
Tapi diluar dugaan, Munding mengangkat bahu kirinya dan membiarkan pukulan hook Bram mengenai bagian bahunya.
Bukankah itu shoulder block? Sejak kapan pesilat diajari teknik shoulder block? tanya Bram dalam hati, kebingungan.
Munding memang tidak pernah diajari melakukan tangkisan dengan bahunya. Tapi untuk sesaat tadi ketika dia melihat Bram melakukan side steps, Munding tahu kalau Bram akan melancarkan serangan dari arah kiri tubuhnya. Dan entah kenapa, secara instinct tubuh Munding bergerak dan mengangkat bahunya untuk menahan pukulan lingkar dari Bram.
Ya, silat juga punya pukulan yang sama konsepnya dengan hook dalam tinju, Pak Yai menyebutnya pukulan lingkar. Sebagian perguruan akan menyebutnya Sao Jen, anak wushu mungkin menyebutnya Qian Bai. Tapi intinya sama, pukulan melingkar dari samping badan.
Munding tersenyum, untuk sesaat tadi, ketika tubuhnya secara instinct melakukan blocking dengan bahunya dalam keadaan terjepit, dia merasa kalau kesadaran dan kemampuan dirinya bertambah, meskipun perubahan itu terasa sangat kecil dan tidak signifikan.
Bertambah karena mengalami pertarungan yang dia alami dan menjadi pengalaman baru baginya.
Dan Munding tahu, setiap tetes dan titik pengalaman yang dia kumpulkan dari pertarungan tanpa henti seperti ini pada suatu ketika akan membantunya untuk berkembang secara keseluruhan dan akan meningkatkan kemampuannya sebagai seorang petarung terinisiasi.
Break the limit.
Kini Munding tahu apa maksud dari kata-kata yang dulu diajarkan oleh Pak Yai. Meskipun Munding tidak tahu harus berapa ratus atau ribu kali dia harus mengalami perkelahian seperti ini untuk membuat tetes pengalaman itu sanggup mengubah eksistensi dirinya mejadi lebih kuat dan lebih tangguh dari dirinya yang sekarang, tapi setidaknya, dia punya cara untuk itu dan dia sedang melangkah menuju kesana.
Munding tersenyum setelah menyadari esensi dari pelajaran yang diberikan oleh Pak Yai untuk meningkatkan kemampuannya sebagai serigala petarung terinisiasi, kini dia tahu apa yang harus dia lakukan.
Dan hal itu cuma satu.
Nikmati pertarunganmu, serap pelajaran yang didapatkan dari setiap pengalamanmu dan lupakan semua hal diluar itu.
Evolve. Step by step. To become stronger and stronger.
Bram terkejut ketika dia melihat Munding yang seolah-olah berubah, sebelumnya, Munding seperti terlihat seperti seorang yang sedang dalam kebingungan dan seperti seseorang yang hanyut dalam sungai dan menggapai semuanya untuk tetap bisa terapung. Atau seperti seorang buta yang meraba-raba kesana kemari untuk mengetahui jalan yang harus dia tempuh.
__ADS_1
Kini, Munding seperti seseorang yang baru. Tidak ada lagi kebingungan dan keraguan terlihat dalam dirinya. Bram merasa melihat sesuatu yang dulu pernah membuatnya bermimpi buruk selama beberapa hari, saat dia melakukan sparing dengan seniornya dari sasana tinju underground tempat dia berlatih.
Determination. No fear. Purely enjoying the fight. Live for adrenaline.
Sosok seniornya yang hanya memiliki hasrat untuk bertarung dan bertarung setiap saat, tanpa memikirkan hal lainnya, demi satu tujuan, menjadi yang terkuat.
Dan kini Bram melihat sosok dan aura yang sama keluar dari Munding. Tanpa sadar, bulu kuduk Bram merinding untuk sesaat, tapi dengan cepat Bram membuang napas panjang dan memukulkan kepalan tangannya ke kepalanya sendiri.
“Tidak mungkin, kita lihat apakah bocah gila ini benar-benar seorang maniac seperti dia,” kata Bram dalam hati.
