My Little Gwen

My Little Gwen
Saudara sepupu yang menghilang


__ADS_3

Arsen penasaran dengan respon Zafier tentang calon ibu sambungnya. Untuk itu ia langsung saja bertanya pada sahabatnya tersebut. "Kau tidak kuatir jika ibu sambungmu menguasai harta dan perusahaan daddymu yang harusnya diwariskan padamu", selidik Arsen lagi.


"Kalau ia wanita baik yang tulus mencintai daddy, buat apa aku takut, malah aku bersyukur ada yang menjaga dan merawat daddy, menjalankan perusahaan daddy, jadi daddy tidak perlu lagi menyuruhku pulang setiap waktu. Aku punya perusahaan sendiri Arsen, aku ingin fokus membesarkan perusahaanku sendiri. Asal kau tau saja Arsen, bahkan orangtua ibuku saja yang menyuruhku melanjutkan perusahaan keluarga di Rotterdam, langsung aku tolak tanpa perlu berpikir panjang ", jelas Zafier panjang lebar.


Arsen terdiam mendengar ucapan Zafier, ia merenung, sepertinya apa yang Zafier ucapkan tiba-tiba memunculkan kembali beban berat yang membebani pikirannya selama ini. Orangtuanya yang serakah malah melakukan berbagai macam cara, bahkan cara kotor untuk menguasai harta dan kekayaan yang bukan hak mereka. Arsen pernah marah dan kesal pada kedua orangtuanya begitu tau persoalan yang sebenarnya. Tapi bagaimana pun juga mereka adalah orangtuanya. Apalagi ketika ia mengetahui masalah itu di saat kondisi kesehatan sang papi tengah drop, sedangkan maminya sendiri sudah lebih dahulu tiada. Mau marah dan kesal pun pada siapa. Semua sudah terlambat. Meski sang papi bertekad memperbaiki semua kesalahannya di masa lalu, tapi mau dengan cara apa, karena kondisi sang papi malah terus menurun, alhasil sampai detik ini kesalahan di masa lalu itu tetap menjadi beban berat, yang belum juga dapat terselesaikan.


Seketika Arsen ingat kembali semua kisah yang diceritakan papinya sebelum sang papi jatuh sakit. Sebenarnya hal itulah yang membuat penyakit sang papi semakin memburuk dari waktu ke waktu. Beban pikiran yang ditanggung sang papi menyebabkan kondisinya makin parah. Sang papi benar-benar tidak punya gairah hidup lagi sebagai akibat rasa bersalah yang amat sangat. Rasa bersalah itu pula yang ditanggung Arsen selama ini, seolah ada hutang yang belum lunas dari kehidupan sebelumnya. Hutang yang tidak akan dapat terbayar meskipun ia memberikan semua harta kekayaan yang dimilikinya.


Arsen kehilangan informasi sepeninggal sakitnya sang papi. Belum sempat sang papi memberikan informasi akurat, sang papi sudah jatuh koma. Arsen benar-benar merasakan kebuntuan.


Semua tingkah laku Arsen tidak lepas dari pengamatan Zafier. Perubahan raut wajah yang mendadak itu membuat Zafier hati-hati dalam bertanya. "Ada apa Arsen, apa aku telah menyinggungmu", tanya Zafier khawatir.

__ADS_1


Arsen menatap Zafier. Ia bingung harus bagaimana mengatakannya. Ia memang sangat berharap ada seseorang yang dapat mendengarkan curahan hatinya agar beban di hatinya lebih ringan. Arsen menarik nafasnya dengan berat. Bingung harus mulai bercerita dari mana.


Sejurus Zafier masih mengamati tingkah laku dan mimik wajah Arsen. Zafier tau ada sesuatu yang berat tengah dipikirkan sahabatnya ini, tapi nampaknya Arsen masih enggan bercerita.


Rasa penasaran Zafier mendorong ia kembali bertanya, "Ada apa sebenarnya Arsen, seperti ada sesuatu hal yang berat yang kau pikirkan? Ayolah berbagi bebanmu itu denganku, siapa tau aku bisa membantu meringankan beban pikiranmu".


Arsen kembali menatap Zafier. Berkali-kali ia menghembuskan nafas dengan kasar. Zafier menunggu dengan sabar.


Zafier menatap Arsen. Prihatin atas apa yang menimpa sahabatnya itu.


