Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 173 - Berserk (part 3)


__ADS_3

Mia menarik napas panjang. Ini akan menjadi pertarungan terberat yang akan dihadapi Mia dalam hidupnya.


Afza memegangi tangan Nia semakin erat. Dia tahu apa yang membuat Munding menjadi naik pitam. Atau setidaknya, Afza bisa menebak apa yang membuat Munding menjadi buas seperti sekarang ini.


Afza ikut bersama Umar dan Pak Broto saat mereka meminta Munding bergabung dengan tim Merah Putih. Afza juga sempat bertemu dengan keluarga Munding. Pak Yai, Bapak Mertua sekaligus guru Munding, Bu Nyai, istri Pak Yai dan sosok paling penting bagi Munding, Nurul.


Afza bisa melihat dengan jelas perbedaan sikap Munding saat berada di tengah-tengah keluarganya dan saat berada di markas tim Merah Putih. Afza juga melihat sendiri saat Munding mengalami ‘insight’ dan menanyakan kepada Pak Broto tentang identitas para petarung dari tim Chaos.


Dari ekspresi Munding dan pengakuannya kalau Munding bahkan ‘tewas’ di tangan Hikari saat itu, Afza bisa membayangkan tragedi apa yang dilihat Munding. Tragedi yang membuat Munding berubah pikiran dan akhirnya setuju untuk bergabung dengan tim Merah Putih.


Mia mengeluarkan kuda-kuda kick boxing-nya dan bergerak pelan mendekati Munding yang merendahkan badannya semakin ke bawah. Ada beberapa aliran beladiri yang diajarkan di lembaganya, tapi Mia sendiri lebih nyaman dengan beladiri ini, meskipun dia tetap mempelajari aliran yang lain.


Mia melirik ke arah Rony yang terlihat tanpa rasa malu berdiri di belakangnya dan berada di depan Afza. Mia lalu memusatkan perhatiannya ke arah Munding yang sudah menatapnya dengan tatapan sinis dan merendahkan. Mia belum pernah diremehkan seperti sekarang ini.


“Cih. Jangan berlagak kau!!” teriak Mia sambil bergerak maju ke arah Munding.


Munding tersenyum sinis dan berteriak ke udara, “Aaaarrrrrghhhhhhhhh.”


“Ughhhhhhhh.”


Terdengar suara lenguhan menahan sakit dari Nia, Afza, dan Rony yang merasakan tekanan intent sinis dari Munding semakin menguat dan membuat mereka semakin berkonsentrasi untuk melindungi diri mereka sendiri. Mia, seolah-olah tak merasakan perubahan intent yang dikeluarkan Munding, bergerak maju tanpa ragu dan melayangkan tendangan kaki kanannya ke kepala Munding yang masih mendongak ke atas.

__ADS_1


Wusssshhhhhhhhh.


Bletakkkkkkk!!!!


Mia sedikit kaget. Munding yang masih dalam kondisi berserk sama sekali tidak menghindari ataupun menangkis tendangan kaki kanan Mia. Tendangan itu telak mengenai kepala bagian kiri Munding dan kepala Munding juga sedikit miring ke kanan akibat tendangan Mia.


Mia menarik pelan kakinya dan dengan penuh kebingungan melihat kearah Munding. Munding terlihat tanpa ekspresi tetapi masih dengan sorot mata yang tak beralih dari Mia. Kepala Munding yang miring ke kanan itu pelan-pelan bergerak ke posisi semula dan sebuah senyuman sinis muncul di bibir Munding.


Saat itulah Mia merasa kalau dia bukan sedang melawan seorang manusia. Manusia, seberapapun hebatnya, pasti akan merasakan sakit jika terkena serangan seperti miliknya barusan. Tapi, ‘mahluk’ yang sekarang ada di depan Mia, tidak mengeluarkan ekspresi sedikit pun saat menerima tendangan Mia dengan telak. Mirip menyerupai mayat hidup atau zombie dalam film barat yang tetap akan bergerak maju dan tidak mengrenyitkan dahi sedikitpun meskipun kaki atau tangannya sudah melayang akibat terkena sabetan pedang.


“Lemah!!” terdengar suara dalam dan berat itu lagi dari bibir Munding.


