
Zafier menatap jalanan kota J. Perasaannya tidak terlalu baik hari ini. Ia ingat bahwa Sheza sudah kembali pulih.
Seberapa berat pun usahanya untuk menahan keberadaan Sheza di sisinya, bagaimanapun juga hari ini pasti tiba.
Zafier menghela nafasnya dengan berat. Helaan itu semakin terasa berat ketika ia mengingat bahwa ia tidak akan dapat melihat keindahan mata hazel itu lagi, bahwa ia tidak pernah bisa melihat senyum itu lagi. Semua terasa begitu berat bagi Zafier.
Ia akan kehilangan sosok yang sudah beberapa malam ini selalu melintas di benaknya. Seseorang yg tanpa Zafier sadari telah menggantikan setiap bayangan Gwen yang menemaninya selama ini.
Sore ini Zafier memerintahkan Ruben untuk mengurus semua proses kepulangan Sheza dari klinik kemudian mengurus segala sesuatunya di hotel hingga tiket Sheza agar dia dapat kembali ke kotanya.
Zafier memang sengaja menghindari pertemuan terakhirnya dengan Sheza. Ia takut jika ia bertemu dengan Sheza untuk terakhir kalinya, maka akan semakin berat pula baginya untuk melepas Sheza.
Meski berat biarlah tidak ada pertemuan terakhir antara dirinya dengan Sheza, ia akan menganggap bahwa pertemuannya dengan Sheza adalah sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Sore ini Zafier telah memutuskan untuk kembali menempati apartemennya yang sudah ditinggalkan selama beberapa tahun. Bisa jadi Zafier hanya tidak ingin bertemu Sheza jika ia kembali ke hotel. Entahlah.... Zafier sendiri tidak dapat memahami perasaannya.
Dan akhirnya Zafier benar-benar berada di sini. Sebuah apartemen termewah berlokasi di super premium pusat kota J. Apartemen dengan deretan fasilitas berstandar hotel bintang lima. Apartemen yang dimiliki Zafier adalah apartemen spesial dengan unit berukuran paling besar, yaitu The Presidential yang menyediakan akses lift pribadi dari lobby atau parkir mobil. Apartemen dengan suguhan view kota J yang luar biasa.
__ADS_1
Apartemen yang ia tinggalkan setelah Ia memutuskan untuk memulai usahanya dan menetap di Belanda. Dulunya Zafier memang sering ke kota J untuk ikut mengurus beberapa bisnis sang daddy di kota J. Dan Zafier memang memilih menginap di apartemen dibanding di mansion keluarganya.
Zafier memasuki apartemennya. Ia mengamati setiap sudut apartemen itu, tak ada satu pun yang berubah semua masih sama seperti ketika ia meninggalkan apartemen ini untuk yang terakhir kalinya.
Hanya saja Apartemen ini kelihatan bersih sepertinya sang daddy selalu memerintahkan seseorang untuk membersihkannya secara berkala. Hmm...terima kasih daddy, Zafier tersenyum ketika mengingat sang daddy. Sudah lama sekali rasanya, ia tidak bertemu sang daddy.
Zafier berjalan menuju kamarnya. Perlahan Ia membuka pintu kamar itu. Begitu pintu terbuka ia memandang berkeliling ke setiap sudut kamar, meneliti isi kamarnya. Kemudian perhatiannya langsung tertuju pada pigura yang terletak di samping tempat tidur. Tepat di atas sebuah meja nakas kecil.
Zavier berjalan mendekat ke arah ranjang. Ia terdiam menatap sendu sebuah foto, ia mengambilnya kemudian duduk di ranjang itu. Matanya tidak berhenti menatap foto yang ada di dalam pigura itu. Perlahan Zafier mengusap lembut foto itu, sebuah senyuman tipis menghias wajah tampannya.
Gwen, gumamnya pelan. Seperti apa dirimu sekarang? Apakah ketika suatu saat nanti kita bertemu, pandangan mata ini masih akan sama memandangku? Apakah dirimu masih akan mengingatku? Apa dirimu akan seperti dulu bergelayut manja padaku jika kita bertemu? Perasaanku mengatakan kalau dirimu masih hidup, sama seperti perasaan mommy. Dimana dirimu saat ini Gwen? Aku sangat merindukanmu. Apa mungkin yang kurasakan pada Sheza cuma karena aku melihat dirimu dalam diri Sheza, karena lewat mata hazelnya aku seolah melihat dirimu di sana. Mungkin perasaanku pada sheza hanya karena warna mata kalian yang sama. Rasanya tidak adil buat Sheza, Gwen. Tapi apa debaran jantung ini juga hanya karena aku memandang Sheza sebagai dirimu Gwen, batin Zafier kalut.
