
Munding hanya berbisik lirih, “kenapa kau melakukan ini?”
Tak ada jawaban apa pun yang terdengar dari dunia yang dipenuhi kegelapan ini. Munding mengharapkan agar nalurinya muncul kembali dalam sosok dirinya seperti yang pernah terjadi dulu. Tapi harapan tinggal harapan dan itu tak pernah terjadi.
Munding percaya bahwa nalurinya tak akan pernah mencelakai dirinya.
Munding lalu terdiam dan mengingat kembali perjalanan hidupnya saat menjadi serigala petarung.
Munding bertemu pertama kali dengan nalurinya saat melakukan awakening dulu. Wujudnya sama dengan dirinya. Dengan aura sinis, kemarahan dan kesedihan. Nalurinya yang berteriak marah saat Munding berusaha memanggilnya dengan mengingat kembali kenangan buruk ketika melihat perselingkuhan Ibu kandungnya dulu.
Munding juga masih mengingat senyuman tipis penuh kelegaan dari sosok dirinya yang bermata hitam dan memiliki aura sinis itu saat memeluknya.
Munding berjumpa kedua kalinya dengan sang naluri saat melakukan proses inisiasi. Dimana saat itu, Munding berhasil menghapus semua keraguan yang dia miliki terhadap nalurinya dan percaya sepenuhnya kepada nalurinya. Meskipun harus melalui proses panjang yang melibatkan Asma dan Ibunya.
Munding juga tidak ingat sudah berapa kali nalurinya menyelamatkan dirinya dalam pertarungan. Karena itu, sampai detik ini Munding selalu percaya bahwa nalurinya tak akan pernah mencelakainya.
Munding tahu kalau semua pertanyaannya akan terjawab ketika dia tahu apa yang diinginkan nalurinya. Dan setiap kali dia melakukan itu, Munding selangkah lebih maju.
Saat melakukan awakening, Munding pertama kali bertemu dan menerima keberadaan nalurinya.
Saat melakukan inisiasi, Munding memilih untuk mempercayai nalurinya bahkan diatas logika dan kesadaran dirinya sendiri.
Saat ini, apa yang harus dia lakukan untuk melangkah ke depan?
Apa yang diinginkan oleh nalurinya? Kenapa dia menjebak kesadaran Munding di sini?
Semua jawaban atas pertanyaan itu akan mengantarkan Munding ke tahapan manifestasi. Munding tahu itu.
Tapi, langkah apa yang harus dia ambil?
Munding mencoba untuk kembali berpikir tapi dia tak bisa. Bayangan Nurul yang menangis dan berpamitan tadi tiba-tiba saja memenuhi kepalanya. Tapi dia sama sekali tak merasakan amarah luar biasa seperti sebelumnya.
Lalu, tiba-tiba kalimat yang dulu didengarnya dari Om Leman kembali terngiang di telinga Munding.
__ADS_1
“Mahluk itu fana, yang kekal hanya Sang Pencipta. Jadi sudah sewajarnya kalau semua ciptaan akan kembali hancur karena sifat aslinya yang fana itu.”
Nurul, Pak Yai, Bu Nyai, dan semua orang yang dia kenal adalah mahluk yang fana. Semua manusia yang ada di muka bumi ini juga mahluk yang fana. Yang suatu saat akan dipanggil oleh sang Pencipta. Termasuk Munding sendiri.
Kenapa Munding harus marah saat kehilangan Nurul? Karena itu adalah suatu ketetapan yang pasti. Bukankah kita semua suatu saat pasti akan mati?
Lalu kenapa Munding ingin sekali meninggalkan tempat penuh kegelapan ini?
Munding sadar kalau dia tak seharusnya kebingungan atau merasa takut.
Naluri hanyalah sebuah ciptaan.
Kesadaran diri hanyalah sebuah ciptaan.
Intent juga hanyalah sebuah ciptaan.
Karena mereka semua adalah ciptaan, mereka fana.
Suatu saat mereka pasti hancur. Karena mereka tak kekal
Kehancuran adalah suatu awal.
Seperti hancurnya sang bintang dan lahirnya lubang hitam.
Kini Munding tahu kenapa dia menyaksikan proses evolusi bintang saat berada di dunia penuh kegelapan ini. Nalurinya ingin memberitahukan sesuatu kepada dirinya. Nalurinya ingin agar dia memahami sesuatu.
