Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 80 - Kebebasan


__ADS_3

“Apa maksudmu dengan tidak masuk di akal?” tanya Munding dengan raut muka kebingungan.


“Mana mungkin ente bisa ngalahin semua siswa Sriwijaya seorang diri?” tanya Wowo sambil tersenyum.


“Kalian mau maen keroyokan ya? Kupikir kita akan duel satu lawan satu,” jawab Munding dengan nada datar, “aku kemarin duel dengan Bram terus mendapatkan posisiku sekarang, bukankah kalian harusnya duel juga melawanku kalau ingin mendapatkan posisiku?”


Semua siswa di Sriwijaya terdiam.


Duel satu lawan satu hanya untuk menyelesaikan masalah internal dalam sebuah sekolah atau geng, sejak kapan perselisihan antar sekolah dan geng diselesaikan dengan duel? Mereka selalu tawuran untuk membuktikan siapa yang terkuat.


Wowo dan sembilan Kopralnya terdiam. Munding datang sendirian ke sekolah mereka, mereka kini yakin sebesar apa nyali yang dimiliki oleh siswa bernama Munding ini untuk melakukan hal itu. Kalaulah posisi mereka dibalik, belum tentu mereka akan berani datang seorang diri ke Harsa.


Tapi, mereka juga ingin mengakhiri status jomblo mereka.


Mereka ingin melihat gadis-gadis manis yang bersekolah di Harsa dari dekat. Selama ini, dibawah kepemimpinan si Bram, setiap kali ada anak Sriwijaya yang terlihat di sekitar area Harsa, MinMaks langsung bereaksi dan menganggapnya sebagai suatu tindakan provokasi atau ajakan untuk tawuran, padahal mereka sama sekali tidak ingin melakukan itu.


Mereka cuma ingin melihat mahluk manis dari dekat, itu saja.


Karena itu, Wowo membulatkan tekadnya, “perselisihan antar sekolah atau geng tidak pernah diselesaikan dengan duel satu lawan satu, kalau seperti itu, SMK Tata Busana atau Tata Boga yang isinya cewek semua pun bisa jadi yang terkuat asalkan mereka punya satu saja cewek yang jago berkelahi.”


“Sebagai seorang pemimpin, seorang raja, seorang komandan, selayaknya ente punya pasukan. Mungkinkah seekor lone wolf mempunyai wilayah kekuasaan? tidak mungkin. Hanya gerombolan serigala yang punya hak untuk mempunyai sebuah teritori. Lone wolf hanya bisa mati sendirian di goanya yang gelap.”


“Jadi kami mengeroyok ente bukan karena kami pengecut, tapi karena seperti itulah seharusnya alam bekerja. Individu tidak akan bisa bertahan hidup, hanya dengan berkelompoklah kita bisa survive.”

__ADS_1


Munding sedikit kaget, dia tidak menyangka sama sekali, si kepala plontos bersinar ini ternyata bisa mengeluarkan pemikiran dengan filosofi yang mendalam. Saat itu, Munding tiba-tiba berpikir, apakah ada hubungannya antara kepala gundul yang sering terkena sengatan matahari dengan otak encer yang ada di dalam kepala tersebut? Apa perlu aku mencoba gundul juga seperti si Wowo? batin Munding dalam hati.


“Tapi, ane harus akui kalau ente punya nyali yang istimewa. Karena itu, ane dan kesembilan kopral ane yang bakalan melawan ente. Kalau ente bisa ngalahin kami, kami tidak akan protes dan menerima kekalahan ini sebagai laki-laki. Tapi kalau ente kalah, jangan teriak-teriak kalau kami mengeroyok ente, salah sendiri ente nggak punya pasukan,” kata Wowo mengakhiri ceramahnya.


Munding tersenyum saat itu, dia tahu kalau sebenarnya si Wowo dan kawan-kawan malang mereka di SMK Sriwijaya ini bukanlah anak yang terlalu parah nakalnya. Mungkin dia bisa berkawan dengan si plontos dan gerombolan jomblo ngenesnya ini.


Wowo maju kemudian dia melihat ke sekilingnya, “ini perintah, kami bersepuluh, bakalan melawan Munding. Dia yang megang Harsa sekarang. Apapun yang terjadi nanti, jangan ada yang ngebantu kami atau dia sebelum pertarungan kami selesai dan ada hasilnya. Kalian paham?” teriaknya.


“Paham,” suara jawaban menggelegar dari seluruh pinggiran lapangan basket yang sekarang sudah dipenuhi oleh siswa-siwa SMK Sriwijaya.


