
Masih di dalam ruang kerja Zafier..
"Zafier, ayo tuangkan lagi minumannya", teriak dr. Niko. "Aku berharap semua minuman ini akan membuat perasaanku menjadi lebih baik. Aku....aku benar-benar tersiksa dengan kenyataan yang kau ungkapkan tadi...hik hik hik", ujarnya lagi, isakannya terdengar samar.
"Zafier....tidak bisakah kau hanya menyimpan semua itu untuk dirimu sendiri. Kau benar-benar menghancurkan impianku Zafier", teriak dr. Niko frustasi.
Zafier hanya bisa menatap prihatin pada sahabatnya itu. Ia menepuk-nepuk punggung dr. Niko.
"Sudahlah Niko, aku tidak percaya seorang pemain sepertimu begitu terpukul hanya karena oleh seorang wanita", protes Zafier.
"Kau bisa saja mendapatkan seorang wanita dengan mudah, hanya dengan menjentikkan jemarimu. Ayolah....kemana dr. Niko yang aku kenal selama ini?", tanya Zafier lagi mencoba menghibur sahabatnya.
Dr. Niko menengadahkan kepalanya. Ia menatap Zafier. " Kau tidak tau Zafier, kau tidak tahu perasaanku. Kau tidak tau betapa perasaan ini berbeda terhadap Sheza. Ini tidak seperti wanita-wanita yang selama ini aku kencani. Ia berbeda, ia sangat berbeda. Aku....aku sangat tertarik padanya. Apakah Ini Cinta pada pandangan pertama seperti di dalam dongeng-dongeng itu? Selama ini tidak ada satupun wanita yang mampu membuat jantungku bergetar sehebat ini", ujar dr. Niko nyaris berteriak, karena merasa putus asa.
Zafier hanya terdiam, ia tidak mampu berbicara lagi menanggapi semua pernyataan sahabatnya. Ia tahu betapa hancurnya perasaan dr. Niko sama seperti perasaannya saat ia tau posisi Sheza. Zafier menghela nafasnya, lelah.
"Apa kau sudah mabuk berat? Padahal aku belum mengeluarkan wine terbaik milikku", ujar Zafier berusaha mengalihkan perhatian sahabatnya.
__ADS_1
Zafier berhasil. Dr. Niko kembali menengadahkan kepalanya. Ia menatap Zafier penasaran.
"Ayo keluarkan wine terbaikmu Zafier. Aku ingin mencicipinya", ujar dr. Niko bersemangat, meski wajahnya sudah memerah.
"Apa kau yakin?", tanya Zafier memastikan. "Kau yakin masih sanggup untuk meminumnya", tanya Zafier lagi.
Dr. Niki hanya mengangguk. Beberapa saat kemudian Adolf membuka pintu ruangan itu. Ia berjalan dengan membawa sesuatu di tangannya. Zafier menganggukkan kepalanya. Adolf kemudian bergegas membuka tutup botol berwarna merah itu. Aromanya langsung menguar. Adolf kemudian menuangkan cairan berwarna merah yang ada di dalamnya pada gelas Zafier dan dr. Niko.
"Kau kenal dengan wine jenis ini Niko?", tanya Zafier. Dr. Niko yang masih dalam kondisi setengah mabuk, nampak berupaya fokus mengamati botol yang berada di tangan Adolf. Tiba-tiba ia tersenyum penuh arti.
"Apakah ini barang itu Zafier?", tanyanya penasaran. Zafier mengangguk dengan bangga. Wajah dr. Niko nampak terkejut, matanya melotot, mulutnya nyaris menganga. Ia kembali memperhatikan botol yang ada di tangan Adolf.
"Siapa yang tidak tau dengan wine jenis ini", ujar dr. Niko pasti, ia tampak sangat menikmati tetes demi tetes yang masuk ke tenggorokannya.
"Wine yang telah mencapai posisi puncak sebagai wine termahal di dunia ini. Wine yang berasal dari Oakville, California. Wine seharga 7 miliar ini memang sangat luar biasa, memang ada barang ada harga", ujar dr. Niko sambil meneguk minumannya. Lagi-lagi menikmati tetes demi tetesnya dengan antusias.
"Meski mabuk ternyata pengetahuanmu tidak hilang", puji Zafier. "Kau tau, dibalik fantastisnya harga anggur yang satu ini, terdapat hal lain yang sangat luar biasa, salah satunya adalah dalam segi rasa. Dalam segi rasa, wine yang satu ini memiliki kombinasi rasa dari aroma blackcurrant dengan aroma pohon oak dan memiliki proporsi yang pas serta terjaga kemurniannya. Menurut seorang ahli wine mengungkapkan bahwa Screaming Eagle merupakan anggur yang paling spektakuler yang pernah dicobanya", lanjut Zafier lagi, sambil menyesap anggurnya.
