
Ambar terlihat sedang berdiri dengan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Di depan Ambar, seorang laki-laki sedang duduk dengan tangan terborgol. Dia menggunakan jaket hitam dan terlihat kelelahan.
Tetapi, meskipun terlihat lelah dan seperti kurang tidur, laki-laki itu sama sekali tidak terlihat panik dan masih bisa dengan santai duduk sambil menyenderkan punggung ke kursi di belakangnya.
Ambar dan laki-laki itu hanya dibatasi oleh sebuah meja berbentuk persegi panjang dan dua cangkir kopi hangat di atas meja. Di salah satu dinding ruangan itu terdapat sebuah kaca cermin dua arah yang sering ditemui dalam film-film aksi dan selalu terdapat di sebuah ruang interogasi.
“Sudahlah,” kata laki-laki itu pelan sambil menggunakan kedua tangannya yang terikat borgol untuk mengangkat cangkir kopi dan meminumnya.
“Kenapa kalian harus melakukan ini padaku? Siapa kalian sebenarnya?” tanya Bambang setelah meneguk kopi di tenggorokannya.
Ambar menatap Bambang dengan pandangan jijik, “tak usah berbelit-belit, cukup jawab pertanyaan kami. Siapa atasanmu?” tanya Ambar.
“Berapa kali harus aku jawab?” jawab Bambang dengan sedikit nada ejekan, “aku tidak tahu. Dan sekalipun aku tahu, aku tidak akan memberitahunya kepada kalian. Kecuali kalau kalian memberitahu siapa kalian.”
Bambang kemudian tertawa sinis ke arah wanita cantik yang di mata Bambang sedang berusaha keras untuk terlihat garang itu, “humph. Kalau kalian tahu siapa atasanku. Kalian pasti akan meminta maaf dan melepaskanku,” kata Bambang pelan tapi Ambar masih bisa mendengarnya.
Ambar seolah-olah tidak mempedulikan kata-kata Bambang dan tetap memasang muka datarnya. Dia terlihat sedang menunggu sesuatu sedari tadi. Bambang juga merasakan hal itu. Wanita cantik di depannya ini sedari tadi hanya mengulang-ulang pertanyaan yang sama meskipun Bambang tak mau menjawabnya dan bahkan mengejeknya sekalipun.
Tak lama kemudian, sebuah ketukan terdengar di pintu ruangan interogasi itu. Seorang wanita yang memiliki tampilan dan gaya berdandan seperti Ambar masuk dan membisikkan sesuatu kepada Ambar, “dia sudah datang.”
Ambar menganggukkan kepalanya kemudian mengikuti wanita itu keluar ruangan. Bambang tadi sempat mendengar kalimat pendek wanita yang barusan masuk itu, “siapa ‘dia’ yang dimaksud oleh wanita tadi?” tanya Bambang dalam hati.
Tak lama kemudian, Ambar kembali memasuki ruangan itu. Di belakangnya terlihat seorang pemuda berusia belasan tahun dan berjalan mengikuti Ambar. Saat Bambang melihat wajah pemuda itu, dia langsung tahu siapa dia.
Munding.
Raja baru di Harsa yang mengalahkan Bram.
__ADS_1
Bambang bergabung dengan MinMaks sejak geng itu berdiri. Di MinMaks, Bambang adalah orang ketiga yang paling senior setelah Bram dan Ardy. Tentu saja Bambang tahu betul semua hal yang terjadi dengan MinMaks.
Tetapi dia sama sekali tidak menyangka kalau Munding, siswa baru itu bisa datang ke tempat ini. Dan tiba-tiba, ingatan Bambang kembali ke malam itu, saat Munding yang ada di hadapannya tiba-tiba menghilang kemudian Bambang tidak ingat apa-apa lagi.
Bambang berpikir kalau ingatan terakhirnya sebelum tidak sadarkan diri adalah sebuah halusinasi, tapi kini dia mulai ragu akan hal itu. Karena dia melihat Munding datang ke tempat ini.
Ke ruangan interogasi entah milik siapa. Polisi? Jaksa? BNN? KPK? Militer? *******? Triad? Semua kemungkinan sudah coba dianalisa oleh Bambang tapi selalu nihil. Sejak dia sadarkan diri tadi, dia hanya melihat Ambar dan ruangan ini.
