
Matahari mulai tenggelam di peraduannya, malam pun mulai menjelang. Sang bulan mulai bertahta di singgasananya seiring dengan gelap yang mulai merayap. Sayup-sayup terdengar suara jangkrik memecah keheningan malam, sesekali suara burung malam yang beterbangan. Udara begitu dingin. Hembusan angin malam mulai terasa menusuk tulang.
Sementara itu suasana di markas Zaki, terutama di ruang bawah tanahnya nampak tidak biasa. Jauh di lorong-lorong panjang ruang bawah tanah itu, suasananya terasa sangat mencekam. Para pengawal nampak lalu lalang dalam kondisi waspada dan siaga.
Zafier saat ini sedang membuat perhitungan dengan pelaku penembakan sang daddy. Orang itu tak lain adalah Alvin, kaki tangan sekaligus orang suruhan Reonal Barton, putra tunggal Bex Barton musuh besar Zaki Safaraz ketika ia masih berkecimpung di dunia hitam.
Ketika kemarahan sudah menguasai Zafier akibat insiden yang menimpa sang daddy, tanpa ia sadari caranya menangani musuh hampir sama dengan kekejaman sang daddy pada saat sang daddy masih berkuasa di dunia hitam. Juan, Carlos dan semua anak buah Zaki yang berada di markas cukup terkejut dan dibuat merinding menyaksikan semua pembalasan yang dilakukan oleh Zafier terhadap musuh yang telah menyakiti sang daddy.
Juan masih dalam keterkejutannya, tapi dia dengan cepat mengikuti perintah Zafier untuk menghubungi seseorang, mengkonfirmasikan dalam sebuah video call yang memperlihatkan keadaan Alvin. Sesuai dengan permintaan Zafier, Juan dengan cepat menghubungi Reonal.
Malam itu Reonal tengah sibuk di ruang kerja pribadi di mansionnya. Reonal merasa begitu terganggu oleh dering ponsel yang terdengar nyaring dari kantong kemejanya, dengan malas Reonal meraih ponsel yang berada di kantongnya. Ia mengangkat ponselnya dan tertegun saat melihat panggilan video yang memperlihatkan Alvin dalam kondisi yang menggenaskan. Ia melirik ID telepon dan menggeram marah.
Zafier mengambil alih telepon dan berhadapan langsung dengan Reonal. "Bagaimana dengan kejutannya Reonal? Apa kau menyukainya?".
Wajah Reonal langsung berubah dengan cepat, emosinya langsung tersulut, bibirnya tertutup rapat gigi-giginya saling bertaut. "Safaraz kau...!".
Matanya menatap ganas, lalu menghardik, " Lepaskan dia Zafier, dia adalah orangku".
Zafier hanya menatap Reonal datar tanpa ekspresi, "Kau memberi perintah padaku? Oiya, bukankah dia adalah sniper terbaik milikmu?".
__ADS_1
Reonal terbelalak dia merasa sedikit menyesal dengan tidak memperhitungkan secara matang konsekuensi atas penyerangannya terhadap Zaki Safaraz. Ia tidak menyangka satu-satunya putra Zaki Safaraz berhasil membalikkan keadaan harusnya ia tahu bahwa Zafier bukanlah orang yang mudah ditangani. Ia harus menyelamatkan Alvin. Apapun yang terjadi, Alvin harus tetap hidup tapi dia juga mengenal cara kerja keluarga Safaraz ketika mereka masih menguasai dunia hitam saat itu. Ia bisa menebak kalau kemungkinan seluruh keluarga Alvin telah musnah.
"Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan Zafier, biarkan dia hidup", ujar Reonal.
"Apa kau bisa mengembalikan keadaan ayahku seperti semula?", tanya Zafier dengan wajah mengejek, masih dengan ekspresi dingin.
Reonal terperangah, tak mampu berkata-kata. Terlihat jelas Zafier tidak tertarik pada apapun yang akan Reonal tawarkan.
"Zafier lepaskan dia,aku yang menyuruhnya, aku yang kau cari, kau bisa balas dendam padaku atau langsung membunuhku sebagai gantinya", pinta Reonal.
