Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 30 - Kelereng


__ADS_3

Malam ini, Munding memakai jumper hitam bergambar tengkorak yang didapatnya dari Saud. Dia mengerudungkan hood jumper ke kepalanya dan melirik ke arah Nurul yang memegangi tangannya dengan erat.


Nurul menangis dan tidak mau melepaskan pegangan tangannya.


“Mas akan baek-baek saja Dek,” kata Munding menenangkan Nurul, “Mas harus melakukan ini. Demi Bapak,” lanjut Munding.


Nurul pun menundukkan kepalanya menghindari tatapan mata Munding. Air mata membanjiri wajahnya. Dengan penuh rasa enggan Nurul melepas pegangan tangannya dari tangan Munding.


“Hati-hati Mas. Nurul nungguin Mas disini,” bisik Nurul lirih.


Munding tersenyum dan mencium kening Nurul, kemudian dia memandang ke arah Pak Yai yang berdiri di belakang Nurul dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu Munding membalikkan badannya dan berlari menembus gelapnya malam.


Nurul menatap punggung Munding sampai bayangannya menghilang, kemudian dia membalikkan badannya dan berkata ke arah Pak Yai, “kenapa Bapak nggak mau menasehati Mas Munding? Kenapa Bapak nggak mencegah Mas Munding? Bapak kan tahu kalau Mas Munding bakalan dengerin kata Bapak,” tanpa menunggu jawaban Pak Yai, Nurul berlari sambil menangis menuju ke kamarnya.


Bu Nyai menggenggam jemari tangan Pak Yai yang berdiri di sampingnya dan berkata pelan, “anak gadis kita sudah diambil orang Pak.”


“Bapak tahu, tapi Munding seorang laki-laki, dia harus melakukan apa yang seharusnya dia lakukan,” jawab Pak Yai.


\=\=\=\=\=


Munding berlari melewati pematang sawah. Dia sudah memasuki wilayah kampung Sukorejo. Jembatan penghubung antar desa mereka sudah dia lewati beberapa waktu lalu.


Tempat tujuan pertamanya adalah sawah Bapaknya. Sawah yang pernah memberinya saat terindah saat kecil dahulu.


Tak berapa lama, Munding berdiri di pematang sawah milik Bapaknya. Padi terlihat ditanam rapi dan tumbuh menghijau. Belum ada tanda-tanda butiran padi mulai keluar di ujungnya. Munding berjalan pelan menuju gubug yang terletak di tengah-tengah sawah.


Sesampainya disana, dia berjongkok dan menggali di salah satu sudut di bawah kaki gubug dari bambu itu. Tak lama kemudian, Munding menemukan kantong plastik yang ditanam disana. Kantong plastik yang dia tanam empat tahun lalu.


Kantong plastik berisi kelereng yang mengubah hidupnya.


Munding tersenyum ketika melihat kelereng-kelereng itu.


Selama ini dia berpikir bahwa kelereng itulah penyebab semua malapetaka yang menimpa Bapak dan dirinya. Dia selalu menyalahkan kelereng itu yang tanpanya dia tidak akan memulai rentetan kejadian yang menyebabkan Bapaknya kehilangan nyawa.


Tapi kini, Munding sadar sepenuhnya kalau kelereng itulah bukti betapa besar perhatian Bapak kepada dirinya. Bukti betapa Bapak begitu menyayangi Munding.

__ADS_1


Munding memasukkan kelereng itu ke dalam saku celananya.


Munding teringat kembali kejadian hampir sebulan lalu, dua hari setelah dia berhasil melakukan ‘awakening’ pertamanya sebagai serigala petarung.


\=\=\=\=\=


“Pada awalnya, manusia itu hidup secara berkelompok kecil dan tanpa aturan. Mereka menggunakan hukum rimba. Siapa yang paling kuat, dialah yang akan menjadi pemimpin kawanan,” kata Pak Yai.


“Tapi sebagai konsekuensinya, si pemimpin kawananlah yang akan menghilangkan ancaman-ancaman yang mengganggu kelompoknya. Dia bertindak sebagai pemimpin, penjaga, pelindung dan hakim bagi kawanannya.”


“Pada masa-masa itu, manusia bukanlah mahluk yang dominan di muka bumi. Banyak marabahaya yang mengancam keselamatan mereka. Jadi si pemimpin kawanan inilah yang sebenarnya menjadi tumbal bagi kelompoknya.”


“Yang dikorbankan untuk maju menghadapi musuh-musuhnya. Sementara manusia-manusia lemah yang ada dalam kelompoknya hanya bisa bergerombol dan melihat dari kejauhan saat penjaganya bertarung.”


“Ketika penjaganya tewas saat mencoba melindungi kawanannya, mereka akan menunjuk petarung terkuat selanjutnya untuk menjadi korban berikutnya."


"Tanpa rasa bersalah, mereka membebankan tanggung jawab keberlangsungan hidup dirinya sendiri ke pundak orang lain. Tanpa mau memikulnya sendiri.”


