
"Jangan panggil aku Komandan. Aku sudah lama tak memakai gelar itu. Lagipula, aku tahu tujuanmu datang kesini bersama anggota Chaos. Aku tak menganggapmu bagian dari kawanan lagi," kata Pak Yai datar.
Yasin terdiam ketika mendengar kata-kata Pak Yai. Dia tahu kalau dirinya akan mendapatkan sambutan seperti ini.
Melihat situasi canggung antara Yasin dan Pak Yai, Hiro yang memiliki background karate dan paham sekali tentang konsep senioritas, berjalan maju ke depan Pak Yai yang masih duduk di teras mushola.
"Izrail-san, namaku Hirokazu Kanazawa, kami datang kesini karena misi yang harus kami jalankan. Mohon pengertiannya," kata Hiro sambil membungkukkan badannya sedikit.
Pak Yai tersenyum, "aku tahu itu. Aku juga mengerti maksudmu. Silakan," jawab Pak Yai sambil berdiri dengan posisi santai.
Boooommmmmm.
Tiba-tiba saja, sosok laki-laki yang tadinya terlihat seperti orang tua biasa berubah seiring dengan intent yang memancar keluar dari tubuhnya. Badan Pak Yai yang tadinya berdiri dengan sedikit membungkuk terlihat menegakkan badan sedikit demi sedikit. Senyuman tak lepas dari bibirnya dan dia sama sekali tak memasang kuda-kudanya.
Keempat anggota Chaos, termasuk Yasin, tersenyum kecut. Berdasarkan informasi Yasin, mereka tahu kalau orang tua di depan mereka adalah serigala petarung tahap inisiasi yang matang, tapi mereka tidak menyangka kalau intent yang dia keluarkan akan seperti sekarang ini.
"Kita tak mungkin mengalahkan dia satu lawan satu. Lakukan bersama-sama!" teriak Hiro.
Ketiga serigala petarung anggota Chaos dengan cepat mengikuti instruksi Hiro dan bergerak maju mengelilingi Pak Yai. Mereka berempat memasang kuda-kudanya masing-masing dan melihat dengan pandangan serius ke arah petarung tua dengan julukan Izrail itu.
Oooossshhhhhhhh.
Teriak Hiro sambil maju dan melayangkan kepalan tinjunya ke arah Pak Yai.
Hhhhaaaaaaaaa.
Maria juga bergerak maju sambil melayangkan tendangannya dari arah samping kiri. Yasin dan Choi juga bergerak maju. Yasin dari samping kanan sedangkan Choi berada tepat di belakang Hiro.
Pak Yai masih tetap dengan senyuman di bibirnya, melangkah maju ke depan sambil melayangkan sebuah pukulan lurus. Pukulan yang terlihat sederhana dan diayunkan dengan ringan oleh Pak Yai tapi membuat Hiro yang menjadi target sasaran pucat pasi.
Intent Pak Yai yang tadinya tersebar ke semua arah dan memberikan tekanan ke sekelilingnya tiba-tiba terasa seperti tertarik ke arah ujung kepalan Pak Yai. Intent yang tadinya hanya berupa aura dan hanya dirasakan oleh keempat serigala petarung itu tiba-tiba seperti terkondensasi dan sekarang bisa dilihat terkumpul di depan kepalan Pak Yai.
__ADS_1
Hiro dengan wajah pucat pasi seolah-olah melihat kalau dunia dan sekelilingnya seakan tertarik ke ujung kepalan Pak Yai.
Kepalan itu terlihat membesar dan menjadi pusat dari semuanya. Hanya satu kata yang muncul di kepala Hiro saat itu.
Manifestasi.
Hiro dengan cepat memutuskan untuk menarik tinjunya dan tidak mempunyai keberanian lagi untuk mengadu kepalan tangannya dengan pukulan Pak Yai yang membuatnya ketakutan itu.
Tapi.
Tidak seperti keinginan Hiro, belum sempat dia menarik kepalan tangannya, kedua pukulan mereka sudah beradu di udara.
Baaaammmmmm.
Suara keras seperti sebuah benda yang dipukulkan ke sebuah tong kosong dan menimbulkan suara yang nyaring terdengar saat kedua pukulan itu beradu.
Krakkkkkk.
Hiro bisa melihat dengan matanya, ujung jemarinya yang mengepal, masuk ke dalam dan tulang jemari tangannya patah. Lengan panjang baju karate yang menutupi tangan kanan Hiro sampai ke pergelangan tangannya, sobek berhamburan menjadi serpihan kecil.
