
Munding masih mencoba memahami tentang kegelapan, dan semua hal yang selama ini menganggu pikirannya, ketika sebuah cahaya kembali terlihat di kejauhan.
Penglihatan lagi? tanya Munding lagi.
Apakah sama seperti waktu itu, ketika dia melihat proses evolusi bintang yang berkembang lalu mati?
Ataukah kali ini berbeda?
Ketika Munding masih menunggu apa yang akan dilihatnya kali ini, cahaya itu semakin mendekat dan dia berubah menjadi sesosok manusia.
Manusia?
Kali ini manusia? Apakah aku akan melihat proses hidup manusia? Atau?
Tapi cahaya itu tidak berubah atau memperlihatkan sesuatu, dia berdiri di depannya dan berkata pelan, kata-kata yang membuat seluruh kesadaran diri Munding bagaikan dibangunkan kembali dengan sengatan listrik yang luar biasa.
“Mas Munding...”
Suara yang sangat dia kenal dan selalu dia simpan dalam ingatannya yang paling berharga. Karena dia tak ingin kehilangan memorinya tentang sosok itu.
Suara istrinya sendiri, Nurul.
Sempat terbersit dalam pikirannya kalau itu hanyalah khayalan dan ilusi karena rasa rindunya kepada istrinya. Tapi Munding lalu menepisnya. Dia tahu, kalau itu adalah benar-benar istrinya. Meskipun Munding tak tahu bagaimana caranya dia bisa datang kesini.
Nurul mengulurkan tangannya.
Dan tanpa berpikir panjang Munding langsung menyambutnya.
Gumpalan awan hitam yang dilihat Nurul terlihat membentuk sebuah tonjolan dan menuju ke arah Nurul. Lalu ketika awan itu menyentuh jemari Nurul, pelan-pelan dia berubah kembali menjadi sosok manusia biasa, sama seperti Nurul, dimulai dari ujung jari tangan, lengan, pangkal lengan, bahu, leher dan akhirnya seluruh badan.
Kini sosok utuh Munding sebagai manusia sudah berdiri dan memegang tangan Nurul.
Mereka saling berpegangan tangan tanpa kata-kata dan saling tersenyum ke arah satu sama lain. Mereka seakan tak peduli dengan kegelapan yang berada di sekitar mereka sekalipun tak ada satu titik cahaya pun yang menyinari kegelapan itu. Karena sekarang mereka sudah bersama.
“Kok Dek Nurul bisa kesini?” tanya Munding keheranan.
__ADS_1
“Humph,” Nurul menghempaskan napas sambil membusungkan dadanya.
Seolah-olah Nurul ingin mengatakan kalau bagi dia tak ada yang tak mungkin. Munding pun hanya memeluk gemas dan mencium kening istrinya.
“Mas selama ini terjebak disini ya?” tanya Nurul.
Munding menganggukkan kepalanya.
“Berapa lama?” tanya Nurul penasaran, karena dia merasa kalau waktu di tempat ini sangatlah aneh.
“Lama sekali, aku sampai lupa,” jawab Munding.
“Mas nggak ingin pulang?” tanya Nurul.
“Ingin sekali, tapi aku tidak tahu gimana caranya,” jawab Munding.
Lalu Nurul mulai menceritakan tentang semua yang dia alami sejak Munding koma. Dan Munding hanya mendengarkan dengan seksama. Dia sangat bersyukur ketika dia tahu kalau waktu di tempat ini jauh berbeda daripada waktu di dunia sebenarnya.
Kata Nurul, hanya beberapa bulan saja telah berlalu di dunia nyata.
Munding sangat takut sekali saat memikirkan kalau suatu saat dia berhasil kembali ke kenyataan tapi ternyata semua orang yang dia kenal dan kasihi sudah meninggal dunia dan tak ada lagi siapapun yang dia tahu disana.
Mereka berdua lalu mengobrol dan bercanda tentang semuanya. Dan mereka bahagia.
\=\=\=\=\=
“Kita sudah mencoba semuanya Bu. Tapi tak ada yang berhasil,” kata si Dokter dengan raut muka ketakutan saat berbicara dengan Cynthia.
Cynthia sama sekali tidak tersenyum dan memasang wajah sadisnya.
Ini adalah suatu insiden yang sangat sensitif. Nurul meninggal saat dioperasi di rumah sakit keluarga Hong. Dan siapakah Nurul? Anak dari Ahmad Hambali, keponakan dari Sulaiman dan Aisah, gurunya sendiri.