“Ketika manusia mulai menguasai permukaan Bumi. Ketika jumlah mereka bertambah banyak dan ancaman bahaya semakin berkurang. Manusia-manusia lemah yang bergerombol di belakang tadi merasa kalau otoritas yang dimiliki sang petarung akan membahayakan mereka.”


“Mereka mulai berteriak-teriak ingin membuat aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh semua anggota kawanan, dengan alasan demi keselamatan dan kesejahteraan seluruh anggota kawanan."


"Mereka lupa, tanpa sang petarung yang menghilangkan ancaman bahaya bagi mereka, kawanan mereka tidak akan pernah ada.”


“Dari sanalah lahirnya norma. Lahirlah hukum. Aturan-aturan imajiner yang dibuat oleh manusia-manusia lemah yang tidak dapat melindungi diri mereka sendiri dengan kedua tangannya. Aturan-aturan yang membelenggu naluri alamiah manusia untuk bertahan hidup menggunakan karunia yang dimilikinya.”


“Kita, serigala petarung, hanyalah manusia yang dengan kesadaran diri bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Tanpa mengandalkan aturan imajiner yang diciptakan manusia lemah yang membelenggu kita,” kata  Pak Yai mengakhiri ceritanya.


Munding, pemuda berusia 15 tahun, seperti mendapatkan sengatan listrik ketika mendengar kata-kata Pak Yai yang penuh dengan bau-bau filsuf itu, “maksud Pak Yai, kita bebas melakukan tindakan melanggar hukum?”


Buettttttt. Ctakkk. “Aduuuuuuuuhhhh.”


“Kamu itu lari dari ujung kutub satu ke kutub yang lain,” jawab Pak Yai.


“Kita tetap harus mematuhi hukum dan juga perintah agama. Kalau dengan menjadi serigala petarung kita terlepas dari aturan agama, buat apa juga masing-masing agama mendidik kawanan mereka masing-masing?”

__ADS_1


“Tapi, Pak Yai bilang tadi, norma dan hukum cuma jadi belenggu kita,” jawab Munding sambil meringis.


“Ya, memang benar. Maksud Pak Yai, kita sebagai serigala petarung, mendefinisikan salah dan benar sesuai dengan naluri kita, sesuai dengan apa yang kita yakini. Bukan menggunakan aturan khayalan mereka. Memangnya kamu belum pernah ketemu norma yang saling bertentangan?”


“Contohnya Le, di dalam agama kita, dosa terbesar itu menyekutukan Gusti Allah, tapi di mata masyarakat, mereka biasa-biasa aja melihat bahkan meminta nomer togel ke pohon-pohon yang dianggep keramat. Tapi justru mereka ngamuk berat saat ada pencuri maling ayam yang ketangkep. Ini pertentangan antara norma agama dan norma sosial.”


“Karena cara pandang dan cara berpikir kita terhadap sesuatu sudah dipengaruhi oleh norma dan aturan yang secara tidak sadar membelenggu kita. Yang mengatur kita untuk menilai sesuatu itu benar atau tidak. Dengan menggunakan norma yang paling kita yakini kebenarannya.”


“Kita cuma berusaha melepas cara pandang kita dari pengaruhnya dan lebih mengandalkan naluri kita dan sesuatu yang kita yakini.” kata Pak Yai.


“Jadi menurut Pak Yai, kalau Munding memutuskan untuk menghabisi nyawa pembunuh Bapak Munding adalah tindakan yang benar menurut naluri Munding, Pak Yai akan membiarkan Munding melakukan itu?” tanya Munding.


“Jangan tanya Bapak. Tanya dirimu sendiri,” kata Pak Yai sambil menggunakan ujung rotannya untuk menunjuk dada Munding.


\=\=\=\=\=


Munding menarik napas dalam setelah dia memasukkan kelereng tersebut ke sakunya. Dia memejamkan mata kemudian mengarahkan pandangan mata ke arah rumahnya.


Bekas rumahnya.


Ada setitik kerinduan didadanya. Karena bagaimanapun, dia pernah punya kenangan indah disana.


Munding menarik napas dan berusaha menekan rasa rindunya. Dia berusaha untuk kembali fokus pada tujuan awalnya pulang ke Sukorejo.


Untuk menemukan petunjuk tentang pembunuh bapaknya.


Dan untuk melakukan itu, cuma satu nama yang muncul di kepala Munding.


Jumali.


Munding pun kembali berlari dalam kegelapan malam.


Penduduk Sukorejo sebagian masih asyik di warung kopi sambil bercanda dengan kawan-kawannya. Sebagian yang lain sedang asyik menikmati tubuh pasangannya dibalik selimut dan dinginnya angin pegunungan. Sebagian yang lain sedang mengajari anaknya mengerjakan PRnya.


Tapi tidak ada yang sadar kalau malam ini desa mereka menerima kedatangan sumber bencana.

__ADS_1


Sumber bencana yang bernama Munding.


__ADS_2