My Little Gwen

My Little Gwen
Akhirnya sembuh


__ADS_3

Zafier bergegas keluar dari ruang perawatan Sheza begitu ia merasakan ponsel dalam kantongnya bergetar pertanda ada panggilan masuk.


Menjelang mencapai pintu keluar ruangan, Zafier masih menyempatkan diri berbalik, ia menatap lembut Sheza. Sorot mata hitam tajam itu seketika langsung berubah ketika ia menatap Karen, begitu tajam dan penuh amarah.


Karen tidak berani berbalik menatap ke belakang, punggungnya terasa sangat panas dalam sekejap. Tuan Zafier begitu menakutkan, batin Karen bergidik.


"Nona apa kita tidak akan mengabari kakak anda tentang kejadian yang ini", tanya Karen pada Sheza.


Sheza menatap Karen, kemudian terdiam. Setelah ia berpikir beberapa saat, ia pun menyambung pertanyaan Karen.


"Hmm...tidak usah Karen, aku tidak ingin kakak cemas, lagipula lukaku tidak parah, biarkan kakak berpikiran bahwa aku sudah kembali ke kota P dengan aman", jawab Sheza lagi.


Karen mengangguk, ia mengerti kecemasan Sheza.. Lagipula ia juga tidak bisa membayangkan jika Seif ke klinik ini, bisa-bisa terjadi pertumpahan darah, karena dari tatapan mata tuan Zafier, lebih seperti sorot amarah dan kecemburuan, karena ia tidak tau bagaumana hubungan Seif dengan Sheza sesungguhnya.


Sementara itu Zafier berjalan ke arah sudut taman klinik. Di sana suasananya tidak terlalu ramai. Ia bergegas mengeluarkan ponsel dari kantongnya.


Sebuah panggilan tanpa nama, dan hanya berupa deretan angka-angka saja di layar ponselnya tapi sepertinya Zafier tahu betul siapa yang sedang menghubunginya.


Juan: "Halo tuan muda, ini saya Juan, saya sudah berhasil mengintrogasi para penyerang itu", lapor Juan dengan nada senang.


Zafier: "Lanjutkan", ujar Javier dingin.


Juan: "Baik tuan muda, enam orang penjahat itu disuruh oleh seseorang yang bernama Stefano Darmawangsa, mereka diperintahkan dengan imbalan uang untuk menculik menyiksa dan melakukan tindakan pemerkosaan dan kemudian membuang Nona itu", papar Juan menjelaskan.


Zafier membuang nafas, ekspresi dinginnya berubah gelap. Genggaman tangan Zafier menguat, bibirnya terkatup rapat dengan suara gigi yang menyatu kuat "****!", umpat nya kesal.


Zafier menggertakkan giginya menahan amarah, tiba-tiba saja Zafier ingat dengan insiden yang terjadi di hotel waktu itu. Satu wajah melintas di otaknya, "Stefano Darmawangsa!", ada penekanan dalam nada suaranya.


Aku yang membuat masalah dengannya, kenapa ia melampiaskannya pada nona itu, aku rasa motifnya, hanya satu yaitu ingin menikmati tubuh wanita itu semata, dasar penjahat kelamin, Zafier terlihat marah, auranya semakin dingin dan mencekam membuat suasana di sekitarnya menjadi membeku.

__ADS_1


Juan masih sabar menunggu perintah selanjutnya dari Zafier, ia tau tuan mudanya sedang tidak dalam kondisi mood yang baik.


Zafier: "Juan, urus Stefano Dharmawangsa, aku ingin ia tidak dapat hidup tenang mulai besok setelah apa yang direncanakannya terhadap wanita itu, kau tahu maksudku kan", perintah Zafier, wajahnya mengeras.


Juan: "Siap tuan muda, apa anda ingin aku menghancurkan keluarga Dharmawangsa sekaligus sampai rata dan tidak akan dapat bangkit kembali tuan muda?", tanya Juan bersemangat.


Juan berpikir keras, sejak kapan tuan mudanya menjadi begitu tertarik mengurusi seorang wanita, wanita itu haruslah sepadan dengan ini semua, batin Juan.


Zafier: "Cukup beri ia pelajaran yang tidak akan bisa ia lupakan seumur hidupnya, kalau ia masih bertingkah, baru keluarganya yang kau beri pelajaran", perintah Zafier.


Juan: "Baik tuan muda, saya akan mempersulit hidup Stefano", jawab Juan patuh.


Zafier menutup panggilan dari Juan. Ia beralih menghubungi nomor lain. Sebuah nama muncul di layar ponselnya. 'Ruben'.


Berselang beberapa saat, Zafier kembali ke ruang perawatan Sheza. Di belakangnya seseorang nampak membawa banyak barang. Orang itu bergegas memasukkan barang-barang yang dibawanya ke dalam ruang dimana Sheza dirawat.


