
Kota J yang terkenal sebagai kota termacet di Indonesia cukup menyita waktu bagi Zafier. Selang hampir 50 menit di tengah kemacetan akhirnya iring-iringan mobil Lexus LM350 yang membawa Zafier beserta semua anggotanya memasuki sebuah parkiran resto termewah di kota J. A B Restaurant, resto yang mengusung tema asia ini, menghadirkan makanan khas Jepang yang difusion dengan makanan Korea, sebagai olahan kretivitas dari chefnya sendiri.
"Kita sudah sampai tuan", tukas Ruben memecah lamunan Zafier.
Zafier bergegas turun dari kendaraannya. Kemudian diikuti sang asisten dan beberapa anggota timnya, beberapa diantaranya juga merupakan bodyguardnya.
Ketika masuk mereka disambut porter resto yang segera mengantar mereka ke ruang VIP yang telah direservasi Ruben.
Sebelum masuk ke ruang VIP, sejenak Zafier mengedarkan pandangannya menjelajah sudut-sudut resto tersebut. Saat itulah secara tidak sengaja matanya menangkap satu sosok di sudut ruangan yang menarik perhatiannya.
Mata Zafier terpaku menatap seorang wanita yang sedang duduk melamun seorang diri, sepertinya tengah menunggu seseorang. Ia merasa wajah wanita itu sangat familiar baginya. Topi karena wanita itu sedang menunduk, wajahnya tidak terlalu jelas. Mata Zafier terus menatap wanita itu, ia ingin memastikan bahwa wanita yang dilihatnya adalah wanita yang sama dengan wanita di hotel tadi.
'Apa otakku sudah rusak, dimana-mana hanya wajahnya yang aku lihat', batin Zafier. Sejenak Zafier tersadar, mungkin saja itu cuma halusinasinya, karena tidak mungkin kalau wanita itu lebih dahulu sampai dari dirinya di resto ini, bisa jadi itu orang lain yang selintas miripnya saja. Oleh karena itu pandangannya langsung kembali fokus ke pintu ruang VIP resto, selanjutnya ia memilih memasuki ruangan itu.
__ADS_1
Sesampainya di ruang VIP, Surya Darmawangsa dan timnya sudah berkumpul di sana. Dan memang seperti info Ruben, disebelah Surya ada seorang gadis dengan dandanan menor dan pakaian yang sangat minim. Zafier langsung merasa jijik, apalagi mata wanita itu yang dengan sengaja mengerling nakal seolah sengaja menggoda Zafier. Zafier hanya menatap dingin wanita itu sebentar, kemudian langsung membuang muka.
Ruben yang berdiri berdampingan dengan Zafier langsung merinding melihat cara wanita itu menatap Zafier, seperti hewan buas yang mengincar mangsanya, Ruben seolah langsung tau harus memasang strategi apa untuk melindungi bosnya ini.
Zafier dengan aura dingin yang mengintimidasi didampingi Ruben perlahan berjalan mendekati meja Surya. Surya dan anaknya berdiri menyambut mereka berdua. Surya tersenyum sumringah pada Surya, ia mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan pada Zafier, Zafier membalas uluran tangan tersebut, mereka bersalaman.
"Surya Darmawangsa... ", ujarnya memperkenalkan diri. Zafier tidak menjawab, cuma mengangguk dengan wajah dingin. Zafier hendak duduk ketika kemudian suara Surya kembali terdengar. "Perkenalkan ini putri semata wayangku tuan Zafier, Sherly Darmawangsa", lanjut Surya dengan sorot mata liciknya.
Surya sudah tau siapa Zafier. Ia tau kalau Zafier seorang pengusaha keturunan Indonesia yang menetap di Belanda, perusahaannya cukup ternama di sana. Surya ingin menjerat Zafier dengan putrinya. Surya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Jika Zafier jadi menantunya, tak terbayangkan akan sekuat apa perusahaannya nanti.
