
Zafier menantap Karen dengan sorot mata dingin, ia mengamati Karen, menatap penuh selidik. Karen sontak merinding. Bapak dan anak sama-sama menakutkan, batin Karen.
Zafier bisa menebak kalau wanita ini adalah pengawal Shezan. Tapi alangkah bodohnya orang yang memerintahkan pengawal seperti ini, benar-benar pengawal lamban dan tidak berguna, batin Zafier.
"Orang bodoh mana yang mengirimmu untuk melindungi wanita ini?", tanya Zafier acuh.
Karen terkejut sekaligus kesal, tapi ia diam saja. Tidak berani menatap balik Zafier, apalagi untuk menjawab secara langsung. Ia hanya menunduk.
Ia bergumam di dalam hati, orang yang anda katakan bodoh itu adalah ayah anda sendiri, tuan. Karen meringis.
Karen sendiri sebenarnya menyesal dan merasa sangat bersalah atas kelalaiannya itu. Setelah ini ia pasti akan menjalani hukuman dari tuan Ganial.
Melihat wanita itu hanya diam dengan wajah bersalah, Zafier tidak ingin memperpanjangnya. Ia bergegas mengangkat tubuh Shezan ke mobilnya karena kendaraan yang Shezan pakai tadi tidak bisa digunakan lagi.
"Mari nona, naik ke mobilku saja kita satu arah, anda jaga Shezan di belakang, aku akan mengemudi dengan kecepatan tinggi karena Shezan perlu pengobatan sesegera mungkin", ujar Zafier dingin. Namun tersirat kecemasan dalam nada suaranya, tanpa sadar ia menyebut nama wanita itu.
Karen cukup terkejut, karena Zafier ternyata sudah mengetahui nama nonanya.
"Baik tuan, maaf merepotkan anda", ujar Karen dengan patuh.
Zafier hanya menatap Karen, masih dengan tatapan dingin. Ia tidak menjawab apapun, pikirannya fokus pada Sheza. Zafier berusaha mengendalikan diri agar kekhawatirannya tidak terlalu kelihatan.
Saat ini sebagian besar wajah Javier tertutup bayangan. Garis wajahnya yang sempurna terlihat dingin dan tegas, tidak menunjukkan emosi berlebihan, hanya saja tekanan di sekitarnya semakin lama menjadi semakin rendah dan memancarkan aura yang sunyi sehingga udara di dalam mobil terasa serasa membeku.
Zafier mengeluarkan ponsel dan menghubungi sebuah nomor tanpa ekspresi sedikitpun. "Selidiki orang-orang yang terkapar disana, alamat akan disharelock, beri mereka pelajaran", perintah Zafier tegas.
Karen terdiam, kehilangan kata-kata.
Setelah menempuj perjalanan beberapa menit, Zafier berhenti pada sebuah klinik terdekat yang di pertama dilaluinya. Ia bergegas membawa tubuh Sheza ke dalam pelukannya, selanjutnya berjalan menuju ke dalam klinik. Karen mengikuti dari belakang tanpa banyak bicara.
__ADS_1
Seorang dokter umum menghampiri Zafier, mengarahkannya untuk meletakkan tubuh Sheza di atas sebuah brankar. Perlahan Zafier meletakkan tubuh Sheza, kemudian mendorong brankar bersama yang lain.
Ketika sang dokter ingin memeriksa Sheza, Zafier menahan tangan dokter tersebut. Seketika dokter tersebut bingung. Karen yang berada di belakangnya jauh lebih bingung dengan sikap anak tuan Zaki ini. Bukankah nona perlu pertolongan secepatnya, nona sudah kehilangan cukup banyak darah, apa lagi yang diinginkan tuan Zafier ini, pikir Karen kesal.
"Aku membutuhkan dokter perempuan saat ini juga", perintah Zafier dengan wajah dingin. Melihat penampilan Zafier dengan aura yang mendominasi, sang dokter terpaksa mengikuti perintah Zafier.
Karen menatap aneh pada Zafier yang berada didepannya, aih yang luka kan tangan nona, bukan bagian dalam tubuh nona, tuan Zafier sangat berlebihan, keluh Karen dalam hati.
Akhirnya seorang dokter perempuan datang tergopoh-gopoh. Sheza pun akhirnya ditangani seorang dokter perempuan.
