
Matahari sudah berada di ufuk senja. Sinar jingga perlahan memenuhi langit petang itu. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sepuluh perusahaan telah memberikan paparan tentang perusahaan dan proposal yang mereka ajukan. Safaraz Corporation sebagai investor utama dan Wetselaar Internasional, Tbk hanya akan memilih lima perusahaan yang akan terlibat dalam proyek terbaru mereka sekaligus menerima investasi dari mereka.
Meeting pun berakhir, selanjutnya tim dari Safaraz Corporation akan melakukan screaning dan seleksi lebih lanjut untuk menentukan perusahaan yang akan lolos seleksi dan terlibat dalma proyek mereka.
Satu persatu perwakilan dari perusahaan tersebut kemudian undur diri. Sebelum mereka keluar dari ruangan meeting, mereka unduh diri dengan membungkukkan badannya kepada Zafier. Zafier hanya menganggukkan kepalanya.
Hingga akhirnya hanya tinggal Zafier dan anggotanya saja di dalam ruangan meeting tersebut. Zafier masih nampak terlibat pembicaraan serius dengan temannya. Sepertinya tidak ada tanda-tanda sama sekali akan beranjak dari ruangan meeting hotel.
Sheza mulai sedikit gelisah. Ia memang bukan tipe orang yang bisa tenang menunggu tanpa melakukan aktivitas apapun. Ia adalah seorang workaholic. Baginya waktu adalah sesuatu yang berharga. Oleh sebab itu ia harus mengisinya dengan pekerjaan yang menghasilkan. Akhirnya Sheza memberanikan diri untuk pamit pada Zafier, bosnya.
"Maaf tuan!, Apakah masih ada lagi yang anda butuhkan?", tanya Sheza sopan.
Sejenak Zafier dan Arsen yang sedang berbincang menatap netra Sheza yang berwarna Hazel itu.
Tanpa sadar Zafier menyentuh dadanya. Entah kenapa Zafier kembali merasakan debaran yang membuatnya merasa kurang nyaman. Zafier kemudian mengalihkan pandangannya dari netra hazel itu.
"Tidak nona Arshaka, terima kasih atas kehadiran anda. Silahkan jika anda ingin kembali lebih dahulu", ujar Zafier dengan suara beratnya.
Sebenarnya semenjak Sheza memberanikan diri hendak pamit dari ruangan itu. Sepasang netra hitam yang dimiliki Arsen, yang saat itu sedang duduk tepat di samping Zafier, nampak tak berkedip sama sekali. Mulutnya nyaris terbuka, ekspresinya benar-benar shock seolah tidak mempercayai apa yang sedang dilihatnya saat ini. Ia seolah tidak percaya dengan apa yang sedang berada tepat di depannya saat ini .
__ADS_1
Tepat setelah berpamitan dengan Zafier, Sheza kemudian mengambil ancang-ancang akan berjalan keluar dari ruangan. Tapi ia bukan kaget ketika ketika merasakan seseorang menarik tangannya dengan kuat. Sheza tersentak kaget, reflek tubuhnya langsung berbalik dan berhadapan langsung dengan orang yang menarik paksa tangannya. Meski ia sangat kesal, ia berusaha untuk bersikap sopan, karena yang menarik tangannya ternyata adalah sahabat bosnya sendiri.
Zafier yang menyaksikan kejadian itu juga tidak kalah terkejut. Reflek ia menepis tangan yang menarik tangan Sheza dengan kuat. Tangan yang tak lain ternyata milik Arsen sahabatnya.
Arsen cukup terkejut mendapati respon Zafier, yang sama sekali di luar dugaannya. Arsen berpikir bahwa Sheza hanyalah anak buah Zafier saja, rasanya respon Zafier barusan sedikit berlebihan. Namun ia tidak punya waktu untuk merespon tindakan Zafier tadi. Ia lebih fokus pada Sheza.
"Maaf nona", ujar Arsen. "Apakah nona masih mengingat aku?", tanya Arsen penuh harap.