Gwen maafkan aku, aku sendiri tidak tahu ada apa dengan perasaan ini. Apa memang sudah saatnya aku melepaskan dirimu sekarang, atau aku hanya menganggap dirimu ada di dalam Gwen ketika mata hazel itu menatapku, perang batin Zafier terus berlangsung. Zafier larut dengan pikirannya
................
Sheza tampak masih berada di dalam kamar perawatan klinik. Ia duduk di sofa dalam kamar itu. Sejenak Sheza menatap tangannya yang terluka. Rasanya sudah lebih baik. Sheza sudah memutuskan akan kembali ke kota P sore ini. Karen melaporkan bahwa seluruh proses kepulangan Sheza dari klinik telah selesai. Semua urusan bahkan sampai pada urusan kepulangan mereka ke kota P. Tiket dan semua administrasi ternyata telah diurus dan diselesaikan Ruben atas perintah dari Zafier.
__ADS_1
Sheza terdiam, sejenak dahinya berkerut seolah sedang memikirkn sesuatu. Tapi ia tidak mengatakan apapun pada Karen.
"Oiya nona, saat ini Ruben juga sedang menuju ke sini, tuan Zafier memerintahkannya untuk mengantar nona kembali ke hotel dan ke bandara", ujar Karen.
Sheza masih terdiam, ia hanya menatap Karen sambil menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua kemudian berjalan ke luar kamar perawatan. Mereka akan menunggu kedatangan Ruben di ruang tunggu klinik. Mereka berdua duduk di deretan kursi di ruang tunggu. Di ruang tunggu yang cukup luas itu, mereka bisa melihat langsung ke arah parkiran klinik.
Beberapa saat kemudian sebuah mobil Alphard memasuki parkiran klinik. Ruben tampak turun dari kendaraan tersebut. Sheza masih terus memperhatikan mobil itu, seolah berharap masih ada seseorang yang akan turun lagi dari sana. Tapi sepertinya hanya Ruben dan sopirnya yang ada di kendaraan itu, ada sedikit kekecewaan yang melintas di wajah cantik Sheza.
Ia tidak datang, gumam Sheza pelan. Ia menghela nafas kecewa. Sheza kembali terdiam, tidak ada yang bisa ia lakukan lagi. Keinginan menanyakannya langsung pada Ruben ditekan gengsi. Terlalu berat rasanya untuk diucapkan.
Karen sendiri menyadari semua itu. Ia telah mengamati Sheza sedari tadi. Ia bisa menangkap rona kekecewaan di wajah itu. Wajah Sheza tidak lagi seceria dan sebahagia ketika Zafier berada disisinya.
Sang sopir membawa semua barang-baramg Shezq ke mobil, diikuti dengan naiknya Sheza dan Karen. Mereka akan kembali ke hotel.
Sheza menatap jalanan yang dilaluinya, hatinya masih dipenuhi sejuta tanda tanya tentang ketidakhadiran Zafier saat ini, saat-saat terakhir merek berpisah, entah kapan mereka dapat bertemu kembali. Rasa yang baru akan berkembang, tapi kemudian dipaksa mati begitu saja. Sepanjang perjalanan pikiran Sheza hanya berputar di sekitar Zafier.
__ADS_1
Apa ini semua hanya perasaanku saja, apa debaran jantung ini hanya rasaku sendiri saja, apa hanya aku seorang yang mengartikan lain semua perhatiannya batin Sheza. Ia memejamkan kedua matanya, ia merasa begitu lelah, bahkan sangat lelah.
Sheza merasa sepertinya Zafier juga tidak peduli. Mungkin Zafier menganggap bahwa pertemuan singkat mereka tidak berarti apa-apa. Sheza menarik nafasnya dengan berat , kemudian menghembuskannya perlahan seolah ia ingin mengeluarkan segala beban yang ada dipikirannya.