Rasa sakit yang luar biasa terasa menjalar dari ujung jemari Hiro yang remuk setelah beradu dengan pukulan Pak Yai. Tubuhnya terhempas ke belakang sejauh 2 meter dari tempatnya berada.
Ketiga rekan Hiro yang melihat clash pertama antara Hiro dan Pak Yai hanya bisa menarik napas panjang dan dengan cepat melompat mundur, kecuali Maria yang dengan gegabah terlanjur melayangkan tendangan kaki kirinya ke arah kepala Pak Yai dan berada pada posisi canggung untuk menarik serangannya kembali.
Pak Yai menggeser langkahnya ke kanan dan dengan cepat melayangkan tendangan kaki kirinya ke arah Maria yang berada di sebelah kanannya.
Sama seperti tadi, semua intent Pak Yai terasa bergerak dan tertarik kearah punggung kaki kiri Pak Yai yang melakukan tendangan. Meskipun terasa lama saat dituliskan, aktualnya, hanya butuh waktu sepersekian detik untuk membuat intent Pak Yai kembali terkondensasi dan menjadi kasat mata dan terlihat berada di punggung telapak kaki Pak Yai.
Untuk kali kedua ini, semua orang bisa melihat dengan jelas apa yang ada di sana.
Sebuah lapisan tipis transparan berbentuk lingkaran dan berdiameter tak lebih dari 5 cm terlihat jelas melayang di atas punggung kaki Pak Yai.
__ADS_1
Itu adalah manifestasi dari intent Pak Yai yang terkondensasi. Dari semua intent yang terpancar keluar dan berasal dari tubuh Pak Yai, saat termanifestasi hanya membentuk sebuah lingkaran tipis berukuran tak lebih dari 5 cm.
Tapi tak ada satupun dari keempat serigala petarung dari Chaos berani meremehkan benda kecil yang kasat mata itu. Untuk membuat intent yang sebelumnya hanya berupa aura dan menyerupai gas yang tak kasat mata kemudian menjadikannya sesuatu yang kasat mata merupakan fitur utama dari serigala petarung tahap manifestasi.
Sesuai namanya, manifestasi, mereka mampu memanifestasikan, membuat sesuatu yang tak nyata, menjadi sesuatu yang nyata. Mereka mampu membuat intent yang sebelumnya hanya merupakan sebuah 'rasa' menjadi suatu 'benda'.
Sederhana untuk digambarkan tapi sangat sukar untuk direalisasikan. Seberapa pun kuatnya seorang petarung tahap inisiasi, dia akan tetap berada di tahap itu, selama dia tidak bisa memanifestasikan intent mereka.
Booommmmm.
Krakkkkkkk.
Aaaaaaaaa.
Maria terlempar sejauh 3 meter dan terhempas ke tanah, sesaat setelah tendangan kaki kirinya beradu dengan lapisan tipis berbentuk lingkaran yang berada di atas punggung kaki Pak Yai dan menjadi contact point clash mereka.
Maria mengerang di atas tanah dan memegangi tulang kering kaki kirinya yang patah dan terasa sakit sekali.
Yasin dan Choi hanya tersenyum pahit setelah melihat kedua rekan mereka yang mengalami cidera permanen hanya beberapa detik setelah mereka memulai pertarungan ini.
Tapi.
Tak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka, karena mereka tahu, seandainya posisi mereka dibalik dan mereka lah yang menerima serangan Izrail, hasil akhirnya tetap sama.
Hiro berdiri dengan napas terengah-engah dengan raut muka yang menahan sakit sambil memegangi pergelangan tangannya.
Pak Yai menurunkan kakinya sama seperti posisi tadi, sejak awal, senyuman tak lepas dari bibirnya. Senyuman penuh percaya diri, seolah-olah mengatakan bahwa bahkan saat pertarungan ini dimulai, dia tahu kalau hasil akhirnya akan seperti ini.
Choi melirik ke arah Hiro dengan pandangan meminta arahan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Hiro sudah dianggap sebagai pemimpin dalam tim kecil ini. Sejak mereka ditunjuk untuk menjalankan misi ini oleh Chaos.
"Apakah Izrail-san sudah masuk ke tahap manifestasi?" tanya Hiro dengan suara pelan ke arah Pak Yai.
__ADS_1