
Waktu istirahat bekerja telah berakhir sedari tadi, namun saat ini Sheza masih terjebak di dalam mobil bersama seorang pria tampan yang tak lain adalah bosnya.
Sheza menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi. Ia berusaha membuat tubuhnya sedikit rileks. Jantungnya masih berdegup kencang karena kejadian tadi. Ia berusaha menarik nafas sedalam mungkin dan melepaskannya perlahan.
"Tenang She ... tenang! Ia hanya ingin memasangkan sabuk pengamanmu, bukannya ingin menciummu", imbuh Sheza berusaha menenangkan diri.
Suasana di dalam mobil masih canggung. Keheningan masih mendominasi. Sheza kembali menarik nafasnya kemudian menghembuskannya dengan perlahan, berusaha untuk kembali menenangkan diri. Ia kembali ingat dengan situasi awal. Kemana perginya Karen, kenapa Zafier yang berada di dalam mobilnya saat ini, batinnya. Sesaat ingin sekali bertanya pada pria di sampingnya ini, tapi lidahnya terasa kelu. Kejadian tadi masih membekaskan rasa shock di dirinya.
Pria tampan di sampingnya sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Semakin lama kesunyian semakin mencekam. Sheza merasa tidak suka dengan kesunyian itu. Ia melirik wajah Zafier yang terlihat sangat datar. Sheza menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Sulit sekali rasanya mengeluarkan suara.
Ia kembali menatap wajah tampan di sampingnya yang saat ini sedang memegang kemudi dengan pandangan penuh tanda tanya. Tanpa sadar Sheza malah terbuai memperhatikan sosok tampan di sampingnya. Rasanya ia tidak pernah sedekat ini.
Sosok tampan yang terlihat dingin dengan ekspresi datar yang dominan. Pria tampan dengan pesona yang tidak terbantahkan, memiliki rahang yang tegas, terkesa seksi. Sheza yakin sosok ini mampu membius semua wanita ketika berhadapan dengannya. Jangan lupakan netra abunya, netra yang menghanyutkan dengan tatapan tajam dan terkesan dingin. Hidungnya yang menjulang tinggi, khasnya hidung para bule. Sheza pernah mendengar informasi bahwa istri daddy Zaki berasal dari luar negeri. Pantas saja bosnya ini memiliki paras blasteran. Belum lagi bibir penuhnya yang seksi, meskipun setahu Sheza bibir seksi itu sangat jarang tersenyum namun Sheza tidak memungkiri pesonanya ketika diam amat sangat memabukkan. Entah bagaimana rasanya jika bibir itu menempel di ... Seketika wajah cantik Sheza merona. Sial! Kenapa pikiranku jadi mesum begitu, runtuk Sheza, merasa kesal pada pikirannya sendiri yang berkhianat.
__ADS_1
Orang yang tengah ditatap Sheza tampak sedang mengambil sesuatu di kantongnya. Ia mengeluarkan ponsel dan kemudian fokus pada ponselnya.
Zafier sendiri bukannya tidak menyadari bahwa wanita cantik yang saat ini berada di sisi kirinya tengah menatapnya intens. Ia sedang berusaha untuk menenangkan jantungnya yang berdebar tak karuan sedari tadi.
Sial! Kenapa aku yang malah salah tingkah?!, gumam Zafier pelan, namun penuh kekesalan pada diri sendiri. Ya tuhan, bisa-bisanya seorang Zafier salah tingkah, kalau Gavin sampai tau hal ini, aku yakin bakal jadi bulan-bulanan di Amsterdam nanti, keluh Zafier mengumpat diri sendiri.
Gavin adalah orang yang paling tahu bagaimana Zafier. Ia dan Gavin sudah berteman sejak kecil. Mereka berdua sama-sama mengawali usaha di Amsterdam. Ketika Zafier memutuskan untuk meninggalkan tanah air, Gavin memang menjadi satu-satunya orang yang ia bawa.
Zafier tidak tahu akan betapa shocknya Gavin jika ia mengetahui perasaan yang dirasakan Zafier saat ini. Perasaan yang Zafier sendiri tidak mengerti kenapa bisa hadir antara dirinya dan Sheza, seorang wanita yang justru merupakan calon ibu sambungnya. Terkadang Zafier frustasi kenapa di antara jutaan wanita perasaannya justru harus berbeda pada seorang Sheza. Di saat ia sudah memutuskan untuk melupakan Sheza karena meragukan perasaannya sendiri pad Sheza. Perasaan yang ia takutkan hanya sebagai pelarian karena kemiripan netra Sheza dengan cinta masa kecilnya. Namun sekarang ia harus dihadapkan dengan kenyataan yang lebih menyakitkan. Ia sendiri tidak tahu apakah ia akan sanggup mengontrol perasaanmu jika seringkali harus berdekatan dengan wanita cantik ini.
Arrrgh..... Zafier lelah harus menghadapi situasi semacam ini. Biarlah....ia akan mencoba berdamai dengan perasaan sendiri. Salahkah ia jika saat ini ia hanya ingin menikmati perasaan seperti ini. Ia tidak mau berpikir ke depannya akan seperti apa. Biar saja perasaan semacam ini berjalan apa adanya.
Sudut mata Zafier kembali memperhatikan gerak-gerik wanita cantik di sampingnya melalui kaca spion. Ia merasa agak risih menyadari tatapan Sheza masih saja terpaku padanya. Zafier berusaha tenang dan menutupi kegugupannya.
__ADS_1
"Sudah puas menatapku nona?", tanya Zafier tenang. "Jangan lupa bernafas, jangan sampai kehabisan oksigen hanya karena menatapku nona", lanjut Zafier dingin dengan ekspresi yang dibuat sedatar mungkin. Padahal saat ini jantungnya masih saja berdetak kencang tak beraturan.
Ucapan Zafier sukses membuyarkan tatapan Sheza. Suara berat Zafier benar-benar membuatnya ingin menghilang saat itu juga. Sangat, sangat malu, hingga....
Blush! Wajahnya seketika menghangat.
"Ahh, a-apa? Ti-tidak", elak Sheza tergagap. Pipinya merona, bahkan kedua telinganya pun ikut memerah. Ia menyelipkan rambutnya ke balik telinganya untuk menutupi kegugupannya. Tanpa ia sadari, tingkahnya itu malah memperjelas warna telinganya saat ini. Ia menundukkan kepalanya. Jangan tanya bagaimana kondisi jantung Sheza saat ini Sheza yang merasa tidak nyaman kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Sebisa mungkin ia bersikap biasa.
Sheza merutuki dirinya yang lepas kontrol dalam memperhatikan Zafier
Zafier kembali melirik wanita cantik yang berada di sampingnya itu dari kaca spion mobil.
Kenapa ia terlihat sangat menggemaskan huh!?, batin Zafier. Tak sengaja netra Zafier memperhatikan telinga Sheza yang terbuka saat Sheza menyelipkan rambut panjangnya. Kenapa telinganya jadi semerah itu? Rasanya ingin sekali meniup dan menggigitnya, batin Zafier lagi. Sudut bibirnya kembali sedikit terangkat. Ia masih mengamati Sheza dari kaca spion depan. Zafier terus saja menatap pada sosok cantik yang duduk tepat di sebelahnya itu. Kedua matanya sama sekali tidak berkedip.
__ADS_1