Munding kemudian tersenyum dan melirik ke arah sembilan kopral yang sedari tadi berada di belakang Wowo. Munding tahu kalau Wowo sendiri bukanlah ancaman baginya. Tapi sembilan kopral yang ada di belakang inilah yang mungkin patut diwaspadai oleh Munding.


Satu orang kopral, memegang kelasnya masing-masing. Misalkan satu kelas terdiri dari 40 siswa, berarti untuk mendapatkan jabatan sebagai kopral, siswa-siswa tersebut harus mengalahkan ke empat puluh kawan sekelasnya.


Sistem seleksi yang brutal.


Sebagian besar dari siswa SMK Sriwijaya sudah mendengar mengenai Munding, si Anak Baru yang berhasil menumbangkan Bram MinMaks dengan duel satu lawan satu. Saat ini mereka bisa menyaksikan pertarungan ini secara live, tentu saja mereka sangat antusias.


Banyak siswa juga mengacungkan smartphone mereka untuk merekam perkelahian ini. Mana tahu nanti bisa jadi video viral, kan mereka bisa numpang terkenal juga.


Munding tahu kalau dia bisa mengalahkan mereka dengan mudah seandainya dia memasuki mode tarung dan menggunakan kelebihannya sebagai seorang petarung terinisiasi. Tapi dia tidak mau melakukannya, selain karena alasan ingin menempa dirinya, ada satu alasan lagi yang membuat Munding tidak mau melakukannya.


Anak-anak yang sedang mengelilinginya ini dan juga semua siswa yang sedang menyaksikan mereka berkelahi, mereka bukan orang jahat. Mereka hanya anak-anak yang sedang menikmati sisa-sisa terakhir masa remaja mereka.

__ADS_1


Dimana saat ini, mereka masih belum bisa dikategorikan dewasa, tapi mereka juga bukan sepenuhnya anak-anak lagi. Ini adalah masa transisi terindah bagi fase hidup seorang pemuda.


Beberapa tahun lagi, ketika mereka mengayunkan pukulannya ke seseorang, mungkin mereka akan diseret ke kantor polisi dengan pasal penganiayaan dan masuk ke penjara. Ketika mereka menghardik atau memaki seseorang, mereka akan diadukan dan dituntut di pengadilan karena pasal tindakan tidak menyenangkan.


Atau mungkin sebagian dari mereka akan menatap hari-harinya dengan pandangan kosong setelah lelah seharian bekerja dengan upah tak lebih dari upah minimum kabupaten yang entah cukup atau tidak untuk membeli popok dan susu bayi mereka, sambil mengenang masa remaja mereka yang penuh warna.


Itu nanti.


Nanti, saat mereka sudah dewasa. Saat mereka sudah menjadi manusia dewasa yang dituntut tanggung jawabnya.


Tapi saat ini, detik ini, ketika mereka berkelahi, ketika mereka melarikan diri dari pelajaran, ketika mereka tertangkap menikmati ciu maupun congyang di perempatan, mereka hanya akan disuruh menghormat ke arah bendera seharian, nama mereka mungkin akan didata oleh bapak polisi yang kemudian entah akan dikemanakan, kemudian orang tua mereka akan dipanggil untuk menjemput putra mereka yang tentunya akan setengah mati kelaparan.


Hanya itu.


Inilah masa kebebasan mereka yang sesungguhnya.


Hukum orang dewasa belum berlaku bagi mereka, tapi mereka sudah mulai bisa berpikir dan berperilaku layaknya manusia dewasa. Karena itu, mereka semua tanpa kuatir menikmati perkelahian ini, karena mereka tahu, kemungkinan terburuk yang akan menimpa mereka nanti, paling hanya dimarahi guru BK dan ke ruang kesehatan untuk mengobati luka mereka.


Saat mereka sudah dewasa nanti, mereka dituntut harus bertanggung jawab untuk semua tindakannya, dituntut untuk bertanggung jawab sebagai seorang laki-laki, dituntut untuk bertanggung jawab sebagai seorang suami.


Tapi saat ini, mereka bisa sepenuhnya menikmati kebebasan tanpa tuntutan tanggung jawab dari siapapun.


Munding menarik napas dalam. Dulu saat dia dikeroyok di penjara karena mereka tertarik untuk ‘memakai’ lubang belakangnya, Munding tanpa belas kasihan menghabisi mereka dalam mode tarung. Karena lawannya adalah penjahat-penjahat yang tangannya sudah berlumuran darah para korbannya.

__ADS_1


Tapi sekarang, Munding bersiap untuk menikmati pertarungan terberatnya, bahkan jika dia harus terluka sekalipun. Cuma satu keinginan yang ada dalam hatinya sekarang. Menikmati pertarungan ini sebisa mungkin dan sesuka hatinya.


Karena Munding juga masih seorang remaja.


__ADS_2