My Little Gwen

My Little Gwen
Merindukan Gwen


__ADS_3

Malam terus beranjak. Nyaris dini hari. Zafier masih berada di ruangan bar yang ada di mansion ayahnya. Meskipun ia minum sebanyak minuman yang diteguk Arsen, namun tidak ada tanda-tanda bahwa Zafier kehilangan kesadarannya. Ia menatap prihatin pada tubuh Arsen yang sudah tertelungkup di meja marmer bar itu.


Ia lalu meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang. Beberapa saat kemudian pintu ruangan itu terbuka. Carlos dan seorang pengawal lainnya nampak bergegas berjalan mendekati Zafier dan Arsen. Zafier kemudian menganggukkan kepalanya. Begitu menerima kode perintah dari Zafier, Carlos dan pengawal itu membopong tubuh Arsen. Mereka berjalan keluar ruangan, membawa tubuh Arsen menuju ke kamar tamu.


Zafier sendiri kemudian berjalan gontai ke kamarnya sendiri. Perlahan Zafier membuka pintu kamarnya. Begitu sampai di dalam kamar, ia terus berjalan menuju balkon kamarnya. Ia duduk di sana menikmati hembusan angin malam. Tiba-tiba pintu kamar Zafier diketuk seseorang. Pintu itu terbuka, diikuti oleh Adolf yang masuk dengan membawa sebuah nampan di tangannya.


"Tuan muda maaf mengganggu, saya bawakan sup, jus, teh jahe dan beberapa cemilan untuk tuan, untuk meredakan efek alkohol yang tuan minum", ujar Adolf dengan sopan.


Zafier mengalihkan pandangannya pada Adolf.


"Terima kasih paman, letakkan saja di atas meja itu", ujar Zafier nampak acuh tak acuh.


Adolf pun meletakkan semua hidangan di atas meja. Kemudian ia berdiri di samping meja seolah menunggu sesuatu.


Perlahan Zafier beranjak dari kursi balkon. Ia berjalan ke dalam kamarnya. Ia menatap semua makanan dan minuman yang telah dibawa Adolf.

__ADS_1


"Silahkan tuan muda. Apakah masih ada yang tuan muda butuhkan?", tanya Adolf sopan. Zafier menatap lelaki lima puluhan tahun itu, yang masih setia bekerja di mansion ayahnya. Zafier tahu bahwa Adolf hanya ingin memastikan bahwa ia minum atau memakan hidangan itu.


"Tidak paman, silakan paman beristirahat", jawab Zafier. Adolf pun undur diri, dengan sebelumnya membungkukkan badannya pada Zafier.


Dari dulu Zafier memang tidak suka pelayan lain memasuki kamarnya. Bahkan dari ia kecil pun hanya Adolf ataupun sang mommy yang diperbolehkan memasuki kamarnya. Tidak ada satupun pelayan lain yang bisa memasuki kamarnya dengan bebas.


Zafier memang tidak suka berinteraksi dan berdekatan dengan orang lain secara bebas, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa berdekatan dengan Zafier.


Zafier kembali menatap hidangan yang tersaji di depannya. Ia tersenyum, semua pemandangan ini mengingatkannya pada sang mommy. Ia ingat, mommynya tidak akan keluar dari kamar itu sebelum ia memastikan bahwa Zafier menghabiskan semua hidangan yang dibawanya. Zafier mengambil jus. Ia duduk di sofa dan mulai meneguk minumannya. Pikirannya mulai menerawang.


Permasalahan Arsen sedikit menyita pikirannya. Entah kenapa ia merasa cemburu dengan perasaan Arsen pada Sheza. Padahal ia menyadari Sheza sendiri juga sesuatu yang sangat sulit untuk bisa diraihnya. Jika persaingan itu terjadi dengan orang lain maka dipastikan Zafier tidak akan pernah mundur walau satu jengkal pun. Namun saat ini yang menjadi rivalnya adalah ayahnya sendiri, apalagi kondisinya saat ini juga belum bisa dipastikan stabil. Itulah mengapa ia sangat takut untuk membangun perasaan itu menjadi lebih dalam lagi terhadap Sheza. Ia sedang mencoba mengikhlaskan.