Sheza mendapatkan beberapa jahitan karena lukanya yang ternyata cukup dalam. Setelah tindakan dokter selesai, Sheza dibawa ke ruang perawatan.
Zafier menunggu Sheza yang terbaring dalam kondisi belum sadar. Sementara Karen memilih menunggu di luar ruangan, ia benar-benar tidak nyaman berhadapan dengan Zafier.
Sheza melaporkan semua kejadian pada Ganial tanpa ada yang berusaha ia tutup-tutupi. Ia tau telah melakukan kelalaian.
Sementara Zafier terus mengamati wajah cantik di depan matanya, wanita ini tampak seolah sedang terlelap. Zafier memperhatikan bulu mata lentiknya, hidung mungilnya yang mancung. Matanya terpaku pada bibir mungil berwarna merah muda alami itu, bak buah chery, sunggguh menantang Zafier untuk mencicipinya.
Tak berapa lama kemudian Sheza pun tersadar, ia membuka kedua mata indahnya.
Wajah pertama yang dilihatnya adalah segurat wajah dingin yang menunjukkan kecemasan. Mata mereka saling menatap.
Wajah itu tampak lega ketika melihat Sheza telah siuman.
"Syukurlah Anda akhirnya sadar nona", sapa Zafier. berusaha tersenyum.
Sheza mengamati wajah di depannya seolah berusaha mengingat sesuatu, ia mulai mengumpulkan potongan demi potongan ingatannya yang terakhir.
Akhirnya Sheza ingat bahwa orang inilah yang telah menolongnya. Inilah wajah terakhir yang ia lihat sebelum ia jatuh pingsan dalam pelukan pria ini.
__ADS_1
Mengingat hal itu, seketika wajah Sheza merona. Ia memalingkan matanya dari mata Zafier.
Tiba-tiba Zafier meletakkan punggung tangannya di dahi Sheza. Sheza terkejut, alisnya berkerut.
"Apa kamu demam nona? wajahmu tiba-tiba memerah", tanyan Zafier cemas.
Seketika Sheza ingin sekali mengubur dirinya dalam-dalam.
Sheza berusaha tersenyum dengan ekspresi sedikit canggung. Zafier terpesona. Senyum yamg selama ini didambakannya, akhirnya ia dapatkan.
"Aku tidak apa-apa tuan, aku hanya kepanasan", bohong Sheza. Bagaimana mungkin ia merasa kepanasan dalam ruangan dengan pendingin ruangan. Mudah-mudahan saja pria ini tidak menyadarinya, batin Sheza.
"Terima kasih atas pertolongan anda tuan", ucap Sheza tulus.
"Itu sudah kewajibanku nona", ujar Zafier lagi.
"Maaf tuan, bolehkah aku bertanya pada anda tuan? Bagaimana dengan temanku tuan, apa ia baik-baik saja?", tanya Sheza cemas.
Zafier tidak menjawab, ia hanya menatap Sheza dengan tatapan penuh arti. Di saat ia terluka, yang ada di pikirannya adalah bodyguardnya yang tidak becus itu, batin Zafier.
"Untuk apa kamu memikirkan pengawalmu yang tidak becus itu? ", tanya Zafier dingin.
Sheza tercekat. Ia bingung harus menjawab apa. Bagaimana ia tau Karen adalah pengawalku, ujar Sheza pada dirinya sendiri.
Sheza terdiam. Ia tidak ingin berdebat dengan pria ini. Ia bukan orang yang tidak tau berterima kasih. Pria ini telah meyelamatkannya, padahal mereka sama sekali tidak saling mengenal.
"Kamu tidak marah, aku bilang pengawalmu tidak. becus menjagamu? ", tanya Zafier. Mata hitamnya yang tajam dan dingin, menatap Sheza dengan pandangan mengintimidasi. Sheza menatap balik mata hitam itu, ia seolah membeku.
"Itu hak anda tuan, tapi ia hanya temanku bukan pengawal, karena itu ia tidak begitu ahli", jawab Sheza lembut, ia kembali tersenyum. Netra hazelnya menatap lembut mata dingin Zafier.
__ADS_1
Zafier terdiam. Ia tidak begitu peduli pada jawaban Sheza, ia hanya peduli pada tatapan netra hazel itu. Sejenak ia menyentuh dadanya dan mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.