Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 87 - Sahabat


__ADS_3

Munding memarkir motornya di depan pintu gerbang sebuah rumah bertingkat dua yang ada di kawasan Semarang atas, tepatnya setelah tanjakan Gombel. Banyak mobil yang diparkir di depan rumah ini. Hanya ada dua motor yang terlihat dan itupun sepeda motor kelas sport dengan ukuran volume ruang bakar 250CC.


Munding dan Amel mungkin satu-satunya yang datang dengan motor matic mereka yang terlihat cupu.


Citra terlihat cantik sekali dengan gaun warna putih dan perhiasan yang menghiasi hampir seluruh wajahnya. Citra juga terlihat mengenakan make up yang terlihat istimewa dan pasti hasil kreasi seorang professional.


Ini acara ultah Citra, tidak mungkin gadis itu akan membiarkan gadis lain mencuri perhatian dalam acaranya.


Ketika melihat dua raut wajah familiar setelah Munding dan Amel membuka helm mereka, Citra langsung tersenyum dan berjalan ke arah mereka. Kawan-kawan lain yang sebelumnya juga merasa sedikit heran setelah melihat datangnya sepasang muda mudi dengan motor matic dalam acara untuk remaja kelas atas ini, terlihat sedikit terkejut ketika mengetahui kalau mereka adalah Munding dan Amel.


Semua murid Harsa tahu kalau Munding dan Amel punya hubungan khusus dan lebih dari sekedar teman sebangku, tapi mereka tidak pernah menyangka kalau mereka berdua akan datang dengan cara seperti ini.


Apakah pura-pura miskin sekarang lagi nge-trend ya? Begitulah kira-kira isi otak mereka.


Munding berjalan ke arah Citra yang tersenyum manis di halaman rumahnya kearah Munding dan Amel. Amel yang melihat kelakuan Bocah Kampung itu memasang muka cemberut dan menghentakkan kakinya ke aspal jalan raya.


“Munding!” panggil Amel dengan suara sedikit keras.


Munding berhenti dan menolehkan kepalanya kearah Amel. Ketika dia melihat Amel yang masih berdiri dan tidak beranjak di samping motor, Munding berpikir sebentar kemudian menarik napas panjang.


Dengan penuh keterpaksaan, Munding berjalan balik ke arah Amel dan mengulurkan tangannya, uluran tangan yang disambut senyum sumringah dan manis dari Amel yang dengan cepat menyambut tangan Munding dan memegangnya dengan kedua tangan.


Amel dan Munding berjalan ke rumah Citra seperti sepasang kekasih yang sedang mesra-mesranya.


Kawan-kawan mereka melihat pasangan ini dengan sedikit tatapan aneh dan juga iri. Jelas sekali terlihat kalau dari interaksi mereka, Amel lah yang justru nempel seperti perangko ke Munding.


Si Bocah Gila yang sekarang menjadi berandalan nomor satu di SMA Harapan Bangsa.


Sesampainya di depan Citra, Amel melepas jaket putihnya dan memberikannya ke Munding. Amel kemudian membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dan mengulurkannya ke Citra.


“Selamat ulang tahun ya Citra. Ini hadiah dari kami. Semoga sukses selalu dan terkabulkan semua cita-citanya,” kata Amel sambil mengulurkan hadiahnya ke arah Citra.

__ADS_1


Citra terlihat sedikit terkejut untuk sesaat kemudian dia menerima kotak kecil itu dari Amel, “makasih banyak ya Mel, boleh aku buka sekarang?” tanya Citra.


“Silahkan,” jawab Amel sambil tersenyum manis, tangan Amel kembali jahil dan meraih lengan Munding dan bergelayut disana.


Citra membuka kotak kecil itu dan melihat sepasang anting-anting indah disana. Ini mungkin hadiah termahal dan tercantik yang diterima Citra malam ini, yang justru dia dapat dari seorang gadis yang selama ini tidak pernah berhubungan dekat dengannya dan justru Citra undang ke ultahnya karena ada rencana jahat yang ingin dilakukan Rey kepada gadis itu.


Tanpa sadar, air mata Citra meleleh jatuh ke pipinya, “aku salah selama ini, kupikir Amel adalah musuh terbesarku karena gara-gara dia, Rey tak pernah membalas perasaanku, aku juga selalu berpikir kalau Amel dan Munding bakalan membuat ultahku kali ini hancur berantakan dan menjadi kenangan terburuk dalam hidupku,” keluh Citra dalam hati.


“Kok malah nangis sih?” tanya Amel.


“Makasih banyak ya Mel, aku nggak nyangka sama sekali,” kata Citra sambil menggenggam erat kotak kecil itu ditangannya.


Citra terlihat bimbang dan menyeka air matanya, make up-nya sedikit luntur di bagian pipi yang dialiri air mata barusan, “make upku luntur nih. Mel, bantuin aku yuk benerin make upnya?” ajak Citra ke Amel.


