Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 85 - Melayat


__ADS_3

“Long, kasih tahu Wowo besok malem minggu aku mau ngajak dia keluar,” kata Munding.


A Long terlihat sedikit bingung, “mau kemana Boss?” tanya si A Long dengan muka penasaran.


Memang calon pebisnis handal satu ini pandai dalam mengambil setiap kesempatan. Setelah Munding menyerang SMK Sriwijaya seorang diri dan membuat kedua sekolah mereka berdamai, dengan cepat dia mengubah panggilannya ke Munding.


Dan entah sejak kapan, tiap makan siang si A Long selalu semeja dengan Amel dan Munding.


“Ke ultahnya si Citra,” jawab Munding.


Amel yang sedari tadi cuma mendengarkan obrolan mereka berdua merasa sedikit penasaran mendengar nama Wowo dan Citra, “jadi temen yang mau kamu ajak itu si Wowo ya? Anak mana dia? Kok Amel nggak pernah denger?”


A Long melihat Amel dengan pandangan mata yang aneh, “lu belum lihat video Munding menyerang Sriwijaya, Mel?” tanya A Long.


“Udah sih,” Amel kemudian melirik ke arah Munding, “kamu kok nggak keren gitu sih berkelahinya? Kemarin waktu sama Bram aja lain, ini sama anak-anak SMK Sriwijaya seperti anak kecil berantemnya,” protes Amel.


Munding cuma tersenyum tipis, jangan banyak-banyak, ntar Nurul cemburu.


“Nah si Wowo tu, dedengkotnya alias yang mbahurekso SMK Sriwijaya. Siswa yang gundul itu,” kata A Long menjelaskan.


“Serius kamu mau ngajak dia?” tanya Amel ke Munding yang ada di sebelahnya.


Munding menganggukkan kepalanya.


“Gue gimana boss? Ikut juga ya?” tanya si A Long.


“Terserah, si Citra juga nggak ngasih batasan kok berapa orang yang boleh ikut,” kata Munding tetapi sambil tersenyum dalam hati, coba kita lihat nanti seperti apa rencana kalian kalau aku ngajak banyak kawan.


“Aku ikut juga kalau gitu,” kata Fariz yang tiba-tiba sudah duduk di sebelah A Long.


“Aku ikut juga lah, biar rame,” terdengar suara dari bawah meja mereka.


Ketika keempat orang yang ada diatas meja melihat ke bawah, mereka menemukan si Rin sedang duduk bersila sambil menikmati ayam goreng di tangannya.

__ADS_1


Gimana caranya bocah satu itu ada disitu?


“Oke, kalau gitu, deal ya?” kata si A Long penuh semangat.


Fariz melotot ke arah A Long, “emang bossnya kamu ya?”


A Long menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


“Terserah kalian deh,” kata Munding yang disambut dengan tepukan tangan dan teriakan dari kawan-kawan sekelasnya itu.


Munding juga tidak pernah menyangka, hanya dalam waktu kurang lebih satu bulan, dari lima orang yang dulu memancarkan intent bermusuhan saat dirinya memperkenalkan diri sebagai siswa baru dulu, kini tiga diantaranya bisa duduk semeja dan bercanda dengannya.


Karena itu, Munding tahu, kalau musuh yang akan dia hadapi dan telah mengatur semua rencana yang melibatkan Citra dan ulang tahunnya pasti salah satu di antara Bram atau Rey.


\=\=\=\=\=


“Munding, kamu bisa nyetir mobil kan?” tanya Amel malam itu.


Atau paling tidak, dengan berdandan secantik mungkin, Amel bisa mengurangi kadar kekampungan Munding yang ada di sebelahnya. Wkwkwk.


Amel mengenakan gaun minimalis berwarna merah gelap yang elegan dengan belahan di dada sedikit rendah. Untungnya gaun itu tidak menggantung diatas paha tapi turun sampai ke mata kaki.


Tidak ada perhiasan apapun di tubuh Amel, cuma jam tangan sport merk G-Shock berwarna merah dan sebuah kalung kecil entah dari apa, warnanya putih berkilauan, bukan kuning keemasan, menghiasi lehernya yang putih dan jenjang.


