
Setelah pertemuan Sheza dan Seif berakhir, mereka pun berpisah di parkiran resto. Seif kembali bekerja, sementara Sheza memutuskan untuk kembali ke hotel.
Sepanjang perjalanan Sheza tampak bahagia, karena kerinduannya pada sang kakak terobati. Tak terasa kendaraan yang membawa Sheza telah memasuki parkiran hotel. Sheza bergegas turun dari mobil. Ia memasuki pintu masuk hotel lebih dahulu, sementara Karen memilih menjaga jarak. Menurut informasi yang Karen terima, akan ada kejutan di dalam sana, jadi Karen diinstruksikan menjauh dari Sheza sebisa mungkin.
Sheza sendiri tidak menyadari Karen yang tertinggal cukup jauh di belakang. Sheza nampak fokus pada ponsel yang dipegangnya. Ia sepertinya sedang mengirim pesan pada seseorang.
Sejak Sheza melewati pintu masuk hotel, sepasang mata hitam tajam terus menatap dan memperhatikan setiap gerak-geriknya. Mata hitam itu tampak berbinar. Sheza sendiri sepertinya tidak menyadari hal tersebut.
Mata Sheza tetap saja fokus pada ponsel yang dipegangnya, meski ia sudah memasuki pintu masuk hotel. Sheza tidak menyadari seorang pria dengan tubuh tinggi dan atletis tepat berada di depannya, pria itu tidak beranjak. Meski ia tau bahwa dirinya akan ditabrak, ia tetap berdiri di jalur jalan yang akan dilalui Sheza.
Dan seperti yang sudah bisa diperkirakan sebelumnya, tak ayal lagi Sheza menabrak pria itu dengan cukup kuat. Si pria tidak bergeming sedikitpun, namun Sheza yang sedang tidak dalam kondisi siap hampir saja terjatuh, jika sepasang tangah kokoh itu tidak bergerak cepat menahan pinggangnya dengan kuat.
Sheza yang berpikir akan jatuh memejamkan kedua matanya. Ia sudah bersiap menahan segala rasa sakit akibat terjatuh ke lantai. Tapi Sheza tidak merasakan kesakitan, ia merasa ada yang sesuatu yang menahan tubuhnya, lebih tepatnya lagi ada tangan yang menahan pinggangnya.
Perlahan Sheza membuka kedua matanya. Bertepatan pula dengan sepasang mata hitam tajam yang tengah menatapnya. Untuk beberapa saat keduanya terdiam pada posisi ambigu tersebut. Mata mereka saling bertatapan. Sheza terpesona pemandangan di depannya. Seseorang berwajah tampan dengan sorot mata dingin. Sheza terpaku tak bergerak. Ia tidak menyadari posisinya yang berada begitu dekat dengan si pria. Sampai kemudian si pria, yang tidak lain adalah Zafier, bicara dengan santai.
"Sudah puas menatapku nona? Tubuh anda cukup berat", ujarnya sambil tersenyum jahil.
__ADS_1
Seketika Sheza pun tersadar, wajahnya memerah, malu. Rasanya ingin sekali ia menenggelamkan diri ke dasar bumi. Bisa-bisanya ia terpesona pria yang ditabraknya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, tubuhnya dibilang berat. Sheza segera melepaskan diri dari pegangan Zafier, menyeimbangkan tubuhnya agar bisa berdiri dengan baik.
'Aaaargh....pria sialan. Dia bilang aku berat. Iish kalau bukan karena aku yang salah menabraknya, sudah aku tendang dia. Eh...tapi dia ganteng banget, gak tega nendangnya. Really, I melted', batin Sheza.
Sheza kembali menatap Zafier, kali ini dengan pandangan kesal, wajahnya cemberut, sejurus kemudian, ia berkata, "Aku tidak menyangka tubuh sebesar anda, ternyata lemah". Selanjutnya Sheza melenggang pergi dengan cuek.
'Hmm... tapi kenapa wajahnya tidak asing ya, rasanya seperti pernah bertemu dengannya, tapi dimana ya?, Sheza berusaha mengingat.
