My Little Gwen

My Little Gwen
Gwen versi dewasa


__ADS_3

Zafier telah berada di ruang kerjanya, selepas menyapa sang daddy yang masih terbaring koma.


Ia tidak menyangka jika Sheza berada di taman hutan belakang.


Ia lalu mendekat ke jendela kaca lebar, dengan tirai berwarna abu-abu yang terbuka itu. Kaca itu bekerja seperti cermin satu arah yang mengarah ke taman hutan belakang. Di mana Zafier yang berada di ruangan kerja, bisa melihat dengan bebas pemandangan di taman hutan itu termasuk sosok cantik yang asyik menikmati pemandangan di sana.


Sedari tadi Zafier bisa melihat dengan jelas interaksi Sheza dengan pekerja taman, bahkan Zafier bisa melihat bagaimana terpesonanya sang pekerja menatap Sheza. Bagaimana si pekerja merasa salah tingkah ketika didekati oleh Sheza dan bagaimana wajah pekerja itu memerah menatap Sheza lekat.


Entah kenapa pemandangan itu sangat mengesalkan baginya. Rasanya ia ingin memecat si pekerja hari ini juga, rasanya ingin mengurung Sheza di dalam mansion dan tidak memperbolehkan ia berinteraksi dengan para pekerja atau pelayan atau siapa saja yang berjenis kelamin laki-laki.


Sadar fier, sadar, kau tidak punya hak sama sekali batin Zafier menyadarkan diri.


Lagi-lagi Zafiier menghilang nafas lelah. Sejurus kemudian ia mengambil ponsel yang berada di atas meja kerjanya, menekan satu nomor.


"Paman Adolf katakan pada Nona Sheza bahwa aku menunggu di ruang kerja", perintahnya.


"Baik Tuan Muda", jawab orang yang dihubunginya, yang tidak lain adalah Adolf.


Zafier sendiri kembali berjalan mendekati dinding kaca itu. Ia berdiri di sana mengamati wanita cantik yang ada di taman hutan itu. Ia bisa menikmati sepuasnya keindahan di depannya tanpa si wanita itu tahu bahwa ia sedang diamati oleh seseorang.


Hmm, sayang calon istri Daddy, kalau calon istri orang lain sudah aku pastikan akan menjadi milikku, ucap Zafier tanpa sadar.

__ADS_1


Sheza masih betah mengagumi pemandangan yang tersaji, awan biru yang cerah, daun-daun pohon yang nampak mulai menguning dan gugur. Burung-burung yang terbang ke sana kemari bermain dengan teman-temannya. Benar-benar pemandangan yang menyenangkan dan menyegarkan untuk mata.


Namun aktivitasnya menikmati sinar matahari pagi di taman hutan belakang itu harus diakhiri karena Adolf sudah datang menjemputnya.


Sheza beranjak dari taman itu diikuti oleh Karen di belakangnya. Mereka bertiga berjalan memasuki mansion kembali, melangkah menuju ke arah ruang kerja Zafier.


Mereka sampai di depan sebuah pintu besar dengan desain antik, berwarna hitam. Pintu itu dilengkapi dengan smart door lock, kunci pintu otomatis menggunakan tekhnologi aplikasi. Perlahan pintu terbuka secara otomatis, karena Zafier memang telah menunggu mereka dari tadi.


Begitu pintu terbuka tampak Zafier duduk dengan santai di kursi kebesarannya. Ia nampak sibuk didepan laptopnya. Padahal tadi ia sibuk menatap Sheza di taman. Kemudian Zafier berpaling dari laptopnya, menatap mereka bertiga dengan aura yang mendominasi.


"Silakan Nona!", ujar Adolf mempersilahkan Sheza untuk masuk ke dalam, sementara dirinya sendiri dan Karen kemudian undur diri dengan membungkukkan tubuh mereka kepada Zafier.


Meski merasa sedikit kurang nyaman Sheza tetap memasuki ruangan itu.