"Shezan Shaziya Arshaka tuan, anda bisa memanggil saya Sheza", lanjut Sheza, sebuah senyuman menghias bibir tipisnya yang menggoda. Zafier terpana menatap lekat bibir tipis yang sedikit terbuka itu.


"Maaf tuan..... ", Sheza terdiam, ia juga tidak tau siapa nama pria yang telah menolongnya.


"Zafier Alderts Chastelein", ujar Zafier singkat, ia memilih untuk tidak menyebut nama belakang sang daddy, karena orang akan dapat mengetahui identitasnya dengan mudah, siapa yang tidak tau siapa Zaki Safaraz di negara ini.


"Ada makanan dan pakaian yang bisa anda kenakan di dalam bungkusan-bungkusan itu nona Sheza, aku yakin anda pasti sudah bosan makanan klinik ini", Zafier berkata dengan datar. Tidak ada jejak ekspresi di wajah tampan itu, tidak ada emosi berlebihan dalam nada suaranya, Zafier telah kembali seperti semula.


"Silahkan beristirahat", ujar Zafier sembari melangkahkan kaki menuju pintu keluar.


"Terima kasih tuan Chastelein", ujar Sheza lembut.


......................

__ADS_1


Matahari menyapa pagi. Sinar matahari yang menyilaukan masuk melalui celah-celah jendela klinik yang tidak tertutup rapat oleh tirai yang sudah nampak mulai memudar warnanya.


Sheza menggeliat, terusik oleh sinar matahari yang menyilaukan.


Sheza membuka matanya, sudut ruangan yang asing membuat matanya menyipit. Setelah mengumpulkan segenap kesadarannya, Sheza ingat kembali dimana ia berada.


Ruangan putih itu terasa pengap dengan bau obat yang kuat lazimnya sebuah tempat pengobatan. Sudah 2 hari Sheza berada di sana. Sebenarnya satu hari saja sudah cukup bagi sheza untuk berada dalam masa pemulihan, tapi Zafier memaksanya untuk tetap berada di sana sampai ia benar-benar pulih. Padahal seharusnya Sheza sudah kembali ke kota P, ia terpaksa melakukan schedule ulang keberangkatannya ke kota P.


Jika saja bukan karena Zafier yang mengancam akan mengantarnya ke kota P jika Sheza tetap menolak dirawat lebih lama, Sheza pasti sudah kabur dari kemarin.


Sementara Karen benar-benar tidak bisa diandalkan saat ini, ia tidak berkutik di hadapan Zafier. Sheza benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah Karen.


Pandangan Sheza beralih, ia menatap tangannya yang terluka di satu sisi, masih terasa perih di sana. Mata Sheza beralih ke sisi tangan yang lainnya, tak jauh dari sana seorang pria tertidur dengan sangat pulas. Tanpa sadar Sheza memperhatikannya, ia bisa melihat bulu mata lentik yang menyatu terlihat tebal dan menawan.


Tapi tunggu....Sheza sedikit bingung, ia tidak mengerti bagaimana pria ini bisa berada di sini semalaman. Bukannya kemarin ia sudah pergi. Kemana Karen, kenapa ia membiarkan pria ini tidur di dekatnya. Rasanya Sheza ingin mencaci maki Karen karena hal ini. Karena bagaimanapun Sheza tidak mungkin berlaku kasar. pada pria ini, karena ia bukanlah orang yang tidak tau terima kasih.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Sheza menoleh pelan, itu Karen. Karen terlihat sedikit kaget dari ekspresi wajahnya. Langkahnya mundur, kemudian menutup pintu ruangan kembali, membuat Sheza mengernyitkan keningnya.


Tak lama pintu terbuka kembali, di belakang Karen seorang dokter masuk mulai memeriksanya hingga membuat pria yang tidur itu terbangun


"Sheza!" ucapnya terkejut dan berdiri. Sheza juga ikut terkejut. Ia sedikit merasa bersalah karena telah membangunkan Zafier. "Oh, bagaimana keadaannya dokter", tanya Zafier pada dokter yang memeriksa.


"Nona Sheza telah pulih, tidak ada kendala lain, dia bisa pulang hari ini", terang dokter dengan tersenyum


Karen yang mendengar itu membalikan badannya mengelus dada nya pelan dengan penuh rasa syukur berada di sini bersama dengan Zafier sungguh sangat menyiksanya.


Sheza juga tidak dapat menutupi perasaan senangnya, "Akhirnya aku bisa pulang ke kota P", gumamnya, binar bahagia tampak mamancar dari mata indahnya..


Sementara wajah Zafier yang datar, sekilas memperlihatkan kekecewaan.

__ADS_1


__ADS_2