Suara yang membuat bulu kuduk Mia tiba-tiba merinding. Secara reflek, Mia mundur selangkah saat itu juga. Tapi, tiba-tiba saja, Munding yang sebelumnya diam saja saat menerima tendangan Mia, bergerak maju dengan cepat dalam posisinya yang setengah berjongkok dan seolah-olah melayang di atas tanah dalam posisi yang rendah sekali.


Mia yang sudah meloncat sejauh dua langkah ke belakang menyilangkan kedua tangannya di depan tubuhnya untuk membuat perisai bagi badannya. Mata Mia dengan waspada melihat kearah depan bawah dimana bayangan Munding untuk sesaat tiba-tiba menghilang.


Mia tiba-tba saja merasakan nalurinya memberitahukan bahaya yang sangat luar biasa yang berada di sisi kiri kepalanya. Dari sisi kiri itu juga Mia merasakan sesuatu yang membuat tubuhnya gemetar ketakutan. Seolah-olah, tubuh Mia tahu, kalau dia tak bergerak menghindari area itu, Mia akan kehilangan nyawanya.


Mia dengan cepat dan tanpa ragu mengikuti nalurinya. Dia merebahkan tubuhnya ke arah kanan dan mengangkat kedua tangannya yang sudah disilangkan ke arah kiri kepalanya untuk melindungi apa pun yang akan menyerangnya dari arah itu.


Duagggggg.

__ADS_1


Bayangan Munding tiba-tiba muncul di sebelah kiri Mia dalam posisi melompat dengan satu kaki terangkat dan menendang bagian kepala Mia yang seharusnya berada sepersekian detik lalu. Mia terselamatkan oleh nalurinya dan keputusan dia untuk segera merebahkan tubuhnya.


Tapi Mia sama sekali tak punya kesempatan untuk mengucap syukur karena meskipun dia berhasil menyelamatkan kepalanya dari tendangan Munding, tapi tangannya yang membentuk tanda silang dan dia jadikan tamenglah yang menjadi sasaran.


“Aaahhhhhhhhhh,” Mia mengerang kesakitan saat menarik kedua tangannya yang baru saja beradu dengan tendangan Munding.


Mia dengan cepat melompat menjauh dari Munding sambil meringis menahan sakit di kedua lengannya. Meskipun terlihat parah dan terasa menyakitkan, tapi Mia tahu kalau tidak ada luka fatal yang bisa menyebabkan cacat permanen di tubuhnya.


Mia terengah-engah sambil tetap waspada dengan serangan lanjutan dari Munding. Dalam clash mereka yang kesekian kali ini, tak pernah sekalipun Mia keluar sebagai pemenang. Dari sini, Mia tahu kalau dia bukan tandingan bagi Munding yang dipengaruhi kondisi berserk ini.


“Munding. Hentikan!” kata Mia dengan nada melunak dan pelan.


Munding tersenyum sinis lalu merundukkan badannya dan secepat kilat, sosok Munding menghilang dari mata Mia dan hanya bayangan hitam saja yang terlihat bergerak cepat ke arahnya.


“Mode tarung?” gumam Mia dalam hati dengan cepat, tapi dia segera menepisnya.


Jika Munding memasuki mode tarung, alih-alih berubah menjadi bayangan hitam karena bergerak dengan sangat cepat, Mia tak akan lagi bisa melihat gerakan Munding dan dia akan menghilang. Itu artinya, Munding masih dalam kondisi biasa tetapi bergerak melebihi kemampuan mata manusia untuk melihat dengan jelas. Dan itu juga berarti, jika mereka berdua memasuki mode tarung, kecepatan Munding akan jauh diatas Mia. Tak ada harapan bagi Mia untuk mengalahkan Munding tentang ini, satu-satunya harapan Mia, semoga saja Munding tidak secerdik biasanya saat dalam kondisi normal.


Mia kembali menyilangkan kedua tangannya ke dada untuk melindungi area vitalnya. Dan tiba-tiba terdengar suara tawa Munding dari atas Mia yang berdiri dengan kaki sedikit ditekuk itu.


“Hahahahahahhaha."

__ADS_1


Munding terlihat mengambang di udara dan darah segar terlihat menetes dari ujung kukunya. Dia lalu mendarat di depan Mia dan tersenyum menyeringai. Belum sempat Mia menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba saja sebuah tangan yang sangat kuat sudah mencengkeram lehernya dan mengangkat tubuhnya keatas.


__ADS_2