
Matahari akhirnya tenggelam di peraduan. Gelap pun datang menjelang. Javier terlihat duduk tenang di salah satu sudut ruang keluarga di apartemennya
Zafier telah kembali sedari tadi. Begitu pulang dari bandara, Zafier langsung membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Setelan santai berwarna gelap seolah sedang menggambarkan kegalauan hatinya saat ini.
Zafier tampak duduk tenang di sofa ruang tamu apartemennya, tapi tidak dengan perasaannya saat ini. Ia merasa sangat tidak nyaman, ia sangat butuh teman bercerita.
Perlahan Zafier menyentuh kantong kemejanya. Ia memegang ponsel dari luar kantong, ia tidak berniat untuk mengeluarkannya. Sejenak ia ragu. Ia tidak mau terlihat begitu lemah hanya karena seorang wanita, jika menceritakan apa yang ia rasakan pada seseorang. Tapi ia sendiri merasa lelah dengan semua pikirannya saat ini.
Zafier menghembuskan nafasnya dengan kasar. Akhirnya Zafier memutuskan untuk menghubungi Arsen. Satu-satunya teman terdekat yang ia miliki di kota J. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong. Mencari nomor Arsen yang ingin dihubunginya. Beberapa saat kemudian ia sudah tersambung dengan nomor Arsen.
Zafier, "Arsen, Di mana kamu? "
Arsen, "Masih di kantor, ada apa Zafier?".
Zafier, " Kita bertemu di club yang biasa kita kunjungi dulu".
Arsen, "Oke, apa perlu aku menjemputmu di hotel? ".
Zafier, "Tidak perlu, saat ini aku sedang berada di apartemen. Aku akan berangkat sendiri dari apartemen, kita bertemu di sana saja".
Arsen, "Oke Zafier, kita bertemu di ruangan biasa".
Zafier memutuskan hubungan teleponnya.
__ADS_1
Sejenak Arsen terdiam. Ia menyadari ada sesuatu yang tengah terjadi pada Zafier. Karena tidak biasanya Zafier berinisiatif mengajaknya ke club. Club bagi Zafier tidak lebih dari sekedar untuk tujuan pertemuan bisnis semata.
Ia tahu betul siapa Zafier. Zafier adalah seorang workaholic. Bagi Zafier, yang ada di otaknya hanyalah bagaimana mengembangkan bisnisnya dan memperoleh keuntungan yang sangat besar. Waktu bagi Zafier adalah uang. Bersenang-senang di club, bukankah style-nya Zafier.
Jawaban Zafier yang mengatakan bahwa dia berada di apartemen juga menjadi tanda tanya tersendiri bagi Arsen. Tapi sudahlah......ia tidak mau ambil pusing.
Arsen bergegas meninggalkan kantor nya menuju The Luxury Club. Club yang biasa ia kunjungi bersama Zafier. Saat itu Zafier masih berdomisili di kota J, jauh sebelum Zafier memutuskan untuk meneruskan usahanya di Belanda.
Sementara itu Zafier sendiri bergegas mengambil jaketnya. Ia menyambar kunci L. Veneno Roadsternya di atas meja kerja. Beberapa saat kemudian ia sudah melaju di jalanan kota J menuju The Luxury Club.
The Luxury Club adalah club malam ternama di kota J. The Luxury Club menjadi club eksklusif yang memiliki kemewahan, dengan interior elegan dengan dominasi warna gelap merupakan perwujudan dari kemewahan, kecanggihan dan gaya, dilengkapi dengan layanan terbaik di kota J. Club malam dengan 3 lantai ini mempunyai ruangan private. Clun ini menjadi satu diantara banyaknya klub malam paling mewah di daerah ini. Untuk masuk ke club ini sangat sulit, dikarenakan hanya mereka yang telah menjadi member saja yang diprioritaskan untuk masuk. Untuk menjadi member haruslah merogoh kocek cukup dalam karena biayanya yang mahal. Sehingga kebanyakan member di club ini adalah para pengusaha kaya. Club ini seringkali jadi tempat berkumpulnya para pengusaha kaya untuk saling berinteraksi atau untuk pertemuan bisnis.
Zafier tidak butuh waktu lama untuk sampai club dengan L. Veneno Roadsternya. Sebentar saja ia sudah memasuki parkiran eksklusif di club itu. Zafier bergegas turun. Di pintu masuk club, seorang staf keamanan menyapa dan menunduk hormat padanya. Tak lama kemudian seorang pria muda dengan penampilan rapi dan setelan branded yang melekat pas di tubuhnya, datang tergopoh-tergopoh menghampiri Zafier. Meski masih muda, ia dipercaya menjadi manajer di sana. Jason, begitu ia dipanggil.
