
Badrun kemudian menceritakan dengan rinci dan jelas kejadian malam itu, mulai dari Munding yang tersenyum sambil memukuli Saud sampai tak sadarkan diri, hingga saat dia berteriak sendiri dan saat Munding melakukan tendangan T yang melempar rekannya sejauh 3 m ke kios sebelah.
“Mana mungkin seperti itu!! Kau bilang bocah ingusan itu bisa menendang si Kirun sampai sejauh 3 m?? Kau mabuk parah ya malam itu?” teriak Saud membantah cerita Badrun.
“Saud, diam kamu!! Badrun coba kau ulangi lagi mulai dari si bocah itu bergerak dan menyerang temanmu Kirun,” kata Suprapto.
Badrun pun mengulangi ceritanya lagi. Wajah Suprapto makin lama makin terlihat nggak karuan. Tiba-tiba cerita lama yang sangat ingin dia kubur dan lupakan mencoba kembali menyeruak dalam ingatannya.
“Ini pertanyaan terakhirku, aku minta kamu jawab dengan jujur Badrun!! Apa yang kamu rasakan saat kamu melihatnya setelah menyerang Kirun dan menurutmu apa yang sedang dia pikirkan? Ingat, jujur kataku!!” kata Suprapto dengan tegas.
Badrun menarik napas panjang, sebenarnya dia tak ingin mengingat-ingat lagi kejadian malam itu, kejadian yang paling menakutkan untuk dirinya. Bukan sekedar menakutkan ketika dia melihat film horror yang kemudian akan mudah terlupakan.
Ini jauh-jauh lebih dalam daripada itu. Ini rasa ketakutan pada level naluriah yang paling dasar, yang berkaitan dengan keberlangsungan hidupnya sendiri.
Ketakutan seekor mangsa saat bertemu predatornya.
“Ndan, mohon maaf sebelumnya, sejujurnya, malam itu adalah malam paling menakutkan bagi kami, kami mengalami mimpi buruk selama beberapa hari ini gara-gara kejadian itu,” kata Badrun sambil menarik napas, “kami bertiga sudah diskusi soal kejadian itu dan kami punya pendapat yang sama, saat kami melihat tatapan matanya, kami bukan melihat seorang manusia, kami melihat seorang pemangsa yang sedang menatap mangsanya. Keliatannya dia sama sekali tidak menganggap kami-kami ini spesies yang sama dengan dirinya.”
Saud langsung berteriak mendengar perkataan Badrun, “jawaban macam apa itu? Kau pikir ini film ha? Mana ada macam tu!!! Sini biar kucari dia, biar kuretakkan kepala otaknya,” teriak Saud makin kencang di ruangan Pak Kapolsek Sukolilo.
“Diam kau Saud!!! Kurasa kau mulai lupa dimana tempatmu!! Mau kuingatkan lagi?” Suprapto yang keliatannya mulai kehilangan kesabaran pada Saud berteriak sambil menunjuk-nunjuk muka Saud.
“Badrun, kamu yakin itu yang kamu dan kawan-kawanmu rasakan?” tanya Suprapto.
Badrun cuma menganggukkan kepalanya pelan. Suprapto merasakan kepalanya berputar-putar, kalau benar apa yang dibilang Badrun, masalah ini lebih rumit dari yang dia bayangkan.
Suprapto melirik ke arah Saud, “apa yang kau lakukan selama beberapa hari sebelum si bocah datang mencarimu?”
“Nggak ada Ndan, kami melakukan apa yang biasanya kami lakukan,” kata Saud.
“Coba kau ingat-ingat lagi,” kata Suprapto pelan.
__ADS_1
Saud mencoba mengingat-ingat dengan keras di bawah tatapan mata Suprapto, setelah beberapa saat Saud terlihat senang karena dia teringat sesuatu.
“Memang ada satu Ndan, aku pukul kepala seorang kakek tua di pasar pake botol minuman. Kudengar kepalanya bocor dan dia masuk ke RSUD gara-gara itu,” kata Saud.
“Seperti apa ciri-cirinya dan kenapa kau pukul dia?” tanya Suprapto.
“Dia hanya kakek tua biasa, memakai sarung dan peci, macam mau pergi kondangan. Sebenarnya sih tak ada alasan khusus, aku cuma tak suka aja nengok mukanya,” kata Saud tanpa rasa bersalah.
Wuuttttttt. Buakkkkkkkk.
“Aduuuuuhhhhh,” rintih Saud yang tiba-tiba terkena lemparan asbak dari Suprapto.
“Aku juga tak suka lihat mukamu, makanya kulempar pake asbak. Dasar tak punya otak!” kata Suprapto setelah melempar asbak di depannya begitu mendengar penjelasan Saud.
“Ndan…” kata Saud berusaha menjelaskan diri.
“Pergi kalian!! Biarkan aku berpikir mencari solusinya,” kata Suprapto.
“Mungkinkah di tempat terpencil seperti Sukolilo ini ada ‘Serigala’ berkeliaran?” gumam Suprapto kepada dirinya sendiri.