__ADS_1
Dr. Niko tersenyum menyeringainya, ia mulai mencicipi rasanya. "Benar-benar wine dengan cita rasa yang tinggi", pujinya sungguh-sungguh. "Mungkin karena penyimpanannya yang lama sehingga kualitasnya pun semakin baik makin lama disimpan minuman ini memang akan semakin nikmat", ujar dr. Niko, ia kembali menegak minuman di gelasnya dalam sekali tegukkan.
Zafier tersenyum tipis. Ia senang sahabatnya itu menikmati minuman yang diberikannya, paling tidak sedikit mengobati rasa sakit yang dialaminya. Selanjutnya tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut dr. Niko, karena kepalanya sudah bersandar tenang di sandaran sofa.
Malam terus beranjak. Zafier masih berada di ruangan kerjanya. Meskipun ia minum cukup banyak, namun tidak ada tanda-tanda bahwa Zafier kehilangan kesadarannya. Tingkat toleransi tubuhnya terhadap alkohol cukup tinggi. Ia menatap prihatin pada tubuh dr. Niko.
Ia lalu meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang. Beberapa saat kemudian pintu ruangan itu terbuka. Paman Adolf dan dua orang pelayan pria nampak bergegas berjalan mendekati Zafier. mereka membungkukkan tubuh pada Zafier. Zafier kemudian menganggukkan kepalanya. Begitu menerima kode perintah dari Zafier. Kedua pengawal itu membopong tubuh dr. Niko. Mereka berjalan keluar ruangan, membawa tubuh dr. Niko menuju ke kamarnya.
Paman Adolf masih berada di di ruangan itu, meski kedua pelayan telah pergi membawa dr. Niko. Ia menatap sang Tuan Muda dengan pandangan khawatir, meski ia tidak menemukan tanda-tanda bahwa sang Tuan Muda dalam keadaan mabuk.
"Apa Tuan Muda tidak apa-apa? Ada yang bisa saya lakukan untuk Tuan Muda? Saya akan membawakan minuman pereda mabuk untuk tuan", tanyanya dengan nada cemas. Ia pun bergegas akan pergi, namun langkahnya terhenti saat Zafier memanggilnya.
"Paman adolf, aku tidak apa-apa. Sebaiknya Paman beristirahat saja", ucap Zafier. Meski ia mengucapkan kata-kata dengan datar namun terselip penekanan sebuah perintah di dalamnya.
"Baik Tuan Muda", Adolf hanya pasrah saja menerima perintah dari sang Tuan Muda, tanpa mampu membantah. Sebelum meninggalkan ruangan kerja itu, Adolf membungkukkan tubuhnya dengan hormat.
Sepeninggal Adolf, Zafier menghela nafas lelah. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa ia berusaha lebih rileks dan santai, kedua netra abunya terpejam. Otaknya dipenuhi oleh berbagai fikiran yang melintas satu persatu dengan bebas. Terlintas di otaknya berbagai pertanyaan, yang ia sendiri tidak tahu harus ditanyakan kepada siapa. Kenapa harus dirinya yang selalu menjadi penyemangat sahabat-sahabatku yang terluka karena cinta pada orang yang sama. Padahal tanpa ia sadari, ia pun mengalami perasaan dan kekecewaan yang serupa . Ia tidak pernah mengeluhkan itu pada siapapun, ia benar-benar menyimpan rapat perasaannya sendiri sekaligus mengobatinya sendiri. Lebih pedih memang.
__ADS_1
Entah kenapa begitu teringat Sheza, bayangan Gwen kecil tiba-tiba ikut menyeruak masuk ke dalam pikirannya. Tanpa disadarinya semenjak bertemu dengan Sheza. Bayangan Gwen mulai memudar. Zafier kemudian bangkit dari sofa. Ia berjalan perlahan menuju meja kerjanya. Ia memposisikan tubuhnya untuk duduk di kursi kebesarannya. Tangan berotot itu terangkat ke atas meja, mengambil pigura foto yang ada di atas meja kerjanya. Ia menatap foto yang ada di sana. Ia menatap gadis kecil yang terlihat akrab dengan potret dirinya saat kecil itu.
"Aku merindukanmu Gwen", bisiknya lirih