Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 213 - Sang Pemancing part 2


__ADS_3

Di tempat lain.


Sebuah mobil melaju cepat di jalan raya dan bermanuver dengan sembrono. Sang pengemudi adalah seorang wanita yang berumur 40 tahunan tetapi masih terlihat cantik. Di sebelahnya duduk seorang laki-laki yang sedikit lebih tua dan mengenakan kacamata hitam. Badannya pendek tetapi gempal dan berotot.


“Aisah, informasi yang kamu dapat ini akurat?” tanya Leman ke Aisah yang menyetir dengan tenang meskipun dengan kecepatan yang luar biasa.


“Iya Bang, kedua orang itu bertemu kemudian bergerak bersama ke titik ini, aku memasang pelacak ke setiap anggota Chaos tanpa mereka sadari,” jawab Aisah alias Shadow alias Phantom.


Setelah menarik napas panjang, Aisah melanjutkan lagi, “Dan disana, di titik yang sama, aku melihat juga koordinat pelacak milik Clown yang asli, Yasin dan Nia.”


“Kalau memang pelacakmu itu akurat, aku tebak, tim anak-anak boneka si Titis pasti disana juga dan sedang memburu Nia dan Yasin,” kata Leman sambil melirik ke luar jendela.


“Maksud Abang?” tanya Aisah.


“Mereka akan menjadi tumbal yang dikorbankan oleh Titis untuk menjadi sumbu pemicu perang serigala petarung yang kedua di negeri ini,” kata Leman.


“Aku tahu seperti apa isi otak Titis, dia yang mengajariku semua cara berstrategi dan mengatur siasat. Dia pasti akan menggunakan tangan Hikari si Jepang itu untuk membantai anggota tim anak-anak itu. Titis akan menggunakan insiden ini sebagai alat untuk meminta support dari militer dan memerangi kita,” kata Leman pelan.


“Biarkan mereka mencobanya. Kita selalu diam, bukan karena kita takut. Tapi kita tak pernah melihat alasan yang bisa membuat kita bertindak. Tapi jika mereka menjual, kita akan membelinya tanpa menawar,” geram Aisah setelah mendengar penjelasan Leman.


“Aisah, kamu sudah berumur tapi emosimu masih saja seperti seorang gadis,” tegur Leman.


Aisah hanya terdiam dan tersenyum kecil saja.


“Aku mampir ke tempat Abang beberapa waktu lalu,” kata Leman tiba-tiba dan langsung menghapus senyuman dari bibir Aisah.


Aisah jelas tahu siapa yang dipanggil Abang oleh Leman. Hanya satu orang saja yang akan dipanggil seperti itu oleh dia.

__ADS_1


“Aku tahu kalau kamu sangat ahli dalam information gathering, tapi tak pernah sekalipun berusaha untuk mencari informasi tentang Abang,” kata Leman.


Aisah terdiam dan tak memberikan jawaban.


“Abang masih seperti dulu. Dia tak pernah berubah. Dia punya seorang putri yang cantik dan juga punya seorang murid yang sekaligus menjadi menantunya,” lanjut Leman.


“Kamu seharusnya bertemu dengan menantu Abang Hambali yang bernama Munding ini, Aisah,” gumam Leman.


“Aku sendiri masih tak percaya kalau di masa damai tanpa konflik seperti sekarang ini, seorang serigala petarung alpha alami seperti dia bisa muncul. Dan anehnya lagi, darimana dia bisa bertemu dengan guru terbaik seperti Abang tanpa sengaja. Seandainya dia bertemu denganku, aku tak akan bisa mengembangkan potensinya sebaik Abang.”


“Dari sekian banyak bibit muda yang pernah aku temui, hanya Munding satu-satunya yang aku tahu mempunyai potensi untuk menyusul kita,” kata Leman mengakhiri ceritanya.


“Bocah itu...” kata Aisah yang langsung dipotong oleh Leman.


“Kenapa kamu memanggilnya ‘bocah itu’? Dia itu keponakan kita Aisah, Munding memanggilku Om, seharusnya dia memanggilmu Tante kan?” kata Leman.


“Hahahahahha, itu bukan salah Munding kan?” canda Leman.


“Cukup,” kata Aisah, “Bocah itu, maksudku Munding, dia bergabung dengan tim anak-anak itu, kuharap dia tak ikut dalam rombongan tumbal yang sekarang sedang dipancing oleh Titis dan Hikari,” lanjutnya pelan.


