Munding - Legenda Serigala Petarung

Munding - Legenda Serigala Petarung
Chapter 109 - Latihan Pagi


__ADS_3

“Aku tidak mau lagi melakukan itu!!” kata Kusnadi kepada lawan bicaranya melalui telpon.


“Dia itu cuma bocah kelas 2 SMA. Kau pikir dia akan serius menghabisi nyawamu seperti ancamannya?” jawab seorang laki-laki yang ada di seberang sana dengan nada geram.


“Aku tidak mau. Titik. Silahkan cari orang lain!” jawab Kusnadi tegas sambil mematikan panggilan telepon barusan.


Kusnadi tidak peduli apapun lagi. Persetan dengan semuanya. Tatapan mata Munding yang dia lihat tadi siang di sekolah adalah hal paling menakutkan yang pernah dia alami seumur hidupnya.


Kusnadi tahu, sekalipun orang itu berjanji akan menjamin keselamatannya, tapi saat tadi siang dia berhadapan langsung dengan Munding, bocah itu memang benar-benar mempunyai niatan untuk menghabisi nyawanya.


Dan kalau Munding memang benar melakukan ancamannya siang tadi, janji tinggalah janji. Kusnadi sudah keburu meregang nyawa saat ‘mereka’ datang untuk menyelamatkannya ke Harsa.


\=\=\=\=\=


“Orang kita sudah tidak mau lagi ‘berdagang’ Pak,” kata seorang laki-laki berambut gondrong dan memakai anting-anting di telinga kirinya kepada atasannya.


Si Perlente menarik napas dalam dan melihat ke arah luar jendela kantornya yang ada di lantai dua. Setelah itu dia melambaikan tangan kearah anak buahnya, tanda agar si anak buah tadi meninggalkan ruangannya.


Laki-laki gondrong itu keluar dari ruangan si Perlente dan menutup pintunya. Sebuah papan nama terbuat dari mika hitam tampak tergantung di pintu ruangan tersebut. Tulisan berwarna putih dapat terbaca dengan mudah di mika hitam berbentuk persegi panjang itu.


Kombes Yusuf Budi Setia.


\=\=\=\=\=


Keesokan harinya.


Nia dengan penuh semangat berangkat ke kantornya pagi ini. Hari ini, semua anggota tim kelelawar akan berkumpul dan sedikit melakukan pemanasan fisik sebelum mereka akan mengeksekusi misi mereka besok.

__ADS_1


Nia sangat yakin akan kemampuan bela dirinya. Dia adalah salah satu dari empat orang yang berhasil melakukan awakening dan menjadi serigala petarung dalam tim Kelelawar. Apalagi dia satu-satunya wanita yang mampu melakukan itu. Nia sangat bangga sekali dengan prestasinya.


Sekalipun Nia mungkin bisa dikatakan yang terlemah dari keempat orang serigala petarung lainnya, tapi dibandingkan 8 orang sisanya dari tim kelelawar, Nia dapat mengalahkan mereka semua. Dan dia senang sekali saat Guru memintanya untuk menjadi lawan latih tanding rekan-rekannya itu.


\=\=\=\=\=


Pagi ini, Munding bangun seperti biasanya. Dia mengambil air wudhu, menunaikan sholat subuh, kemudian berganti baju latihan dan berjalan menuju ke kebun mangga di belakang rumah Pak Broto.


Ketika Munding sedang menundukkan kepala untuk berdoa sejenak sebelum memulai latihan rutinnya, dia merasakan ada seseorang yang sedang mengawasinya. Munding mengakhiri doanya dan mulai meningkatkan kewaspadaannya.


Munding tetap berpura-pura kalau dia belum menyadari kehadiran orang itu. Dengan langkah pelan dan pasti, Munding menuju ke pohon mangga yang dibalut dengan tali itu dan melakukan sedikit gerakan pemanasan di sana.


Sepuluh menit kemudian, Munding mengambil kuda-kuda dan bersiap untuk melakukan latihan repetisi pukulannya ketika tiba-tiba Munding merasakan ancaman bahaya dari sisi kanannya.


Sebuah bayangan berwarna hitam bergerak sangat cepat dan melesat ke arah Munding. Munding yang memang sudah siaga dari tadi, dengan tenang menggeser langkah dan mengubah posisinya untuk menghadap ke arah musuh yang menyerangnya itu.