Bram kembali maju dan melakukan gerakan tipuan dengan tubuhnya. Badan dan kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan dari batas pinggang ke atas. Dalam tinju, gerakan ini disebut ‘feints’.
Munding melihat feints yang dilakukan oleh Bram, “kalaulah menurutmu silat punya kelemahan seperti yang kamu bilang, tinju juga punya kelemahan fatal, tak ada tendangan dalam tinju dan tak ada teknik untuk menghindari tendangan yang mengarah ke tubuh bagian bawah seorang petinju,” batin Munding dalam hati.
Ssshhhhhhhhhh.
Wuuussshhhhh.
Kaki kanan Munding bergerak menyapu ke arah kaki Bram yang masih melakukan feints dengan tubuhnya. Feints yang dilakukan oleh Bram cuma sebatas pinggang ke atas, Bram bukan anak taekwondo yang pandai menggunakan feints atau gerakan tipuan dengan kedua kakinya. Bram sedikit terkejut ketika melihat sapuan kaki Munding.
Dengan gugup dan gerakan yang terlihat canggung, Bram melompat mundur ke belakang, Bram tahu kalau dia tidak bisa menghindari sapuan tegak Munding hanya dengan backward steps. Langkah mundur yang normal dilakukan oleh seorang petinju.
Saat kaki Bram menjejak ke tanah dengan jarak aman dari Munding, Bram dengan disiplin memasang kembali cover ke wajahnya. Tapi Bram salah perhitungan, selama ini dia menghitung jarak aman berdasarkan jangkauan tangan atau pukulan.
Kali ini dia melawan Munding, memangnya Munding seorang petinju?
Sssshhhhhhhh.
__ADS_1
Tendangan sabit kaki kiri.
Ketika kaki kanan Munding yang tadi melakukan sapuan berhenti di depan tubuh Munding dan dalam posisi kuda-kuda samping dengan kaki kanan di depan, Munding dengan cepat melakukan tendangan sabit dengan kaki kirinya ke arah perut Bram, karena kepala Bram masih tertutup double arm cover yang rapat.
Buakkkkk.
Tendangan sabit kaki kiri Munding tepat mengenai sasaran, tapi Munding merasa sakit di punggung kakinya. Munding melirik ke arah Bram dan melihat Bram ternyata menurunkan tangan kanannya yang tadi melakukan cover dengan posisi siku yang tepat menutupi perutnya.
Elbow block.
Salah satu teknik bertahan petinju yang sangat efektif dan membutuhkan sedikit usaha untuk melakukannya dari posisi double arm cover. Cukup menurunkan lengan dan menempatkan siku tangan ke arah samping tubuh.
Munding menarik kaki kirinya dan kembali ke posisi kuda-kuda awal.
Munding tersenyum.
Ini yang dia cari, lawan yang bisa memberinya kejutan dan melawan balik setiap serangan yang dia berikan.
Lawan seperti inilah yang bisa membuat Munding ‘break the limit’ sebagai seorang petarung.
“Sialan!!!” maki Bram dalam hati sambil meringis, “barusan tadi aku mengejeknya karena tidak bisa melakukan one two. Setelah itu, dia langsung melakukan one two dengan tendangan kaki. Selain itu, kuat sekali tendangannya. Siku tangan kananku terasa nyeri sekali,” keluh Bram sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya.
Munding dan Bram sama-sama terdiam dan memandang ke arah musuhnya.
Duel mereka seolah-olah terlihat lama, padahal mereka baru saja menghabiskan tak lebih dari tiga menit sejak awal tadi. Kedua lengan Munding masih terasa sakit akibat pukulan tangan Bram yang dilapisi knuckle dan kaki kirinya juga terasa nyeri karena tendangannya yang mengenai siku Bram barusan.
Kondisi Bram juga tak lebih baik.
__ADS_1
Tangan kanannya seperti kesemutan dan nyeri sekali setelah barusan terkena tendangan keras dari kaki Munding. Kalau saja dia tidak menggunakan elbow block dan membiarkan tendangan Munding mendarat di perutnya, dia yakin kalau sarapan yang dimakannya tadi pagi akan keluar lagi lewat mulut.