Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 183 - Kembali


__ADS_3

“Waktu itu beliau mengatakan bahwa kesalahan utama pada diriku dan menyebabkan aku menjadi kalut dan putus asa cuma satu. Aku terlalu mencintai istriku. Aku terlalu mencintai mahlukNya melebihi yang seharusnya. Aku lebih memilih yang fana, yang tidak kekal, yang suatu saat akan hilang, hancur, berkhianat atau binasa,” kata Pak Yai pelan dan matanya terlihat sedang menerawang jauh.


“Waktu aku mendengar kata-kata beliau, aku langsung tersadar. Semua yang ada di sekeliling kita suatu saat pasti akan pergi dari sisi kita, karena satu atau lain hal. Cuma Gusti Allah yang selalu Kekal dan tak akan pernah mengingkari janjiNya,” lanjut Pak Yai.


Tapi setelah itu Pak Yai melanjutkan ceritanya sambil tersenyum, “Waktu itu Sayid langsung memukulku dengan rotan dan mengingatkan agar aku tidak lagi terlalu berlebihan dalam mencintai sesama ciptaanNya.”


“Waktu aku bertanya apa maksud perkataan itu, beliau menjelaskan bahwa terlalu berlebihan bisa berarti banyak hal.”


“Mencintai diri sendiri berlebihan. Itu terlalu ekstrim, efeknya kita akan tinggi hati, merasa diri paling hebat. Merasa diri lebih daripada orang lain. Merasa kalau dunia berputar seolah-olah kita sebagai porosnya. Suka merendahkan orang lain dan yang paling berbahaya, sombong. Kesombongan bisa menyebabkan Iblis tergelincir dari mahluk yang mulia menjadi mahluk terkutuk. Apalagi efeknya ke kita?”


“Mencintai istri atau pasangan secara berlebihan. Efeknya, seperti yang kita berdua alami. Saat dia meninggalkan kita, serasa dunia mau runtuh. Kita patah hati. Kita putus cinta. Merasa dunia tidak adil. Merasa kalau kita adalah mahluk yang paling sengsara dan paling malang di dunia. Sibuk mengasihani diri sendiri. Berlarut-larut dalam kesedihan. Padahal kalau kita mau melongok keluar dari jendela rumah kita, betapa banyak anak-anak jalanan dan orang-orang miskin yang bahkan tak tahu apa yang akan mereka makan esok hari.”


“Mencintai dunia terlalu berlebihan. Kita mengejar kekayaan sampai lupa beribadah. Tutup telinga saat adzan berkumandang. Rela melakukan pekerjaan tak halal asalkan uang dipegang. Padahal, cuma kain kafan yang akan menutupi tubuh saat kita dimakamkan nanti.”


“Sayid juga berpesan, agar tidak terulang lagi di masa depan. Sandarkan semuanya kepadaNya. Cintai keluarga kita karenaNya. Cintai harta kita karenaNya. Jadi ketika suatu saat semua itu diambil atau hilang dari sisi kita, kita bisa merelakannya.”


“Paham??” tanya Pak Yai ke arah Yasin.

__ADS_1


Yasin terlihat ragu-ragu, kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan cepat, “belum Kang, bisa diulangi lagi. Kali ini, aku akan merekamnya dengan hp-ku,” pinta Yasin sambil mengeluarkan smartphone-nya.


Sekejap mata kemudian, Yasin hanya merasakan sakit luar biasa di kepalanya dan semuanya terlihat diselimuti kegelapan dengan cepat. Dia tak sadarkan diri.


Pak Yai terengah-engah menahan emosi. Untuk sesaat tadi, dia kehilangan kontrol dan melayangkan tendangannya ke arah kepala Yasin, itulah yang membuat laki-laki itu terkapar sekarang.


“Dasar!! Tak tahu malu. Kalau bukan karena permintaan istriku dan kenyataan kalau aku melihat penyesalan dan tobatmu yang sungguh-sungguh. Aku sudah membuatmu bertemu dengan malaikat Izrail yang sesungguhnya,” gerutu Pak Yai sambil memutar badannya dan berjalan ke arah rumah.