Munding cuma tersenyum tipis dan mengaktifkan mode tarungnya.


Ketika Munding kembali merasakan sensasi familiar di seluruh permukaan tubuhnya akibat tekanan saat memasuki mode tarung, Munding dapat dengan jelas melihat sosok yang menyerangnya tadi.


Dia mengenakan baju hitam, mulai dari atas sampai ke bawah, mukanya ditutupi oleh kain berwarna hitam. Rambutnya diikat ke belakang. Dua buah tonjolan terlihat jelas di dadanya. Lumayan besar ukurannya, gumam Munding.


Munding tahu kalau penyerangnya ini adalah seorang wanita. Dan melihat dari ketidak stabilan intent yang dipancarkan dari tubuh si penyerang ini. Munding tahu kalau dia adalah serigala petarung tahap awakening.


Si gadis yang memakai penutup muka ala ninja itu sangat terkejut ketika melihat Munding bisa mengimbangi kecepatan geraknya, tapi dia sama sekali tidak merasakan ada intent serigala petarung dari tubuh Munding.


Kebingungan jelas terlihat dari sorot matanya, tapi dia sudah mengambil tindakan dan dia harus menyelesaikan misi ini.

__ADS_1


Si Gadis mengambil sebuah pisau yang terselip di pinggangnya dan merebahkan badannya sembari maju ke arah Munding.


Munding masih tetap dengan kuda-kuda bertahannya dan melirik ke semua gerak-gerik si Gadis. Saat si Gadis berhasil mendekati Munding, dengan cepat dia mengayunkan pisau kecil yang dipegangnya melintang dari bawah ke atas.


Munding mundur selangkah dengan pelan. Tebasan sabetan pisau si Gadis meleset dan tidak mengenai Munding. Ketika posisi tangan si Gadis yang memegang pisau masih berada di atas setelah melakukan sabetan tadi, Munding yang awalnya melangkah mundur, tiba-tiba maju dan melakukan tendangan sabit pelan ke arah perut si Gadis.


Munding sama sekali tidak berniat untuk menghabisi penyerangnya ini. Dia tidak tahu siapa dia dan tidak tahu apa tujuannya, setidaknya dia ingin tahu alasan si Gadis melakukan itu.


Si Gadis yang melihat tendangan Munding ke perutnya berusaha menghindar tapi tendangan itu sangat cepat. Bahkan lebih cepat dari gerakan si Gadis menyabetkan pisaunya tadi.


Si Gadis juga mulai bertanya-tanya, betapa mudahnya Munding menghindari sabetan pisauku dan betapa cepatnya tendangan kaki kanannya bergerak. Bukankah kita berdua sama-sama dalam mode tarung?


Kenapa seolah-olah dia bergerak dengan lebih cepat dan lebih leluasa daripada aku?


Sebelum pertanyaannya itu terjawab, si Gadis merasakan rasa sakit di perutnya yang membuatnya merasa mual dan ingin muntah. Tubuhnya bergerak ke belakang karena tendangan itu dan setelah melayang sejauh 3 meter, Si Gadis jatuh terlentang di tanah.


Si Gadis keluar dari mode tarung dengan sendirinya ketika dia terkapar di tanah barusan. Pisau yang digenggamnya juga terjatuh ke tanah. Si Gadis berusaha menekan rasa sakit dan mual yang mengaduk-aduk lambungnya gara-gara tendangan Munding tadi dan mencoba untuk bangkit dari tanah.


Setelah berusaha dengan susah payah, si Gadis akhirnya berhasil duduk di tanah dan setelah berhasil melakukan itu dia memuntahkan darah dari mulutnya.


Munding berjongkok di depan si Gadis dan melihatnya, “ini rumah seorang Jenderal, berani sekali kamu, menyelinap masuk disini?”


Si Gadis masih terbatuk-batuk kecil dan memegangi perutnya, dia menatap Munding setengah tak percaya, “kamu. Kamu beneran sudah ter‘inisiasi’ ?” tanya gadis itu dengan suara bergetar.


Munding meraih penutup muka yang dipakai si Gadis dan menariknya, meskipun si Gadis berusaha untuk mencegah tangan Munding, tapi Munding bergerak lebih cepat daripada dia. Munding pun melihat seraut wajah gadis yang dia kenal.


Laras.

__ADS_1


__ADS_2