Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 146 - Savage!


__ADS_3

Munding mempersiapkan diri untuk menerima serangan ke tubuhnya dengan mengencangkan otot-ototnya.


Dia melangkah perlahan-lahan dan memperhatikan gerakan empat orang yang mengepungnya dengan seksama. Lain dengan Preman Tua tadi, keempat musuhnya sekarang terlihat lebih waspada dan berhati-hati.


Shhhhh.


Munding membuang napas perut dan menggeser langkahnya mendekat ke Preman di sebelah kanan depannya. Tanpa berhenti, dia menunduk dan langsung melayangkan sapuan ke kaki musuhnya.


Tapi musuhnya bukan tonggak kayu atau batang pohon mangga yang hanya akan diam saja saat diserang, dia meloncat menghindari sapuan kaki Munding ke belakang.


Menyerang musuh yang sudah waspada terlebih dahulu dan mengharapkan serangan kita masuk dengan mengandalkan serangan pertama itu sama saja dengan jargon iklan Rokok Jarum 76 dengan ikonnya si Jin pake Blangkon, ngimpi!!!


Munding tahu itu, dia tak mengharapkan sapuan kakinya kena. Yang dia incar adalah reaksi si Preman. Sesuai dugaan, dia meloncat ke belakang.


Kata Gaju, sesuai hukum fisika, benda tak bisa merubah arah saat berada di udara, kecuali ada gaya dari luar yang bekerja pada benda itu.


Sama seperti musuh Munding sekarang. Saat dia melompat kebelakang dan untuk sesaat ketika kedua kakinya meninggalkan lantai, dia menjadi target empuk yang tak bisa memghindar.


Buakkkkk.


Tendangan gojos susulan dari Munding setelah melakukan sapuan kaki tadi telak mengenai perut si Preman dan membuat dia melayang indah bagai seekor burung yang menyongsong matahari terbenam. Bedanya si burung yang ini terbang terlentang dan nyungsep ke meja pengunjung di belakangnya kemudian tak sadarkan diri.


First Blood!


Eh salah, tadi kan si Preman Tua yang KO pertama.


Double Kill!


Tanpa menunggu, Munding bergerak ke arah musuh keduanya. Musuhnya masih terlihat kaget untuk sesaat dan terlihat tak menyadari kedatangan Munding. Dia mungkin tak sadar, tapi dua kawannya yang lain melihat jelas kalau Munding menjadikan kawannya sebagai sasaran.


"Awas!!"


Preman ketiga yang tadinya terlena terlihat gugup saat tiba-tiba sebuah kepalan datang ke wajahnya. Kepalan tangan yang makin lama makin membesar dalam waktu yang sangat cepat.


Prokkkkk.


Uhukkkk.


Triple Kill!


Preman ketiga tumbang kebelakang dan jatuh terlentang, satu-satunya yang ada di kepalanya sesaat sebelum dia kehilangan kesadaran diri adalah tiga buah benda kecil dan berwarna putih yang tadi dilihatnya melayang keluar dari mulutnya.


Dia tahu kalau mulai saat ini, dirinya akan mendapatkan nama julukan baru.

__ADS_1


Si Ompong.


Sesaat kemudian, semuanya menjadi gelap dan dia tak sadarkan diri.


Munding dengan cepat memutar badannya, nalurinya memberikan tanda bahaya dari arah punggungnya. Dan sesuai dugaannya, kedua preman yang tersisa, setelah berteriak memberikan peringatan tadi, sudah bergerak menyerang berbarengan dari arah belakang.


Jelas terlihat kalau mereka hobi from-behind alias main tusuk belakang.


Salah satu dari mereka melayangkan pukulan, sedangkan kawan satunya melayangkan tendangan.


Pukulan mengarah ke kepala Munding, sedangkan tendangan mengarah ke rusuk kiri Munding. Munding melakukan kalkulasi cepat di kepalanya dan memutuskan menangkis pukulan dan menerima tendangan.


Otot perut dan sayap punggung kiri Munding mengeras dan lengan kirinya membuka, tangan kanannya melakukan tangkisan.


Buakkkk.


Ughhhhhh.


Munding merasakan sedikit nyeri di bagian rusuk kirinya, tapi dia yakin kalau tak ada luka serius yang diterimanya. Kalau tendangan yang mengenai rusuk kirinya lebih bertenaga, setidaknya, Munding akan mengalami sedikit sesak napas.


Lengan kiri yang membuka tadi, turun dengan cepat dan melakukan sikuan ke kaki musuhnya yang belum sempat ditarik lagi.


Duakkkk.


Munding menundukkan badan dan kepalanya ke bawah. Kakinya melayangkan sapuan ke preman satunya yang tadi melakukan tendangan ke rusuk kiri Munding.


