Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 36 - Tidak Berharga


__ADS_3

“Aku antar kamu ke rumah ya?” tanya Munding ke Asma yang duduk di belakangnya.


“Asma nggak mau, mau ikut cari Bapak,” jawab Asma pelan sambil memeluk punggung laki-laki di depannya.


Mereka berdua melaju diatas motor Asma melewati jalan aspal yang sempit di tengah-tengah kampung Sukorejo. Mendengar jawaban Asma, Munding menghentikan motornya dan menolehkan kepalanya ke belakang.


“Itu berbahaya. Orang suruhan Karto tidak seperti Joko dan kawan-kawannya. Mereka hidup dengan mengandalkan tangannya untuk berbuat kejahatan, lebih baik aku mengantarmu pulang ke rumah,” kata Munding.


Asma terdiam dan tidak berani membalas tatapan mata Munding, dia cuma menundukkan kepalanya ke bawah. Tapi Asma tetap saja memeluk Munding sambil duduk diatas jok motornya.


“Munding,” kata Asma pelan sambil menarik napas, “tadi yang dibilang Joko itu beneran ya?” tanya Asma.


Munding mengrenyitkan dahi dan menghentikan tangannya yang akan menyalakan motor mereka kembali, “yang mana?”


“Munding beneran sudah punya kekasih di Sumber Rejo?” tanya Asma dengan suara yang bergetar.


Munding menarik napas panjang. Dia harus jujur soal ini, dia juga tidak ingin memberi harapan semu ke Asma.


“Iya,” jawab Munding pendek.


“Tapi, Asma sayang Munding. Dari dulu,” kata Asma pelan dan mata mulai berkaca-kaca.


“Aku sudah ada yang punya. Asma nanti akan dapat yang lebih baik lagi dari aku,” jawab Munding.


“Nggak mungkin,” jawab Asma cepat, “mana ada lagi laki-laki yang berani ngedeketin Asma, setelah apa yang Munding lakukan ke ‘itunya’ Joko,” lanjut Asma dengan muka yang memerah.


Asma menyambungnya lagi dengan cepat, “pokoknya Asma nggak peduli. Asma bakalan nunggu Munding sampai kapanpun.”


“Terserah kamu,” jawab Munding pelan sambil menyalakan motor.


\=\=\=\=\=


“Assalamualaikum,” teriak Asma dari depan pintu.


“Waalaikumsalam.”

__ADS_1


Seorang wanita membuka pintu rumah tersebut dan ketika dia melihat kondisi kaos Asma yang compang camping dan robek disana sini, dia menjerit histeris.


“Ya ampun Asma, apa yang terjadi sama kamu Nduk? Kok bajumu bisa seperti itu?” kata si Ibu tadi dengan wajah panik dan kemudian dia melirik ke arah Munding yang berdiri di belakang Asma.


“Dasar laki-laki ***, pasti kamu ya pelakunya?” kata Si Ibu sambil mengayunkan kepalan tangannya ke arah Munding.


“Bukan Bu. Sudah Bu,” kata Asma yang dengan sigap menghalang-halangi Ibunya memukuli Munding yang cuma terdiam.


“Dia Munding Bu. Munding yang sudah nolongin Asma tadi,” kata Asma.


“Munding, ini Ibuku,” kata Asma sambil memperkenalkan Ibunya.


“Kamu? Kamu Munding? Anak si Wage?” tanya Ibunya Asma dengan suara sedikit bergetar aneh.


Munding menganggukkan kepalanya dengan raut muka datar. Dia nggak suka nama Bapaknya disebut orang seperti itu. Apalagi oleh wanita di depannya. Istri Jumali. Bu Carik.


Untuk Asma, mungkin Munding masih bisa memaafkan dia, toh Asma adalah anak yang tidak tahu apa-apa tentang perbuatan kedua orang tuanya. Sedangkan perempuan yang ada didepannya ini, menurut cerita Ayu, adalah wanita yang menyebabkan Sutinah urung menjadi istri Jumali.


“Bu Carik tahu kan kalau Bapak ada nitip sesuatu ke Pak Carik?” tanya Munding.


“Asma, masuk ke kamarmu Nduk! Kunci pintunya!” perintah Bu Carik ke anak perempuannya.


“Tapi Bu...” Asma terlihat ingin membantah dan tetap disini bersama Munding.


“Ikuti kata Ibumu!!” potong Bu Carik, kali ini dengan nada yang lebih tegas lagi.


Asma pun berlari ke kamarnya yang terletak di bagian samping rumah dan menguncinya dari dalam kamar. Sebenarnya dia bingung menghadapi perilaku Ibunya yang tiba-tiba berubah tadi. Tapi dia tahu kalau ada sesuatu antara hubungan Bapaknya, Ibunya dan Bapak Munding.