“Benar dia orangnya?” tanya Ambar ke arah Munding, nadanya terdengar sopan dan bahkan Bambang bisa menangkap sedikit rasa hormat di sana, sesuatu yang membuat Bambang sedikit merasa keheranan.
Munding tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan Ambar.
“Oke. Kalau begitu, identitas mister X sudah dikonfirmasi oleh Munding,” kata Ambar sambil melihat ke arah cermin dua arah, seolah-olah sedang berbicara dengan seseorang yang ada disana.
Cermin dua arah yang tadinya seperti sebuah cermin biasa yang memantulkan bayangan dari dalam ruangan interogasi, tiba-tiba berubah menjadi sebuah kaca bening. Bambang, Ambar dan Munding kini bisa melihat dengan jelas ruangan dibalik cermin itu.
Broto dan beberapa orang petinggi militer berdiri dengan tegap di sana. Broto tersenyum ke arah Munding dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu, dia memberi isyarat kepada seorang wanita yang duduk di depan sebuah meja yang penuh dengan instrumen untuk mengatur fasilitas ruangan interogasi itu.
Tak lama kemudian, suara si wanita tersebut terdengar di dalam ruangan interogasi yang ditempati oleh Ambar dan juga terdengar di ruang kontrol yang berisi para petinggi militer.
“Ijin telah diterima untuk melakukan prosedur interogasi menyeluruh.”
“Rekaman video dalam ruang interogasi akan dimatikan setelah 30 detik dimulai dari sekarang.”
“VIPs dipersilakan untuk meninggalkan area kontrol dan interogasi dalam waktu 15 detik dimulai dari sekarang.”
“Interogasi boleh dilakukan setelah terdengar konfirmasi dari ruang kontrol.”
__ADS_1
Setelah deretan kalimat itu terdengar bergema dalam kedua ruangan tersebut, para VIPs atau petinggi militer itu satu persatu meninggalkan ruang kontrol. Broto mengacungkan jempolnya ke arah Munding dan keluar dari ruangan kontrol tanpa menunggu balasan dari Munding.
Tak lama setelah para petinggi itu menghilang, suara si wanita kembali terdengar di dalam ruangan interogasi.
“15 seconds to comprehensive interrogation procedure as per military standard.”
“All video recording has been terminated.”
“Two personnel will come shortly to assist the interrogation.”
“You may start the interrogation within 3 seconds.”
“3. 2. 1.”
“Permission granted.”
Ambar tersenyum kearah Bambang. Semua kejadian tadi berlangsung sangat cepat. Dari kedatangan Munding sampai dengan para petinggi militer meninggalkan ruang kontrol, tak lebih dari 3 menit. Tapi Bambang, seperti mendapatkan pukulan telak bertubi-tubi.
Saat cermin dua arah itu menjadi bening dan Bambang melihat sederet panglima dengan bintang di pundaknya, cuma dua kata yang muncul dalam kepala Bambang, “mati aku.”
“Munding, mungkin sebaiknya kamu pergi. Ini interogasi, mungkin nanti kamu sedikit merasa terganggu dengan apa yang akan kami lakukan disini,” kata Ambar sambil melihat ke arah Munding.
Dua orang laki-laki masuk ke dalam ruangan dengan membawa sebuah tas koper yang berukuran lumayan besar. Mereka memberi hormat kepada Ambar kemudian membuka tas koper itu dan membongkar isinya ke meja di depan Bambang.
Munding menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Ambar tadi. Dia justru dengan penuh perhatian melihat alat-alat yang dikeluarkan oleh dua orang laki-laki yang baru saja masuk tadi.
Mereka mirip dengan dokter bedah. Ada pisau dengan berbagi ukuran dan disusun dengan rapi dalam tempatnya. Ada sebuah tang kecil yang bentuknya agak aneh karena ujungnya runcing. Ada gunting dengan berbagai ukuran dan juga disusun rapi dalam tempatnya.
__ADS_1
Keringat dingin mulai mengalir di punggung Bambang. Sedari awal sejak dia mengetahui kalau Ambar bekerja untuk militer, Bambang sudah kehilangan semangatnya. Sebelumnya, Bambang mengandalkan jabatan dan status atasannya untuk menekan Ambar dan siapapun yang menyuruhnya.
Tapi kini, semua itu hanya terlihat seperti sebuah gurauan.