"Coba ceritakan padaku dari awal Arsen, paling tidak dapat agak mengurangi bebanmu", bujuk Zafier lagi.

__ADS_1


Arsen kembali menghela nafasnya dengan berat, tapi tak urung tetap memulai ceritanya.


"Papi mempunyai saudara perempuan beda ayah. Saudara perempuannya ini bersama suaminya membangun perusahaan yang kemudian berkembang sangat pesat. Papi sendiri mewarisi perusahaan kakek, namun perkembangannya tidak sepesat perusahaan saudara perempuannya. Rasa iri papi dan atas hasutan mami, akhirnya papi menggunakan berbagai cara kotor untuk melenyapkan nyawa saudara perempuannya sekeluarga. Akhirnya saudara perempuan papi dan suaminya tewas, kabarnya anak mereka satu-satunya masih hidup tapi jasadnya tidak pernah ditemukan hingga saat ini", Arsen menghembuskan nafasnya dengan kasar, seolah ingin melepaskan beban yang menghimpitnya.


Zafier cukup terkejut mendengar apa yang diceritakan Arsen. Ia tidak menyangka ada orang setega itu melenyapkan saudara sendiri demi harta semata. Zafier kehabisan kata-kata untuk diungkapkan. Ia bingung harus prihatin pada siapa, karena orangtua Arsen adalah pelaku. Meski sangat ingin, Zafier juga tidak mungkin menghakimi orangtua Arsen. Akhirnya Zafier hanya terdiam. menatap Arsen.


Arsen kembali menarik nafasnya dengan berat dan melanjutkan ceritanya. "Setelah kejadian yang menyebabkan saudara perempuannya meninggal, timbul penyesalan yang sangat mendalam pada papi. Ia terus berusaha mencari keponakan kecilnya. Ia terus mengerahkan anak buah bahkan orang-orang bayaran untuk menemukan keponakannya, tapi keponakannya tidak pernah bisa ditemukan jejaknya, ia seolah hilang ditelan bumi".


"Kau tau Zafier, aku baru tau satu bulan yang lalu perihal cerita ini, ketika aku ingin tau lebih dalam lagi untuk membantu papi menemukan keponakannya, papi koma. Aku tidak tau sama sekali nama saudara perempuan papi dan suaminya. Karena saudara perempuan papi menggunakan nama belakang ayah kandungnya. Tidak ada satu catatan pun atau orang yang bisa kutanyai, karena saudara perempuan papi tidak pernah ikut tinggal bersama keluarga papi. Aku juga tidak tau nama anak mereka yang kemungkinan masih hidup, anak itu laki-laki atau perempuan saja aku tidak tau", keluh Arsen dengan wajah sedih.


"Sejak kecil aku mengira papi anak tunggal. Kakek dan nenekku juga tidak pernah mengungkit hal tersebut. Makanya begitu aku tau cerita itu aku sangat senang, karena menyadari aku punya saudara lain. Aku bahkan bertekad, jika ia ditemukan akan aku serahkan semua yang menjadi haknya. Karena sejak menyesali perbuatannya, papi tidak pernah menyentuh harta dan perusahaan saudaranya itu. Semua dikelola oleh akuntan secara profesional dan terpisah dari perusahaan kami. Papi juga telah mengurus wasiat kepemilikan untuk keponakannya melalui pengacaranya. Sebelum koma papi pernah bilang ia sangat ingin bertemu keponakannya itu sebelum ia meninggal. Ia ingin bersujud di kaki keponakannya itu untuk minta maaf, setelah itu baru ia bisa meninggal dengan tenang", suara Arsen semakin berat, matanya mengembun, tak bisa ditahan ketika akhirnya setitik cairan bening lolos juga dari sudut matanya.

__ADS_1


Zafier menatap sahabatnya prihatin. Perlahan ia berjalan mendekati Arsen, mengambil posisi di sebelah Arsen dan menepuk pelan punggung Arsen, mencoba menenangkan. Zafier bisa merasakan kepedihan Arsen akan rasa bersalah, sebuah penyesalan yang datang amat sangat terlambat. Papi Arsen memang sangat bersalah, tapi haruskan ia membawa penyesalannya hingga ke liang kubur. Zafier bergidik memikirkannya. "Ya tuhan, mohon ampuni papi Arsen", doa Zafier dalam hatinya.


__ADS_2