kecil.


“Aku ikut prihatin dengan calon suaminya kelak,” batin Munding dalam hati.


Tapi, sesaat kemudian Munding berhenti berjalan, “tunggu dulu, itu artinya misiku sudah selesai kan?” tanya Munding dengan wajah ceria.


“Eh?” Ambar justru kaget dengan pertanyaan Munding, “bukan begitu, maksudku tadi... Maksudku..” Ambar terlihat bingung untuk melanjutkan kalimatnya sendiri.


Munding langsung memotong Ambar yang masih terlihat membingungkan, “aku masih ingat kata-kata Pak Broto waktu itu. Dia bilang, ‘yang pertama, prioritasmu tetap melindungi putriku. Yang kedua, coba masuk dan telusuri semua aktivitas kejahatan di dalam sana.’ seperti itu kan dulu instruksi Pak Broto?”


Munding terdiam sebentar setelah itu melanjutkan lagi, “meskipun masih banyak kejahatan kecil lain yang terjadi di Harsa, tapi mayoritas aktivitas itu dilakukan oleh MinMaks. Jadi, kalau kita sudah bisa melumpuhkan dalang MinMaks, itu artinya tugasku sudah selesai kan?”

__ADS_1


“Munding,” jawab Ambar pelan, “aku tidak bisa memutuskan ini. Ini butuh authentifikasi yang jauh diatas levelku. Aku harus melaporkannya dulu kepada Pak Broto sebelum bisa memberimu jawaban.”


“Oke. Tolong bantu aku untuk mengkonfirmasi hal itu. Kalau memang misiku sudah selesai, itu artinya sesuai janji kalian, aku tidak akan kembali ke penjara. Aku akan pulang ke rumah.” kata Munding dengan senyuman cerah di bibirnya.


__ADS_2