My Little Gwen

My Little Gwen
Akhirnya bertemu sang kakak


__ADS_3

Sheza mengamati jalan yang mereka lalui untuk sampai di resto yang dituju. Sopir tersebut tidak melewati jalan besar, sehingga tidak ada kemacetan berarti yang menjebak mereka. Sheza percaya pada apa yang Karen katakan, mereka sangat memahami seluk beluk wilayah kota J.


Akhirnya hanya dalam 20 menit, mereka sudah sampai di resto tujuan mereka. A B Restourant, salah satu resto termewah di kota J. Sheza bergegas turun sambil menarik tangan Karen, ia benar-benar tidak sabar. Tapi Karen menolak dengan halus.


"Nona pasti ingin punya waktu privasi berdua tuan Seif, karena sudah cukup lama nona tidak bertemu dengannya, aku tidak ingin mengganggu nona", ujar Karen lagi sambil tersenyum. Sheza menatap Karen tersenyum, seolah berterima kasih atas pengertiannya.


Kemudian Sheza memasuki resto mewah itu dengan sangat bersemangat karena membayangkan akan bertemu dengan sang kakak setelah sekian lama. Kedatangan Sheza disambut porter resto, Sheza diantar menuju meja yang sudah direservasi atas nama dirinya. Ternyata belum ada tanda-tanda kehadiran sang kakak di sana, dengan sabar Sheza duduk dan menunggu di sana .


Sembari menunggu, Sheza nampak sibuk dengan ponselnya, hingga ia tidak menyadari ada sepasang mata tajam menatapnya dengan tatapan penuh arti.


Sementara Karen sendiri bukannya tidak masuk ke dalam resto. Karen sudah duduk di satu sudut yang cukup terlindung. Sehingga Sheza sendiri tidak akan menyadari keberadaan Karen di sana. Sedangkan Karen dengan leluasa dapat mengawasi apa saja yang terjadi pada Sheza.


Karen juga tau ketika ada sepasang mata tajam yang sedang memperhatikan Sheza sedari tadi. Karen tersenyum. Bergegas ia mengambil ponselnya, mencari satu nomor, kemudian mulai mengetikkan sesuatu.


Ketika sedang asyik melamun, Sheza dikejutkan dengan dering ponselnya, sebuah nomor tak dikenal masuk. Sheza menekan tombol ya, ketika suara seseorang terdengar di seberang sana, Sheza sangat mengenalnya, suara yang sudah sangat ia rindukan beberapa bulan ini.


Sheza, "Kakak..... ".


Sheza tidak mampu melanjutkan ucapannya, matanya mengembun.


Seif, "Halo She, maafkan kakak agak terlambat, kakak masih di jalan, sekitar 20 menit lagi kakak sampai, kamu jangan kemana-mana She, kamu tetap tunggu di sana ya".


Suara Seif terdengar khawatir.

__ADS_1


Sheza, "Baik kak, kakak tidak usah khawatir, aku akan menunggu kakak di sini. Ingat, jangan mengebut ya kak, tidak masalah jam berapapun kakak sampai, aku akan menunggu kakak di sini".


Seif, "Oke She, kamu hati-hati di sana ya".


Sheza, "Iya kak, kakak juga hati-hati di jalan".


Percakapan pun terhenti. Sheza masih menatap. ponselnya, seolah masih tidak percaya kalau tadi ia baru saja berbincang dengan sang kakak yang sudah lama dirindukannya.


Kemudian Sheza pun larut dengan lamunannya. Tak terasa 20 menit sudah berlalu, Sheza benar-benar sabar menunggu, namun matanya tak henti menatap pintu masuk, berharap kakaknya, Seif, tiba-tiba muncul di sana.


Nyaris saja Sheza berhenti berharap, ketika matanya menatap seseorang yang masuk dengan tergesa-gesa di pintu masuk. Sheza tau betul sosok itu, sosok seorang kakak yang dirindukannya. Rasanya Sheza ingin sekali berteriak dan mengejar sang kakak di pintu masuk itu. Tapi karena Sheza tau dimana ia berada, Sheza terpaksa menahan diri.


Sheza menunggu Seif mendekat dengan sabar. Begitu Seif tepat berada di depannya, tanpa banyak berpikir Sheza langsung memeluknya dengan sangat erat seolah takut kehilangan lagi.


