
Puji duduk terdiam di ruangannya.
Berbeda dengan dulu saat masih ditempati Aditya, ruangan paling mewah di tempat ini, disulap oleh Puji menjadi ruang kantor yang sesungguhnya. Lengkap dengan komputer, printer, dan berbagai perabot kantornya.
Puji tak pernah bercita-cita menjadi penjaja tubuh moleknya, dia bercita-cita menjadi seorang wanita karir yang mandiri. Kini, dia berusaha mewujudkan impiannya, sekalipun 'karir' yang dijalaninya berbeda dengan yang dia impikan.
"Munding," gumam Puji dengan tatapan mata menerawang.
Saat dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan seperti sekarang ini, Puji kembali mengingat masa lalunya. Penderitaan yang dia alami selama beberapa tahun terakhir dan semua penghinaan yang dia alami, semuanya bermula dari seorang bocah bernama Munding.
Awalnya, Puji dulu bersimpati dengan Munding saat mereka masih SD karena bully-an yang dia alami. Puji juga sempat menaruh rasa kepada bocah itu. Rasa yang timbul dari simpati tak tersampaikan, sama seperti Asma, sahabat terdekatnya. Mereka berdua tumbuh dengan memendam rasa mereka untuk Munding.
Tapi, rasa itu terkikis oleh keinginan Puji untuk menikmati kemewahan dunia seperti kawan-kawannya saat SMA. Keinginan yang terbatasi oleh keadaan ekonominya dan memaksa Puji mengambil pilihan seperti yang dia telah lakukan dulu.
Dan disinilah dia berakhir sekarang.
Dalam sebuah ruangan mewah yang dihuninya seorang diri, mempunyai banyak uang, dikelilingi kemewahan, punya banyak bawahan, tapi Puji merasakan kesepian dan kesendirian dalam dadanya.
Sucipto?
Dia bagaikan sebuah sepeda motor yang datang ke bengkel untuk diservis sebulan sekali. Buang oli yang lama, ganti dengan oli yang baru, kemudian pergi lagi tanpa menolehkan kepalanya sekalipun. Seperti itulah perlakuan dari orang yang mengklaim Puji sebagai wanitanya.
Seburuk-buruknya Puji, dalam hatinya yang paling dalam, dia juga menginginkan seseorang yang dengan sepenuh hati akan memperhatikannya. Menanyainya apakah sudah makan atau belum? Memijat pundaknya, sambil membisikkan kata-kata sayang dengan mesra, ataupun sekedar memeluknya dalam diam tanpa perlu berkata apa-apa.
Puji tahu, di suatu tempat diujung desa ini, Asma mungkin sedang makan malam bersama dengan Munding dan istrinya. Mereka bertiga akan tertawa bahagia dengan menu yang seadanya. Hal yang dia inginkan tapi tak mau dia tukar dengan kemewahan yang sekarang Puji miliki.
Puji mengatupkan rahangnya dan kebencian mulai terlihat di matanya.
"Dunia ini tak adil, aku melakukan semuanya, mengorbankan semua yang aku punya, dan baru sekarang aku mendapatkan apa yang aku miliki. Bahkan dengan sebuah harga kehilangan cinta pertamaku yang tulus tanpa ada pamrih."
"Sedangkan Asma, apa yang dia lakukan?"
"Dia terlahir menjadi anak Carik, dia tak pernah kekurangan materi, dan dia selalu mendapatkan segalanya tanpa berusaha sama sekali."
"Munding memberinya sawah dan tanah warisan keluarganya tanpa Asma meminta, seolah-olah itu suatu kewajaran. Kalau memang wajar, kenapa tak ada yang memberiku harta tanpa pamrih seperti Munding?"
"Mereka memberiku sesuatu selalu dengan meminta imbalan."
__ADS_1
"Tubuhku."
"Tak pernah sekalipun ada seseorang yang memberikan sesuatu kepadaku tanpa meminta imbalan."
"Tapi Asma?"
"Asma tidak pernah melakukan apa pun, tapi dia tetap mendapatkan semuanya."
"Asma tidak pernah berkorban apapun, tapi dia tetap lebih kaya dariku."
"Asma juga masih bisa menikmati senyuman Munding kapan pun dia mau."
"Dunia ini tak adil!!"
"Kalau memang tidak ada keadilan, aku yang akan membuatnya."
"Aku sekarang punya cukup kemampuan untuk melakukannya."
"Aku akan membuat Asma merasakan betapa menyakitkan dan kerasnya kehidupan real life dibandingkan dengan cerita khayalan author kacangan di *******."
Kebencian di mata Puji makin bertambah dan dia menimpakan semua ketidakadilan yang dia alami sedari dulu ke Asma, sahabat masa kecilnya.
Mobil Asma membelah jalanan Desa Sukorejo selepas Isya sama seperti biasanya.
