Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 76 - Sang Guru


__ADS_3

Dua hari setelah duel antara Bram dan Munding.


Bram duduk di atas sofa dengan perasaan tidak menentu dalam ruangan khusus miliknya yang berada di markas MinMaks. Sejak kekalahan dirinya dari Munding dua hari lalu, banyak anggota MinMaks yang melarikan diri, pergi tanpa pamit.


Tidak ada pengunduran diri dalam kamus Geng motor MinMaks, hanya ada dikeluarkan atau melarikan diri. Tapi jika seseorang anggota geng melarikan diri, saat nanti mereka tertangkap, mereka akan merasakan akibatnya.


Seperti itulah doktrin yang dibuat oleh Bram untuk anggota gengnya.


Tapi, doktrin tinggal doktrin, dari yang awalnya lebih dari seratus orang anggota, baik eksternal maupun internal, kini hanya tinggal tak lebih dari dua puluh orang saja yang bertahan menjadi anggota MinMaks.


Bram meneguk minuman beralkohol yang ada di depannya tanpa menggunakan gelas, langsung dari botolnya. Saat ini merupakan masa-masa paling rendah dalam hidupnya. Dia butuh hiburan dan satu-satunya yang terpikir adalah si wali kelas seksi, Santi Lofiani.


Bagaikan pukulan terakhir yang menghantam ke wajahnya, guru cantik itu sama sekali tidak menjawab telpon dan pesan chatnya. Dengan penuh amarah, Bram melempar botol minuman ke dinding yang ada di depannya.


Botol itu menjadi salah satu botol minuman kesekian yang telah menjadi korban Bram hari ini.


Tidak ada seorang pun anak buah Bram ataupun gadis salome yang berani masuk ke ruangan ini menemani Bram, termasuk Ardi sekalipun. Ardi yang seharusnya adalah wakil ketua MinMaks dan sahabat Bram dari jaman dulu sejak di SMP.


Bram hanya menatap kosong ke dinding yang basah oleh cipratan minuman yang belum mengering itu dan pecahan botol kaca yang berserakan di lantai.


“Anggota gengku meninggalkanku, Santi tak menjawab panggilan telponku dan aku kehilangan posisiku,” gumam Bram dengan kepala terasa seperti pecah dan sakit sekali.


Bram duduk dengan muka menengadah dan menatap langit-langit kamar. Dia kembali teringat masa-masa dulu jaman SMP ketika dia masih menjadi anak seorang petinggi parpol dan sering dibully oleh kawan-kawannya. Sering dipalak dan dijadikan sasaran pukulan oleh mereka saat mereka kesal.


Masa-masa menyedihkan yang dia lalui saat kelas 1 dan 2 SMP. Sampai suatu ketika Bram bertemu dengan seorang lelaki yang ‘sakti’ dan mengajarinya beladiri. Tapi jutru beladiri yang jauh dari harapannya. Tinju.

__ADS_1


Bram memanggil laki-laki itu ‘guru’ dan gurunya menuntunnya untuk pelan-pelan berubah dan menjadi sosok yang kuat dan tak terkalahkan. Dia membalas semua kawan yang dulu membullynya dan dia akhirnya menumbangkan kawannya yang terkenal ‘memegang’ SMP mereka. Sejak itu, Bram pelan-pelan membangun pasukannya seiring dengan bertambahnya kemampuan dia dalam berkelahi.


Hingga duel yang terjadi dua hari lalu. Apa yang dia bangun pelan-pelan selama tiga tahun ini tiba-tiba seperti terbang ditiup angin. Hilang seketika.


Bram hanya meratapi nasibnya sendirian diatas sofa tanpa ditemani siapapun. Hanya minuman beralkohol yang tak henti-hentinya mengalir ke perutnya.


Beberapa jam kemudian. Masih di tempat yang sama.


“Menyedihkan sekali,” tiba-tiba terdengar suara seseorang laki-laki di sebelah Bram.


Bram mengangkat kepalanya dan ketika dia melihat sesosok laki-laki paruh baya dan mengenakan pakaian serba hitam sedang duduk di atas sofa yang Bram tempati, Bram sama sekali tidak marah, tapi justru berlari dan mencium tangan laki-laki itu.


“Guru,” kata Bram sambil memeluk gurunya.


Kalau saja ada anggota geng MinMaks yang melihat adegan sekarang ini, pasti mereka akan terkejut setengah mati. Bram, ketua mereka, sedang memeluk seseorang dan menangis terisak-isak seperti seorang anak kecil.


Lelaki tua itu terdiam dengan ekspresi muka datar, “aku mengajarimu tinju dan merekomendasikanmu untuk berlatih ke sasana tertutup milik SeTan karena dulu aku melihat potensimu.”


“Tapi kini apa yang kulihat, menurutmu, kata-kataku tadi untuk keadaanmu atau untuk dirimu?” tanya laki-laki tersebut.