Bu Nyai terlihat kaget dan menutupi mulutnya dengan kedua tangan saat melihat suaminya menendang kepala Yasin dengan keras dan membuat laki-laki itu terjerembab ke belakang tak sadarkan diri.


“Nurul sama Asma mana Buk’e?” tanya Pak Yai ke arah istrinya.


“Ya sudah. Semuanya sudah selesai. Ndak usah diceritain ke anak-anak. Suruh mereka keluar saja, terus nanti aku akan minta Asma mengantarku untuk membuang tubuh laki-laki itu ke pinggir hutan,” kata Pak Yai sambil menggunakan dagunya dan menunjuk ke arah tubuh Yasin yang masih terkapar di halaman.


“Pak,” tegur Bu Nyai pelan.


“Dia masih hidup. Dan dia tak akan mati semudah itu. Dia itu sepondok sama kita. Satu tahun di bawahku,” kata Pak Yai menjelaskan.

__ADS_1


Bu Nyai tak menjawab lalu dia justru bergegas ke kamar belakang untuk membebaskan Nurul dan Asma yang dia sekap di kamar belakang supaya tak melihat apa yang terjadi barusan di halaman rumah mereka.


\=\=\=\=\=


Dua orang terlihat duduk di tengah ruangan dan sebuah tubuh tak bernyawa tergeletak di hadapan mereka. Mereka berdua adalah Maria dan Hiro sedangkan tubuh tak bernyawa itu tentu saja Choi. Mereka sudah kembali ke markas sementara organisasi Chaos yang mereka gunakan sebagai basis operasi di Indonesia.


Ruangan ini didominasi oleh cahaya gelap dan hanya di tengah-tengah ruangan, tempat dimana ketiga orang itu berada yang memiliki penerangan. Di sekeliling mereka banyak terdapat beberapa kursi yang terlihat kosong tapi ada juga yang terisi.


Susunan kursi-kursi itu melingkar mengelilingi tengah ruangan, seolah-seolah adalah ruang sidang yang sedang menghakimi tersangka yang ada di tengah-tengah mereka.


Sesosok laki-laki Jepang yang memegang katana terlihat duduk diatas kursi di sebelah kanan ruangan. Dia terlihat tidak tertarik sama sekali dengan nasib tim kecil Yasin dan Hiro. Di sebelah kiri ruangan, Saenchai juga terlihat tidak begitu peduli dengan nasib mereka bertiga. Ini sudah menjadi ciri dari kawanan opportunis semacam Chaos. Mereka tidak punya keterikatan satu sama lain antara anggotanya.


Mereka ada disini dan berkumpul di bawah bendera yang sama, hanya dengan satu tujuan, menghasilkan uang bagi diri mereka masing-masing. Berbeda dengan kawanan militan atau militer. Mereka berkumpul dan berjuang karena memiliki keyakinan dan tujuan yang sama dan sifatnya bukan materialistis.


Satu sosok hitam yang sedari tadi tidak terlihat dan terasa oleh semua orang tiba-tiba saja berada di sebelah depan ruangan dan berada di depan ketiga tersangka, lebih tepatnya dua tersangka dan satu mayat.


Seluruh tubuh dari sosok ini tertutupi kain hitam. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, hanya segaris kecil yang memperlihatkan mata saja terlihat di wajah sosok itu. Dilihat dari kontur tubuhnya, semua tahu kalau dia adalah seorang laki-laki.

__ADS_1


Hikari langsung memegang katana-nya dengan erat saat sosok itu hadir di dalam ruangan. Dia tahu persis siapa dia. Anggota inti Chaos yang menggunakan nama julukan ‘Shadow’. Tapi bukan karena itu dia menggenggam erat senjatanya.


Hikari merasa terancam dengan keberadaan Shadow karena secara kodrat mereka berdua memang bermusuhan. Sejak dulu dan sampai kapanpun. Karena Shadow adalah seorang ninja, dan Hikari sendiri adalah seorang keturunan Samurai. Selamanya mereka berdua tak akan pernah bercampur, seperti minyak dan air.


__ADS_2