Sanggupkah keluarga Hong menghadapi amukan dua orang petarung manifestasi dan seorang petarung half-step?
Tentu saja tidak.
__ADS_1
Cynthia sudah meminta untuk menutup rumah sakit ini secara total. Tak ada seorang pun yang diijinkan keluar atau masuk ke dalam rumah sakit tanpa seijin dirinya secara langsung. Dia juga segera memerintahkan dokter yang dia percayai untuk melakukan pemeriksaan terhadap prosedur operasi yang dilakukan oleh tim bedah yang barusan melakukan operasi kepada Nurul.
Meskipun operasi itu berhasil dan bayi Nurul telah berhasil lahir. Tapi sekarang, justru giliran ibunya yang tak terselamatkan. Tidak terlihat gejala-gejala keracunan ataupun serangan secara fisik. Tapi kenapa Nurul bisa meninggal saat operasi?
Pak Yai hanya terdiam dan melihat ke arah orang-orang di sekelilingnya. Dia ingin meratakan tempat ini dari tadi, tapi istrinya selalu mencegahnya.
Bu Nyai mengingatkan kalau rumah sakit ini sudah berbuat banyak dengan merawat Munding dan juga Nurul. Tak mungkin kalau mereka berniat menyakiti Nurul sekarang.
Leman dan Aisah sedang dalam perjalanan ke sini sekarang. Dan itu membuat Cynthia makin tertekan. Dia harus menemukan penyebabnya sebelum sang Guru datang. Atau dia tak akan punya muka lagi untuk memanggil Aisah sebagai gurunya.
Paulus Hong juga sedang meluncur kesini dengan tergesa-gesa. Dia harus meninggalkan rapat penting yang sedang dia lakukan di Singapura. Baginya, masalah ini jauh lebih penting dibandingkan meeting itu. Karena masalah ini berhubungan erat dengan eksistensi marga Hong secara keseluruhan.
“Bu...” bisik salah seorang dokter muda ke telinga Cynthia.
Muka Cynthia lalu terlihat terkejut untuk sesaat tapi sedetik kemudian berubah memerah karena menahan emosi, “Minta security menyeretnya kesini! Jangan sampai dia lolos,” geram Cynthia ke arah si dokter.
“Apa tindakan yang kita ambil untuk Bu Nurul?” tanya sang Dokter.
“Biarkan dulu terbaring di meja operasi. Rapikan sekelilingnya. Semoga keajaiban masih ada,” kata Cynthia pelan.
Tak lama kemudian dua orang security menangkap seorang gadis cantik yang mengenakan pakaian seorang perawat. Dia adalah salah satu perawat yang tadi membantu proses persalinan Nurul dan dialah yang bertugas untuk menyuntikan obat bius ke tubuh Nurul.
“Hei kau!! Berdoalah semoga Nurul masih bisa diselamatkan. Kalau tidak, kamu dan semua keluargamu, akan menemani Nurul ke alam kubur,” bisik Cynthia pelan dan membuat tubuh sang perawat bergetar ketakutan.
Sang Perawat jelas tahu kalau Cynthia tak bercanda.
Setelah dia selesai melakukan operasi bersama timnya tadi dan meninggalkan ruang operasi, seharusnya saat itulah obat bius mematikan yang dia suntikkan ketubuh Nurul bekerja.
Sang Perawat tahu kalau akan terjadi sedikit kepanikan dan keramaian disana sini, tapi setelah itu semuanya akan berakhir, dia bisa pulang kerumah lalu akan mendapatkan imbalannya.
Tapi yang terjadi sekarang sungguh diluar dugaannya.
Rumah sakit mengalami closed down. Tak ada satu orang pun yang diijinkan untuk meninggalkan rumah sakit ini baik itu tamu ataupun karyawan. Bahkan untuk staff level manajemen sekalipun.
Cynthia Hong langsung meng-override semua pengambilan keputusan di tempat ini. Semua manajer dicabut kewenangannya untuk memberikan keputusan apapun dan dikumpulkan ke satu tempat.
__ADS_1
Para karyawan juga tidak diperkenankan untuk meninggalkan ruangan tempatnya bekerja kecuali yang bertugas untuk melayani pasien. Sekuriti hilir mudik dengan muka sangar dan siap menangkap siapa pun yang bertingkah sedikit mencurigakan.
Saat itulah, sang Perawat tahu kalau dia sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dia mencoba menghabisi nyawa seseorang dengan status yang sangat penting, jauh di atas apa yang dia bayangkan.