Zafier hanya mengangguk tanpa ekspresi. Kemudian Jason memerintahkan salah seorang pekerja club mengantarkan Zafier ke ruang private, dimana Arsen sudah menunggunya.
Zafier masuk ke sebuah ruangan private yang setengah terbuka. Arsen sudajlh lebih dahulu berada di dalamnya.
Zafier mengambil tempat di salah satu sofa di sana, ia duduk tepat di depan Arsen. Zafier melonggarkan kerah bajunya. Ia kemudian meneguk dua gelas wine tanpa ekspresi dan tanpa kehangatan di matanya. Arsen hanya mengamati saja setiap tingkah laku Zafier. Ia tidak ingin banyak bertanya. Ia tahu Zafier saat ini tengah memiliki permasalahan. Ia hanya menunggu Zafier bercerita.
"Ada apa Zafier? Kenapa tiba-tiba kamu berinisiatif mengajakku ke sini? ", tanya Arsen penasaran. Wajahnya penuh selidik.
Zafier mengangkat wajahnya, ia menatap Arsen sekilas tanpa sepatah kata pun. Kemudian kembali menyesap wine-nya, perasaan tidak berdaya tiba-tiba saja muncul dalam pikirannya.
__ADS_1
"Apa ada masalah yang begitu pelik?", tanya arsen memastikan, sambil bersandar di punggung kursi dengan malas. Ia menatap wajah Zafier yang murung.
Arsen terdiam. Ia merasa sama sekali tidak pernah melihat Zafier seperti ini sebelumnya, bahkan saat mereka berdua masih sama-sama kuliah di Belanda. Arsen tampak mengerutkan keningnya. Ada sedikit tanda tanya dihatinya.
Zafier kembali tidak menjawab, ia hanya menatap wajah Arsen sambil terus meneguk minumannya.
Arsen masih menunggu dengan sabar jawaban dari setiap pertanyaannya, sambil meneguk minumannya sendiri.
Tiba-tiba Zafier mengatakan sesuatu, "Aku sangat lelah Arsen". Matanya menerawang jauh.
"Hmm....Ada apa denganmu Zafier? Kenapa kau jadi aneh begini? Kau sedang jatuh cinta? Tingkah lakumu saat ini persis seperti tingkahku saat mengenal wanita yang aku ceritakan padamu waktu itu", ujar Arsen dengan senyum mengejek, "akhirnya kau menyerah juga Arsen".
Seketika tawa Zafier meledak, "Jatuh cinta? Aku?", tanya Zafier sambil menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan tidak percaya. Tapi tiba-tiba saja wajahnya kemudian menjadi dingin dan tanpa ekspresi kembali.
"Kom op (Belanda: ayolah) bro, cinta itu bukan sesuatu yang memalukan, buktinya cintamu pada Gwen sampai saat ini tidak tergantikan. Aku sangat penasaran siapa wanita yang telah membuatmu seperti ini", tanya Arsen penuh selidik.
Zafier terdiam matanya menatap Arsen kemudian pikirannya kembali menerawang. Zafier menarik nafas dengan berat kemudian menghembuskannya dengan kasar. Ia menatap Arsen dengan serius.
Zafier merasa sudah waktunya ia menceritakan semuanya, daripada ia merasa lelah karena harus terus memikirkannya sendiri. Zafier pun mulai menceritakan semuanya dari awal, mulai ketika pertemuannya pertama kali dengan Sheza, semua hal tak luput dari ceritanya, bahkan sampai rasa bersalahnya pada Gwen pun ikut diceritakan hingga berakhir dengan perpisahannya dan Sheza di bandara.
Arsen terdiam tanpa suara, tak satupun kata terucap. Ia hanya mengamati ekspresi Zafier yang kembali dingin. "Apakah kau mencintai wanita itu Zafier", tanya Arsen langsung.
"Entahlah.....aku tidak tahu pasti, setidaknya saat ini aku masih ragu dengan perasaanku sendiri. Aku hanya takut ia tak lebih dari sekedar pengganti sosok Gwen saja di hatiku, aku takut perasaanku hanya karena aku seolah melihat Gwen dalam dirinya melalui mata hazel nya itu. Rasanya itu semua tidak akan adil buatnya. Aku tidak mau menyakitinya", ujar Zafier putus asa.
__ADS_1