Amel terkejut dengan ajakan Citra barusan, Amel melirik ke arah Munding untuk meminta persetujuan dengan tatapan bertanya, yang dijawab Munding dengan sebuah anggukan kepala.


Munding sudah memeriksa sekelilingnya tadi, dia tidak menemukan Rey ataupun Bram di rumah ini. Mungkin mereka belum datang, karena itu Munding membiarkan saja Citra bertingkah sesukanya.


“Tenang aja, nggak akan lari kemana-mana kok Ayang-mu,” goda Citra sambil tersenyum, godaan yang dibalas dengan cibiran bibir oleh Amel.


Mereka berdua kemudian menghilang di dalam rumah.


Munding kemudian berjalan ke deretan meja yang terisi snack dan minuman kemudian mengambil gelas kosong dan mencari tempat minum. Air putih, seperti biasanya.


\=\=\=\=\=


“Maafin aku Mel,” kata Citra sambil menundukkan kepalanya.


Citra menggunakan alasan untuk membetulkan make up-nya untuk mengajak Amel masuk ke kamarnya dengan tujuan untuk memberitahukan semua rencana busuk Rey. Amel sendiri masih terlihat sedikit shock setelah mendengar pengakuan Citra.


Mereka berdua terdiam selama beberapa saat. Citra menyiapkan mentalnya untuk bersiap-siap menerima amukan Amel yang ada di depannya, tapi dia sudah bersiap-siap untuk itu. Setidaknya, Citra tidak akan memiliki penyesalan di kemudian hari.

__ADS_1


Amel menarik napas panjang, “segitunya sih si Rey. Kecil hati banget.”


Amel kemudian meraih tangan Citra yang saling meremas-remas, mungkin karena cemas menunggu reaksi Amel, “aku justru kasihan sama kamu Citra, kamu udah ngasih segalanya ke cowok brengsek itu tapi ternyata dia malah manfaatin kamu seperti ini.”


Citra mengangkat wajahnya, dia pikir Amel bakalan ngamuk, tapi ternyata dia justru iba pada dirinya sendiri. Sosok Amel sang putri angkuh seorang Jenderal dan selalu dingin ke kawan-kawan sekelasnya dalam kepala Citra mencair seketika, berganti dengan sosok seorang gadis yang baik dan berempati kepada sahabatnya.


“Makasih ya Mel,” kata Citra sambil memeluk Amel dan mereka berdua pun berpelukan dalam kamar Citra, Citra menangis terisak-isak karena perasaan lega setelah mengungkapkan semua beban yang dia rasakan tadi.


Dan make up Citra pun kembali luntur, lagi.


\=\=\=\=\=


Citra keluar dari dalam rumah sambil bergandengan tangan dengan Amel. Bukan karena mereka pasangan lesbi, tapi karena mereka tahu kalau mereka berdua telah menjadi sahabat saat ini.


Bukan hanya sekedar teman sekelas seperti yang selama ini terjadi.


Amel terlihat mencari-cari seseorang ke sekeliling halaman rumah Citra, tapi dia tidak berhasil menemukan sosok Munding.


“Ayang-mu disana tuh,” tunjuk Citra dengan bibirnya ke salah satu pojokan halaman rumah Citra yang sedikit tersembunyi karena rerimbunan taman.


“Ngapain Munding disana?” gumam Amel.


Amel dan Citra pun berjalan ke arah yang tadi ditunjuk oleh Citra, sesekali mereka berdua akan menganggukkan kepala dan tersenyum manis kepada kawan-kawan yang meyapa mereka. Kedua gadis cantik yang berjalan bersama-sama ini menjadi pusat perhatian kawan-kawan mereka yang ada di halaman rumah Citra.


Ketika Amel dan Citra sampai ke balik rerimbunan tanaman perdu hias yang ada di taman rumah Citra, mereka berdua melihat 5 orang pemuda sedang berdiri melingkar, tiga orang dari mereka sedang menghisap sebatang rokok di tangan mereka.


Dan salah satu diantaranya adalah Munding. Amel kaget sekali melihat Munding merokok, ini kali pertama dia melihatnya.


“Munding kamu ngerokok ya?” teriak Amel dengan suara kencang.


Kelima pemuda itu kaget mendengar teriakan seorang gadis yang tiba-tiba ada di belakang mereka. Citra melirik ke arah lima pemuda itu dan dia sedikit bergidik ngeri. Munding si Bocah Gila, A Long ketua Kupu Mas, Faris jagoan Karate, Rin jagoan Taekwondo dan seorang bocah berkepala gundul tanpa rambut yang selalu terlihat cengar-cengir tanpa sebab yang Citra tidak tahu siapa dia.

__ADS_1


__ADS_2