Setelah Asma masuk ke kamarnya, Bu Carik menarik napas lega, “ikuti aku,” katanya pelan ke arah Munding.


Bu Carik mengajak Munding ke belakang rumah melewati pintu belakang. Mereka terus berjalan sekitar 20 meter dari rumah Pak Carik. Keliatannya ini kebun buah milik Pak Carik. Bu Carik melihat ke sekeliling sebentar kemudian dia menuju ke sebuah pohon jambu air yang ada di tengah-tengah kebun.


Bu Carik berjongkok di depan pohon jambu itu dan menggunakan tangannya untuk mengangkat tumpukan batu bata yang disusun melingkari pohon jambu itu. Munding melirik ke sekitar dan melihat kalau setiap pohon buah yang ada di kebun ini mempunyai tumpukan batu bata yang menyerupainya. Tumpukan yang digunakan untuk pembatas saat si pemilik kebun menggunakan pupuk kandang ke batang pohon.


“Biar aku saja,” kata Munding, dia sedikit merasa kasihan kepada wanita ini.

__ADS_1


Bu Carik berdiri dan bergeser ke samping, memberikan ruang bagi Munding untuk maju. Munding berjalan dan melirik sekilas ke arah Bu Carik dan Munding terkejut. Ternyata Bu Carik masih terlihat muda dan cantik.


Paras wajahnya mirip sekali dengan putrinya Asma. Mungkin satu-satunya perbedaan adalah wajah Bu Carik terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan Asma yang masih menyimpan aura kekanak-kanakannya. Tapi justru itu yang membuat Munding sangat terpesona.


Munding memang tidak begitu memperhatikan Bu Carik dengan detail dari tadi. Karena dia memusatkan perhatian penuh ke tujuannya. Mencari tahu kepastian soal Jumali.


Tapi saat ini, di tengah kebun yang gelap ini. Tiba-tiba saja darah lelaki Munding berdesir saat melihat kecantikan Bu Carik.


Melihat tatapan mata Munding yang agak aneh kepada dirinya, Bu Carik tiba-tiba melangkah mundur, “Munding??”


Munding dengan cepat bergerak maju dan memeluk Bu Carik. Dengan cepat dia menciumi leher Bu Carik dan menempelkannya ke pohon jambu yang ada di belakang Bu Carik.


“Hentikan!!! Munding. Tolong hentikan!!” kata Bu Carik sambil meronta-ronta.


“Diam!! Atau kau lebih memilih aku kembali ke rumah dan memperkosa anakmu?” ancam Munding.


Bu Carik terdiam saat mendengar ancaman Munding. Dia takut membayangkan kalau sesuatu seburuk itu menimpa pada putri kesayangannya.


*scene deleted


Tiba-tiba saja ada rasa bersalah yang muncul di dadanya. Dan anehnya rasa bersalah itu bukan kepada Bu Carik atau Asma. Munding merasa bersalah pada Bapaknya sendiri, Wage.


Munding jelas sekali merasakan rasa itu menyeruak di dadanya. Bukankah Jumali juga melakukan hal seperti ini kepada istri Bapakku? Aku hanya membalas apa yang sudah dia lakukan kepada istrinya, kata Munding dalam hati dan membulatkan tekadnya.


Dan di bawah sinar rembulan malam itu, Munding menikmati tubuh Bu Carik di kebun belakang rumah Jumali. Bu Carik menangis terisak-isak disela-sela dengusan napas Munding yang terus melakukan aksi bejatnya.


Ketika semuanya selesai, Bu Carik menyeka air matanya dan melihat nanar ke arah Munding, “kenapa kamu melakukan perbuatan ini?”


“Aku membalas perbuatan Suamimu kepada Bapakku,” kata Munding pendek dan dingin.


“Perbuatan apa yang Suamiku lakukan sehingga membuatku layak diperlakukan seperti tadi?” tanya Bu Carik dengan nada yang mulai histeris.


“Dia meniduri Sutinah dan mencoba untuk merebut harta Bapakku!!” kata Munding datar.


“Suamiku tidak pernah melakukan hal seperti itu. Dia menyayangiku dan Asma jauh melebihi apapun,” Bu Carik kemudian mengambil sebuah amplop yang dibungkus kantong plastik dari bawah tumpukan batu bata tadi.

__ADS_1


“Bawa pergi kertas ini!! Aku tahu kalau Suamiku sekarang mungkin sudah tidak bernyawa lagi gara-gara kertas itu. Sama seperti Wage dulu, mati karena sesuatu yang sama sekali tidak berharga,” kata Bu Carik sambil menudingkan jarinya, isyarat untuk mengusir Munding.


__ADS_2