Senyuman hilang dari bibir Leman, “Lebih cepat! Punyakah kamu keberanian untuk bertemu dengan Abang Hambali lagi kalau kita membuat putrinya menjadi janda?” tanya Leman tanpa memerlukan jawaban dari Aisah.


Mobil itu melaju makin kencang menuju ke musala tempat sebuah pertarungan sengit sedang terjadi.


\=\=\=\=\=


Boooommmmm Boooommmmmm

__ADS_1


Ardian dan Ridwan melesat dengan cepat dalam mode tarung dan langsung melayangkan serangan ke arah Clown. Clown yang sedari tadi saat berjongkok memasukkan tangannya ke dalam saku dan bersiap untuk menggunakan senjata kimianya untuk melakukan serangan balasan tiba-tiba menghentikan gerakannya ketika sebuah intent yang luar biasa tiba-tiba terasa di tempat ini.


Ardian dan Ridwan yang sedang dalam mode tarung dan melayangkan serangannya ke arah Clown juga merasakan udara di sekitar mereka berubah menjadi padat dan seolah-olah membuat mereka terkunci di tempatnya. Mereka berdua dipaksa keluar dari mode tarung oleh tekanan intent yang luar biasa dahsyat itu.


Mia dan Arya yang berada dalam mobil mereka di sebelah kanan musala juga tak luput dari serangan intent yang tiba-tiba datang menyelimuti mereka semuanya. Lutut mereka bergetar kuat di dalam mobil dan mereka kesusahan untuk bernapas


Munding juga merasakannya.


Tekanan intent luar biasa yang baru kali ini dia rasakan. Ini adalah intent terkuat yang pernah dia temui seumur hidupnya dan tekanan ini jauh lebih kuat daripada yang pernah dia rasakan dari Bapak Mertuanya. Hanya satu kata yang terlintas di kepala Munding.


“Manifestasi!”


Kata yang sama yang juga keluar di kepala Ardian, Ridwan, Mia, dan Arya.


Clown hanya tersenyum di balik topengnya. Sedangkan Yasin, sekarang dia tahu maksud kata-kata Clown sebelumnya. Semua ini hanya sandiwara, target yang sedang diincar dalam sandiwara ini adalah mereka, para prajurit elite dari militer dan kepolisian yang akan menjadi aset penting bagi lembaga mereka di masa datang.


Munding berdiri di depan musala dan melirik ke arah sumber intent luar biasa ini berasal. Di saat yang sama, semua mata juga memandang ke arah itu, sumber intent luar biasa yang membuat mereka semua kesusahan bahkan untuk sekedar bernafas seperti biasa.


Seorang pria yang mengenakan kemeja Aloha khas Hawaii dengan motif pohon kelapa dengan warna dasar biru laut dan celana pendek dengan warna dan motif senada, berjalan dengan santai dan sebatang rokok terselip di bibirnya.


Pria itu mengenakan sebuah topi jerami yang menutupi kepalanya dan sebuah kacamata hitam untuk menutupi matanya. Dia hanya mengenakan sandal jepit biasa yang dapat dengan mudah ditemukan dimana-mana. Dandanan khas untuk seorang pelancong di tepi pantai.


Satu-satunya yang mungkin agak janggal adalah, pria tersebut memegang sebuah benda yang panjangnya antara 60-70 cm dan dibalut kain berwarna putih yang agak kumal. Bentuknya sedikit melengkung tapi sangat khas. Para penghobi senjata tajam pasti bisa menebak kalau benda yang dipegang pria itu adalah sebuah katana.


Dia berjalan pelan dan sesekali menggunakan tangan kanannya untuk memegang rokok setelah menghisapnya selama beberapa detik. Dia terlihat seperti orang yang sama sekali tak peduli dengan sekitarnya dan berjalan sesuai keinginannya sendiri.


Tapi bagi Munding dan semua serigala petarung tahap inisiasi lainnya yang ada di tempat ini, pria itu seolah-olah menjadi pusat dunia, seperti matahari yang memancarkan sinarnya dan membuat bintang lain meredup karena tak bisa menandinginya.

__ADS_1


“Lari!! Sejauh dan secepat yang kalian bisa!!” bisik Munding kepada semua anggota timnya melalui alat komunikasi mereka dengan suara bergetar.


__ADS_2