My Little Gwen

My Little Gwen
Mansion mewah Zaki


__ADS_3

Di Platinum Grill Resto.


Begitu mengetahui dari anak buah Zaki yang menyambut mereka bahwa Zaki ingin bertemu dengannya, Sheza sangat bersemangat.


Sheza memasuki private room resto dengan bersemangat pula. Ia ingin mengucapkan terima kasih atas segala fasilitas yang disediakan daddy Zaki untuknya. Dia sangat senang bisa bertemu dengan sang kakak setelah sekian lama. Tanpa kebaikan daddy Zaki, ia sadar entah kapan ia bisa bertemu dengan sang kakak. Ia juga berniat membujuk daddy Zaki untuk memberi Karen kesempatan. Ia menjelaskan bahwa semua yang menimpanya juga bukan kesalahan Karen.


Dan yang terpenting dari semua itu adalah Sheza sangat ingin mengetahui tentang masa lalunya, tentang siapa orang tuanya, tentang asal-usulnya. Sheza sudah tidak sabar lagi jika harus menunggu.


Sheza duduk di dalam private room dan menunggu dengan sabar kedatangan daddy Zaki. Selagi menunggu, Sheza menikmati hidangan yang tersaji di private room resto itu. Cukup lama ia menunggu di sana, lebih dari setengah jam, sampai kemudian tiba-tiba saja Karen menerobos ke dalam private room itu.


"Nona maaf, tadi paman Ganial menghubungiku, tuan Zaki tiba-tiba saja mempunyai urusan mendadak. Ia menunda keberangkatannya ke kota P", Sheza mengangkat kepalanya menatap Karen, keningnya sedikit berkerut penuh tanda tanya.


"Apa kau tau ada apa Karen?", tanya Sheza.


"Saya tidak tau nona, karena paman Ganial tidak mengatakan apa-apa", jawab Karen lagi.


Sepertinya memang ada urusan yang benar-benar urgent sehingga daddy membatalkan janjinya, gumam Sheza lagi.

__ADS_1


"Baiklah Karen, ayo kita kembali ke mansion",


Sheza pun berjalan keluar ruangan, Karen bergegas mengikuti Sheza setelah ia menyelesaikan semua proses pembayaran di resto.


Beberapa saat kemudian Sheza dan Karen sudah berada dalam perjalanan menuju mansion mereka.


Selama dalam perjalanan Sheza lebih banyak diam, banyak hal yang dipikirkannya, awalnya Ia berpikir pertemuannya dengan daddy Zaki akan memberikan petunjuk penting tentang siapa dirinya dan kedua orangtuanya serta asal-usulnya. Ia benar-benar penasaran dengan semua itu. Tapi sepertinya kali ini ia harus bersabar kembali. Sheza menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sabar She, tidak lama lagi, kamu akan mengetahui asal usulmu, serta siapa kedua orangtuamu, ujarnya membujuk diri sendiri,


Akhirnya kendaraan yang membawa Sheza berhenti di depan sebuah pintu pagar yang sangat tinggi. Seorang penjaga menunduk hormat kemudian bergegas membuka pintu pagar yang sangat kokoh itu. Mobil itu pun memasuki halaman mansion yang sangat luas.


Mansion ini adalah kediaman yang dibangun Zaki pada saat mendiang istrinya masih hidup, saat itu Zafier masih sangat kecil.


Mansion ini seolah terbagi menjadi dua bagian. Semua ruang yang dibutuhkan seperti ruang tamu, ruang keluarga, ruang bekerja berada di bagian depan mansion. Ruang makan beserta dapur berada di bangunan sayap kanan, sedangkan ruang kamar tamu berada di sayap kiri bangunan mansion.


Semua kamar anggota keluarga terletak di lantai dua yang dilengkapi lift tersendiri, sementara kamar utama dengan semua fasilitas pribadi terletak di lantai tiga dengan lift khusus ke ruangan ini. Lantai 4 adalah areal lepas dimana landasan helikopter berada. Sementara tempat tinggal para bodyguard penjaga dan pembantu, garasi kendaraan dan landasan pesawat jet pribadi berada di bangunan terpisah, di halaman yang sangat luas.