Bram terdiam dan menunduk, ‘guru’nya ini yang selama ini selalu membimbing dia, mulai dari berlatih tinju, masuk ke sasana rahasia milik geng sekelas SeTan dan bahkan langkah demi langkah menuntunnya untuk membangun gengnya sendiri, MinMaks.


Tapi, ketika sang Guru menanyakan pertanyaannya barusan, Bram sadar kalau yang dimaksud ‘menyedihkan sekali’ oleh Gurunya bukan nasib Bram, tapi Bram sendiri. Dimata Gurunya sekarang, Bram adalah sesuatu yang menyedihkan, sebuah kegagalan.


Dengan cepat Bram langsung berlutut di lantai, “Guru, maafkan aku. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Ajari aku untuk membangun ulang MinMaks. Tolong ajari aku untuk mengalahkan anak baru itu juga,” rengek Bram ke arah Gurunya.

__ADS_1


“Sudah. Kau disini saja dulu meratapi kegagalanmu. Bukan perkara gampang untuk membangun ulang MinMaks. Aku akan menemui si anak baru yang mengalahkanmu itu,” jawab sang Guru.


Tak lama kemudian, sang Guru tiba-tiba hilang dari sofa yang tadi di dudukinya. Bram sepertinya sudah terbiasa melihat ‘kesaktian’ Gurunya itu. Cuma ada rasa hormat dari tatapan sinar matanya, seolah-olah dia sedang melihat seorang pendekar dari masa lampau.


\=\=\=\=\=


“Bagaimana?” tanya seorang laki-laki yang sedang duduk dalam mobilnya dan mengisap rokoknya.


Di sebelah laki-laki itu, duduk seorang laki-laki yang jauh lebih tua, dia adalah laki-laki yang tadi dipanggil ‘Guru’ oleh Bram. Mereka berdua duduk di dalam sebuah mobil sedan mewah dan sedang meninggalkan rumah yang menjadi markas dari geng MinMaks.


“Si Bram mungkin sudah tidak berguna lagi. Dasar bocah, kalah sekali saja tapi langsung terpuruk seakan-akan dunia ini runtuh. Dari sinar matanya, dia juga sama sekali tidak terlihat berniat membalas kekalahannya dari si anak baru itu. Nyalinya sudah putus. Dasar pengecut,” kata Sang Guru, seandainya Bram ada disini dan mendengar hasil evaluasi orang yang sangat dihormatinya, mungkin Bram langsung bunuh diri.


“Aku ingin berjumpa dengan si anak baru yang mengalahkan Bram. Dia sudah menghancurkan pionku yang sudah kudidik dan bangun sejak 3 tahun lalu,” gumam Sang Guru.


Lelaki yang lebih muda dan berpakaian rapi dengan menggunakan kemeja itu melirik sebentar ke arah sang Guru dan menggelengkan kepalanya, “kalau bisa, jangan sentuh anak itu dulu. Kita belum yakin apa hubungan dia dengan Broto Suseno dari Kodam. Anak itu tinggal di rumahnya tapi diperlakukan seperti pembantu. Yang kudengar dari informanku, kemungkinan paling kuat adalah si bocah itu yang menjadi bodyguard anaknya Broto.”


“Bodyguard mana yang justru bertindak high profile seperti ini? Lagipula, aku juga tidak takut dengan si Broto. Dia cuma petarung tahap pertama. Aku bisa menghabisinya kurang dari setengah menit,” lanjut Sang Guru dengan raut wajah merendahkan.


Si Perlente yang ada di sebelahnya cuma tersenyum ketika melihat kesombongan Sang Guru, “jangan lupa kalau ada Umar di samping Broto selama 24 jam.”


“Kalau satu lawan satu, aku mungkin tidak bisa menghabisi Umar, tapi setidaknya aku tidak akan kesulitan untuk mempertahankan diri atau melarikan diri,” jawab Sang Guru, “lain ceritanya kalau Umar dan Broto mengeroyokku.”


“Sudah. Kita tunggu saja dan lihat dulu anak-anak kecil itu bermain perang-perangan setelah ini, selain itu, aku juga ingin melihat kemampuan si anak baru itu. Kamu tidak berniat menjadikannya pionmu? Menggantikan si Bram,” tanya Si Perlente.


“Tidak. Dia terlalu dekat dengan pihak militer. Aku tidak mau membuat kesalahan fatal dengan mengambil bibit didikan militer menjadi muridku,” gumam Sang Guru.

__ADS_1


“Aku setuju dengan hal itu. Oke, lupakan dulu ini semua, barusan aku dapat pesan whatsapp. Kita mampir ke hotel biasanya dulu. Mereka sudah menyiapkan dua orang gadis perawan buat kita,” kata Si Perlente sambil tertawa kecil.


Sang Guru hanya diam dan menatap keluar jendela, ke arah kendaraaan yang lalu lalang di sebelah mobil mereka.


__ADS_2