Sheza mengedarkan pandangannya dalam ruangan, satu set sofa mewah berwarna hitam yang ia duduk terasa nyaman berada di dalam satu ruangan yang luasnya lebih dari satu petak rumah itu. Di satu pojok terdapat sebuah lemari yang dipenuhi oleh buku dan dokumen. Satu meja kerja mewah dengan desain antik berwarna hitam dan dilapisi kaca terletak kokoh di sudut yang lain. Satu set komputer mahal, telepon antik berwarna hitam, kursi putar mewah berwarna hitam, serta beberapa hiasan dinding dan juga tanaman melengkapi dekorasi ruangan itu. Benar-benar ruangan kerja dengan desain maskulin yang didominasi oleh warna-warna monokrom. Sheza mengagumi interior ruangan itu.


Sheza tidak akan menemukan jendela kaca lebar, dengan tirai berwarna abu-abu yang terbuka. Kaca yang bekerja seperti cermin satu arah di mana orang yang berada di ruangan kerja Zafier akan bisa melihat dengan bebas pemandangan di luar sana.


Yaaa, Zafier sudah menutup akses untuk melihat kaca itu. Saat ini yang dda di sana hanyalah dinding dengan warna monokrom yang elegan. Ia tidak ingin ketahuan memperhatikan Sheza pada saat di taman hutan belakang lewat kaca besar satu arah yang berada di ruangannya.


Berada di ruangan yang sama dengan Zafier sedikit membuat Sheza merasa tertekan oleh aura Zafier yang mendominasi. Ia merasa seperti seseorang yang baru sudah melakukan kejahatan. Sheza menelan salivanya yang terasa tersekat di tenggorokan.

__ADS_1


Zafier terus menatap lekat wanita cantik yang berada di hadapannya. Netranya terus berpindah dari pigura foto yang ada di depannya kemudian menatap wanita yang berdiri di pintu masuk. Wanita itu nampak berjalan mendekat ke arah sofa. Netra abu Zafier terus menatap wanita itu dan pigura foto secara bergantian. Keningnya sedikit berkerut. Baru kali ini ia memperhatikan wajah Sheza dan foto Gwen kecil secara bersamaan. Ada kemiripan yang sangat kentara di antara keduanya. Warna rambut, bentuknya yang ikal bergelombang, wajah oval, bibir tipis berwarna pink, hidung kecil dan mancung. Yang paling menonjol adalah bentuk dan warna mata mereka. melihat Sheza seperti melihat Gwen dalam bentuk dewasa.


Kening Zafier sedikit berkerut. Apakah ia yang salah lihat atau hanya karena otaknya selalu dipenuhi oleh bayangan Gwen, sehingga sedikit kemiripan membuat ia merasa bahwa mereka menjadi sangat mirip. Ada riak Kerinduan di dalam matanya.


Meski Sheza fokus menatap langkah kakinya, ia tahu betul bahwa saat ini netra abu Zafier tengah menatapnya. Jujur ia merasa sedikit salah tingkah, namun ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan hal-hal yang lain.


Pria itu masih mengarahkan netra abunya dengan begitu datar dan sulit terbaca. Sebuah suara bass yang dalam dan berat memecah kesunyian ruangan itu.


"Silakan duduk Nona Sheza! Maafkan aku ada sedikit pekerjaan yang sedang tanggung aku lakukan. Silakan Nona minum dulu", ujar Zafier.


Sheza menoleh ke sumber suara. Kembali netra mereka bertemu, sejurus kemudian Sheza mengalihkan tatapannya. "Hmm..... ya!", jawab Sheza singkat, sambil menghempaskan tubuh di sofa yang ada. Sheza menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, berusaha rileks. Sheza menatap minuman yang telah tersedia atas meja. Beberapa minuman kaleng dengan gelas yang tertelungkup di atas meja.


Tangan mungilnya mengambil sebuah minuman kaleng bersoda kemudian menuangkannya di gelas berkaki itu, gerakan tangannya sedikit kaku karena memang ia merasa masih sedikit kurang nyaman.


Kenapa aku jadi salah tingkah begini, batinnya.


Ia menarik nafasnya dalam mencoba menetralisir perasaannya. Untuk mencairkan suasana hatinya Sheza mulai memperhatikan sekelilingnya,


Meski Zafier mengaku bahwa ia sedang ada sedikit pekerjaan yang sedang tanggung, namun tatapan matanya tidak lepas dari sosok cantik di depannya.


Iris obsidiannya menatap Sheza lekat

__ADS_1


__ADS_2