Mansion ini memiliki ruang olahraga yang luas dilengkapi ruang gym beserta alat-alat olahraganya, sasana bela diri beserta alat latihan, selanjutnya ada ruangan hiburan khusus yang berukuran besar. Ruang hiburan terdiri dari meja bilyar, tempat karaoke dan bioskop mini hingga bar yang lebar sehingga tamu atau pengunjung bisa merasa betah untuk berada di dalamnya. Mansion mewah ini juga memiliki ruangan khusus spa hingga kolam renang yang berukuran besar. Semua fasilitas mewah tersebut berada di sisi belakang mansion

__ADS_1


Mansion ini memiliki halaman yang sangat luas dan penuh dengan tanaman yang indah, karena mommy Zafier sangat menyukai tanaman. Semua tanaman itu sengaja dirawat hingga saat ini atas perintah Zaki karena itu adalah peninggalan mommy Zafier. Semua tanaman itu ditanam sendiri oleh mommy Zafier saat ia masih hidup.


Begitu memasuki mansion Sheza disambut oleh para pelayan. Sheza hanya tersenyum kemudian lanjut melangkahkan kaki menuju kamarnya di lantai dua. Ia memang sangat jarang menggunakan lift di mansion ini. Karen sendiri sudah dari tadi undur diri menuju kamarnya sendiri di bangunan lain diluar mansion.


Sebelum menuju kamarnya, Sheza melewati sebuah kamar. Kamar itu adalah kamar anak daddy Zaki. Sheza membuka pintu kamar itu sepertinya memang tidak dikunci atau si pelayan lupa untuk mengunci kamar ini setelah membersihkannya.


Sheza berjalan memasuki kamar itu. Ia berhenti tepat di depan meja kecil di samping ranjang, di mana foto anak kecil terpajang di sana. Entah kenapa setiap kali melihat foto-foto itu, ada semacam perasaan yang sangat familiar, tapi Sheza sendiri tidak bisa mengingat apa itu. Setelah cukup lama berdiam di sana dan mengamati setiap sudut serta foto yang terpanjang di atas meja kecil itu, Sheza pun memutuskan untuk keluar dari dalam kamar itu.


Ia kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya. Sheza terus berjalan menuju balkon kamarnya. Ia membuka pintu balkon dan perlahan berjalan keluar Ia duduk di kursi yang ada di balkon itu. Ia termenung di sana berbagai hal melintas begitu saja di otaknya bahkan momen-momen Sheza dengan Zafier ikut melintas pula, padahal yang Sheza inginkan hanyalah mengingat kembali momen masa kecilnya. Tapi ia sama sekali tidak dapat mengingat itu. Semua momen masa kecil yang diingatnya hanya kebersamaannya bersama ayah Arshaka, kakak Seif dan ibu Veeya. Kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingat momen-momen masa kecilku gumam Sheza. Kalau memang seperti yang daddy Zaki bilang, kalau aku bukan anak kandung ayah Arshaka dan ibu Veeya, kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingat wajah ayah dan ibu kandungku, batin Sheza. Memikirkan semua itu membuat mata Sheza lelah, ia merasa sangat mengantuk.


Lamunan Sheza buyar, manakala salah seorang pelayan setengah baya memasuki kamarnya. Ia membawa minuman.


"Maaf nona, sebaiknya nona masuk ke dalam. Angin di luar cukup kencang, tidak baik untuk kesehatan. Ini saya bawakan nona minuman hangat", ujar bi Surti, si pelayan.


Sheza pun memutuskan masuk ke dalam, karena matanya juga sudah mengantuk.


"Iya bi Surti, terima kasih minumannya", kata Sheza sambil tersenyum. Setelah meletakkan minuman di atas meja kecil, bi Surti pun berlalu pergi ke luar.

__ADS_1


Sheza sendiri kemudian merebahkan diri di atas ranjangnya. Tak Berapa lama kemudian ia sudah terlelap tanpa menyentuh minumannya sedikitpun.


__ADS_2