Sheza tidak tau bahwa di satu sudut resto tersebut terlihat sepasang mata tajam yang memperhatikan setiap adegan temu kangen tadi dengan tatapan membunuh.


Segera setelah mereka saling melepas rindu, merekapun duduk dan memesan makanan.


"Kenapa kakak tidak pernah menghubungi She?", tanya Sheza dengan wajah cemberut.


"Maafkan kakak She, begitu kakak merantau di kota. ini, kakak tidak langsung mendapatkan pekerjaan, akhirnya kakak harus menjual satu-satunya harta kakak yaitu ponsel, agar bisa bertahan hidup di koya J yang keras ini", jawab Seif lagi dengan wajah penuh penyesalan.


She terkejut mendengar penjelasan sang kakak, ada penyesalan yang dirasakannya karena sudah menuduh sang kakak.

__ADS_1


"Maafkan She yang tidak pengertian ya kak, langsung menuduh kakak", ujar She lagi menyesal.


"Tidak apa-apa She, kamu kan memang tidak tau apa yang menimpa kakak", ucap Seif lagi tersenyum.


"Iya kak, terima kasih atas pengertian kakak", ujar Sheza akhirnya bisa tersenyum lagi.


Tak berapa lama pelayan resto mengantarkan pesanan mereka. Sheza dan Seif berbincang-bincang sambil menikmati hidangan.


Seif menceritakan bagaimana kehidupannya ketika baru sampai di kota J, bagaimana sulitnya mencari pekerjaan yang baik. Seif juga menceritakan bagaimana ia ditolong tuan Zaki sampai dipekerjakan di perusahaannya.


Namun banyak hal yang disembunyikan Seif dari Sheza, tentang hubungannya dengan Sheza, tentang Sheza yang bukan saudara kandungnya. Meskipun Seif tau Sheza bukan saudara kandungnya. Yang Seif tau, waktu itu sang ayah membawa seorang anak kecil ke rumah. Sang ayah sangat menyayangi anak itu. Seif yang sudah lama menginginkan adik tentunya sangat senang. Ia pun sangat menyayangi Sheza kecil. Hanya sang ibu yang sangat membenci Sheza. Ibunya mengganggap Sheza adalah anak ayah dengan selingkuhannya. Sampai ayahnya wafat, ia tidak pernah mengungkit siapa identitas Sheza sebenarnya, sang ayah hanya berpesan agar Seif menjaga Sheza sepeninggal dirinya. Namun janjinya pada sang ayah tidak bisa ia lakukan karena ia harus merantau mencari pekerjaan demi kelangsungan hidup.


"Pasti hidupmu sangat sulit sepeninggal kakak, maafkan kakak She. Maafkan kakak yang tidak menjagamu seperti wasiat ayah", ujar Seif dengan wajah penuh penyesalan.


"Hmm.... ", Sheza bingung harus bicara apa.


"Tidak apa-apa kak, semua kesulitan dapat menggembleng She menjadi lebih mandiri dan dewasa dalam menyelesaikan suatu persoalan" lanjut She canggung. Ia tidak mau sang kakak mencemaskan dirinya.


Oleh karena itu Sheza tidak mau menceritakan apa yang dialaminya. Sheza tidak mau menceritakan tentang bagaimana sang ibu menyiksa hingga menjualnya pada tuan Zaki.


"Sekarang She sudah diwisuda kak. Tuan Zaki banyak membantu She. She juga bekerja di perusahaannya di kota P", lanjut Sheza lagi.


Mereka berdua terus bertukar pengalaman mereka selama ini, sambil tetap menikmati hidangan yang tersedia di depan mata mereka.

__ADS_1


Di sudut yang lain Karen mengamati dua keadaan berbeda yang terjadi pada satu waktu. Satu kejadian tentang kebahagiaan Sheza dan sang kakak. Serta satu kejadian tentang kekesalan Zafier yang nampak jelas di wajahnya. Wajahnya mengeras dan menggertakkan giginya berkali-kali. Tuan Zafier benar-benar menyeramkan, pikir Karen. Karen sendiri nampak beberapa kali sibuk dengan ponselnya, seolah mengetik sesuatu, kemudian sibuk kembali mengamati keadaan.


__ADS_2