Sheza menatap Arsen. Wajahnya masih kesal. Ia mengamati Arsen dengan seksama, mencoba mengingat-ingat siapa pria yang berada di hadapannya, dimana mereka pernah bertemu sebelummya. Namun Sheza hanya menggelengkan kepalanya. Ia mencoba tersenyum meski masih merasa kesal.
"Maaf tuan, saya tidak ingat siapa anda", ujarnya sopan.
Arsen merasa sedikit ragu. Ia kuatir dirinya yang salah orang, mungkin wanita yang saat ini berada di hadapannya, memang bukanlah wanita yang bekerja di perusahaannya waktu itu. Untuk menutupi rasa malunya Arsen berucap "Maaf nona, mungkin aku memang salah orang".
"Baik tuan, tidak apa-apa, saya permisi dulu tuan Zafier", pamitnya lagi sambil tersenyum dan membungkukkan pada Zafier.
Setelah Sheza meninggalkan ruangan meeting, saat ini hanya tinggal mereka bertiga di dalam ruangan.
"Kau kenapa Arsen?" tanya Zafier penuh selidik. Ia masih sedikit kesal melihat tingkah laku Arsen tadi terhadap Sheza. "Jangan bilang kalau itu adalah taktik mu untuk menggoda CFO-ku". Mata Zafier menatap tajam pada Arsen. Arsen sedikit gelagapan ditatap seperti itu.
__ADS_1
"Kau jangan menuduhku menggunakan cara murahan itu Zafier", Arsen sedikit kesal.
"Kau ingat aku pernah menceritakan seseorang padamu, sewaktu kau mengunjungi papiku di kota J. Kau ingat wanita yang aku ceritakan padamu. Wanita yang bekerja di cabang perusahaan di kota P ini, perusahaan milik saudara sepupuku itu. Kau ingat ceritaku tentang wanita yang membuat jantungku seperti akan melompat keluar, karena berdetak dengan sangat kencang. Wanita yang membuat lidahku jadi kelu, otakku tidak bisa memproses informasi dengan cepat, wanita yang membuat, aku terpesona . Wanita yang tidak bisa aku lupakan sampai sekarang. Mata hazelnya yang indah itu selalu membayangiku. Ketika aku sudah tidak kuat lagi menahan perasaan, akhirnya kuputuskan untuk melepas semua gengsi dan memerintahkan Ken mencari informasi tentang wanita itu, ternyata dia sudah mengundurkan diri dari perusahaan, Ken kehilangan jejak, tidak bisa menemukan informasi tentang dirinya. Aku menyesal terlalu lama berfikir dan mengambil keputusan", Arsen menarik nafasnya sejenak, sebelum melanjutkan kembali.
"Kau tahu Zafier, CFO-mu itu sangat mirip dengan wanita yang aku ceritakan itu. Kalau aku boleh tahu siapa nama CFO-mu itu?", tanya arsen antusias.
Zafier hanya menatap Arsen yang sedari tadi berbicara tanpa jeda. Ia tidak berkomentar sama sekali.
"Shezan Shaziya Arshaka", jawab Zafier pendek dan terkesan dingin. Jawaban Arsen diiringi dengan mata Arsen yang terbelalak kaget, dengan mulut kembali ternganga. Dia memegang dadanya, seolah ingin menenangkan jantungnya.
Kening Zafier berkerut penuh tanda tanya. Netranya tak lepas menatap Arsen penuh selidik.
"Ya tuhan....Zafier, dia memang wanita yang aku ceritakan itu", ujar Arsen nyaris berteriak, ia langsung berdiri dari kursinya, mengambil ancang-ancang hendak mengejar Sheza.
Zafier tak kalah terkejut melihat respon Arsen. Tapi ia berusaha mengendalikan dirinya. Ia menatap Carlos yang berada disampingnya. Ia mengangguk pada Carlos. Carlos dengan sigap menahan Arsen. Langkah Arsen tertahan. Merasa dihalangi ia menatap Carlos dengan tajam.
"Arsen, kau duduklah di sini dahulu. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu", Arsen menatap Zafier penuh tanda tanya.
"Ada apa lagi Zafier, biarkan aku mengejarnya, sudah lama aku kehilangan jejak, sudah lama aku mencarinya", Arsen nampak mulai kesal.
__ADS_1