Surya terkejut melihat anaknya diperlakukan seperti itu. Tapi ia tidak bisa marah, ia terpaksa menahan emosinya sementara waktu demi perusahaannya, jika tidak ingin proyek ini gagal.
Setelah proses perkenalan selesai, mereka semua langsung duduk dan membicarakan bisnis, investasi, prospek dan rencana ke depan. Zafier telah bersedia berinvestasi di perusahaan Surya setelah mempelajari track record perusahaan Surya hasil penyelidikan anak buahnya.
Seperti biasa Zafier cuma mengikuti meeting paling lama 15 menit saja, memberi persetujuan apakah akan berinvestasi atau tidak, setelah itu semua akan diambil alih Ruben beserta anak buahnya yang lain. Kemudian Zafier pun bergegas meninggalkan ruangan tersebut. Zafier merasa kehabisan udara jika terus berada satu ruangan dengan wanita yang menatapnya terus menerus seolah Zafier adalah santapan yang lezat.
__ADS_1
Surya dan Sherly yang menatap kepergian Zafier nampak sangat kecewa, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka cuma bisa pasrah.
'Tenang Surya, masih banyak waktu pertemuan dengan Zafier, ini baru permulaan, Zafier pasti bertekuk lutut dengan Sherly, jangan putus asa Surya', ujar Surya dalam hati mencoba menghibur diri sendiri.
Begitu keluar dari ruangan VIP, Zafier tanpa sadar kembali mengamati sudut dimana ia melihat wanita yang melamun tadi. Ternyata ia masih di sana. Zafier penasaran apakah itu wanita yang sama dengan wanita di hotel tadi. Untuk itu Zafier duduk tidak terlalu jauh dari wanita itu, untuk mengamatinya lebih jauh. Namun ia duduk di sudut yang aman dari jangkauan pandangan wanita itu.
Tak berapa lama Zafier melihat seorang pria datang mendekati meja dimana wanita itu berada. Wanita itu berdiri menyambut pria tersebut dengan wajah penuh kerinduan. Ketika wanita itu berdiri Zafier bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas, apalagi mata hazelnya yang indah. Wanita itu memang wanita yang sama dengan wanita di hotel tadi, meski saat ini rambutnya tergerai lepas.
Zafier bisa melihat betapa bahagia wanita itu bertemu dengan si pria, binar mata indahnya terlihat jelas. Senyumnya yang tulus pada pria itu. Zafier terpana melihat senyum itu. Wanita itu sangat cantik ketika tersenyum. Tapi sayangnya, senyum itu bukan untuk dirinya. Kesan pertama yang didapat Zafier dari wanita itu hanyalah tatapan dingin dan wajah kesal wanita itu.
Dada Zafier seketika terasa sangat sesak, oksigen seolah menipis di sekelilingnya, ketika pria itu merentangkan kedua tangannya dengan lebar, kemudian sang wanita segera menghampiri dan memeluk pria yang baru datang itu dengan sangat erat, seolah enggan melepasnya, sementara pria itu mencium kepala wanita itu dengan lembut.
Zafier merasa sangat marah dan kesal melihat adegan itu. Suatu perasaan aneh yang tidak pernah di rasakannya. Ia sakit hati melihat kedekatan wanita itu dengan si pria. Tapi kenapa, pikir Zafier, ia baru bertemu wanita jutek itu, tapi kenapa ketika melihat pria itu memeluknya, ia seperti merasa ada seseorang sedang merebut sesuatu yang dimilikinya. Rasanya Zafier ingin sekali menculik dan menyiksa si pria karena sudah menyentuh wanita itu. Zafier merasa tidak kuat melihat adegan demi adegan didepannya. Tiba-tiba ia mengalihkan pandangannya pada ponselnya. Memilih satu nomor, kemudian mengetik sesuatu.
Zafier: Ruben aku ingin membunuh seseorang saat ini....
__ADS_1