Sesuatu yang akan membuat Munding melangkah ke tahapan selanjutnya.
Dan saat itulah Munding merasakan seluruh dunia yang dipenuhi oleh kegelapan ini mulai bergetar. Seakan-akan terbangun oleh sesuatu. Tapi Munding sama sekali tak merasa ketakutan.
“Kau adalah naluriku.”
“Kau adalah bagian dari diriku,” kata Munding pelan kepada seluruh dunia gelap tanpa batas yang sedang bergetar hebat itu, “Apakah kau percaya kepadaku?”
__ADS_1
“Seandainya aku memintamu untuk hancur, hancurkah kau?”
Munding kemudian mendengar suara bergemuruh luar biasa yang membisikkan dia sesuatu. Dan Munding tersenyum ketika mendengarnya.
“Jadi seperti itu?” tanya Munding sambil tersenyum.
Gemuruh yang memenuhi dunia yang dipenuhi oleh kegelapan ini semakin menguat seolah-olah menjawab pertanyaan Munding. Munding paham kini apa yang harus dia lakukan untuk melangkah ke tahapan selanjutnya.
“Hancurlah!”
“Dan jadilah bagian dariku yang sesungguhnya!!!”
Seiring dengan teriakan Munding yang menggelegar dan memenuhi seluruh alam yang diselimuti kegelapan itu, suara bergemuruh hebat terdengar dan seluruh dunia ini runtuh. Sosok Munding juga menghilang.
Seluruh kegelapan yang ada memusat dengan cepat dan berkumpul menuju ke tempat dimana sosok Munding tadinya berada. Seperti sebuah pusaran air di tengah samudra. Seperti proses lahirnya sebuah lubang hitam setelah kematian sang bintang.
Kegelapan yang merupakan wujud asli naluri predator Munding yang menemani dia selama ini, menyatu dengan kesadaran Munding yang pelan-pelan memudar.
Seiring dengan berjalannya proses asimilasi antara naluri Munding yang berupa kegelapan dan kesadaran Munding yang berupa sosok Munding yang transparan, suara bergemuruh yang memenuhi dunia penuh kegelapan ini terus terdengar.
\=\=\=\=\=
Tubuh Munding tiba-tiba bergetar hebat di atas ranjangnya. Tapi karena tidak ada yang menunggui Munding dan semua orang sedang berada di kamar operasi Nurul, tak ada yang menyaksikan kejadian itu.
Karena kondisi rumah sakit yang memang di closed down oleh Cynthia Hong, tak ada juga karyawan rumah sakit yang memonitor kondisi Munding di ruangannya.
Tubuh Munding masih bergetar dan getarannya justru semakin kuat, seolah-olah Munding akan terbangun dan bangkit berdiri kapan saja.
Mata Munding yang selama berbulan-bulan ini tertutup tiba-tiba saja membelalak terbuka. Bagian iris dan kornea mata Munding yang terbuka itu berwarna hitam pekat. Hanya ada dua warna saja yang terlihat di sana. Hitam di bagian tengah, dan putih di bagian tepi.
Sebuah fenomena aneh juga terjadi di tubuh Munding. Berawal dari jantungnya, seluruh pembuluh darah Munding seperti dialiri oleh sesuatu yang berwarna hitam pekat dan bahkan terlihat dari bagian luar kulitnya.
Aliran darah yang berwarna hitam itu menyebar ke seluruh tubuh Munding mulai dari kepala hingga ke kaki. Seluruh permukaan tubuh Munding dipenuhi oleh jaring-jaring pembuluh darah berwarna hitam yang mengerikan. Untungnya, setelah memenuhi seluruh permukaan tubuh Munding, warna hitam itu kembali menghilang dan seluruh permukaan tubuh Munding kembali seperti semula.
__ADS_1
Setelah itu, tubuh Munding terhempas ke atas ranjangnya lagi dan dia kembali seperti semula. Terbaring di atas ranjangnya seperti orang yang sedang tertidur dan tak sadarkan diri seperti sebelumnya.
Tapi tidak ada yang tahu dan menyangka kalau sebenarnya, Munding sudah kembali dan kini hanya tertidur saja karena kelelahan.