Dia pulang ke rumahnya setelah mengajar mengaji bersama Nurul di musala sebelah rumah Munding. Semua itu sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari selama beberapa bulan terakhir.
Melelahkan memang, tapi Asma bahagia. Dia bisa melihat pujaan hatinya dari dekat meskipun tak bisa bersanding dengannya.
Pada awalnya dulu, Asma dan Ibunya menolak sawah yang diberikan Munding melalui Pak Yai. Tapi, setelah beberapa kali dibujuk Pak Yai, apalagi dengan alasan keluarga Asma yang tanpa kepala keluarga lagi, keluarga Bu Carik menerimanya.
Sawah itu lalu diserahkan kepada pengelolanya, sama seperti yang dulu dilakukan oleh keluarga Munding. Para pengelola itu adalah keluarga petani yang telah bertahun-tahun mengolah sawah itu dan dipercaya sepenuhnya oleh keluarga Wage.
Mereka yang sebelumnya mengirimkan hasil panennya ke rekening keluarga Munding, hanya mengalihkannya ke rekening keluarga Asma. Kehidupan Bu Carik dan Asma berubah sejak saat itu.
Tapi, mereka bukanlah seperti kebanyakan orang yang suka menghambur-hamburkan uang. Mereka tetap hidup dengan sederhana seperti sebelumnya. Mereka hanya menggunakan uang itu untuk merenovasi rumah mereka dan membeli sebuah mobil city car yang dipakai Asma sekarang.
Asma membeli mobil itu dengan satu tujuan. Dia ingin menggantikan Munding untuk mengantar jemput kekasih Munding saat mereka sekolah SMA. Dan itu berlanjut sampai sekarang.
__ADS_1
Tapi,
Asma tidak menyangka kalau malam ini, setelah bertahun-tahun tak ada satupun yang berani mengganggunya sejak proklamasi Munding malam itu, dia akan mengalami kekerasan pertamanya dalam hidup sejak usaha percobaan perkosaan yang dilakukan Joko dulu.
Braaakkkkkkk.
Sebuah batu sekepalan tangan dilemparkan ke kaca depan mobil Asma. Kaca mobil itu tidak pecah karena ada lapisan film yang melindunginya, tapi retakan menyerupai sarang laba-laba terlihat disana. Otomatis, pandangan Asma terhalang dan dia kaget sekali.
Dengan panik, Asma melihat ke sekelilingnya. Dia melihat ada 4 orang laki-laki berambut gondrong dan memegang senjata tajam berdiri menghadang di jalan yang akan dia lalui.
Asma ketakutan, tetapi dia mencoba untuk tetap berpikir jernih.
Asma tahu kalau apapun yang terjadi, dia tetap harus berada di dalam mobil. Paling tidak, itu akan mencegah penyerangnya untuk menyentuh langsung dirinya.
Asma memasukkan persneling mobilnya ke posisi gigi mundur dan ingin kembali ke rumah Munding. Karena dia merasa, satu-satunya tempat teraman di dunia adalah di samping pujaan hatinya.
Desa Sukorejo bukan desa yang terlalu luas. Asma tahu dia hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit untuk kembali kesana.
Asma mengemudikan mobilnya mundur tapi mungkin karena panik setelah melihat salah satu dari keempat orang itu berlari ke arah mobilnya, mesin mobil Asma mati karena koplingnya yang terlepas tiba-tiba.
Prakkkkkkk.
Spion kanan mobil Asma menjadi korban serangan pencegat Asma. Tak lama kemudian, kaca mobil Asma digedor-gedor dengan menggunakan gagang parang oleh pencegatnya itu.
"Buka!!!!" teriak laki-laki gondrong itu.
Asma tidak mempedulikannya dan kembali berusaha menyalakan mobilnya, cuma satu nama dan satu tempat yang ingin dia tuju sekarang.
Munding.
"Buka B*****t!!!" teriak orang itu lagi.
Asma berhasil menyalakan mobilnya setelah mencoba beberapa kali dan langsung menginjak pedal gas mobilnya setelah memindahkan gigi ke posisi maju. Dia tak peduli lagi dan kalau perlu, dia akan menabrak pencegatnya.
Mobil Asma meraung dan meloncat maju. Tiga orang yang berdiri di depan mobilnya langsung meloncat menghindar ke samping. Asma melaju meninggalkan tempat itu. Untuk sesaat tadi, setelah melewati keempat orang itu, Asma melihat dua buah sepeda motor diparkir di tepi jalan. Asma mengingat jenis motor itu dan plat nomornya sekilas karena laju mobilnya yang cepat. Tentu saja, dia tak hapal pasti nomor plat itu, tapi dua angka digit terakhir dan huruf yang ada di belakangnya berhasil dia ingat.
Asma menggunakan sela-sela retakan di kaca depan mobilnya untuk melihat ke depan dan mencari jalan memutar untuk kembali ke tempat dia datang tadi.
__ADS_1
Rumah Munding.