Zafier masih dilanda keraguan. Apakah perasaan atau debaran jantung yang ia rasakan ketika berdekatan dengan Sheza. Apakah itu murni perasaannya pada Sheza atau hanya merupakan bayang-bayang dari netra hazel Sheza yang mengingatkannya pada netra hazel Gwen.


Menatap netra hazel Sheza seakan membuat ia terkurung pada sebuah perasaan dan kerinduan yang sudah bertahun-tahun lamanya. Zafier tidak bisa menjabarkan seperti apa perasaan itu, namun itu satu perasaan yang membuatnya nyaman seolah mampu mengobati kerinduannya selama ini. Dan yang pasti ketika ia berdekatan dengan Sheza, ia sama sekali tidak merasakan jijik, sebagaimana halnya seorang penderita OCPD (lihat bab 25 untuk penjelasannya).

__ADS_1


Zafier memang memiliki kesulitan untuk bisa merasakan kenyamanan ketika berhubungan dekat dengan seorang wanita. Itulah kenapa ia begitu dingin ketika berhadapan dengan seorang wanita. Namun anehnya hal itu tidak dirasakannya terhadap Sheza. Ia merasa begitu nyaman ketika berdekatan dengan Sheza. Tidak ada penolakan sama sekali dari dalam dirinya. Tidak ada perasaan jijik ketika berdekatan dengan Sheza. Karena dalam beberapa kali kesempatan, Zafier pernah bertabrakan dengan Sheza, bahkan bersentuhan langsung dengan Sheza, dan tubuhnya tidak memberikan reaksi penolakan terhadap kedekatan itu.


Zafier pernah berpikir bahwa siapapun wanita yang bisa membuat ia nyaman, berdekatan dengannya maka ia akan langsung menikahi wanita itu. Namun kondisinya saat ini sangat sulit. Sheza adalah calon istri ayahnya. Zafier memijat kepalanya, ia merasa pusing dengan kondisi yang sedang dihadapinya saat ini. Apalagi ia sadar bahwa usianya sebentar lagi sudah melewati kepala tiga.


"Ya Tuhan, apa aku memang tidak ditakdirkan untuk berpasangan", Zafier meringis.


Sebenarnya Zafier juga tidak mau berada dalam kondisi seperti ini. Ia sendiri pernah mencoba untuk membuat hubungan dekat dengan beberapa wanita. Bahkan ia pernah menyuruh Gavin, asisten sekaligus sahabatnya di Belanda untuk mencari wanita yang benar-benar murni untuk melakukan uji coba, apakah ia bisa berhubungan dekat dengan mereka tapi lagi-lagi tidak berhasil bahkan sebelum mereka berupaya untuk menggoda Zafier. Saat mereka hendak mendekati Zafier, perasaan jijik membuatnya mengusir wanita-wanita itu dari hadapannya. Adik kecilnya benar-benar tidak bereaksi sama sekali.


Zafier nyaris frustrasi. Ia juga sudah melakukan konsultasi dengan beberapa dokter spesialis di Belanda, namun tidak ada masalah dengan organ reproduksinya.


Ia berusaha melupakan semua persoalan itu dengan bekerja. Ia benar-benar mencurahkan seluruh perhatian pikiran dan fisiknya untuk bekerja dan mengembangkan bisnisnya sampai sebesar saat ini.


Kondisinya saat ini malah lebih sibuk daripada di Belanda. Kerjaan bisnis sang daddy yang sangat banyak dan merambah berbagai aspek membuat pikiran Zafier lebih terfokus ke sana, belum lagi kondisi sang daddy yang belum stabil, serta rencananya untuk menghancurkan orang yang telah membuat sang daddy menjadi seperti sekarang benar-benar menyita seluruh perhatiannya.


Zafier berjalan menuju meja kecil di samping ranjangnya ia mengambil foto yang ada di sana. Ia menatap gadis kecil yang berada di dalam foto tersebut.

__ADS_1


"Aku merindukanmu", bisiknya lirih. Ia mengelus pelan wajah gadis kecil cantik itu dengan tetapan penuh kasih sayang.


Ia kembali meletakkan pigura foto itu di tempatnya semula, lalu merebahkan diri di atas ranjang. Ia memejamkan matanya untuk menuju alam mimpinya dan berharap bisa bertemu gadis kecilnya dan juga cinta pertamanya di alam mimpi.


__ADS_2