\=\=\=\=\=
Suprapto muda bersama kawan-kawannya senang sekali hari ini, mereka berhasil menyelesaikan pendidikan mereka dan sekarang hanya tinggal menunggu alokasi penugasan mereka. Tapi mereka tidak akan pernah menyangka kalau hari ini mereka akan mengalami suatu hal yang akan sangat mempengaruhi hidup mereka.
Suprapto dan kawan satu angkatan mereka dikumpulkan dalam satu ruangan oleh instruktur mereka, di hadapan mereka berdiri seorang lelaki yang berpakaian militer. Balok satu terlihat di lengan laki-laki itu. Sebuah pangkat yang mungkin jauh di bawah Suprapto dan kawan-kawannya.
“Namaku Umar, tak usah bertanya-tanya soal identitasku. Mungkin ini pertemuan kita yang pertama kali dan kuharap yang terakhir kali,” kata laki-laki itu mengawali briefing hari ini.
“Sebentar lagi kalian akan ditugaskan ke dunia luar dan hari ini tugasku hanya memberitahu kalian bahwa di luar sana ada orang-orang yang hidup diantara kita tapi memiliki cara berpikir yang berbeda dengan kita,” kata Umar.
“Mereka dengan kesadaran penuh sama sekali tidak menganggap bahwa hukum dan norma yang berlaku di negara ini berlaku bagi dirinya."
__ADS_1
"Mereka juga menganggap bahwa dirinya berada pada tingkatan lain dalam rantai makanan dibandingkan dengan orang-orang yang lain. Mereka adalah para pemangsa dan orang-orang disekitarnya hanyalah mangsa.”
“Karena cara berpikir itulah mereka tidak akan merasa bersalah saat melakukan tindakan yang melanggar hukum, termasuk di dalamnya adalah membunuh orang lain. Bagi mereka itu adalah hal yang wajar dilakukan, sama wajarnya bagi seekor serigala memakan domba atau seekor harimau memakan kelinci.”
“Kondisi kesadaran diri yang mereka miliki setelah menempatkan mereka di posisi predator membuat mereka memiliki kelebihan secara aktual dibanding orang normal. Mereka berpikir, bertindak dan berperilaku tanpa batasan segel dari norma.”
“Kami menyebut mereka dengan sebutan ‘Serigala’.”
“Kasta terendah dari para Serigala adalah para penjahat kelas berat yang dengan sengaja melakukan pembunuhan dengan kedua tangan mereka. Dan mereka sama sekali tidak merasa bersalah atas tindakan mereka."
"Ingat, di matanya, kalian hanyalah ‘domba’, mungkinkah seekor serigala merasa bersalah saat membunuh seekor domba?” tanya Umar yang disambut dengan diam oleh seisi ruangan.
“Saat mereka sudah sadar diri dan menempatkan dirinya sebagai pemangsa, mereka bisa bertindak brutal, kejam dan tanpa ampun saat melakukan aksinya. Dunia medis menyebut mereka dengan julukan psychopath.”
“Tapi mereka hanyalah kasta terendah dari para Serigala. Mereka sudah mempunyai kesadaran diri tapi tidak ditunjang oleh kemampuan fisik yang menunjang untuk menjadikan pemangsa efektif di tengah-tengah buruannya."
"Mereka hanya punya ‘mental state’ seorang pemangsa.”
“Kasta tertinggi dari para Serigala adalah mereka yang mencapai kesadaran diri menjadi seorang pemangsa melalui jalan melatih kemampuan fisik dan beladirinya. Mereka berlatih beladiri dengan sistematis dan terarah hingga akhirnya mereka menjadi lebih kuat melebihi orang normal."
“Saat mereka menjadi lebih kuat itulah mereka merasa ‘berbeda’ dengan orang lain dan akhirnya naik tingkat dalam rantai makanan menjadi pemangsa.”
“Pada awalnya, mereka sudah memiliki kemampuan fisik diatas normal, saat mereka menjadi serigala, mereka akan menjadi lebih kuat dan cepat. Jauh dari yang dapat kalian bayangkan.”
Suprapto dan kawan-kawannya tertegun, mereka tidak pernah membayangkan kalau cerita tentang orang-orang yang memiliki kekuatan super tidak hanya isapan jempol di tivi. Mereka nyata.
“Omong kosong apa ini? Kami tidak percaya jika ada manusia super di dalam kehidupan nyata. Kau cuma seorang prajurit, aku tidak akan percaya dengan omonganmu,” kata salah seorang kawan seangkatan Suprapto.
Umar tersenyum, “tugasku hanya memberitahu kalian, terserah kalian untuk mempercayai apa yang kalian mau, para ‘serigala’ itu bukan manusia super seperti di tivi seperti yang kalian bayangkan."
"Mereka masih sama seperti kita. Mereka hanya jauh lebih kuat dibandingkan orang normal dan sama sekali tidak menganggap hukum negara ini atau hukum negara manapun berlaku baginya.”
__ADS_1