Sementara itu, telinga Zafier langsung merah mendengar ucapan Sheza yang merendahkan. Ruben sendiri sudah menahan nafas mendengar hinaan Sheza. Ia kuatir si bos mengamuk. Tapi anehnya, ternyata Zafier tidak marah, ia malah tersenyum aneh.
"Apa anda ingin menguji kekuatanku nona?", tanya Zafier dengan suara cukup keras. Sheza menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang,. matanya menatap mata hitam dingin itu kembali. Sheza cuek dengan pandangan orang-orang di sekitar mereka berdua, yang terpengaruh suara Zafier yang cukup keras tadi.
Zafier terus menatap mata hazel Sheza. Zafier terbuai mata itu. Zafier tidak tau kenapa, tapi ketika menatap mata hazel itu, ia merasa tenang. Apa karena mata itu mengingatkannya pada mata Gwen. Apa karena ia sangat merindukan Gwen, maka dengan menatap mata itu, seolah kerinduannya pada Gwen selama bertahun-tahun sedikit terobati.
"Aku tidak yakin anda cukup kuat untukku tuan", ujar Sheza tepat di depan Zafier. Mereka kembali beradu pandang. Jika Sheza menatap Zafier dengan pandangan kesal. Zafier menatap Sheza dengan pandangan sorot mata terpesona.
Zafier tersenyum smirk. Ia berjalan mendekati Sheza, tepat ketika ia berada tepat disamping Sheza, ia membisikkan sesuatu di telinga Sheza, "Kau boleh mencobanya terlebih dahulu nona cantik, sebelum mengatakan aku tidak cukup kuat untukmu". Nafas Zafier yang hangat ketika ia berbisikkan di telinga Sheza, sontak membuat Sheza merinding. Wajahnya kembali bersemu merah. Sementara Zafier berjalan menjauh, setelah berbisik di telinga Sheza.
__ADS_1
Tidak ada yang tau jika Zafier sedang berusaha menenangkan jantungnya yang tengah berdegup dengan kencang, pada waktu ia mendekat dan berbisik di telinga Sheza.
Semua tingkah laku Zafier tidak lepas dari perhatian Ruben. Berkali-kali Ruben menggelengkan kepalanya, seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya. Mulai dari cara si bos yang mencari perhatian wanita itu dengan cara yang menurut Ruben agak sedikit norak dan tidak biasa. Belum lagi senyum yang selalu muncul di wajah si bos sungguh itu semua benar-benar bukan style si bos, pikir Ruben.
Sementara itu di sudut lobby hotel, Karen pun tengah memperhatikan adegan demi adegan. Benar-benar bodyguard payah, membiarkan sang nona berjuang sendirian, tapi mau bagaimana lagi, instruksi mengharuskannya menjadi pengamat saja. Kalau Sheza sampai tau, mungkin dia sudah habis diomeli dan dijadikan samsak hidup.
Ketika Karen melihat Sheza mulai menyadari kalau ia tidak berada didekat Sheza, Karen pun bergegas mendekati Sheza dengan tampang tak bersalah, padahal wajah Sheza saat itu sudah terlihat. sangat kusut.
Kemudian Karen bertanya seolah tidak tau apa yang terjadi, "Ada apa nona? Kenapa wajah nona seperti itu? ".
" Aiish, kau kemana saja? Aku benar-benar sial hari ini Karen, aku bertemu orang yang sangat menyebalkan", ujar Sheza kesal.
"Apa perlu aku menghajarnya nona? Tinggal tunjuk saja siapa orangnya", tanya Karen sambil menggosok kedua tangannya dengan penuh semangat.
Sheza melotot pada Karen. Ia segera menyeret Karen dari lobby hotel, khawatir Karen menyerang pria tadi, dan ia akan semakin menjadi pusat perhatian di sana karena hal tersebut.
"Kau ini Karen ... tidak semua masalah harus diselesaikan dengan otot. Ayo kita ke kamar, aku benar-benar lelah", keluh Sheza.
__ADS_1
"Siap nona", jawab Karen dengan patuh. Karen bersyukur Sheza menolak tawarannya. Ia tidak bisa membayangkan kalau harus berhadapan dengan tuan muda Zafier, dia masih ingin hidup lebih lama.