Shhhhhh.


Buaakkkkk.


Sapuan kaki Munding tepat mengenai sasaran. Preman yang cuma menggunakan satu kakinya sebagai tumpuan tadi terjatuh ke lantai.


Munding lalu berguling harimau ke samping dan langsung berdiri untuk kembali siaga dan mengatur napas.


Kedua orang musuhnya juga terlihat sedang mengatur napas. Yang satu masih segar bugar tanpa luka. Satunya lagi, berdiri dengan satu kaki karena kaki kanannya yang terkena sikuan Munding terasa nyeri sampai ke ************ dan telah berdiri kembali setelah terkena sapuan kaki Munding.


Munding melihat keduanya dengan tatapan bahagia, sudah lama sekali dia tidak merasakan ketegangan akibat perkelahian seperti ini. Meskipun dia harus akui kalau pertarungan yang dia lakukan bersama Nurul setiap malam memberikan ketegangan yang tak kalah mengasyikkan.


Kalau musuhmu lebih dari satu, seranglah yang terlemah dahulu. Kalau musuhmu terluka, seranglah bagian tubuh yang terluka. Tak perlu malu karena memanfaatkan kelemahan musuhmu. Karena tak akan ada yang menertawakan seorang pemenang, hanya pecundang yang jadi bahan olok-olokan.


Dan Munding melakukannya.


Dia bergerak ke arah preman yang tertatih-tatih dengan satu kakinya dan melayangkan pukulan.

__ADS_1


Si Preman yang menjadi sasaran Munding terlihat sedikit kesusahan untuk menghindar, tapi kawannya tidak tinggal diam. Preman satunya menutup tubuh kawannya dengan cepat dan menghalangi arah serangan Munding. Dia melayangkan pukulan balasan ke arah Munding yang datang merangsek ke arahnya.


Munding memiringkan tubuhnya dan menghindari pukulan musuh. Kakinya melangkah ke samping dan dia menarik kembali pukulan yang tidak sempat mencapai sasarannya.


Secepat kilat, Munding bergerak menyamping dan melewati si Preman kedua yang melayangkan pukulan tadi. Bukan dia sasaran Munding.


Posisi Munding yang telah melewati tubuh musuhnya, kini mempunyai ruang untuk menyerang Preman kedua yang tadi tertutupi oleh kawannya.


Munding mengangkat kaki kanannya dan melayangkan tendangan samping ke arah kepala si Preman satu kaki.


Raut muka pasrah terlihat sekilas di wajah preman itu dan dia bersiap-siap untuk menerima nasibnya.


Buakkkkkk.


Ughhhhhhh.


Prangggggg.


Preman kedua yang kakinya tadi sudah terluka melayang ke belakang karena tendangan Munding yang telak mengenai mukanya. Kalau dia tidak pasrah tadi, setidaknya dia masih bisa melindungi mukanya dengan tangan. Tapi Munding tak mau memikirkan hal itu. Itu urusan dia dan keluarganya. Mungkin dia lelah dan ingin merebahkan badan.


Maniac!


Musuh keempat sudah berhasil ditumbangkan Munding.


Dia sedikit beruntung karena tubuhnya mendarat di meja kaca yang ada di dekat salah satu sofa panjang tempat perbuatan mesum pengunjung kafe ini dilakukan.


Munding melihat mulut si Preman berkomat kamit entah mengucapkan apa. Tapi karena dia tidak bangun lagi dari tempatnya berbaring, Munding menganggapnya telah mengundurkan diri dari pertarungan.


Kini hanya tersisa satu orang preman yang masih berdiri di tengah ruangan .


Munding dan musuhnya saling bertatapan mata, bagaikan dua orang kawan lama yang sudah lama tak berjumpa. Saling menatap lekat seolah-olah ingin mengenali sosok asing yang dulu pernah dekat di sampingnya.


Tak sampai satu menit, si Preman menyerah kalah. Dia menundukkan kepalanya dan bergumam pelan.


"Dah Bang, aku nyerah. Gih masuk aja kesana. Boss-boss pada kumpul di dalam sana. Pintunya itu yang ada tulisannya VIP," kata si Preman.


"Nggak bisa gitu dong Mas. Nanggung ni, kurang satu lagi aku dapet Savage," jawab Munding.


Muka si Preman terlihat kecut. Setelah berpikir selama beberapa detik, dia melayangkan pukulan tangan kanannya ke arah rahangnya sendiri. Tubuhnya langsung tumbang di tempat dia berdiri.


Preman terakhir itu menatap Munding dengan tatapan terzalimi dan menggumamkan satu kata, "Puas??"


Setelah itu, dia pingsan tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2