Zafier hanya diam. Ia tidak menanggapi ataupun memberikan ekspresi yang berlebih. Hal itu membuat Reonal memejamkan matanya sesaat dia benar-benar frustasi melihat ekspresi Zafier yang tidak tergoyahkan. Beberapa saat kemudian panggilan telepon pun terputus.
Zafier: "Ya, halo Paman!".
Ganial: "Maafkan saya mengganggu tuan muda. Keadaan Zaki sedikit bermasalah tuan..."
Belum selesai Ganial melaporkan keadaan Zaki, Zafier langsung menutup telepon dan bergegas
menuju lokasi di mana helikopter berada. Di belakangnya, Juan, Carlos dan James
__ADS_1
dengan Setia mengikuti. James langsung standby di helikopter.
"Saya sudah menghubungi pihak rumah sakit dimana tuan besar dirawat. Kita akan langsung mendarat di titik pendaratan di bagian atap rumah sakit", lapor Carlos.
Zafier hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia memerintahkan Juan untuk tetap berada di markas. Setelah itu ia berangkat bersama Carlos.
Sementara Sheza yang saat itu sedang melakukan rapat dengan para pimpinan divisi perusahaan langsung menghentikan rapat ketika Ganial menghubunginya, mengabarkan tentang keadaan Zaki yang sedikit bermasalah. Sheza langsung bergegas ke rumah sakit, Karen dengan Setia mengikutinya.
Sepanjang perjalanan Sheza nampak diliputi kecemasan. Sheza beberapa kali memerintahkan sang supir untuk meningkatkan kecepatan kendaraan agar bisa sampai lebih cepat. Akhirnya mereka sampai di rumah sakit hanya dalam waktu beberapa menit saja. Begitu mobil memasuki halaman rumah sakit, Sheza langsung bergegas turun. Begitu turun dari mobil, Sheza berlari menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan di mana Zaki dirawat.
Sementara itu, Zafier juga sudah mencapai titik pendaratan helikopter di bagian atap rumah sakit. Ia nampak tidak sabar menunggu pendaratan. Ia langsung meloncat keluar begitu helikopter mencapai titik pendaratan. Dengan berlari, ia segera mencapai lift untuk turun ke lantai di mana Zaki dirawat.
Begitu keluar dari lift Zafier masih saja berlari melewati lorong demi lorong rumah sakit. Zafier mendengar ponselnya berdering. Ia bergegas mencari ponsel yang berada di saku jaketnya, karena khawatir panggilan itu berasal dari Ganial. Fokusnya terpecah karena harus mencari keberadaan ponselnya, ia tidak menyadari ada seseorang dari arah yang berbeda menuju lorong yang sama dengannya. Tak ayal lagi tabrakan tidak bisa dihindari. Zafier terkejut, tubuhnya yang tinggi besar, tak bergeming karena tabrakan tersebut, tapi sosok kecil yang ia tabrak nyaris terjatuh ke lantai rumah sakit jika saja ia tidak menangkap sosok tubuh itu secara reflek.
Sekilas ia bisa menebak jika yang tabrak adalah seorang wanita. Wanita itu berpakaian kerja dengan setelah rok dan blazer. Rambutnya tergerai lepas. Kedua tangan Zafier memeluk pinggang dan punggung si wanita. Wanita yang hampir jatuh itu juga refleks memeluk leher Zafier untuk berpegangan, karena takut akan jatuh. Tanpa sadar Zafier memeluk erat wanita itu ke arah dadanya, sehingga wajah si wanita tersembunyi di sana.
Setelah keadaan dirasa stabil, wanita itu menengadah melihat ke atas, untukmelihat orang yang telah menabrak sekaligus menyelamatkannya. Sesaat kemudian mata wanita itu menatap sepasang mata hitam dan tajam yang juga menatap ke arahnya.
Cukup lama kedua mata itu bertemu, otak Zafier dan wanita itu seolah mencerna sosok yang berada dihadapan mereka masing-masing. Zafier sendiri seolah lupa maksud kedatangannya ke rumah sakit ini. Cukup lama ia menatap wanita itu, seolah terhipnotis dengan mata hazel itu. Mata yang dirindukannya.
__ADS_1
"Shezan....", gumam Zafier, kemudian kembali menarik tubuh wanita itu ke pelukannya.