Amel berusaha tampil cantik tapi tidak ingin terlihat menor, jadi dia menggunakan make up tipis dan secukupnya saja. Dia mengenakan tindik kecil di kedua telinganya yang berbentuk bunga melati kecil.


Sebuah tas kecil berwarna hitam dan sepatu hak tinggi berwarna merah hitam menemani dandanan sederhana ala Amel malam ini. Tapi ketika dia berjalan ke pavilion belakang dan melihat dandanan Munding, hampir saja Amel mengacak-acak rambutnya sendiri.


Munding berpakaian biasa, sebuah kaos berwarna hitam polos dan sebuah celana panjang kain tanpa jahitan berwarna hitam juga. Munding hanya mengenakan sebuah sendal jepit merk Swallow seharga 16 ribu rupiah di kakinya yang berwarna hijau tua. Tidak ada jam tangan, tas atau asesories apapun di tubuh Munding.


Amel melihat ke arah Munding dari ujung kaki sampai ke ujung rambut, kemudian kembali lagi dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, “kamu mau kemana?” Amel sampai terlupa kalau dia tadi sedang menanyai Munding.


“Ke ultah Citra,” jawab Munding pelan, tidak sedatar dulu ketika pertama kali berinteraksi dengan Amel.

__ADS_1


“Ke ultah Citra atau mau MELAYAT??” Amel meneriakkan kata kata terakhirnya ke muka Munding.


“Ganti, pokoknya ganti! Amel nggak mau kalau kamu pake baju kaya gini,” teriak Amel di pavilion Munding, untung nggak nyambung sama rumah utama, bisa kedengeran sama warga penduduk rumah Broto Suseno yang laen kalau Amel teriak.


“Mel, aku ini bodyguardmu. Aku ikut untuk melindungi kamu. Warna hitam cocok dipakai di malam hari karena suasana yang gelap. Gerakan tubuh tersamarkan dan musuh juga susah untuk melihatnya,” jelas Munding.


“Iya. Ngerti. Amel ngerti, semuanya demi keselamatan Amel. Tapi nggak harus se-norak gini lah. Udah sini ikut Amel,” kata Amel sambil menarik tangan Munding.


Munding terlihat sedikit bimbang, bukan karena masalah bajunya, tapi karena Amel menarik tangannya. Bukan mahram kan mereka? Sebuah nama kembali muncul di kepala Munding. Nurul.


Munding pun melepaskan tangannya dari pegangan Amel. Amel terkejut, tapi hanya untuk sesaat. Setelah itu, Amel kembali berjalan dan meminta Munding mengikutinya.


Tak lama kemudian Amel dan Munding sampai ke sebuah kamar yang ukurannya tidak begitu luas tapi isinya adalah baju, sepatu dan apparel lainnya. Amel terlihat sibuk membongkar kesana kemari, setelah itu dia menemukan sebuah jaket dengan jumper berwarna biru gelap dan menempelkannya ke tubuh Munding.


“Pegang ini,” kata Amel, tak lama kemudian, Amel kembali sibuk mencari sesuatu lagi dalam ruangan kecil itu, setelah itu dia menemukan sebuah sepatu sneaker dan memberikannya kepada Munding.


“Pakai ini,” kata Amel.


Kali ini Munding menuruti kata-kata Amel dan memakai jumper biru gelap dan sepatu yang diberikan oleh Amel barusan. Kaos hitam polos Munding jelas tertutupi dan sandal jepit Swallownya sudah hilang entah kemana. Munding terlihat jauh lebih mendingan daripada dandanan ‘melayat’nya barusan.


Amel tersenyum setelah melihat Munding memakai jumper dan sepatunya barusan, “yuk, berangkat,” ajak Amel.


Beberapa saat kemudian, Amel berhenti dan memutar badannya, “tadi Amel nanya kan, Munding bisa bawa mobil nggak?”


Munding menggeleng-nggelengkan kepalanya.


“Motor?” tanya Amel yang dibalas anggukan kepala oleh Munding.


“Bebek, matic atau moge?” tanya Amel lagi.


“Bebek atau matic aja,” jawab Munding.


Amel tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya, “ya udah kita naek motor aja.”

__ADS_1


__ADS_2